LOGINUdara di dalam kabin mobil terasa menipis, seolah oksigen enggan singgah di paru-paru Amara. Jari-jarinya gemetar hebat saat kunci mobil itu berdenting menghantam dashboard. Bayangan wajah Mita yang sedingin es dan tatapan Samudra yang menghakimi masih menari-nari di pelupuk matanya."Pram harus tahu," bisiknya pada kekosongan. Suaranya serak, nyaris pecah oleh beban ketakutan yang menggunung. "Aku tidak bisa membiarkan Mita menghancurkan segalanya. Tidak sekarang."Amara mengelus perutnya yang masih rata. Di sana ada nyawa yang ia jadikan tameng sekaligus senjata. Pram bukan sekadar kekasih gelapnya selama dua tahun ini, Pram adalah asuransi masa depannya.Setelah Gara dewasa, aliran dana dari Sadewa akan mengering. Ia tak sudi membayangkan masa tua di mana ia harus menengadahkan tangan pada putranya sendiri demi selembar rupiah.Pram adalah tiket bagi Amara menuju kenyamanan abadi. Pram harus bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya beserta masa depan mereka, apa pun risikonya.
Malam itu, di antara rak-rak yang menjulang terasa menyempit. Udara malam terasa semakin tipis, seolah oksigen direnggut paksa oleh kehadiran mereka bertiga.Mita, yang biasanya adalah sosok yang penuh kehangatan dan tawa renyah, kini berdiri kaku. Wajahnya terlihat beku, tanpa ekspresi, seolah-olah Amara hanyalah orang asing yang kebetulan menghalangi jalannya.Amara mencoba menarik sudut bibirnya, memaksakan sebuah senyum yang terasa seperti luka robek di wajahnya. Namun, saat matanya beradu dengan sepasang netra tajam milik Samudra yang berdiri di samping Mita, senyum itu raib tanpa bekas.Ada kilat kebencian yang murni di mata remaja itu. Amara teringat siluet Samudra yang beberapa kali tertangkap matanya di lorong hotel saat ia bersama Pram. Dulu, ia mengira itu hanya kebetulan. Kini, ia sadar, Samudra adalah saksi nyata yang mengumpulkan setiap kepingan dosa papanya."Mit..." Suara Amara bergetar, nyaris tertelan deru napasnya sendiri.Mita tak segera menjawab. Ia mengatur napas
"Kamu sadar beda usia kalian jauh, Gara? Di matanya, kamu itu cuma anak kecil yang sedang butuh pengakuan!"Suara Bimo memecah keheningan ruangan, tajam dan menghakimi. Gara tidak bergeming, namun rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menegang seperti senar gitar yang hampir putus.“Kenapa semua orang picik dan hanya mempermasalahkan angka?" desis Gara. Suaranya rendah, namun sarat dengan kemarahan yang tertahan. “Aku yang bersamanya saat dia menangis, menemaninya saat jatuh! Bukan suaminya yang brengsek itu.”Bimo menggeleng-gelengkan kepala, menatap Gara dengan rasa kasihan yang merendahkan. “Logikamu sudah hilang, Gar. Sepertinya kamu sedang mabuk.”“Apa salahnya aku mencintai Tante Mita?” tanya Gara cepat, suaranya naik satu oktav. “Aku lelaki. Dia perempuan. Tidak ada kodrat yang aku langgar. Apa cinta punya masa kedaluwarsa hanya karena tanggal lahir?”“Aku tidak bilang itu salah secara hukum, tapi kita harus realistis! Kamu ingin bekerja di luar Sadewa hanya karena in
Malam merayap turun dengan angkuh, menyisakan bau tanah basah dan aspal yang mengilap di depan teras rumah Dian.Di dalam kabin mobil yang senyap, Gara masih mencengkeram kemudi. Napasnya berat, beradu dengan detak jam di dasbor. Di kursi penumpang, sebuah bingkisan kecil tergeletak, dibungkus kertas kado warna gading yang licin dan rapi.Isinya sepotong pakaian bayi berwarna putih bersih, selembut awan. Sebuah kontras yang menyakitkan bagi tangan Gara yang kasar, tangan yang lebih akrab dengan gesekan cetak biru dan debu semen daripada serat katun premium.Bagi Gara, kado itu bukan sekadar hadiah, itu adalah simbol dari dunia yang ingin ia masuki, namun terasa begitu jauh dari jangkauannya.Pintu terbuka bahkan sebelum Gara mengetuk. Bimo berdiri di sana dengan sorot mata yang sulit dibaca."Masuk," sapa Bimo datar. "Sudah dapat rumah untuk Mita?"Gara mengangguk, memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di wajahnya yang lelah. Ia menyodorkan bingkisan itu."Untuk Arsen.""Dia
Dunia seolah berhenti berputar bagi Mita. Di ruangan sempit itu, ia merasa terpojok bukan oleh dinding, melainkan oleh kejujuran Gara yang menghantamnya tepat di ulu hati.Mita menatap pemuda di depannya. Mata Gara masih memiliki binar yang sudah lama tanggal dari mata Mita, binar keras kepala yang hanya dimiliki oleh mereka yang belum pernah dihancurkan oleh ekspektasi.Mita menatapnya lama. Terlalu lama untuk sekadar basa-basi. “Aku belum selesai dengan diriku sendiri, Gar.”Gara tidak berpaling. Ia hanya mengangguk pelan, meski gurat kekecewaan melintas di wajahnya secepat bayangan awan.“Aku bisa menunggu sampai semua selesai.”Mita tersenyum. Kali ini tanpa getir. “Lihat dirimu, Gar. Kau masih muda...”"Dan aku ingin menua bersamamu," potong Gara. Kalimat itu meluncur tanpa ragu, berat oleh keyakinan yang membuat nyali Mita justru menciut."Kita harus realistis," Mita menarik napas panjang, sengaja membangun benteng lewat nada bicaranya yang mendadak formal. Ada jarak yang ia cip
Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa peringatan."Apa?" Pram membeku. Keheningan yang menyusul terasa mencekik. "Siapa, Amara? Ulangi lagi.""Anakku," jawab Amara. Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan angin, namun cukup tajam untuk mengiris ketenangan Pram.Tawa Pram meledak bersamaan dengan amarahnya.“Anakmu?” Pram tertawa pendek, penuh racun. “Dia anakmu?” Pram masih belum percaya."Dia tidak tahu apa-apa, Pram!" Amara memotong cepat, nada suaranya naik satu oktav karena panik. “Dia baru pulang dari luar negeri beberapa bulan lalu. Aku kira dia magang diperusahaan papanya, tapi ternyata di konveksi Mita.”Pram mendengus kesal.“Dan aku sedang berusaha meluluhkan hatinya.” Kembali suara Amara terdengar.“Untuk apa?” Pram menyeringai sinis, menyentuh sudut bibirnya yang masih berdenyut nyeri. “Setelah dia menghajarku? dia hampir menghancurkan wajahku!”Ada jeda panjang. Di seberang sana, Pram bisa mendengar napas Amara yang memburu dan pecah."Aku sedang hamil, Pram," suara Amara b







