LOGINLuna, di luar ruangan mendengar teriakan dan tangisan lirih itu. Perasaannya semakin campur aduk antara penasaran dan dugaan liar di kepalanya.Sampai akhirnya nomor asing muncul membuat ponsel di tangan Luna bergetar. Ia melangkah pergi dari lantai dua dan membaca pesan dari nomor asing itu.'Apa?' Luna membelalak, syok bukan main seolah percaya apa yang ia baca. Entah siapa orang yang menghubunginya.Beberapa hari berlalu. Akhirnya tiba hari perilisan film yang sudah lama dinanti. Gedung bioskop utama dipenuhi para aktor, aktris, investor, dan jurnalis. Lampu-lampu sorot menerangi karpet merah, para selebriti berpose dengan gaun mewah dan jas mahal.Erina tampil anggun dengan gaun merah menyala, bersanding dengan Evan yang mengenakan jas hitam. Mereka tersenyum lebar, melambai pada para penggemar yang memadati pinggir jalan.Di dalam ruang pemutaran, Glen duduk di barisan depan bersama para investor penting. Wajahnya masih lesu, tapi ia berusaha tampil profesional. Matanya sesekali
"Mau apa kamu ke sini, Luna?" tanya Glen tanpa basa-basi.Luna mendengus pelan, sambil melipat kedua lengannya. "Setidaknya persilakan tamu masuk dulu, dong."Dengan santai Luna berjalan masuk, melewati Glen yang masih terdiam di sana.Luna menatap sekitar hotel yang cukup berantakan. Dokumen-dokumen berserakan di lantai. Dan meja makan yang penuh botol alkohol serta makanan cepat saji yang tak dirapikan.Luna semakin penasaran. Tak biasanya Glen menjadi orang yang teledor seperti ini. Apalagi, dia sangat suka kebersihan."Gle—"Tapi belum sempat bertanya, Glen menyusul dan langsung menyela."Cepat, mau ngapain? Aku sibuk."Luna menyipit tajam, namun akhirnya menghela napas panjang, tak membahas lebih panjang apa yang ia lihat. Luna kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih."Ini, aku bawain undangan premiere. Filmnya mau tayang. Nanti kamu dateng."Glen menatap amplop itu sebentar, lalu menjawab datar. "Ya."Entah pria itu berniat akan datang atau tidak."Meyra di
Meyra menggeleng cepat. Air matanya semakin deras. "Nggak, Mas. Aku nggak pernah. Aku cuma sama kamu."Glen menatapnya lama. Tapi tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik."Mas, kamu masih nggak percaya sama aku?" suara Meyra putus asa. "Mas Glen!"Glen tak menjawab. Ia terus melangkah, berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun.Meyra tertunduk dalam. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. Tangisnya pecah."Hiks..."Begitu Glen pergi, suasana kamar berubah menjadi semakin mencekam. Evan yang sejak tadi diam di belakang Erina akhirnya melangkah maju. Wajahnya merah padam, matanya menyala-nyala menahan amarah yang sudah memuncak."Kamu pikir kamu hebat, ya?" desisnya dengan suara penuh kebencian. "Nggak nyangka selama ini kamu juga main kotor di belakang aku. Kamu lebih menjijikan dari yang aku kira, Meyra."Meyra masih terisak, kepalanya kembali mendongak. "Mas Evan, aku—"Belum sempat Meyra menyelesaikan kalimatnya, Evan mendorong bahunya dengan keras. Tubuh Meyra yang lemah tak
Erina duduk di sofa apartemennya dengan wajah tegang. Pikirannya terus mengulang kejadian beberapa hari lalu, saat Meyra tiba-tiba muntah di depan matanya.Gerak-gerik Meyraa, wajah pucatnya, mual-mualnya. Semua mengarah pada satu kemungkinan.'Nggak mungkin...' batinnya gelisah. 'Bukannya Om Glen mandul? Atau jangan-jangan...'Tak ingin menggantungkan rasa penasarannya, Erina meraih ponsel dan menekan nomor Evan. Tak lama, suara Evan terdengar dari seberang."Ada apa, Sayang?""Evan, aku perlu ketemu Om Glen," ucap Erina langsung tanpa basa-basi."Hah? Buat apa?"Erina menahan napas. "Pokoknya kamu temenin aja. Oke?"Setelah mengatakan itu, Erina memutuskan panggilan. Sebenarnya ia masih ragu, namun mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk melakukan hal ini.'Kalaupun benar itu anak Mas Evan, aku yakin Mas Evan bakal lebih milih aku,' pikirnya penuh tekad dan keyakinan. Seketika tatapan Erina berubah tajam, bibirnya menyeringai."Kita lihat apa Om Glen masih ngelindungin kamu atau ng
