مشاركة

Bab 7 Seorang Tawanan

مؤلف: Sasha S.Y
last update تاريخ النشر: 2026-06-23 18:24:58

"Nona? Apa anda mendengar saya?" 

Alice menyiapkan pakaian yang akan kugunakan untuk makan malam. Ia meletakkan sebuah gaun berwarna hitam, off-shoulder, dengan sentuhan aksen tali melilit di leher. Gaun malam yang sangat indah. Entah kenapa aku menyukai semua pakaian di kloset yang disediakan di kamarku.

"Apa yang sedang Nona pikirkan?" tanyanya. 

"Tidak ada," balasku singkat. 

"Apa Nona membutuhkan bantuan untuk merias wajah dan menata rambut Nona juga?"

Aku tersenyum kecil. "Kurasa tidak perlu, Alice. Aku bisa melakukannya sendiri." 

"Baiklah, kalau begitu. Seperti biasa jika Nona membutuhkanku silahkan—" 

"Menghubungiku di telepon dengan menekan tombol satu." 

"Aku terharu Nona menghapalnya." 

Aku tersenyum. "Kau mengatakan itu sejak tiga hari yang lalu, Alice. Hampir setiap tiga jam sekali." 

Alice tertawa kecil. 

Aku kembali menatap diriku di depan cermin. Pakaian yang indah, aksesori indah. Segala hal di ruangan ini indah. Tapi tidak dengan yang ada di luar sana. 

Sudah tiga hari berlalu sejak aku tinggal di rumah ini. Dan dua hari berlalu sejak pembicaraanku dengan Mattheo. 

Aku terus bertanya-tanya seberapa jauh jangkauan Vivian, dan aku tidak pernah menduga bahwa ia tega menjualku kepada keluarga ini. 

Aku selalu ingin bertanya lebih banyak pada Mattheo, namun sejak hari itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dan malam ini pertama kalinya aku diundang makan malam bersama secara resmi, begitulah kata Alice. 

Aku mulai merias wajahku dan menata rambutku. Ibuku, ketika ia masih hidup dulu, selalu berkata bahwa seorang wanita harus selalu mempercantik seluruh tubuhnya dan menampilkan kesan yang indah agar orang lain tertarik. Pakailah pakaian dan sepatu yang indah karena kau tidak pernah tahu ke mana ia akan membawamu pergi. Aku selalu ingat kata-kata itu sekalipun bertahun-tahun telah berlalu. 

Satu jam berlalu. Aku memakai pakaian yang dipilihkan Alice dan melihat penampilanku di cermin untuk terakhir kali sebelum melangkah keluar kamar. Diluar kedua pria yang berjaga di depan kamarku menoleh setelah pintuku terbuka. 

"Aku mau makan malam," kataku. 

Salah satu dari mereka mengangguk. "Mari saya antar." 

"Apa aku tidak bisa berjalan sendiri kesana?" 

"Maafkan saya Nona ini perintah Tuan." 

"Baiklah, antar aku." 

Pria itu berjalan di depanku. Pria yang lain di belakangku. 

Ini kedua kalinya aku melewati koridor lantai dua menuju ke lantai satu. Selebihnya aku tidak pernah melihat ruangan atau sudut di rumah ini selain kamarku. Biasanya makan malam kuhabiskan seorang diri di kamarku, begitupula sarapan ataupun makan siang. 

Aku mengikutinya menuruni tangga, melewati ruangan keluarga dan memasuki koridor hingga menuju ruang makan. 

Aku langsung melambatkan langkah.

Ruangan itu panjang dan didominasi oleh warna hitam serta abu-abu gelap, sama seperti bagian rumah lainnya. Sebuah meja makan besar membentang di tengah ruangan, cukup untuk menampung belasan orang sekaligus. Kursi-kursi berlapis kain gelap tersusun rapi di kedua sisinya.

Di atas meja, beberapa lampu gantung berbentuk bulat menggantung rendah dari langit-langit yang tinggi. Cahaya hangat yang dipancarkannya membuat ruangan itu terlihat elegan.

Aku mengangkat kepala, memperhatikan seluruh detail di sekelilingku.

