Share

Bab 4

Author: Sansan
"Foto-foto, riwayat obrolan itu, kalau bukan kamu, siapa yang punya?"

Dia memegang pergelangan tanganku.

"Linda, tenang dulu!"

"Bagaimana bisa aku tenang?!"

Aku menjerit.

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada ayahku, kubunuh kamu!"

Kamar dibuka.

Dokter keluar, lalu melepas masker.

"Maaf, kami sudah berusaha."

Duniaku rasanya runtuh seketika itu juga.

...

Tiga hari kemudian adalah acara pemakaman.

Ibu melarangku ikut.

"Pergi!" kata Ibu dari balik pintu.

"Ayahmu nggak mau bertemu denganmu."

Aku berlutut di depan pintu dari pagi sampai malam.

Sorenya, Henry dan Sandra datang.

Mereka menaruh karangan bunga, lalu membungkukkan badan.

Karangan bunga bertuliskan, [Berduka atas wafatnya Paman Edy, dari Henry Suwandi dan Sandra Owen.]

Sandra menatapku, lalu berkata dengan lembut, "Turut berduka cita."

Aku menatap Henry, tatapanku sangat tajam seolah ingin membunuhnya.

Wajah Henry memucat.

Sandra menarik lengan bajunya.

"Ayo, kita pergi."

Mereka berbalik dan pergi.

Ibu akhirnya membuka pintu.

Ibu menatapku, tatapannya penuh kebencian.

"Kamu puas? Ayahmu meninggal, kamu puas?"

Aku merangkak dengan lutut, memeluk kaki ibuku.

"Bu …."

"Jangan sentuh aku!"

Ibuku mendorongku.

"Kamu bukan putriku!"

Aku tersungkur di lantai, dahiku menempel pada ubin yang dingin.

...

Pada hari ketujuh setelah ayahku meninggal, aku menerima telepon dari perusahaan.

"Linda, kamu dipecat."

Nada dari Departemen HRD sangat dingin.

"Alasannya karena kamu telah melanggar etika kerja. Selama di Wilayah Saloka, kamu telah menjalin hubungan nggak pantas dengan beberapa rekan kerja."

Aku bergegas kembali ke perusahaan, dan menerobos masuk ke ruang Departemen HRD.

"Apa buktinya?!"

Manajer HRD melemparkan setumpuk foto ke arahku.

Foto-foto aku dan rekan kerja di tempat kerja, dengan keterangan banyak kata hujatan.

"Ini pencemaran nama baik!"

"Rumor nggak akan ada kalau nggak ada tanda-tanda."

Manajer menatapku.

"Perusahaan nggak akan menoleransi tindakan karyawan seperti ini."

Aku pergi mencari Henry.

Sekretarisnya menghalangiku.

"Pak Henry sedang rapat."

Aku menunggu sampai malam.

Henry akhirnya keluar dari ruang rapat. Begitu melihatku, langkahnya terhenti.

"Aku tahu kamu mau omong apa," katanya.

"Ini sudah keputusan perusahaan, aku nggak bisa berbuat apa-apa."

"Henry, kamu menjebakku."

"Bukan aku."

Dia mengerutkan alis.

"Sandra bilang …."

"Apa pun yang Sandra katakan, kamu percaya begitu saja?"

Aku mendekatinya.

"Dia membunuh ayahku, sekarang mau mencoba menghancurkanku, kamu masih mau membantunya?"

Dia mundur selangkah.

"Linda, tenang dulu."

"Aku sudah sangat tenang," kataku.

"Aku hanya ingin tanya, tidurmu setiap malam nyenyak?"

Dia tidak menjawab.

Aku berbalik dan pergi. Saat turun ke bawah, tiba-tiba aku dikerumuni orang.

Ada tujuh sampai delapan orang, mereka bawa papan.

[Dasar penggoda!]

[Perempuan murahan!]

[Keluar dari kota ini!]

Seseorang melempar sesuatu ke arahku.

Tinta merah.

Tinta membasahi tangan dan kakiku. Aku berdiri, air merah membasahi seluruh tubuhku.

Mobil Henry keluar dari parkiran basemen, berhenti di pinggir jalan. Dia turun dari mobil, menghentikan orang-orang itu.

Pria itu menatapku, lalu menghela napas. "Linda, bisakah kamu jaga sikap? Apa perlu membuat keributan sejauh ini?"

