LOGINSalwa berdiri beberapa detik di depan pintu ruang VIP. Dari balik pintu terdengar suara musik yang jauh lebih pelan dibandingkan ruang utama.
"Shanum!" Suara staf yang memanggilnya membuatnya tersadar. "Iya," jawab Shanum sambil menoleh cepat. "Masuk saja! Pak Sabiru sudah menunggu," pinta staf tersebut. Salwa mengangguk, lalu mengetuk pintu dua kali. "Masuk!" Dengan ekspresi wajah puas, Sabiru tersenyum melihat gadis yang ditaksirnya ada di depan matanya. Suara itu terdengar tenang. Ruangan itu jauh berbeda dari area klub lainnya. Sofa kulit berwarna gelap memenuhi salah satu sisi ruangan. Di tengah terdapat meja kaca dengan beberapa botol minuman. Sabiru duduk seorang diri. Tatapannya langsung tertuju kepada Salwa. Matanya melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Duduk." Sabiru meminta Salwa duduk sambil menepuk sofa di sebelahnya. Salwa akhirnya duduk, tetapi memilih kursi yang cukup jauh. Sabiru memperhatikan sikapnya. "Kamu selalu menjaga jarak seperti itu?" tanya Sabiru sembari mengernyitkan dahinya tatkala menatap wajah cantik Salwa. Salwa tersenyum canggung. "Sejak pertama kali melihatmu, kamu selalu terlihat seperti ingin segera pergi saat melihat saya, ada apa Shanum?" tanya Sabiru. Salwa terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ruangan hening sejenak akibat Salwa yang kikuk. Sabiru akhirnya memecah keheningan. "Berapa lama kamu bekerja di sini?" "Hampir sebulan," jawab Salwa singkat. "Sebelumnya?" Sabiru bertanya dengan sangat penasaran. "Saya belum pernah bekerja, Pak. Dulu saat tinggal di desa, saya hanya membantu Ibu bertani," tutur Salwa. "Kamu datang ke kota sendirian?" tanyanya lagi. "Saya bersama teman," jawab gadis itu. "Rani?" Sabiru menebak. Salwa langsung mengerutkan kening. "Pak Sabiru mengenal Rani?" "Di klub ini saya mengenal banyak orang," jawab Sabiru dengan senyuman khasnya yang membuat matanya semakin sipit. Jawaban itu terdengar sederhana. Tetapi entah mengapa membuat Salwa merasa tidak nyaman. "Kamu punya keluarga yang kamu tanggung?" Salwa mengangguk dengan ekspresi kaku sembari menatap wajah tampan pria bermata sipit itu. "Bagaimana Bapak tahu?" Salwa merasa takut. "Saya hanya menebak," jawab Sabiru tenang sambil mengelus lengan kiri Salwa yang mulus. Pria itu tampaknya mengetahui terlalu banyak tentang dirinya untuk seseorang yang baru bertemu dengannya beberapa kali. Sabiru akhirnya mengambil sebuah kartu kecil dari sakunya. Ia meletakkannya di atas meja. "Ini kartu nama saya, di dalamnya ada nomor dan alamat rumah saya." Salwa melihat kartu tersebut tetapi tidak mengambilnya. "Untuk apa, Pak?" "Kalau kamu membutuhkan sesuatu, hubungi saya," jawab Sabiru sembari mengambil gelas dari atas mejanya. "Saya tidak membutuhkan apa-apa," jawab Salwa sambil menunduk polos. "Semua orang membutuhkan sesuatu," Sabiru menyangkal ucapan Salwa. "Kamu berbeda dengan perempuan-perempuan lain di sini…" kata Sabiru sembari menenggak minuman dari gelas di tangannya. "Saya hanya bekerja." Salwa menghela napas. "Itu yang membuatmu berbeda." Sabiru berdiri dan meninggalkan ruangan, percakapan mereka berakhir begitu saja. Salwa ikut berdiri dan keluar dari ruangan itu untuk kembali bekerja. Di klub, Salwa menceritakan apa yang dialaminya di dalam ruangan tadi kepada Rani. "Aku sudah menduga," kata Rani. Salwa mengeluarkan kartu yang diberikan Sabiru. Rani langsung melihatnya dan membuang kartu itu ke tempat sampah. "Kenapa kamu buang?" Salwa terkejut. "Karena aku tahu tipe laki-laki seperti dia. Di kota ini, orang kaya tidak memberikan sesuatu secara cuma-cuma, Salwa!" Rani geram. Salwa memandangi kartu tersebut. Setelah Rani pergi, Salwa kembali mengambil kartu itu. Tingkah aneh Rani membuat Salwa merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya. *** Sejak pertemuan di ruang VIP tersebut, Sabiru mulai datang lebih sering dan setiap kali datang, ia selalu mencari pelayan cantik yang dikenal dengan nama Shanum itu. Kadang hanya memesan minuman, meminta Salwa menemaninya, memberikan perhatian kecil dengan pertanyaan apakah ia sudah makan sampai memberikan tip yang jumlahnya besar sehingga membuat wanita itu merasa tidak