Dinding kaca, rak-rak dekorasi, tangga modern di ujung ruangan, hingga berbagai ornamen yang terlihat mahal namun tidak mencolok.

Tanpa sadar aku membandingkannya dengan ruang makan di rumahku.

Rumah keluarga Laurent memang besar, tetapi tempat ini berbeda.

Lebih modern.

Lebih eksklusif.

Aku menelan ludah pelan.

"Silakan, Nona," ucap pelayan sambil menarik kursi di ujung meja. Kedua laki-laki telah menghilang dari pandangan, digantikan oleh pelayan ini. Bukan Alice. 

"Apa aku akan makan sendirian? Dimana Mattheo—eh maksud saya—Tuan Mattheo." 

"Ia masih dalam perjalanan ke mari, Nona," balasnya. "Silakan tunggu, hidangan akan segera disiapkan." 

Aku mengangguk. Dan pelayan itu meninggalkanku seorang diri di ruangan ini. 

Aku perlahan berdiri dari kursi dan berjalan berkeliling ruangan ini. Mencoba melihat pintu ke arah dapur. Di sana ada cukup banyak orang; ada chef maupun pelayan yang sedang menyiapkan hidangan. Di ujung pintu sepertinya menuju ke luar area rumah terdapat dua orang penjaga juga. Aku menutup pintu kembali pintu dengan pelan. 

Dari arah koridor terdengar suara Mattheo. Aku buru-buru kembali ke kursiku dan duduk. Di saat itu pintu terbuka, Mattheo masuk dengan tangannya memegang ponsel di telinga. 

Ia melihatku sekilas dan duduk di ujung kursi yang lain. 

Dari arah dapur pelayan masuk membawa makanan yang akan dihidangkan dan meletakkannya di meja. 

Aku melihat Mattheo yang masih sedang menelepon sekilas lalu mulai memakan hidangan makan malamku. 

Setelah selesai menelepon, Mattheo kembali memasukkan ponselnya ke balik jas dan duduk di kursinya. 

Ia mengambil pisau dan garpu, memotong steaknya dan menyuapkannya ke mulutnya. 

Suasana begitu hening cukup lama di antara kita berdua. 

"Gaun yang kau gunakan terlihat pas untukmu." ucapnya memecah keheningan. 

"Terima kasih," balasku singkat. 

Kami melanjutkan memakan makanan kami. 

"Apa kau sudah memikirkan terkait pernikahan itu?" tanyanya sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. 

"Apa itu harus dipikirkan?" tanyaku balik. "Bukankah semua sudah ditentukan?" 

"Bianca dan Isabella ingin bertemu denganmu." 

"Untuk apa?" tanyaku. 

"Pernikahan itu akan segera berlangsung. Saranku, jika kau ingin kabur bukankah masih ada waktu?" 

"Jika aku kabur akankah aku baik-baik saja?" tanyaku lagi. 

Ada senyum kecil di ujung bibir Mattheo. "Tentu saja, kau akan mati." 

Aku menunduk dan lanjut makan. "Sebenarnya apa pekerjaan kalian?" 

"Kau tidak perlu tahu soal itu. Tapi, selama kau tetap di negara ini kau tidak akan pernah bisa lari dari kami. Mattheo terdiam sejenak lalu melanjutkan, "Ah—tidak hanya di negara ini, kami bahkan bisa mengendus keberadaanmu sekalipun kau ke ujung dunia." 

Aku menelan ludahku. 

"Jadi pilihanku hanya menikah atau aku akan mati?" 

Mattheo hanya menaikkan setengah alisnya. 

"Kalau begitu, kita menikah saja." balasku singkat. 

"Kenapa aku harus menikah denganmu?" 

"Tentu untuk menyelamatkanku." 

"Bagaimana ya, aku tidak ingin melakukannya." Ia mengusap sisa makanan di mulutnya. "Jika kau mati itu juga bukan urusanku. Dan pasti rencanaku akan kembali berjalan lancar." 

"Apakah kau setega itu padaku?" 

"Seluruh orang di keluarga ini dilatih dan dididik untuk tega. Apalagi untuk orang sepertimu." 

Mattheo berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat kearahku. "Setelah kau mati, kami akan lanjut ke saudara perempuanmu, begitupun ibumu. Bukankah itu hal yang baik? Lagipula pernikahan denganmu juga tidak akan menyelesaikan hutangnya."

