로그인Merasa familier dengan suara itu, refleks Evan menoleh. Di hadapannya kini seorang wanita dengan topi hitam dan pakaian yang sedikit tertutup, membawa koper di tangannya.Senyum Evan langsung merekah. Tak membuang waktu, dia langsung merangkul wanita itu."Gimana perjalanannya? Capek?" tanya Evan dengan suara lembut.Erina, wanita di pelukannya, membalas pelukan sambil mengangguk."Capek banget. Rasanya pengen langsung tidur."Perlahan pelukan mereka terlepas. "Ya udah. Aku anter ke hotel."Evan membantu membawakan koper milik Erina dan mengajaknya masuk ke sebuah taksi yang sudah ia pesan. Mereka melaju pergi menyusuri jalanan kota.Erina duduk menempel sembari merangkul lengan Evan, bersandar manja padanya."Istri kamu gimana? Dia curiga nggak kamu pergi?" tanyanya penasaran.Evan terdiam sejenak, berpikir. "Biarin aja. Nanti aku bisa cari alasan salah naik bus atau kereta," jawabnya dengan santai, seolah itu bukanlah hal penting.Erina tersenyum lebar."Bagus, deh. Kalau gitu malam
Barang-barang yang Meyra beli berjatuhan di pasir. Tapi sekarang hal itu tak penting.Tatapan Meyra mencoba mencari bantuan di sekitar, matanya menyapu kerumunan yang mulai menipis di pinggir pantai.Namun seolah paham maksud Meyra, dua pria di depannya dengan sengaja menutup akses pandangannya dan semakin mendekatkan pisau kecil itu ke arahnya."Orang-orang nggak bakal peduli sama kita, nona," bisik pria berambut pirang dengan senyuman mencemooh, napasnya berbau alkohol.Meyra menggertakkan gigi. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Hingga akhirnya dia teringat pada cerita Lisa saat dirinya diganggu seperti ini saat liburan dulu."Tuan," ucap Meyra perlahan melembutkan suaranya. Satu tangannya yang bebas kini merangkul lengan pria pirang di sampingnya dengan pura-pura manja."Saya nggak akan melawan. Tapi tolong kita pergi ke tempat yang lebih sepi, ya?" lanjut Meyra sambil malu-malu, menundukkan wajah.Mendengar hal itu, dua pria di depannya saling menatap dan langsung menyu
Tubuh Evan refleks bangkit dengan cepat dari kasur."Jangan!" teriaknya, terdengar sedikit panik.Terlihat Meyra sudah memegang ponsel di tangannya, dengan cepat Evan merebutnya kembali dengan sedikit kasar.Meyra mengerjap kaget, tak menyangka reaksi sekeras itu. Matanya langsung menyipit tajam, penuh dengan rasa curiga."Kenapa jangan? Kamu nyembunyiin sesuatu?"Evan menelan ludah. Namun dia tetap bersikap tenang, mengatur ekspresinya seperti biasa."Nggak. Cuma di sini ada banyak dokumen penting perusahaan. Nggak bisa sembarangan dibuka," jelasnya dengan nada sesantai mungkin, meski jantungnya masih berdegup kencang.Namun Meyra masih menatap Evan dengan wajah datar yang tak bisa dibaca. Dengan cepat pria itu turun dari tempat tidur, sambil mengulurkan tangannya."Mending kita jalan-jalan di luar, yuk. Sunset di sini katanya bagus," ajak Evan mencoba mengalihkan pembicaraan, senyum dipaksakan di bibirnya.Meyra tak menanggapi uluran tangan itu dan bertanya hal lain. "Kopernya giman
"Pfft!" Meyra menahan tawa mendengar panggilan Lisa. "Urin? Air kencing, dong?""Ya emang. Nama Erina terlalu bagus buat pelakor kayak dia. Aku baca gosip katanya dia mau balik lagi ke dunia perfilman," balas Lisa dengan ketus. Dia tak segan-segan jika sudah membenci seseorang.Tawa Meyra memelan. Sebelah alisnya terangkat sedikit penasaran. "Oh, ya?""Iya. Dia upload tumpukan naskah di story-nya. Idih banget," ejek Lisa dengan nada jijik.Meyra tersenyum tipis sambil menghela napas pelan. "Biarin aja lah. Aku nggak peduli asal dia nggak ngusik aku.""Tapi aku masih nggak rela bestie polosku bakal di-unboxing sama cowok brengsek!" balas Lisa sedikit menggerutu.Meyra memutar bola matanya, berpikir sejenak. Bibirnya sembari menahan senyuman. Dalam hatinya ia bergumam.'Udah sih sebenernya. Walau bukan sama cowok brengsek itu.'"Tenang aja, Lis. Aku bisa jaga diri, kok," jawab Meyra, jauh berbeda dengan yang ia pikirkan.Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba terdengar teriakan Evan dar
Wajah Meyra langsung merona merah, sedikit tersipu oleh bisikan Glen yang terlalu menggoda. Pipinya memanas. Dan dia bisa merasakan denyut jantungnya berdebar kencang di telinganya sendiri."B-bukan gitu, mas. Tangannya jangan nakal gitu, dong," seru Meyra, langsung menahan tangan Glen.Glen hanya terkekeh pelan. Dia menurutinya, lalu menarik tangannya kembali. Dia lebih penasaran akan sesuatu."Tapi kenapa kamu bisa di sini? Mana Evan?""Mas Evan berangkat lebih pagi ke kantor. Nggak mau kena macet katanya," jelas Meyra.Glen mengangguk paham, wajahnya sedikit mengejek. "Pasti bakal telat banget kalau nggak berangkat sekarang. Kesian."Meyra merapatkan bibirnya menahan tawa mendengar kata terakhir pria itu. 'Padahal kerjaannya sendiri yang bikin dia harus pergi jauh,' batinnya. Namun saat itu Meyra tersadar akan satu kemungkinan."Jangan-jangan mas yang sengaja pindahin mas Evan ke Lovata, ya?" tebak Meyra. Matanya menatap Glen dengan tatapan menyelidiki.Glen memiringkan kepalanya,
Keesokan harinya. Meyra terbangun mendadak saat mendengar suara nyaring di dekatnya, serta guncangan kasar di pundaknya."Meyra, bangun!""Hm .... Apa, sih?!" gumam Meyra kesal sambil mengerjap perlahan. Matanya masih sedikit terkantuk-kantuk, penglihatan kabur oleh sisa tidur."Bangun dulu. Dasi aku yang di sini mana?" tanya Evan mendesak.Pria itu berdiri di sisi tempat tidur dengan setelan kerja lengkap kecuali dasi.Meyra mendengus, membalikkan tubuhnya."Ya di laci kayak biasalah," jawabnya ketus. Lalu Meyra kembali memejamkan mata, berusaha kembali ke alam mimpi."Nggak ada. Aku maunya yang warna merah maroon. Kamu cariin dong. Aku buru-buru," seru Evan sedikit memaksa.Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung pergi ke arah koper besar di sudut kamar. Barang-barangnya dari kemarin masih belum dirapikan.Dengan sangat terpaksa, Meyra membuka matanya lagi lalu turun dari tempat tidur. Langkahnya sedikit malas menuju lemari besar, dan membuka salah satu laci. Dengan mudah dia mene







