LOGIN"Ya udah. Ayo aku temenin."
Suara Evan terdengar datar.
Tapi cukup untuk membuat wajah Meyra berubah. Ekspresi datarnya kembali tersenyum cerah.
"Beneran? Kamu mau ikut? Emang nggak ganggu kerjaan kamu?" tanyanya dengan mata berbinar.
Evan menghela napas panjang. Memalingkan wajahnya sejenak.
"Nggak kalau cuma sebentar."
Lalu menoleh pada Sekretarisnya dan memerintah. "Kamu ke kantor duluan, Clara."
Clara mengangguk pelan.
“Iya, Pak,” jawabnya.
Kemudian berbalik dan pergi tanpa banyak bicara.
Melihat hal itu, entah kenapa Meyra senang Clara pergi. Dan Evan berpihak padanya.
Meyra mulai sedikit percaya dengan perkataan Evan tadi mungkin benar. Mereka kemari hanya masalah pekerjaan,
"Tapi aku mau ambil buket dulu di taksi ya, Mas," ujar Meyra.
Evan mengayunkan sedikit dagunya.
"Ya udah sana."
Dengan langkah ringan, Meyra bergegas pergi.
Sementara Evan masih berdiri di tempatnya. Ketika Meyra menjauh, ekspresinya berubah datar.
‘Ck. Merepotkan,’ gerutunya dalam hati.
Mendengus samar penuh kejengkelan.
Tak lama, Meyra kembali dengan buket bunga di tangan.
Mereka berangkat bersama menuju pemakaman. Tempat Ayah Meyra beristirahat.
Untuk kedua kalinya, Evan ikut menemaninya berziarah. Hal itu membuat Meyra senang.
Di sepanjang perjalanan, suasana di antara mereka terasa lebih tenang.
Meski senang akhirnya ditemani, Meyra jadi sedikit merasa bersalah karena telah mengganggu waktu kerja Evan.
"Maaf soal yang tadi ya Mas. Waktu pagi juga, udah buat kamu marah. Aku jadi sering Overthinking kalau ada cewek yang deket kamu,"ucapnya dengan suara lembut.
Kepalanya tertunduk menunjukkan penyesalan.
Evan melirik sekilas, satu alisnya terangkat. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
“Nggak apa-apa. Mungkin itu sifat alami cewek,” ujarnya santai. “Tapi aku lebih suka kalau kamu nggak berprasangka buruk sama aku.”
Meyra kembali tersenyum lega. Menatap Evan lalu mengangguk.
Evan kembali fokus ke jalanan.
Meyra tak sadar, senyuman pria itu kini berubah jadi seringai kecil.
'Gampangan banget,' pikirnya dingin.
"Oh iya." Evan kembali berbicara. "Klien tadi setuju buat lanjut kerja sama. Jadi aku harus dinas keluar kota."
Mendengar hal itu, seketika senyuman Meyra sedikit pudar.
"Kapan? Berapa lama? Sama Clara perginya?" tanyanya langsung bertubi-tubi.
Dan itu membuat Evan memberi tatapan sinis.
"Nggak!" jawabnya langsung. Sedikit menaikkan intonasinya.
"Cuma aku sendiri. Paling sehari atau dua hari. Malem nanti aku berangkat," lanjut Evan menjelaskan.
Meyra terdiam. Mengangguk paham.
"Iya, Mas. Maaf. Nanti aku siapin baju kamu," katanya dengan suara pelan.
Tersirat sedikit kekecewaan. Yang entah Evan menyadarinya atau tidak.
Jika sadar pun, mungkin Evan hanya pura-pura tak tahu.
Meyra kemudian menatap keluar jendela. Helaan nafas panjang keluar dari bibirnya.
‘Baru juga baikan... Tapi dia harus pergi lagi,’ pikirnya lirih.
Namun tidak ada yang bisa Meyra lakukan. Selain pasrah menerimanya.
Waktu berputar cepat. Setelah berziarah, Evan langsung mengantarkannya pulang sebelum kembali ke kantor. Waktu istirahat makan siang sudah hampir habis.
Sesampainya di rumah, Meyra menaruh barang belanjaannya di meja dapur.
Tapi salah satu kantung belanjaannya terjatuh. Dan beberapa barang di dalamnya menggelinding keluar.
