LOGINDi ruang laboratorium bawah tanah, Elira tiba-tiba mencengkeram kepalanya. Leonard yang baru saja tiba, berlari menghampiri. Monitor menunjukkan lonjakan aktivitas otak ekstrem.
“Elira! Lihat aku!”
Ia membuka mata,tapi tatapannya kosong.
“Sinkronisasi… dimulai…” bisiknya.
Sunyi.Itu hal pertama yang Elira rasakan setelah semuanya berhenti. Tidak ada kericuhan, suara benturan, bisikan dan tidak ada makhluk mengerikan lagi yang berjalan di lorong.Hanya… kosong.“Leonard…?” panggilnya beberapa kali. Suaranya kecil dan hampir tidak terdengar.Ia bangkit perlahan dari lantai. Kakinya masih lemas dan tangannya gemetar. Tempat Leonard berdiri tadi benar-benar kosong. Tidak ada jejak sama sekali. Tidak ada cahaya yang tertinggal atau apapu yang menunjukkan keberadaan Leonard.Seolah dia… tidak pernah ada di sana.“Elira,” panggil Bria. Suaranya membuat Elira menoleh. Brian berdiri di dekat panel dengan wajah yang pucat.“Aether spike… hilang.”Elira menatapnya kosong.“Hilang?”Brian mengangguk pelan.“Bukan turun.”“…hilang total.”Kalimat itu harusnya jadi kabar baik, namun tidak terasa seperti itu. Karena kalau Aether hilang, Leonard juga ikut hilang.Elira berjalan pelan ke tengah ruangan. Matanya menatap lantai.“Dia tidak mungkin…”Ia berhenti. Tidak san
Suara itu tidak keluar dari mulut, karena makhluk itu tidak memiliki mulut. Suara itu langsung masuk ke kepala. Leonard merasakan sesuatu menusuk pikirannya. Gambar-gambar aneh mulai muncul. Ada pemandangan langit yang retak, dunia tiba-tiba terbali dan semua manusia di bumi ini berteriak. Dan di atas semuanya ada mata raksasa itu.Leonard langsung memegang kepalanya.“Ah—!”“Leonard!” Elira berteriak.Brian langsung menariknya mundur.“Jangan lihat matanya!” Namun sudah terlambat. Leonard sudah terhubung.Dalam satu detik dunia berubah. Leonard tidak lagi di laboratorium. Ia berdiri di ruang Aether. Namun kali ini tidak seperti sebelumnya. Ruang itu tidak kosong. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Di atas ada langit. Jika itu bisa disebut langit terbuka dan mata raksasa itu lebih dekat dari sebelumnya, Mata itu terbuka penuh seolah masih mengawasi.Leonard tidak bisa bergerak. Tubuhnya terasa berat. Seolah gravitasi di tempat ini berbeda. Lalu makhluk bermata satu itu muncul di depan
“Mulai sekarang kamu tidak boleh masuk ke dimensi itu lagi.”Suara Elira terdengar tegas, keras, namun matanya penuh ketakutan.Leonard langsung menoleh.“Kamu serius?”“Ya!”Elira mendekat.“Lihat tubuh kamu!”Ia menunjuk garis keperakan di wajah Leonard.“Ini semakin parah!”“Kalau aku berhenti sekarang....”“Kamu pikir Alea bakal senang lihat kamu berubah jadi sesuatu yang bahkan bukan manusia lagi?!”Leonard diam karena ia sama sekali tidak punya jawaban.Brian ikut bicara nadanya ebih tenang, namun justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.“Kalau teori Dr. Pratama benar…”Ia menatap Leonard.“…kamu bukan cuma terhubung ke Alea.”“…kamu sedang berubah jadi jangkar.”Leonard mengerutkan kening.“Jangkar?”“Penghubung tetap antara dunia ini dan ruang Aether.”Sunyi.“Dan kalau itu selesai…”Brian menatap layar. Puluhan titik merah itu.“…mereka tidak perlu Alea lagi.”Kalimat itu menghantam lebih keras dari apa pun.Karena itu berarti, Alea tidak lagi penting bagi mereka y
