LOGIN“Kamu?! Aku pikir Blue.”Tubuh Stefhani terlonjak ketika melihat Darla sudah berdiri dengan angkuh di depan pintu apartemen Blue. Berarti Darla tau password unit Blue ini.“Selamat pagi, Nona Darla,” sapa Stefhani ramah. Di hadapannya, Darla menatap Stefhani dengan tatapan sengit. “Apa yang kamu lakukan sepagi ini di kediaman tunanganku?”“Mm… hanya mengecek Tuan Blue saja karena semalam kan mabuk.” Stefhani mencoba untuk tetap tenang. “Oh, sok perhatian sekali.” Darla mendekat selangkah, mencoba semakin mengintimidasi Stefhani. “Kamu tahu kan, konsekuensi seperti apa yang akan kamu dapatkan kalau sampai aku melapor ke kantormu? Bahwa kamu menggoda atasanmu?”“Aku tidak melakukan apa pun yang kamu pikirkan.”Darla tersenyum tipis. “Mungkin lebih tepatnya, belum. Aku tahu pasti, kamu mencoba memanfaatkan kondisi Blue yang mabuk semalam”Darla hendak membuka mulut lagi ketika sebuah suara berat terdengar dari belakang. “Stefhani membantuku. Justru aku yang memanfaatkannya.”Blue berdi
“Apa maksudmu, Blue?”Ekspresi Darla terluka. Suara gadis itu bergetar. “Stefhani, ayo!” teriak pria itu, membuat Stefhani beranjak dari tempatnya berdiam sedari tadi.Blue benar-benar mabuk.Stefhani baru menyadarinya saat ia sudah berada di dekat Blue dan siap memapahnya. Aroma alkohol yang tajam bercampur parfum mahal menyeruak dari tubuh lelaki itu. Saat Stefhani melingkarkan tangan Blue ke pundaknya dan membantu lelaki itu berdiri, Darla langsung menyambar. “Lepaskan dia! Aku tunangannya!”Merasa pestanya sedikit terganggu, Grey mencoba melerai keributan itu. “Cukup, Darla. Jangan buat keributan di pestaku.”“Bagaimana aku bisa diam saja kalau tunanganku didekati perempuan murahan, Grey?!” Darla mencoba menaruh Stefhani sebagai pelaku kejahatan.“Stefhani hanya melakukan pekerjaannya,” potong Grey tanpa menaikkan suara. Darla menoleh tak percaya. “Kamu membelanya?”Blue menghela napas pelan, lalu mendengus. Kepalanya sedikit terangkat, matanya menatap Darla dengan sorot yang d
Sabtu malam, Grey dibuat terpukau oleh pesta bujang yang diatur Stefhani. Seharusnya Blue yang urus, tapi lelaki itu terlalu malas dan menyerahkannya pada Stefhani dengan iming-iming uang tambahan yang besar.Dan, di sinilah mereka sekarang… sebuah bar eksekutif yang salah satu ruangannya telah dibooked untuk acara pesta bujang Grey.Minuman-minuman mahal dan langka, pilihan musik yang sesuai selera, hingga penari-penari striptease yang Stefhani seleksi sendiri, siap menghibur teman-teman Grey yang diundang ke acara ini.“Kerjamu luar biasa, Stefhani!” Grey memujinya untuk kesekian kali.Stefhani tersenyum. Ia senang karena jerih payahnya tampak begitu memuaskan di mata Grey.“Tentu. Aku tidak akan mengecewakan. Tuan Blue sudah membayarku mahal untuk ini,” sahut Stefhani.“Blue, Kerja sekretarismu mengagumkan!” puji Grey lagi, kali ini tertuju untuk Blue yang tetap diam sedari masuk ke ruangan ini.Di antara semua lelaki yang datang memenuhi bar eksekutif ini, hanya ada satu lelaki ya
“Bukankah ini keputusan yang gegabah, Tuan? Tuan pasti tahu kalau ini bisa memicu kecemburuan internal.” Kepala HRD berusaha berkata dengan hati-hati.Stefhani terdiam. Ia tak berani berkomentar, sementara belasan pasang mata kini tengah menatap ke arahnya.“Kamu butuh alasan?” tanya Blue. “Aku mengenalnya sejak lama. Stefhani adalah teman Grey. Bukan begitu, Grey?” lempar Blue pada kembarannya.Beruntung, Grey cepat beradaptasi. “Ya, benar. Aku mengenalnya sejak tiga tahun lalu.”Pria yang punya wajah identik dengan Blue itu bahkan memberikan kedipan mata ke arah Stefhani. Gadis itu memberikan senyuman santai, mendukung pernyataan Grey.Kepala HRD berdeham pelan. “Kalau begitu … tentu kami menghargai penilaian Tuan,” putusnya, meski nada suaranya masih terdengar keberatan. “Namun saya harap Nona Stefhani bisa beradaptasi dengan cepat. Tanggung jawab sekretaris CEO bukan hal ringan.”“Saya paham,” jawab Stefhani tenang. Suaranya tidak keras, tapi cukup jelas untuk terdengar. “Saya aka
“Anda masih perawan.”Mata Stefhani memelotot sempurna. “Tidak mungkin!”Hasil yang seharusnya ia harapkan dulu, ternyata malah membuatnya kaget bukan main. Bagaimana bisa hasil pemeriksaan kali ini berbeda dengan tiga tahun lalu?Stefhanie tak sendiri. Di ruangan itu, Blue dan Grey juga terkejut. Dua pria itu memicingkan mata. Mereka tampak curiga pada Stefhani.Dokter itu tak banyak bicara, tapi sedikit penjelasan dan bukti pemeriksaan membuat Stefhani sukses mematung. Dokter itu undur diri, membiarkan Stefhani hanya ditemani Blue dan Grey.“Benar kan, Blue. Aku sama sekali tidak menyentuhnya!” Grey bersemangat mengungkit fakta.Blue tak menjawab. Pria itu masih menatap Stefhanie yang tampak begitu shock.“Sangat jelas seseorang telah menjebakmu,” kata Blue pada akhirnya menyadarkan lamunan Stefhani.Pikiran gadis itu jadi melayang mengingat kejadian malam itu. Sialnya, ia tak bisa mengingat sedikit pun detail peristiwa tersebut. Kecuali ketika ia menghadiri pesta, dan ketika ia ban
“Menikahimu? ulang Blue. Detik berikutnya, rahang lelaki itu mengeras. “Itu... tidak mungkin.”“Dan aku akan memaksamu.” Stefhani mengambil selembar kertas di meja yang belum disentuh Blue. “Kamu sudah menodaiku.”Blue mengerutkan kening membaca apa yang tertera di kertas. Berkali-kali lelaki itu mengembuskan napas berat. Lalu, ia mengangkat ponselnya dan memberi perintah melalui benda komunikasi itu.“Ke ruanganku. Sekarang!”Stefhani bingung. Ia mulai tidak sabar kala Blue hanya diam dan tampak melamun.“Kamu tidak bisa mengelak lagi. Aku juga tau kamu mengenaliku karena kamu langsung berhenti saat aku menyebutkan nomer kamar hotel itu.”“Bukan aku yang bersamamu malam itu.” Blue menggeleng kesal.Kalimat itu pelan, hampir tak terdengar. Meski begitu, telinga Stefhan masih menangkap ucapan itu.“Terus saja menyangkal! Aku sudah memperbanyak dokumen-dokumen ini dan.... “Pintu terbuka. Stefhani menoleh dan ternganga melihat siapa yang masuk. Seorang lelaki berwajah sama dengan Blue y







