Share

Bab 3

Author: Lalang Buana
last update publish date: 2026-09-05 06:36:50

Salwa menggeret kopernya dengan air mata berlinangan. Entah ke mana dia harus pergi. Pikirannya masih kacau, hatinya masih panas. Langkah kakinya berjalan tak tentu arah, mencari kost wanita di sekitar sana.

Sabiru sedang antre di pom bensin, dari kejauhan matanya menangkap sosok Salwa yang tampak sedih. Tanpa pikir panjang, di tinggalkanlah barisan antrean itu dan langsung tancap gas menuju tempat Salwa berdiri seorang diri.

"Shanum, mau ke mana?" tanya Sabiru dengan ekspresi bingung menatap wajah sendu Salwa.

"Saya mau cari kost wanita di dekat sini," jawab Salwa singkat.

Sabiru membuka pintu mobilnya dan meminta Salwa masuk. Salwa pun menerima bantuannya.

"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Sabiru menyeka air mata Salwa dengan tissue yang diambil dari dashboard mobilnya.

Mendengar pertanyaan itu, air mata Salwa mengalir semakin deras. Mulutnya belum sanggup untuk menceritakan kejadian yang dialaminya tadi.

"Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di apartemen saya. Saya punya satu unit apartemen kosong di dekat tempat kerja kamu, dan untuk masalah sewa, buat kamu saya gratiskan," kata Sabiru dengan wajah gembira.

Salwa menatap wajah Sabiru dengan cepat, kaget dengan tawarannya yang terkesan begitu menggiurkan. Hal itu mengingatkan Salwa pada ucapan yang pernah dikatakan Rani.

"Di kota ini, orang kaya tidak memberikan sesuatu secara cuma-cuma, Salwa!"

Lamunan Salwa buyar saat Sabiru menanyakan soal tawarannya. "Bagaimana Shanum? kamu mau?" 

"Saya jadi sungkan sama bapak kalau tinggal gratis di sana. Tapi kalau untuk menyewa, sudah pasti saya tidak sanggup karena sewa apartemen pasti mahal. Lebih baik saya cari kos yang sederhana saja," Salwa menolak tawaran Sabiru.

Sabiru tetap berusaha meyakinkannya agar mau tinggal di apartemennya. Sampai akhirnya Salwa tidak bisa menolak tawaran yang tampak menguntungkan itu.

***

Mobil Sabiru diparkir di area parkiran apartemen. Dia membukakan pintu untuk Salwa sambil menyeret kopernya. Salwa merasa sangat sungkan sekaligus takut, karena dia paham, Sabiru bukan orang sembarangan dan sudah pasti ada maksud di balik tindakannya.

Setelah tiba di depan kamar itu, Sabiru mempersilahkan Salwa masuk. Di dalam, tampak beberapa perabotan yang terlihat mewah namun simple. 

"Maaf ya, agak berdebu. Saya jarang ke sini jadi tidak ada yang membersihkan," ucap Sabiru sambil melihat Salwa yang berdiri mematung di depan pintu. 

"Tidak apa-apa, Pak. Saya berterima kasih sekali, Bapak sudah selalu membantu saya berulang kali. Nanti biar saya bersihkan," timpal Salwa.

Salwa mengambil sapu, membersihkan setiap sudut ruangan sampai seluruh isi ruangan bersih. Sabiru memperhatikan gadis itu sambil tersenyum, sesekali Sabiru membantunya. 

Satu jam berlalu, Salwa tampak lelah karena memang belum tidur sejak pulang kerja. Dia duduk di sofa bersama Sabiru.

"Kamu tampak sangat lelah, Shanum! Sebaiknya kamu istirahat. Tapi kenapa kamu tiba-tiba pindah kos dan menangis di jalanan?" Sabiru bertanya dengan nada penasaran.

Mata Salwa kembali berkaca-kaca. "Sebenarnya, saya diusir Rani, Pak."

"Jadi, kamu tinggal satu kamar dengan Rani?" Sabiru heran.

"Iya, dia marah karena Bapak mengantar saya pulang, dia sampai bilang saya ini orang yang tidak tahu diri, itu yang membuat saya sakit hati." cerita Salwa pada Sabiru sembari mengusap air matanya yang berlinangan.