Leonard langsung menoleh cepat, hampir refleks. Namun tidak ada siapa-siapa di belakangnya. Hanya ruangan laboratorium yang dingin, layar-layar yang masih menyala, dan Elira yang berdiri beberapa meter darinya dengan wajah bingung.“Kamu kenapa?” tanya Elira.Leonard tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih tegang. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Baru saja ia mendengar suara Alea dengan sangat jelas. Terlalu jelas untuk disebut halusinasi.“…dia ada di sini,” bisiknya pelan.Brian yang sedang melihat data langsung mengangkat wajah.“Apa?”Leonard menatap ke sekitar ruangan. Tidak ada apa-apa, namun udara terasa berbeda. Terasa lebih dingin dan lebih berat.“Dia bilang… lari.”Elira langsung menegang.“Leonard…”Namun sebelum siapa pun sempat bicara lagi seluruh lampu di laboratorium tiba-tiba mati. Ruangan langsung tenggelam dalam kegelapan. Hanya layar monitor yang masih menyala samar, memantulkan cahaya kebiruan ke dinding.“Jangan bilang ini pemadaman biasa…” gumam Brian. Sebuah
Hujan turun lagi malam itu, tipis hampir seperti kabut. Membuat seluruh kota terlihat samar dari balik jendela laboratorium. Leonard berdiri diam di depan layar. Matanya menatap catatan lama Dr. Pratama yang masih terbuka.“Sekali mereka tahu kita ada… mereka tidak akan berhenti datang.”Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang hidup. Melekat di kepalanya. Mengulang terus-menerus.Elira masih duduk di depan komputer. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard. mencari sesuatu, apa saja informasi yang bisa ia temukan untuk menghentikan semua ini. Cara memastikan apa yang dilihat Leonard tadi malam bukan awal dari sesuatu yang lebih buruk.“Kalau entitas itu benar-benar ada dan mereka bisa melihat kamu, Leonard…” katanya pelan.“…berarti ikatan antara kamu dan Alea udah terlalu dalam.Leonard tidak menjawab. Karena ia tahu setiap kali ia masuk ke sana ikatan itu semakin kuat. dan sekarang bukan cuma Alea yang bisa melihatnya. Sesuatu yang lain juga mulai melihat balik.“Elira.”Suara Leon
Leonard tidak tidur malam itu. Ia duduk di lantai apartemennya dengan punggung bersandar pada sofa, lampu ruang tamu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar. Tangannya masih gemetar. Bukan karena dingin ataupun karena takut melainkan karena ia masih bisa merasakan sentuhan itu. Sentuhan tangan Alea, meski hanya beberapa detik, meski tubuh itu tidak benar-benar nyata dan meski dunia di sekitar mereka runtuh sebelum ia sempat menggenggam lebih erat, Leonard masih bisa merasakannya dan itu cukup untuk menghancurkan semua ketenangan yang selama dua tahun terakhir ia paksa bangun.Di atas meja tergeletak foto lama. Foto yang sama yang selama ini selalu ada di sana. Foto yang ia pandang beberapa waktu lalu sebelum pergi ke gudang tua itu. Leonard menatap wajah Alea di foto itu lama. Sangat lama.“Kenapa kamu harus ingat…” bisiknya li
Aku tidak pernah menyukai bangunan tua.Terlalu banyak sudut gelap.Terlalu banyak cerita yang tidak pernah selesai.Bangunan yang dikirim
Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.Ia hanya bersembunyi di sudut yang jarang kita sentuh.Dan hari itu…sudut itu terbuka.---Pagi itu mansion terasa terlalu sunyi.Bukan sunyi yang tenang.Tapi sunyi yang seperti menunggu sesuatu terjadi.Leonard sudah pergi ke kantor sejak subuh.
Ada saatnya kau tidak lagi yakinsiapa yang sedang berbicara di dalam kepalamu.Dan malam itu…aku tidak tahu apakah itu aku, atau dia.Sejak menemukan catatan kecil bertuliskan huruf “P”, pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.Pagi datang tanpa terasa.Aku duduk di tepi ranjang, menatap danau
Ada orang yang terlihat paling tulusjustru karena mereka paling terlatih menyembunyikan niatnya.Dan Lysandra…selam