Aku menyeka wajah.

Cairan merah menetes dari sela-sela jariku.

"Jaga sikap? Aku bertanya sambil tertawa.

"Bagaimana caranya?"

Pria itu tidak menjawab, lalu naik mobil dan pergi.

Aku kembali ke apartemen yang kusewa, lalu kutemukan kunci sudah diganti.

Koper ditaruh di luar pintu.

Penyewa menjulurkan kepalanya.

"Barangmu sudah kukemasi, cepat pergi!"

"Kenapa?"

"Ada yang mengadukanmu, katanya kamu nggak bermoral, merusak reputasi kompleks perumahan ini."

Penyewa melambaikan tangan. "Aku nggak mau menyewakan rumah padamu lagi."

Aku berjongkok di samping koper.

Koper ini kubawa saat aku pergi ke Wilayah Saloka lima tahun lalu, sekarang koper ini kubawa pulang lagi.

Tidak ada yang berubah.

Tapi semuanya telah berubah.

Aku duduk di swalayan sepanjang malam.

Cahaya fajar menyelimuti kota.

Sangat indah.

Namun ... aku sudah tidak mau tinggal di sini lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 10

    Henry menangis histeris.Aku berbalik dan berjalan menuju ke gerbang keberangkatan, tanpa menoleh sedikit pun.Saat pesawat akan lepas landas, aku menerima pesan dari Henry.[Maafkan aku. Aku mencintaimu.]Setelah membaca pesan ini, teringat dia pernah bilang "aku sengaja memindahkanmu" dengan wajah dingin, aku pun langsung memblokir nomor kontaknya.Cinta?Pantaskah dia mengatakan cinta?Setelah kembali ke Wilayah Saloka, aku sepenuhnya fokus pada pekerjaan.Proyek baru berjalan lancar. Tim yang kupimpin berhasil mendapatkan penghargaan internasional.Dalam acara penghargaan, pembawa acara memperkenalkanku, "Ilmuwan muda ini bekerja selama lima tahun di lingkungan yang keras, dan berhasil membuat terobosan di bidang teknologi bagi negara."Terdengar suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan.Aku berpikir, inilah tujuan hidupku.Perusahaan Henry bangkrut.Ayahnya meninggal setelah terkena stroke. Sebelum meninggal, ayahnya masih memarahinya karena tidak berguna.Aku sedang melakuk

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 9

    Kak Winda mengatakan lewat telepon."Semua orang di perusahaan mengatakan bahwa kamulah pakar teknologi yang sebenarnya, Sandra itu penipu."Aku masih terdiam.Reputasi Sandra benar-benar hancur.Dia membanting barang di rumah, lalu berteriak kepada Henry, "Semua gara-gara kamu! Kamu yang menghancurkan hidupku! Kalau bukan kamu yang menyuruhku melakukannya, kejadian hari ini nggak akan terjadi!"Henry baru sadar, ternyata dirinya juga bagian dari rencana Sandra.Sandra sejak awal hanya memanfaatkannya untuk naik jabatan, sedangkan anak itu adalah anak kandung Sandra dan Heru. Sandra hanya butuh seseorang untuk dijadikan kambing hitam.Ibu Henry, yaitu Nyonya Frida menemukan keberadaanku.Aku mendengar suara tangisannya dari balik pintu."Linda, aku tahu kami bersalah padamu, tapi Henry juga ditipu. Hidupnya selama lima tahun ini juga menderita."Nyonya Frida berlutut di luar."Kumohon, ampuni keluarga kami. Suamiku marah sampai terkena stroke, sekarang dirawat di rumah sakit …."Aku te

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 8

    Dalam beberapa email itu, Henry juga membalas.[Ubah sesuai pendapat Sandra, hasilnya menjadi milik bersama.]"Milik bersama?" Aku tersenyum sinis."Bu Linda, kami merasa Anda diperlakukan nggak adil," ucap Martin."Anda yang mati-matian bekerja, justru dia yang mendapat pengakuan."Aku menyalin semua email itu. Saat pergi, Martin mengejarku."Bu Linda, hati-hati. Keluarga Suwandi merupakan keluarga berpengaruh di kota ini.Aku mengangguk.Yang paling ironis, aku menemukan fakta bahwa anak kedua Sandra juga bukan anak kandung Henry.Perawat di rumah sakit Sandra adalah istri dari rekan kerjaku di Wilayah Saloka. Dia yang diam-diam memberitahuku, "Saat Sandra hamil, sering ada seorang pria menemuinya. Pria itu memakai kacamata dan terlihat sopan. Aku pernah dengar mereka bilang, setelah mendapatkan kekayaan Keluarga Suwandi, mereka akan kabur."Dia mengeluarkan sebuah foto yang buram.Itu adalah tangkapan layar dari kamera pengawas di tempat parkir. Pria itu terlihat dari samping, tetap