Sabiru mengusap air mata Salwa dengan halus, dipandangnya wajah cantik yang sedang sedih itu. Salwa menatap mata Sabiru, keduanya terbawa suasana hingga Sabiru mengecup bibir mungil Salwa, mata Salwa refleks terpejam menikmati sentuhan lembut di bibirnya yang belum pernah dijamah siapapun.

Salwa merasa sangat nyaman. Tubuhnya bersandar di sofa, Sabiru terus mengecup bibirnya beberapa kali sampai Salwa tak berkutik, tak bisa melawan dan membiarkannya terjadi begitu saja.

Ciuman yang berlangsung sangat manis. Keduanya saling menatap mata, Salwa tersenyum. Sabiru kembali mendekatkan wajahnya, ingin mengecupnya sekali lagi, tapi tangan Salwa menahan dada Sabiru. 

Tubuh Sabiru mundur perlahan dengan canggung. "Maaf saya lancang." 

Salwa tidak menjawab, dia merasa kikuk. Pandangan matanya tertuju ke bawah, menghindari tatapan Sabiru. Tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Bagaimana mungkin dia bisa berciuman semanis itu dengan pria yang belum lama dikenalnya. 

"Shanum, lebih baik kamu istirahat ya! Saya tahu kamu lelah. Saya harus pergi karena masih ada urusan lain," kata Sabiru berpamitan.

"Iya, Pak. Hati-hati! Terima kasih banyak atas bantuannya." Salwa berdiri mengikuti Sabiru sampai ke depan pintu.

***

Di klub, Rani bersikap cuek pada Salwa. Begitupun dengan Salwa yang tak menghiraukan Rani sedikit pun. Kata-kata Rani masih terngiang di telinga Salwa dan rasa sakit di hatinya masih menganga.

Hari ini tamu yang datang lumayan banyak, para mata lelaki di sana   tertuju pada Salwa. Beberapa pria meminta Salwa menemani mereka untuk minum. Dalam keadaan seperti ini, Salwa berusaha menolak dan beralasan lambungnya tidak kuat menenggak alkohol.

Seorang pria terus memaksanya hingga meminumkannya ke bibir Salwa. Minuman itu sedikit demi sedikit terminum oleh Salwa dan membuat kesadarannya hilang. Rani melihat kejadian itu dengan perasaan senang.

Entah apa yang terjadi malam itu, Salwa sudah terbangun dalam keadaan seragamnya yang telah dilucuti dan dirinya tergeletak di sofa dalam klub. Tak sedikitpun kejadian yang mampu dia ingat kecuali pria yang memaksanya meminum bir kemarin malam.

Kepalanya terasa berat, seorang staf membangunkannya dan membopongnya ke basecamp karyawan. Dalam keadaan berjalan tergopoh-gopoh, Salwa setengah sadar. Dia pun akhirnya pulang ke apartemen naik taksi setelah ganti baju.

Tanpa diketahuinya, ternyata Rani mengikutinya dari belakang dengan naik motor. 

"Oh... jadi dia tinggal di apartemen ini? Hebat juga dia, pasti ini karena pertolongan Sabiru," kata Rani saat melihat Salwa masuk ke gedung apartemen.

Rani kemudian mengikuti Salwa berjalan pelan dari belakang. Dia sangat ingin mengetahui di mana lokasi Salwa dan dengan siapa dia tinggal. 

Di ujung lorong, mata Rani mengintip Salwa yang tengah membuka kunci pintu kamarnya. Kini Rani sudah tahu di mana sahabatnya tinggal, dia segera menyusun rencana jahat untuk membuat Salwa kembali pulang ke kampungnya tanpa membawa kesuksesan seperti apa yang sahabatnya harapkan.

Dengan taktik liciknya, Rani telah menyusun rencana untuk membuat Salwa terdepak dari klub tempatnya bekerja. Foto-foto Salwa saat mabuk bersama banyak pria tadi malam sudah dia simpan di ponselnya. Bahkan video saat para pria itu melecehkan Salwa pun direkam rapi  malam itu. 

Rani segera pulang ke kosnya dan melihat semua video serta foto yang sudah dia simpan di galeri ponselnya. 

"Salwa... Salwa... kamu pikir kamu bisa bertindak sesuka hati di sini? Sudah ditolong nggak tahu diri!" Rani menggerutu penuh emosi saat memeriksa foto-foto itu.

'1 Video diterima'

Salwa menerima sebuah pesan dari Rani. Dibukanya pesan yang berupa sebuah video itu. Mata Salwa terbelalak, tangannya refleks menutupi bibirnya, ponselnya jatuh ke lantai. Air matanya menetes dari mata sipitnya. Hatinya hancur melihat isi video itu.