"Kau boleh membunuh ibuku dan saudaraku tapi tidak denganku. Aku bahkan tidak tahu jika ia memiliki hutang pada kalian." 

Mattheo tertawa renyah. "Tapi kau masih seorang Laurent. Kau sama dengan mereka sekalipun kau menolaknya." 

Ada benarnya ia mengatakan hal itu. 

Tidak. 

Jika Keluarga ini begitu berkuasa, seharusnya aku bisa menggunakannya untuk mengambil kembali harta keluargaku. 

Aku harus bertahan di keluarga ini. 

Lalu melawan Vivian dengan tanganku sendiri. 

Tapi, bagaimana cara meyakinkan Mattheo?

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 55 Mattheo

    Hari ini.Italia.Entah kenapa setelah aku melihat bola mata hazelnya...tanpa pikir panjang, aku bergegas memeluknya.Entah kenapa jantungku berdegup begitu kencang ketika melihatnya berlari ke arahku.Dan entah kenapa...aku mencium bibirnya.Untuk pertama kalinya.Apa yang kulakukan?Aku bergegas melepaskannya.Matanya terbelalak menatapku.“Apa yang kau lakukan barusan?” tanyanya lirih.“Ehem... bagaimana keadaanmu?”Ia mengerutkan kening.“Jangan mengalihkan pembicaraan.”Aku menghela napas.“Kau baik-baik saja?”Ia mengangguk pelan.“Baik.”“Kau ke mana saja?”“Ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan.”“Hanya itu?”“Iya.”“Lalu apa yang kau lakukan tadi?”Aku menatapnya.“Kau memukuliku.”“Iya. Itu karena kau pergi tanpa satu kabar pun.”“Dan aku kembali.”“Setelah dua bulan.”Aku terdiam.Aku tahu.Aku menghitungnya.Setiap hari.Namun aku tidak mengatakan apa pun.Mataku beralih kepada wanita yang berdiri di belakangnya.Wanita itu justru melebarkan senyumnya.Kemudian melamba

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 54 Mattheo

    Masa kini. Tiga Hari Sebelum Kepulangan ke Italia. “Apa yang sedang dia lakukan?”Aku menempelkan ponsel ke telinga.“Hmm, Donna sedang membaca buku, Don Mattheo,” jawab Anthonio dari ujung telepon.“Buku apa?”“Sepertinya novel.”“Sepertinya?”“Donna tidak memberitahunya. Hanya saja sampulnya pria dewasa yang tidak memakai baju.”Aku mengerutkan kening.“Lalu kau tidak bertanya?”“Kalau saya bertanya terlalu banyak, Donna akan curiga.”Aku diam.Benar juga.“Bagaimana kondisi wajahnya?”“Masih dalam proses pemulihan.”“Apakah lukanya sakit?”“Tidak separah sebelumnya.”“Dokter sudah memeriksanya?”“Belum datang.”Aku mengangguk pelan meskipun ia tidak bisa melihatku.“Kalau sudah datang, kabari aku.”“Baik, Don.”Aku hampir menutup telepon.Namun kembali teringat sesuatu.“Anthonio.”“Ya?”“Dia sudah makan?”“Sudah.”“Berapa banyak?”Anthonio terdiam beberapa detik.“Don Mattheo.”“Apa?”“Sudah tiga puluh menit yang lalu Anda menanyakan hal yang sama.”Aku menghela napas.“Aku hany

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 53 Mattheo

    Tiga tahun lalu. "Ini, Tuan. Bunga yang anda pesan." Aku menerima satu buket bunga lily yang dihias dengan cantik. "Terima kasih." "Wanita yang sangat beruntung," ucap penjual bunga itu. Aku hanya tersenyum tipis."Iya, dia sangat cantik." Aku membawa bunga itu keluar dari toko dan masuk ke dalam Rolls-Royce biruku.Dan meletakkan dengan hati-hati bunga itu di sisi penumpang sebelum menginjak pedal gas. Aku mengemudi di jalanan Los Angeles pada pagi hari itu. Sampai akhirnya tiba di salah satu hotel terbesar di negara itu. Aku mematikan mesin dan turun dari mobil sambil mempersiapkan semuanya, termasuk bunga yang sudah kubeli tadi. Aku merogoh saku jas-ku. Dan mengeluarkan satu buah kotak kecil dan membukanya. Sebuah cincin bertahta batu permata bertengger indah disana. "Malam ini, kau akan menjadi milikku, Angela." Aku melangkah memasuki lobi hotel itu. Lalu menekan tombol lift dan menunggunya. Ketika terbuka dan masuk, aku lalu menekan tombol angka 17. Tak berapa la

