LOGINMiss Hanabi menatapku dengan tatapan remeh.
“Lebih baik kamu ikut saja denganku sekarang, Argus. Lagian percuma juga kamu lari, toh kamu tetap akan membusuk di penjara karena kasus pembunuhan ini. Dan dia….” Miss Hanabi melirik Masha penuh rasa jijik. “Wanita murahan dan gampangan sepertinya paling cuma bertahan beberapa hari menunggumu. Tapi yakinlah, begitu kamu dipenjara, dia akan langsung kegatalan mencari pria lain untuk menggantikanmu.”
Miss
Aku mengangguk pelan, setuju dengannya. “Ya udah. Kita lakukan yang bisa kita lakukan.”“Gus…” panggil Miya lemah. Matanya benar-benar sayu, hampir terpejam.Aku langsung mendekat dan menggenggam tangannya. “Iya, Sayang?”“Jangan jauh-jauh,” pintanya lirih.“Aku di sini. Aku nggak bakal jauh dari kamu.”Miya kembali merintih saat rasa sakit itu menyerang.Masha menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali memusatkan perhatian kepada Miya.“Ma, aku bakal bantu sebisaku. Mama juga harus kerja sama, ya! Kalau aku bilang tarik napas, ikutin. Kalau aku minta berhenti dulu, Mama ikutin juga!”Miya menggeleng lemah. “Mama nggak mau lahiran di sini. Mama maunya di rumah sakit!”“Mustahil, Ma! Ambulansnya masih lama, sementara kondisi Mama udah begini.”Miya hanya bisa pasrah.“Argus, bantu aku. Posisikan kepala Mama supaya lebih nyaman.”Aku pun membantu Miya mengatur posisi tubuhnya.Sementara itu, Masha mengeluarkan beberapa handuk kecil, kain bedong, selimut
“Gimana, Gus?! Udah dapat belum?!” cecar Masha dari belakang.“Semua driver nolak orderanku!” jawabku sambil menatap layar ponsel dengan frustrasi.“Hah?! Kenapa?!”“Mereka lagi nggak punya bensin!”“Driver kok nggak punya bensin, sih?! Nggak masuk akal!”“Kamu nggak baca berita, apa? Bali lagi krisis BBM! Semua SPBU antreannya full sampai berjam-jam!”“Terus kita harus gimana?!” Masha kembali bertanya dengan nada tinggi.Aku belum sempat menjawab ketika Miya yang duduk di sampingnya mengerang kesakitan. Tangannya mencengkeram perut, sementara napasnya terdengar semakin berat.Aku menoleh ke belakang dengan panik. “Miya, kamu kenapa?”“Sakit, Gus... sakit banget… uhhh….”Miya memejamkan matanya sambil meringis. Melihat kondisinya, aku semakin panik saja.“Aduh, Argus, jangan bengong doang!! Mikir dong!!” desak Masha.Aku mengusap wajahku kasar. “Aku juga bingung, Sha! Kalau aku punya sayap, dari tadi udah kubawa kalian terbang ke rumah sakit!”Miya bersuara dengan susah payah. “Co...
Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari kencang menuju kamar Miya tanpa memedulikan apa pun lagi. Bahkan, aku tidak sempat mengeringkan badan dan hanya mengenakan boxerku yang basah kuyup.Bodo amatlah sama celana dan kaosku yang masih tercecer di lantai dapur.Sementara itu, Novaria mengikutiku dari belakang. Masha masih bertahan di kolam renang, soalnya mustahil juga dia keluar dari kolam dalam keadaan setengah telanjang.“Miya!” teriakku begitu menerobos masuk ke kamarnya.Aku langsung tercekat tatkala melihat pemandangan di hadapanku.Saat ini Miya sedang terbaring di atas ranjang dengan wajah pucat dan rambut yang basah oleh keringat. Kedua tangannya mencengkeram seprai, sementara tubuhnya sesekali menegang menahan rasa sakit. Seprai di sekitar tubuhnya juga tampak basah oleh cairan ketuban yang katanya sudah pecah itu.“Miya!” panggilku lagi.“Argus…” rintihnya begitu melihatku. “Sakit, Gus! Sakit banget!”Aku pun menghampirinya dan menggenggam tangannya erat-erat. “Iya, Sayan