Video itu berisi dirinya saat mabuk bersama para pria dan di sana pria-pria itu mulai melepas seragam yang dipakainya. Bahkan lebih parahnya mereka melecehkan Salwa, dan dia tak mengingat kejadian itu sama sekali.

Salwa gemetar, ada ketakutan luar biasa yang secara tiba-tiba menghampirinya. Ada rasa sesal, rasa tak berharga, merasa kotor dan hina. Apalagi kartu matinya ada di tangan Rani. Dunia terasa runtuh detik itu. 

Kebingungan menyergapnya, tangisannya pecah, penyesalannya datang ke kota dan masuk ke dunia gelap itu terasa sangat kuat. Namun semuanya tak bisa diubah, waktu tak bisa diputar, semuanya telah terjadi. 

Dengan sisa tenaganya, Salwa mengetik sebuah pesan untuk Rani.

'Hapus video itu!'

Dalam hitungan detik, Rani membalas: 'Tidak akan! Orang-orang di kampung harus tahu kelakuan bejatmu di sini'

Membaca pesan itu membuat Salwa semakin histeris. Dia berteriak, menangis dan gemetar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 9

    “Sayang pagi ini aku pergi dulu ya! Bodyguard itu akan datang jam 7 nanti.” Sabiru berpamitan sambil mencium kening Salwa.“Baiklah, kamu juga hati-hati ya!” jawab Salwa.“Pasti.” Sabiru membuka pintu dan pergi meninggalkan Salwa sendirian di dalam unit apartemennya.Salwa melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5 pagi. Dia memutuskan untuk tidur lagi sampai bodyguard itu datang.‘Tok tok tok’ suara pintu diketuk oleh seseorang.Salwa mendengar ketukan itu, dia membuka matanya. Dilihatnya jam dinding yang menunjukkan pukul 07.10. Dia melompat dari tempat tidurnya untuk membuka pintu.“Selamat pagi, saya Dion, bodyguard yang sudah Anda sewa melalui aplikasi,” pria di depan pintu itu tersenyum memperkenalkan diri pada Salwa.“Oh… iya, silahkan masuk,” Salwa merasa canggung.Dion melihat Salwa dari ujung kaki ke ujung kepala. Salwa masih memakai baju tidur dan rambutnya berantakan. “Maaf ya, aku bangun tidur.” Salwa malu dan kemudian langsung masuk ke kamar mandi untuk membersi

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 8

    “Hmm… makanannya enak sekali,” Salwa mengunyah makanannya sambil memuji cita rasanya.“Iya, aku juga setuju. Ini enak sekali.” Sabiru menanggapi sembari mengunyah makanannya.“Setelah ini kita kemana?” tanya Salwa.“Pulang, kita kan sudah lama di sini. Lebih baik kita istirahat saja di apartemen,” jawab Sabiru.Pria yang mengawasi Sabiru dan Salwa duduk di dalam kafe. Dia berniat mengikuti Sabiru dan memotret semua gerak-geriknya untuk diberikan pada seseorang.Lima belas menit berlalu, Salwa sudah menjinjing tasnya dan bangkit dari kursi. Sabiru memegang kunci mobilnya dan berjalan keluar dari kafe. Pria itu membuntutinya perlahan-lahan.Dengan gerakan cepat, pria tersebut sudah berada di atas motor. Melihat mobil Sabiru melaju, pria tersebut ikut tancap gas berjalan di belakang mobil dengan jarak yang diatur agak jauh supaya tidak mencurigakan.“Akhirnya sampai juga…” kata Sabiru lega saat mobilnya terparkir di basement apartement.Pria misterius itu membuntuti Salwa dan Sabiru samp