Salah satunya adalah sebuah bungkus kotak bening. Berisi mainan sex yang Lisa berikan sebelumnya.
Mata Meyra membulat kaget. Dengan cepat dia mengambil kotak. Menyembunyikannya di belakang punggung.
Dengan konyolnya Meyra menoleh ke sekeliling sedikit panik. Padahal tidak ada siapa pun.
'Untung aja Bi Tuti udah pulang,' pikirnya lega. Baru teringat.
Meyra menggelengkan kepala. Tak habis pikir.
'Dasar Lisa. Aku kan punya Suami. Kenapa harus pake ini?'
Tapi kenyataannya, Meyra memang kesepian. Apalagi Evan akan pergi dinas nanti.
Meyra menaruh mainan sex itu di sampingnya. Menatapnya cukup lekat.
Bibirnya menahan senyuman. Tak tahu mengapa, jadi malu sendiri.
Di kala Meyra memperhatikan mainan itu, tiba-tiba dering ponselnya berbunyi.
"Astaga!" serunya tersentak.
Meyra segera merogoh sakunya. Dan yang menelpon adalah Glen.
Sedikit heran pria itu menelpon di jam kerja seperti ini. Tapi Meyra tetap menerima panggilannya.
"Halo, Pah?" ucapnya sopan.
"Halo, Meyra. Makan malem di luar nanti kayaknya nggak jadi. Papa harus lembur."
Meyra mengangguk kecil.
"Oh. Nggak apa-apa, Pah. Lagian Mas Evan juga nggak bisa ikut."
"Maaf ya. Mungkin lain kali," katanya terdengar menyesal.
Meyra tersenyum tipis. Sama sekali tak keberatan.
"Iya, Pah. Santai aja."
Panggilan pun berakhir.
Meyra mengabaikan hadiah pemberian Lisa itu. Dan mulai mengeluarkan semua belanjaannya.
Selesai membereskan semuanya, Meyra berjalan ke kamarnya. Sambil membawa mainan sex di tangannya.
Tidak mungkin membiarkannya di sana.
Meyra membuka laci di meja kerjanya yang terkunci. Lalu menyimpan dildo itu. Menyembunyikannya dari Evan.
Meyra duduk di kursi. Membuka laptopnya, kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penulis novel.
Sinar matahari di langit perlahan turun. Tak terasa hari menjelang malam.
Saking fokusnya Meyra menulis, sampai lupa waktu.
Hingga tiba-tiba, suara lain membuyarkan konsentrasinya.
"Meryra!"
Suara keras terdengar dari luar kamar. Itu suara Evan.
Meyra tersentak, buru-buru bangkit. Baru saja hendak membuka pintu, Evan sudah berdiri di ambang dengan wajah kesal.
“Kamu ke mana aja sih?! Aku telpon nggak diangkat!” omelnya.
Meyra cepat-cepat mengambil ponselnya di meja. Ternyata dalam mode senyap.
"M-maaf. Aku terlalu fokus nulis. Jadi-"
Belum selesai menjelaskan, Evan langsung menyela sambil berdecak. Seolah-olah tak peduli dengan alasan Meyra.
"Ck. Nulis aja yang kamu tau. Baju aku mana?"
Seketika Meyra menepuk jidatnya. Kembali diingatkan akan hal itu. Kini dia lebih merasa bersalah.
"Aku lupa, Mas. Maaf, ya. Aku packing sekarang," sesalnya.
Segera melaksanakan permainan Evan. Tak ingin membuatnya lebih kesal lagi.
Evan masih terlihat jengkel. Dia mendengus sambil melipat kedua tangan di depan dada.
"Buang-buang waktu nulis novel. Paling yang baca cuma orang-orang halu," gumamnya menggerutu.
Terdengar sarkas seolah menganggap remeh.
Tentu Meyra mendengarnya. Kata-kata itu bagai pisau yang menusuk hatinya.