"Itu kecelakaan," balas Meyra, suaranya mulai lelah. "Kita sama-sama nggak sadar. Aku juga nggak tahu bagaimana itu bisa terjadi.""Masih saja ngeles!" Erina mengangkat tangannya, dan sebelum Lisa sempat bereaksi, tamparan keras mendarat di pipi Meyra.Plak!"Meyra!" Lisa membelalak kaget.Meyra terhuyung, hampir jatuh. Lisa segera menahan dan berdiri di depan Meyra, melindunginya."Berani-beraninya kamu tampar dia!" bentak Lisa, dengan kasar mendorong Erina sampai terjatuh. "Keluar! Sekarang juga, sebelum aku panggil satpam!"Erina tertegun melihat reaksi Lisa, tapi belum puas. "Meyra, kamu—"Belum selesai bicara, Meyra tiba-tiba memegangi mulutnya, wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuju kamar mandi."Mey!" Lisa panik, segera mengikuti.Erina hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang terjadi.Di dalam kamar mandi, Meyra muntah hebat di depan wastafel."Uwek! Uwek!"Lisa mengusap punggungnya, membasuh wajahnya dengan air, mencoba menenangkan."Kamu kenapa, Mey? Sakit?" tanya Lisa ce
"Ya orang sakit emang gitu," sahut Lisa santai sambil merebahkan diri di samping Meyra. "Mau nyemil apa, dong? Biar aku ada kerja nih jagain kamu."Meyra terkekeh pelan. Sikap Lisa yang rebahan santai sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan."Udahlah. Temenin ya temenin aja. Papa mertuaku nggak nyuruh kamu ngebabu.""Tapi aku emang dikasih tip, sih. Makanya semanget banget aku pagi-pagi ke sini, haha!" ujar Lisa jujur sambil tertawa puas.Meyra menggeleng. Ia baru tahu kebenarannya.Usai tertawa, Lisa tersadar akan sesuatu saat membicarakan Glen. "Eh, tapi kamu selalu berdua sama mertua di rumah ini? Suami kamu ke mana?"Meyra menghela napas. "Entahlah. Mungkin sama selingkuhannya. Dia terang-terangan banget ngenalin Erina ke Papa."Mendengar hal itu, Lisa membelalak. "Hah?! Yang bener?"Meyra mengangguk pelan. Dia lupa menceritakan hal ini pada Lisa. Jika sebelumnya ia akan sakit hati, tapi kali ini Meyra benar-benar tak peduli. Dia langsung mengutarakan perasaannya saa
“Aku cuma mau mastiin,” jelas Lisa. “Soalnya dari belakang mirip banget Suami kamu. Apa mungkin dia sama sekretaris centilnya itu, ya?”Suaranya sedikit berbisik di akhir kalimat. Lisa cukup tahu permasalahan rumah tangga Meyra. Karena pernah melihatnya sendiri.Meyra tertunduk masih memperhatikan f
“Udah di benerin kan kamar mandinya?” lanjut Evan bertanya.Meyra terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu. Sedikit heran.Setelah beberapa saat barulah teringat bahwa dirinya berbohong tentang rusaknya keran kamar mandi.“I-iya. Udah, kok,” jawabnya sedikit terbata-bata.Evan pun melangkah masuk ke
“Apa?” Meyra mengerjap bingung.Glen tak menjawab lalu melepaskan genggaman tangannya. Dan mulai melepaskan jas.Gerakannya pelan. Namun hal itu cukup untuk membuat mata Meyra membelalak panik.Glen benar-benar akan membukanya di sini.“N-nggak, Pah!” ucap Meyra segera menghentikan. “Jangan jahil la
“Kayaknya itu bukan Clara, deh. Rambutnya nggak sependek itu,” gumam Meyra pelan.Kemudian menatap ke luar jendela lagi. Berusaha memastikan sosok perempuan yang berdiri dekat Evan. Tapi tak terlihat jelas karena Evan yang menghalangi.Rasa penasarannya makin mengusik. Meyra akhirnya mengambil pons







