MasukMobil Leonard sudah menunggu ketika aku tiba di gerbang mansion.
Tepat waktu.
Aku masuk tanpa berkata apa-apa. Pintu tertutup, mobil melaju perlahan, dan keheningan segera mengisi ruang di antara kami.
“Kau bertemu seseorang,” kata Leonard akhirnya.
Nada suaranya datar, tapi aku bisa merasakan ketegangannya.
“Kenapa kau berpikir begitu?” tanyaku sambil menatap ke depan.
“Ada kendaraan asing terparkir cukup lama di sekitar perpustakaan,” jawabnya. “Bukan orang biasa.”
Aku tersenyum kecil. “Kau mengawasiku.
Udara di ruangan itu berubah berat sejak Leonard datang.Ia berdiri beberapa langkah dariku, tubuhnya kaku, rahangnya mengeras seolah menahan sesuatu yang ingin meledak. Matanya berpindah dari Armand ke wajahku, lalu berhenti terlalu lama di mataku—seakan mencoba memastikan aku benar-benar ada di sini, bukan bayangan dari rasa bersalahnya sendiri.“Apa maksud semua ini?” tanyanya akhirnya. Suaranya rendah, terkontrol, tapi aku tahu nada itu. Nada seseorang yang takut mendengar jawaban.Aku tidak langsung menjawab.Aku menoleh ke Armand. “Pergilah dulu.”Leonard langsung bereaksi. “Tidak. Dia tetap di sini.”Aku menatap Leonard lurus-lurus. “Kalau
Siang hari, aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan.Aku pergi ke arah danau.Sendiri.Langkah kakiku pelan, mantap. Jalan setapak itu terasa familier—terlalu familier. Seolah tubuh Elira mengingatnya meski pikiranku berusaha menolak.Angin bertiup lembut. Air danau berkilau tenang, memantulkan langit siang yang cerah.Tidak ada yang mendorongmu, bisikku pada diri sendiri.Tidak ada yang memaksa.Aku berdiri di titik yang sama seperti dalam mimpiku.Dan di sanalah aku melihatnya.
Aku tidak segera bangkit dari bangku batu itu setelah Lysandra duduk di hadapanku.Ada seni dalam diam.Dan Lysandra… jelas memahaminya.Ia menyilangkan kaki dengan anggun, menatap danau dari kejauhan—arah yang sama denganku. Seolah-olah tempat itu hanya lanskap biasa. Seolah-olah tidak pernah menelan seorang wanita yang nyaris mati.“Kau terlihat lebih tenang,” katanya akhirnya. “Aku sempat khawatir setelah… kejadian itu.”Aku menoleh padanya. “Khawatir?”“Tentu,” jawabnya lembut. “Kau istrinya Leonard. Apa pun yang terjadi padamu, memengaruhi banyak hal.”Banyak hal.
Aku memutuskan untuk diam.Bukan karena aku takut.Bukan karena aku menyerah.Melainkan karena aku akhirnya mengerti satu hal:di rumah ini, suara yang paling berbahaya adalah suara yang terdengar terlalu yakin.Jadi aku kembali menjadi Elira yang mereka kenal.Pendiam.Lembut.Tidak banyak bertanya.Leonard memperhatikannya—aku tahu. Tatapannya tidak lagi setajam beberapa hari lalu. Bahunya sedikit lebih rileks. Ia mulai percaya bahwa aku sudah berhenti menggali.Dan itu kesalahan pertamanya.Hari it
Mobil Leonard sudah menunggu ketika aku tiba di gerbang mansion.Tepat waktu.Aku masuk tanpa berkata apa-apa. Pintu tertutup, mobil melaju perlahan, dan keheningan segera mengisi ruang di antara kami.“Kau bertemu seseorang,” kata Leonard akhirnya.Nada suaranya datar, tapi aku bisa merasakan ketegangannya.“Kenapa kau berpikir begitu?” tanyaku sambil menatap ke depan.“Ada kendaraan asing terparkir cukup lama di sekitar perpustakaan,” jawabnya. “Bukan orang biasa.”Aku tersenyum kecil. “Kau mengawasiku.
Aku terbangun sebelum matahari benar-benar naik.Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada teriakan.Justru sebaliknya—kepalaku terasa terlalu jernih, seolah-olah semalam aku baru saja menata ulang kepingan-kepingan diriku sendiri.Aku duduk di tepi ranjang, menatap kedua tanganku.Tangan Elira.Putih, halus, selalu terlihat seperti milik seseorang yang tidak pernah melakukan pekerjaan kasar. Seseorang yang hidupnya diatur, dilindungi, tapi juga… dikurung.Elira, apa yang sebenarnya kau rasakan sebelum jatuh ke danau itu?Bayangan air gelap itu kembali muncul di kepalaku. Dinginnya, beratnya, rasa sesak yang me