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 52 Mattheo

    “Mattheo!”Langkahku terhenti.Suara itu.Aku mengenalnya.Sayangnya, aku mengenalnya terlalu baik.Aku berbalik perlahan.Angela berdiri beberapa meter di belakangku.Ia mengenakan gaun hitam selutut yang dipadukan dengan mantel panjang berwarna gelap. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, jatuh rapi di atas bahunya. Sebuah tas kecil menggantung di lengannya.Penampilannya tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.Tetap anggun.Tetap cantik.Dan tetap membawa masalah.Senyumnya mengembang ketika mata kami bertemu.Senyum yang dulu pernah membuatku menunggu berjam-jam hanya untuk melihatnya.Sekarang justru membuatku ingin segera pergi.“Apa yang kau lakukan di sini?”Ia terkekeh.“Bukankah seharusnya kau mengatakan, ‘Aku merindukanmu, Angela’?”“Itu masa lalu.”“Masa lalu yang tidak bisa kita lupakan.”Aku mengembuskan napas pelan.“Kenapa kau berada di sini?”“Aku menyukai negara ini.”Aku menatapnya datar.“Aku tahu itu bukan alasan sesungguhnya.”Ia tersenyum.“Aku

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 51 Mattheo

    “Evelyn Laurent.”Bola mata hijaunya langsung membelalak.Untuk beberapa detik, wanita itu hanya menatapku.Seolah baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini dicarinya.“Kau mengenalnya?”“Kenal?”Ia menunjuk dirinya sendiri.“Aku sahabatnya!”Nada suaranya begitu antusias sampai beberapa orang yang berjalan di sekitar kami sempat menoleh.Aku mengernyitkan kening.“Sahabat?”“Iya!”Ia mengangguk cepat.“Teman dekatnya sejak sekolah.”Aku terdiam menatapnya.“Seberapa baik kau mengenalnya?”“Aku sangat dekat sekali dan mengenalnya dengan baik.”“Definisikan.”Kelly mengedipkan matanya.“Definisi?”“Ya.”Ia tampak berpikir sebentar.“Dia orang yang akan meneleponku tengah malam hanya karena tidak tahu harus memilih gaun warna hitam atau biru.”Aku masih diam.“Dia juga orang yang pernah datang ke apartemenku hanya karena ingin makan pasta.”Aku mengangkat alis.“Dan?”“Dan kami pernah mabuk bersama.”Aku menatapnya datar.“Aku rasa aku belum puas mendengarnya.”Kelly tert

  • Terjebak dalam Dunia Bellucci   Bab 50 Mattheo

    Paris selalu membuatku begitu sesak.Terlalu banyak suara.Terlalu banyak orang.Terlalu banyak pebisnis yang merasa mereka bisa membeli apa pun hanya karena memiliki cukup uang.Aku duduk di ujung meja konferensi dengan beberapa dokumen terbuka di hadapanku.Satu per satu orang di ruangan itu sudah menyampaikan pendapat mereka mengenai usulan perubahan sistem di Akademi Bellucci.Dan hampir semuanya sama.Menolak.“Proposal ini terlalu berisiko,” ujar salah seorang pria di hadapanku.“Akademi sudah berjalan puluhan tahun dengan sistem yang ada.”“Tidak ada alasan untuk mengubah sesuatu yang tidak rusak.”Aku menatapnya datar.“Tidak rusak?”Ia terdiam.Aku mengambil salah satu laporan dari atas meja.“Jumlah murid di bidang seni menurun hampir tiga puluh persen dalam tiga tahun terakhir.”Tidak ada yang menjawab.“Guru musik yang seharusnya menjadi pengajar utama j

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status