Aku langsung menceburkan diri ke kolam bersamanya. Air memercik ke segala arah, membasahi tubuh kami dalam sekejap.“Ah! Argus! Kamu ini nakal banget!” omelnya begitu muncul ke permukaan, matanya membulat menatapku. Sorot matanya tampak tajam.Tapi bukannya takut, aku justru terkekeh melihat reaksinya itu, tampak menggemaskan. Rambutnya basah kuyup, sementara kedua tangannya sibuk menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya.“Apaan sih? Kenapa malah ketawa?!” gerutunya.“Lucu aja lihat kamu marah-marah begini.”“Lucu kepalamu! Ini udah tengah malam loh! Malah diajak nyebur! Kalau aku sampai masuk angin, awas aja kamu!”Aku pun berenang mendekatinya, lalu berhenti tepat di hadapannya.“Sumpah, aku kangen lihatin kamu marah-marah begini. Aku kangen sama kamu yang dulu, Mbak Masha.”Masha yang tadinya sibuk mengomel mendadak terdiam. Namun, hanya sesaat sebelum ekspresinya kembali berubah.“Mbak?” Dia mengernyit, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kamu panggil aku a
Aku pun kembali mencolok lubangnya, menghantamnya tanpa ampun. Ritmeku kasar dan cepat.Suara kulit kami yang saling berbenturan terdengar jelas di dapur yang sepi ini.Masha hanya bisa pasrah. Kedua tangannya meremas bahuku erat, dan tubuhnya sudah basah oleh keringat.Aku bisa merasakan di bawah sana, Masha yang sudah benar-benar becek.“Eungh… Sayang, aku udah mau keluar!!!” rintihnya.“Iya. Aku bisa rasain.”Ya, aku tahu Masha sudah berada di puncak. Jepitan area intimnya terasa begitu kuat di tongkat pusakaku, hingga akhirnya aku pun tak mampu menahan diri lagi.“Bareng-bareng!!” seruku.Masha buru-buru menggeleng, wajahnya tampak panik. “Nggak! Please, jangan di dalam!”Aku terus menghentaknya dengan kuat, sama sekali tidak berniat menurutinya. Bunyi benturan tubuh kami terus terdengar.“J-jangan… eunghh… Argus!” seru Masha dengan napas yang terengah-engah. “Di luar! Plis!!! Muncratin di dadaku!”Aku menatapnya sejenak, lalu bertanya dengan nada menggoda, “Di dalam aja, ya?”“Eu
Ciuman Masha terkesan terburu-buru. Dia menyedot bibirku lebih dalam seolah melampiaskan rasa frustasinya.Aku juga tak mau kalah, tanganku meremas pinggulnya erat, menarik tubuhnya makin menempel rapat sambil membalas lumatannya tak kalah buas.Masha kemudian mendadak melepas ciumannya. Dahinya menempel pada dahiku. Napasnya masih belum teratur.Dia lalu menarik wajahnya menjauh, matanya yang sembab menatap tepat ke mataku.“Kamu jahat, Argus...” gumamnya dengan suara bergetar. “Kamu benar-benar jahat.”“Aku tau aku jahat. Maaf,” balasku lalu mengusap pipinya dengan ibu jari.Masha memejamkan matanya sejenak saat merasakan usapan jemariku.Tanpa berkata apa-apa lagi, dia kembali menarik leherku dan menciumi bibirku.Kali ini, ciumannya terasa lebih intens. Tangannya bergerak ke belakang kepalaku, meremas rambutku sebelum berpindah memegang bahuku.Aku meraih pinggangnya, lalu mengangkat tubuhnya sedikit dan mendudukkannya di atas meja dapur agar posisi kami sejajar.Masha melepaskan
Wajah Karina yang tadinya merah karena malu, mendadak berubah jadi senyum menyeringai yang licik. Dia melipat tangan di dada, membuat tank top ketat yang dipakainya semakin menjiplak bentuk tubuhnya yang sintal.Mataku yang nakal refleks melirik ke dadanya sebentar, lalu kembali menatap matanya den
Padahal di dalam hati, aku sudah berteriak histeris karena tangan Tante Miya mulai meraba-raba area sensitifku.Tante Miya tersenyum nakal, tatapannya benar-benar menggoda. “Jangan pura-pura nggak tau, Gus. Tante tau kok, kamu juga mau. Buktinya, adikmu ini udah keras banget,” bisiknya sambil terus
Sial, mampus aku! Mana kutau kalau ternyata ada Mbak Masha di dalam!Mbak Masha adalah anak sulung Paman Karyo yang cantiknya minta ampun, tapi kalau sudah marah, galaknya melebihi induk singa yang kehilangan anaknya.Mbak Masha mematung. Matanya masih membelalak sempurna, menatap si Lukman yang se
“Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.Sebenarnya aku takut