nyaman. Saat bekerja, Salwa selalu berusaha menjaga jarak, ia tak mau duduk terlalu dekat dengan Sabiru. Alkohol pun tak pernah disentuh meskipun sudah dituangkan Sabiru ke dalam gelas. Suatu malam, ketika klub sedang sangat ramai, seorang tamu lain menarik tangan Salwa ketika ia hendak pergi dari mejanya. Salwa terkejut. "Tunggu..." Pria itu menarik tangan Salwa dalam keadaan mabuk. Salwa berusaha melepaskan tangannya. "Pak, saya harus melayani meja lain." "Sebentar saja." Pegangan tangannya meremas lengan Salwa makin kuat. Sebelum Salwa sempat memanggil siapa pun, sebuah suara terdengar dari belakang. "Lepaskan!" Suasana mendadak berubah, pria itu menoleh. Sabiru berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan wajah tenang. "Ini urusan saya," kata pria mabuk tersebut. Sabiru hanya menatap tangan pria itu yang masih menggenggam pergelangan Salwa. "Lepaskan!" Pria itu akhirnya melepaskan Salwa karena tahu sedang berhadapan dengan siapa. Sabiru berdiri di antara Salwa dan pria mabuk itu. "Pak Sabiru..." Manajer klub yang mendengar suara gaduh itu langsung datang menghampiri dan membantu menenangkan keadaan. "Bawa dia keluar!" Sabiru berteriak dengan telunjuk tangannya mengarah pada pria itu. Beberapa staf segera mendekati pria tersebut dan membawanya keluar. Setelah keributan mereda, Salwa menatap Sabiru. "Terima kasih, Pak," ucap Salwa dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang masih tegang. "Pergilah ke belakang!" pinta Sabiru sambil menepuk punggung Salwa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Salwa pergi meninggalkan lokasi kegaduhan itu. Sejak kejadian ini, Salwa menjadi merasa sungkan terhadap Sabiru, dan tanpa disadari kedekatan itu perlahan mulai terjalin. Saat pulang kerja, Sabiru menawarkan pada Salwa untuk mengantarkannya. Karena tidak enak hati untuk menolak, akhirnya Salwa menyetujui tawaran itu. Dari kejauhan, Rani tampak tidak senang melihat kedekatan Salwa dan Sabiru. "Terima kasih, Pak atas pertolongannya tadi," ucap Salwa. "Sama-sama. Di klub memang banyak orang mabuk, kalau siapapun kurang ajar lagi, kamu harus melawan. Jangan pasrah seperti tadi," Sabiru memberi saran. "Iya Pak, saya hanya tidak ingin berulah di tempat kerja karena saya masih karyawan baru," Salwa menjelaskan. Tiba-tiba mobil Sabiru berjalan menuju arah lain yang bukan merupakan jalan ke arah tempat tinggal Salwa. "Kita mau ke mana, Pak? Kos saya tidak lewat sini," tanya Salwa sambil menatap mata Sabiru dengan ekspresi wajahnya yang agak panik. "Temani saya sebentar sarapan di depot langganan saya! Tidak perlu takut begitu, kamu aman bersama saya," Sabiru menenangkan hati Salwa dengan ucapannya. Salwa hanya mengangguk karena tak punya kuasa untuk menolak. Keduanya kemudian duduk di depot itu dan memesan menu sarapan. *** Di kos, Rani merasa marah karena ternyata Salwa belum pulang padahal tadi dia melihat Salwa diantar pulang oleh Sabiru. "Kemana dia? jam segini belum pulang," gerutu Rani terbakar api cemburu. Untuk satu bulan pertama ini memang Salwa masih tinggal di kos Rani, sudah perjanjian sejak awal jika Salwa sudah gajian, maka Salwa akan menyewa kamar kos sendiri. Lima menit kemudian terdengar suara mesin mobil di halaman depan kos. Rani mengintip dari jendela, dia melihat Sabiru sangat memperlakukan Salwa dengan spesial sampai membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Hatinya merasa panas dan cemburu buta, emosinya meluap dan tak terbendung lagi. Salwa tersenyum ramah pada Sabiru dan berterima kasih karena sudah diajak sarapan dan diantar pulang. Kemudian Salwa masuk ke kamar dan mendapati Rani cemberut saat menatapnya. "Kamu kenapa, Ran?" tanya Salwa bingung. "Habis dari mana kamu? Tadi kan kamu pulang lebih awal, kenapa datang ke kosnya malah lebih dulu aku?" tanya Rani dengan nada tinggi. "Tadi mampir sarapan sebentar diajak Pak Sabiru," jawab Salwa. "Aku sudah bilang hati-hati dengan orang seperti dia!" Rani memberi peringatan. "Iya, aku ingat nasehatmu. Tapi aku merasa sungkan jika menolak ajakannya karena tadi di klub dia sudah menolong aku dari gangguan pria mabuk," Salwa menjelaskan alasannya bersikap baik pada Sabiru. "Susah