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 7

    Tidak ada informasi pengirimnya.Paket itu kubuka, isinya adalah hasil Tes DNA.Instansi pemeriksa adalah RSUD, pemeriksaan dilakukan lima tahun lalu.[Sampel Pemeriksaan: Henry (terduga ayah) dan Rio (anak).][Kesimpulan: Tingkat kecocokan DNA sebesar 0%, tidak memiliki hubungan biologis ayah-anak.]Aku tertegun.Anak yang menjadi alasan Henry memilih Sandra, ternyata bukan anak kandungnya.Aku membalik halaman terakhir dengan tangan gemetar. [Tanda Tangan Pemeriksa: Juan Wongso]Nama ini tidak asing bagiku, dia adalah Mantan Kepala Departemen Genetika RSUD.Aku mendapatkan alamatnya dari kenalan lamaku.Setelah pintu rumah dibuka, aku langsung menyampaikan maksud kedatanganku. Melihat kedatanganku, dia langsung mengalihkan pandangan."Nona Linda, aku nggak bisa membantumu."Dia hendak menutup pintu. Aku menahan pintu dengan kaki."Dokter Juan, aku hanya ingin tahu kebenarannya."Dia menghela napas, lalu mengizinkanku masuk.Aku duduk di sofa, dia menuangkan segelas air untukku.Tanga

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 6

    Dia duduk di kursi roda, selimut menyelimuti lututnya, dan dia membaca buku dengan kepala tertunduk.Wajah sampingnya tampak tirus, tetapi tatapannya lembut.Saat berjalan lewat sampingnya, dia mendongak melihatku."Kamu juga periksa?" Dia tanya.Langkahku terhenti."Ya."Dia tertawa. "Aku sudah enam bulan dirawat, tapi baru pertama lihat kamu."Dia menutup buku berjudul "Bertahan"."Namaku Gwen Wijaya," katanya."Dulu, aku seorang guru piano."Aku melihat bagian celana di kaki kanannya menggantung kosong, tetapi aku tidak berani bertanya.Dia juga tidak mempermasalahkannya, lalu melanjutkan bicara, "Aku mengalami kecelakaan dua tahun lalu, salah satu kakiku harus diamputasi. Suamiku kabur dengan wanita lain, aku juga kehilangan pekerjaan."Dia menceritakannya dengan santai, seolah sedang menceritakan kisah orang lain."Saat kondisiku terpuruk, aku ingin mengakhiri hidup."Dia menunjuk ke buku."Lalu, aku baca buku ini. Saat baca bagian tokoh utama tetap memilih hidup walaupun seluruh

  • Terjebak dalam Gurun Kebohongan   Bab 5

    Dalam waktu tiga bulan, berat badanku turun banyak.Udara lembap kota kecil di selatan terasa di kulitku. Kamar kecil yang kusewa berada di lantai enam dan tanpa lift.Setiap naik tangga, napasku selalu terengah-engah.Sebuah cermin tergantung di belakang pintu. Aku melihat sosok bayangan di dalam cermin, seorang wanita berambut pendek dan berantakan, tulang pipi menonjol, dan lingkaran mata di bawah mata.Aku sudah tidak mengenalinya lagi.Penyewa rumah sangat baik hati. Setiap melihatku bekerja sebagai penerjemah setiap hari, dia sering membawakanku sepiring sup."Nona, jangan terlalu lelah," katanya.Aku berterima kasih, lalu kembali menghadap komputer dan mengetik.Obat tidurku yang awalnya satu tablet, lama-lama jadi dua, lalu harus tiga tablet baru bisa tidur beberapa jam.Mimpiku selalu pemandangan di padang gurun, panasnya menyengat wajahku.Begitu bangun, bantalku sudah basah.Sorenya, setelah selesai menerjemahkan sebuah dokumen, aku langsung terkapar di atas meja.Ponsel ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status