Meyra menggeleng cepat. Air matanya semakin deras. "Nggak, Mas. Aku nggak pernah. Aku cuma sama kamu."Glen menatapnya lama. Tapi tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik."Mas, kamu masih nggak percaya sama aku?" suara Meyra putus asa. "Mas Glen!"Glen tak menjawab. Ia terus melangkah, berjalan keluar kamar tanpa menoleh sedikit pun.Meyra tertunduk dalam. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. Tangisnya pecah."Hiks..."Begitu Glen pergi, suasana kamar berubah menjadi semakin mencekam. Evan yang sejak tadi diam di belakang Erina akhirnya melangkah maju. Wajahnya merah padam, matanya menyala-nyala menahan amarah yang sudah memuncak."Kamu pikir kamu hebat, ya?" desisnya dengan suara penuh kebencian. "Nggak nyangka selama ini kamu juga main kotor di belakang aku. Kamu lebih menjijikan dari yang aku kira, Meyra."Meyra masih terisak, kepalanya kembali mendongak. "Mas Evan, aku—"Belum sempat Meyra menyelesaikan kalimatnya, Evan mendorong bahunya dengan keras. Tubuh Meyra yang lemah ta
Erina duduk di sofa apartemennya dengan wajah tegang. Pikirannya terus mengulang kejadian beberapa hari lalu, saat Meyra tiba-tiba muntah di depan matanya.Gerak-gerik Meyraa, wajah pucatnya, mual-mualnya. Semua mengarah pada satu kemungkinan.'Nggak mungkin...' batinnya gelisah. 'Bukannya Om Glen mandul? Atau jangan-jangan...'Tak ingin menggantungkan rasa penasarannya, Erina meraih ponsel dan menekan nomor Evan. Tak lama, suara Evan terdengar dari seberang."Ada apa, Sayang?""Evan, aku perlu ketemu Om Glen," ucap Erina langsung tanpa basa-basi."Hah? Buat apa?"Erina menahan napas. "Pokoknya kamu temenin aja. Oke?"Setelah mengatakan itu, Erina memutuskan panggilan. Sebenarnya ia masih ragu, namun mempertaruhkan semua yang ia miliki untuk melakukan hal ini.'Kalaupun benar itu anak Mas Evan, aku yakin Mas Evan bakal lebih milih aku,' pikirnya penuh tekad dan keyakinan. Seketika tatapan Erina berubah tajam, bibirnya menyeringai."Kita lihat apa Om Glen masih ngelindungin kamu atau n
"Itu kecelakaan," balas Meyra, suaranya mulai lelah. "Kita sama-sama nggak sadar. Aku juga nggak tahu bagaimana itu bisa terjadi.""Masih saja ngeles!" Erina mengangkat tangannya, dan sebelum Lisa sempat bereaksi, tamparan keras mendarat di pipi Meyra.Plak!"Meyra!" Lisa membelalak kaget.Meyra terhuyung, hampir jatuh. Lisa segera menahan dan berdiri di depan Meyra, melindunginya."Berani-beraninya kamu tampar dia!" bentak Lisa, dengan kasar mendorong Erina sampai terjatuh. "Keluar! Sekarang juga, sebelum aku panggil satpam!"Erina tertegun melihat reaksi Lisa, tapi belum puas. "Meyra, kamu—"Belum selesai bicara, Meyra tiba-tiba memegangi mulutnya, wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuju kamar mandi."Mey!" Lisa panik, segera mengikuti.Erina hanya bisa terpaku, tidak mengerti apa yang terjadi.Di dalam kamar mandi, Meyra muntah hebat di depan wastafel."Uwek! Uwek!"Lisa mengusap punggungnya, membasuh wajahnya dengan air, mencoba menenangkan."Kamu kenapa, Mey? Sakit?" tanya Lisa ce
"Ya orang sakit emang gitu," sahut Lisa santai sambil merebahkan diri di samping Meyra. "Mau nyemil apa, dong? Biar aku ada kerja nih jagain kamu."Meyra terkekeh pelan. Sikap Lisa yang rebahan santai sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia katakan."Udahlah. Temenin ya temenin aja. Papa mertuaku nggak nyuruh kamu ngebabu.""Tapi aku emang dikasih tip, sih. Makanya semanget banget aku pagi-pagi ke sini, haha!" ujar Lisa jujur sambil tertawa puas.Meyra menggeleng. Ia baru tahu kebenarannya.Usai tertawa, Lisa tersadar akan sesuatu saat membicarakan Glen. "Eh, tapi kamu selalu berdua sama mertua di rumah ini? Suami kamu ke mana?"Meyra menghela napas. "Entahlah. Mungkin sama selingkuhannya. Dia terang-terangan banget ngenalin Erina ke Papa."Mendengar hal itu, Lisa membelalak. "Hah?! Yang bener?"Meyra mengangguk pelan. Dia lupa menceritakan hal ini pada Lisa. Jika sebelumnya ia akan sakit hati, tapi kali ini Meyra benar-benar tak peduli. Dia langsung mengutarakan perasaannya saa