banget sih dibilangin! Udah numpang, belagu!" Rani meluapkan emosinya yang tak bisa dibendung lagi. Mendengar ucapan Rani, Salwa tersinggung dan ikut marah. "Kalau kamu nggak suka aku tinggal di sini, aku bisa pergi. Lagipula kamu kan yang meminta aku tinggal di sini sampai aku gajian?" Salwa berteriak sambil melotot ke arah Rani. "Pergi kamu dari sini! Sudah ditolong nggak tahu diri!" Rani melipat tangannya di depan dada, mulutnya tak bisa dikontrol hingga dia mengusir Salwa. Tanpa pikir panjang, Salwa langsung mengemasi semua barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam koper. Detik itu juga Salwa pindah dari kos Rani karena meskipun belum gajian, uang tip dari para tamu dan Sabiru sudah sangat cukup untuk menyewa kamar kos lain dan menghidupinya selama beberapa bulan. Mata Salwa berkaca-kaca, menahan air mata karena ucapan Rani yang menyayat hati.“Sayang pagi ini aku pergi dulu ya! Bodyguard itu akan datang jam 7 nanti.” Sabiru berpamitan sambil mencium kening Salwa.“Baiklah, kamu juga hati-hati ya!” jawab Salwa.“Pasti.” Sabiru membuka pintu dan pergi meninggalkan Salwa sendirian di dalam unit apartemennya.Salwa melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Dia memutuskan untuk tidur lagi sampai bodyguard itu datang.‘Tok tok tok’ suara pintu diketuk oleh seseorang.Salwa mendengar ketukan itu, dia membuka matanya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10. Dia melompat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.“Selamat pagi, saya Dion, bodyguard yang sudah Anda sewa melalui aplikasi,” pria di depan pintu itu tersenyum memperkenalkan diri pada Salwa.“Oh… iya, silahkan masuk,” Salwa merasa canggung.Dion melihat Salwa dari ujung kaki ke ujung kepala. Salwa masih memakai baju tidur dan rambutnya berantakan. “Maaf ya, aku bangun tidur.” Salwa malu dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersi
“Hmm… makanannya enak sekali,” Salwa mengunyah makanannya sambil memuji cita rasanya.“Iya, aku juga setuju. Ini enak sekali.” Sabiru menanggapi sembari mengunyah makanannya.“Setelah ini kita kemana?” tanya Salwa.“Pulang, kita kan sudah lama di sini. Lebih baik kita istirahat saja di apartemen,” jawab Sabiru.Pria yang mengawasi Sabiru dan Salwa duduk di dalam kafe. Dia berniat mengikuti Sabiru dan memotret semua gerak-geriknya untuk diberikan pada seseorang.Lima belas menit berlalu, Salwa sudah menjinjing tasnya dan bangkit dari kursi. Sabiru memegang kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe. Pria itu membuntutinya perlahan-lahan.Dengan gerakan cepat, pria tersebut sudah berada di atas motor. Melihat mobil Sabiru melaju, pria tersebut ikut tancap gas berjalan di belakang mobil dengan jarak yang diatur agak jauh supaya tidak mencurigakan.“Akhirnya sampai juga…” kata Sabiru lega saat mobilnya terparkir di basement apartement.Pria misterius itu membuntuti Salwa dan Sabiru samp
“Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.“Habiska
“Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang.Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”“Kemana?” tanya Salwa.“Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa.Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin.“Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri.Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa.Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya duduk
Salwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya."Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager."Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager.Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung."Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya."Resign?!" si manager kaget."Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan
Pintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa."Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar."Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir."Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa."Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis.Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang.Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani d