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 7

    “Hah… apa kamu sudah gila? Itu terlalu berbahaya, aku tidak setuju,” Rani kaget mendengar bisikan dari Vino.“Ayolah! Bantu aku!” pinta Vino.“Aku tidak mau, resikonya terlalu besar untuk kita. Sabiru tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada wanitanya,” Rani menolak mentah-mentah keinginan Vino yang ingin dibantu balas dendam.“Ah ya sudahlah…” Vino menyerah.“Aku sempat melihat Sabiru bersama anak dan istrinya,” cerita Rani.“Sabiru sudah punya keluarga? Tapi kenapa tidak pernah ada pemberitaan di publik? Aku pikir selama ini dia single,” Vino kaget mendengar cerita Rani.“Iya, aku melihat sendiri istri dan anaknya hari itu. Aku mendengar anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘Papa’,” terang Rani.“Sabiru benar-benar playboy kelas kakap. Sudah punya keluarga tapi masih suka main wanita, bahkan sebelum kamu kerja di klub, telah banyak wanita yang dikencaninya. Malang sekali nasib sahabatmu yang akan jadi korban selanjutnya.” Vino bicara sambil mengunyah makanan.“Habiska

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 6

    “Aku cinta kamu,” Salwa menatap mata Sabiru setelah bercinta semalaman.“Aku juga, Sayang!” Sabiru memeluk tubuh Salwa yang masih berbaring di ranjang.Senyum manis menghiasi wajah keduanya. “Cepat mandi! Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”“Kemana?” tanya Salwa.“Sudah ikut saja, kamu pasti suka,” jawab Sabiru sambil mengelus kepala Salwa.Salwa turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang dipenuhi bekas kecupan pria yang dia cintai. Dipandanginya wajah dan tubuhnya di depan cermin.“Ah… ini ulah Sabiru,” kata Salwa berbicara sendiri.Beberapa menit kemudian, Salwa selesai mandi. Dia memakai dress putih yang membuatnya makin terlihat cantik. “Cantik sekali kamu, Sayang! Tunggu ya… aku mau mandi dulu,” Sabiru terpukau melihat kecantikan Salwa.Beberapa menit kemudian, Salwa dan Sabiru keluar dari apartemen. Sabiru membukakan pintu mobilnya untuk Salwa. Dengan tersipu malu, Salwa menatap mata Sabiru sambil masuk ke dalam mobil.Setelah keduanya duduk

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 5

    Salwa berangkat kerja ke klub naik taksi. Dia berencana mengambil gajinya dan meminta resign pada managernya seperti saran dari Sabiru. Kota ini bukan tempat yang tepat untuknya. Salwa berniat kembali ke kampung halamannya."Bos, saya mau ambil gaji saya bulan kemarin," kata Salwa saat berada di ruang manager."Ini gaji kamu beserta bonusnya. Saya kasih lebih karena kerja kamu bagus," jawab sang manager.Setelah amplop gaji itu ada di tangan Salwa, dia menghitungnya. Jumlahnya lumayan besar karena diberi tambahan bonus. Belum lagi uang simpanan Salwa yang diberi tip langsung oleh pengunjung, jumlahnya sudah lumayan untuk mengirimi keluarganya di kampung."Terima kasih, Bos. Tapi, bulan ini saya mau resign," ucap Salwa sambil menatap wajah managernya."Resign?!" si manager kaget."Kamu baru kerja satu bulan. Saya sudah kasih kamu bonus besar dibandingkan pekerja yang lain. Tolong kamu pertimbangkan lagi! Zaman sekarang cari kerja di luar sana susah," bujuk Vino agar Salwa mengurungkan

  • Terjebak di Kamar Sang Pejabat   Bab 4

    Pintu kamar diketuk dari luar. Salwa menyeka air matanya, dengan mata sembab, lalu dengan segera membuka pintu. Sabiru berdiri di hadapannya dan membawa dua box makanan untuk Salwa."Pak Sabiru," kata Salwa sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar."Hey Shanum... kamu kenapa lagi? Mata kamu sembab, kamu habis nangis?" Sabiru menanyakan kondisi Salwa dengan nada khawatir."Sudahlah, kan sekarang kamu juga sudah tinggal di sini. Kamu nggak perlu mikir ucapan Rani kemarin!" pinta Sabiru sambil merangkul pundak Salwa."Ini bukan soal itu, Pak. Rani mengancam saya," jawab Salwa sambil menangis.Tangisannya pecah, kondisi psikologisnya sedang kacau, tubuhnya tiba-tiba memeluk Sabiru yang masih berdiri di dekat pintu. Sabiru meletakkan box makanan yang dibawanya di atas meja. Tangannya memeluk Salwa erat, mencoba menenangkan hati gadis itu. "Rani mengancam apa?" Sabiru bertanya dengan tenang.Salwa melepaskan pelukannya, tanpa pikir panjang, ditunjukkan pesan video yang dikirim oleh Rani d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status