Evan duduk di sofa apartemen Erina dengan wajah tegang. Erina berdiri di depannya, kedua tangan terlipat di dada, matanya merah menahan tangis."Kamu harus jujur sama aku, Mas. Itu bekas dari siapa?" suara Erina bergetar penuh tuntutan.Evan menunduk. Tangannya meremas rambutnya frustrasi. Akhirnya, dengan suara serak, ia mengaku."Meyra."Erina terkesiap. Air mata yang ditahan akhirnya jatuh."Meyra? Bukan pelacur atau yang lain, tapi Meyra?!" ulangnya masih tak percaya."Aku nggak sadar, Erina. Aku mabuk. Jadi aku nggak ingat apa-apa," dalih Evan cepat.Erina menangis, memukul-mukul dada Evan lemah. "Tapi kenapa kamu harus tidur sama dia?! Kamu udah janji!""Aku bener-bener minta maaf, Sayang. Itu cuma kesalahan. Tolong percaya sama aku." Evan meraih tangan Erina, menggenggamnya erat.Erina masih melotot marah pada pria itu. Dengan suara penuh amarah dan air mata yang masih mengalir, dia membalas."Pokoknya kamu harus cepat ceraikan dia. Aku nggak mau tahu!"Evan menarik napas panja
Glen meraih kedua tangan Meyra yang masih berusaha menutupi dada, lalu memborgolnya ke atas kepala.Meyra hanya bisa pasrah, tak kuasa melawan perbedaan kekuatan yang sangat jelas. Tubuhnya terbuka sepenuhnya di hadapan Glen.Kain hitam kemudian diikatkan di mata Meyra. Dunianya menjadi gelap."Mas... jangan begini. Aku nggak suka," rintih Meyra, suaranya bergetar hampir menangis."Aku lebih nggak suka denger desahan kamu sama Evan," sindir Glen.Glen kemudian meraih sesuatu dari samping. Benda kecil, tumpul, dan dingin.Meyra merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhnya. Bukan milik Glen. Benda itu kecil, bergetar, terbuat dari silikon."Mas, itu... ah..." Meyra mengerang pelan.Glen menekan remote. Level getaran naik. Meyra menjerit kecil, tubuhnya menegang. Sensasi yang aneh, asing, dan terlalu intens menjalar dari area sensitifnya."M-mas... aku minta maaf... tolong, berhenti," rintihnya di sela-sela erangan yang tak bisa ditahan.Glen hanya menatapnya, dengan ekspresi yang sulit diba
“M-maaf Tante. Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma menantunya Papa Glen,” ujar Meyra buru-buru menjelaskan.Tidak ingin ada salah paham apa pun.Luna menatap lekat. Dan perlahan, wajah ketusnya berubah menjadi senyuman kecil.“Muka kamu panik banget, haha!” serunya sambil tertawa puas.Meyra memiringka
Merasa penasaran, Meyra akhirnya menelepon Evan. Hanya untuk mengkonfirmasi sesuatu.Beberapa waktu kemudian, akhirnya pria itu menjawab.“Kenapa?” suaranya datar seperti biasa.Meyra menggigit bibirnya, mencoba tetap terdengar santai.“Tadi kamu kirim pesan ya, Mas? Kenapa dihapus?”Hening sesaat.
“Entah. Lihat aja penampilannya kampungan banget. Kayak kutu buku,” lanjut si karyawan berkacamata.“Eh, katanya dia kan emang bikin buku,” balas temannya.“Oh! Penulis novel cringe gitu? Haha!”Mereka tertawa pelan, sambil pura-pura melihat arah lain.Tapi Meyra tahu jelas, setiap kata itu diarahk
“Duh. Maaf ya,” sesal Lisa.Meyra menepuk jidat. Langsung memutus Panggilan. Perasaannya semakin resah. Dia berdiri, hendak menyusul Glen.Namun pria itu sudah kembali lagi."Ini ada paket kamu, Meyra."Sambil menyodorkan paket di tangannya."Tumben dateng paket pagi-pagi. Emang kamu beli apa?" tan







