Masuk"Lis, kenapa beli itu siang-siang gini, sih? Kenapa nggak beli online aja," bisik Meyra setengah menahan malu.
Kepalanya menunduk. Sedikit menutupi wajah dengan rambut panjangnya.
Lisa hanya menoleh santai.
"Ya kalau malem, mall tutup. Aku udah beli online, tapi lama nyampe."
Lalu melangkah santai menyusuri deretan rak yang dipenuhi berbagai benda berwarna mencolok. Meyra hanya menggelengkan kepala.
Perusahaan keluarga Anderson sedikit unik. Bisnis mereka bergerak di bidang fesyen khusus dewasa, dan memproduksi mainan sex. Toko Arson di mall ini adalah salah satu cabangnya.
“Mey, lihat deh. Ini lumayan bagus,” panggil Lisa.
Sambil mengangkat sebuah mainan sex berwarna hitam dengan ukuran yang cukup besar.
“Kamu mau nggak? Katanya ini paling laku.”
Meyra langsung melotot.
“Nggak, ah! Kamu aja,” tolaknya.
Lisa terkekeh kecil.
“Duh, bener juga. Kamu kan udah punya suami.”
Meyra pura-pura tak mendengar. Sambil memalingkan wajah.
Namun, kata-kata Lisa sedikit menusuk hatinya. Meski memiliki Suami, tapi Meyra tak pernah sekalipun mendapat nafkah batin.
Setelah Lisa selesai berbelanja, mereka melangkah keluar dari toko. Namun sebelum berpisah, Lisa menyelipkan sesuatu ke dalam kantung belanjaan Meyra.
“Nih, cobain satu. Siapa tahu kalau suami kamu sibuk atau dinas, kamu nggak kesepian,” katanya sambil terkekeh nakal.
“Heh? Apa nih?” Meyra menatapnya bingung.
“Makasih udah nemenin ya! Nanti aku bawain oleh-oleh!” seru Lisa.
Lalu berlari pergi sebelum Meyra sempat menegurnya.
Meyra menghela napas, membuka kantung belanjaan. dan seketika wajahnya memanas.
“Ya ampun, Lisa…” desisnya kesal.
Itu adalah mainan sex yang ditawarkan Lisa tadi. Hanya melihatnya saja sudah membuat telinganya merah.
Buru-buru Meyra menutup kantung belanjaan. Dan pergi ke arah sebaliknya.
Niat awalnya ingin membeli cermin jadi hilang sudah. Meyra memilih langsung pulang saja.
Saat turun ke lantai satu, aroma wangi dari berbagai restoran memenuhi udara.
Meyra sempat melirik ke kiri dan kanan, mencari pintu keluar. Tapi langkahnya berhenti mendadak.
Di salah satu restoran, Meyra melihat sosok pria yang familier.
Pria itu duduk dengan seorang wanita berambut panjang. Yang mengenakan blus putih elegan.
Meyra tertegun. Napasnya tercekat.
'Mas Evan? Kenapa dia sama Clara di sini?'
Jantungnya berdegup kencang. Meyra hendak melangkah mendekat. Tapi dia masih berusaha menahan diri. Dan tetap tenang.
Meyra mengeluarkan ponsel dari tas dan menekan nama suaminya.
Sambungan tersambung setelah beberapa saat.
“Halo,” ucap Evan. Terdengar datar seperti biasa.
“Mas, kamu lagi di mana?”
“Makan siang. Kenapa?” jawabnya singkat.
Meyra menggigit bibir bawahnya.
“Sama Clara, kan? Kamu suka nolak bawa bekal masakan aku. Tapi ternyata lebih suka makan sama dia, ya?”
Suara Evan langsung berubah tegang.
“Apa? Emang kamu di mana?!”
Dari kejauhan, Meyra melihat Evan celingukan. Mencari-cari dengan wajah panik. Hal itu sudah cukup membuktikan kecurigaannya.
Begitu tatapan mereka bertemu, Meyra buru-buru menutup telepon dan berbalik.
Kemudian berjalan cepat menuju arah pintu keluar. Menahan air mata yang sudah menggenang.
“Meyra!” teriak Evan.
Mengikuti dengan langkah tergesa-gesa.
Clara pun berdiri dari tempat duduk. Wajahnya terlihat bingung.
Begitu sampai di luar mall, Evan berhasil menyusul dan menarik pergelangan tangannya.
"Kamu mau ke mana?"
Meyra menepis tangannya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan amarah dan sedih.
"Kamu lanjut aja makannya sama Clara."
"Coba kamu denger dulu!" Evan sedikit menaikkan nada suaranya. Tak berniat menjelaskan dengan lembut.
"Aku abis ketemu klien di sini. Tapi karena udah jam makan siang, jadi sekalian."
Meyra mengernyit.
"Klien mana yang pengen ketemu di mall?" sindirnya.
Evan mendengus kasar, memejamkan mata sejenak. Lalu mendekat. Dengan raut menahan kejengkelan.
"Klien aku macem-macem kemauannya. Bisa nggak, percaya aja apa yang aku bilang? Nggak usah memperpanjang masalah," gumamnya pelan.
Berusaha tak berteriak karena berada di tempat umum.
Sebelum Meyra sempat menjawab, seseorang menghampiri mereka.
"Maaf Bu. Yang Pak Evan bilang itu betul. Karena dia mau cek langsung barang di toko Arson cabang mall ini," ujar Clara.
Orang yang jadi sumber pertengkaran mereka.
Meyra menyipitkan mata.
'Tapi aku juga tadi ke toko Arson. Kenapa nggak ketemu ya? Apa waktunya nggak pas?' pikirnya.
"Maaf kalau sekiranya saya bikin Bu Meyra salah paham," lanjut Clara sambil menunduk.
Evan menatap Clara sekilas. Diam-diam tersenyum puas. Lalu kembali menatap Meyra.
"Denger, kan? Masih mau salah paham lagi?"
Meyra hanya memalingkan pandangan. Menghela nafas panjang.
"Aku nggak salah paham," elaknya.
Evan memutar bola matanya. Lelah berdebat lebih jauh.
"Mending sekarang kamu pulang aja. Tadi ke sini naik apa?" katanya. Mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Taksi,” jawab Meyra. “Tadinya mau ke makam Ayah. Kamu lupa ya, kalau hari ini peringatan kematiannya?”
Evan terdiam. Tatapannya goyah. Rasa bersalah akan kejadian dua tahun lalu kembali menggerogoti hatinya.
'Kenapa harus hari ini, sih,' gumamnya dalam hati.
"Tapi apa?" desak Glen, kesabarannya mulai menipis. Tatapannya berubah tajam, terhalang kabut nafsu.Meya menelan ludah. Jantungnya berdebar kencang, namun ia tahu tak bisa lagi menghindar dan harus tetap mengatakannya."Aku nggak bisa, Mas. Barusan aku datang bulan."Glen seketika terdiam. Matanya mengerjap kaget, memproses kata-kata itu, sebelum akhirnya menghela napas panjang. Satu tangan menepuk jidatnya.‘Astaga. Bisa-bisanya aku maksa perempuan yang lagi datang bulan,’ batinnya merutuki diri sendiri akan perbuatan bodohnya.Glen perlahan bangkit dan duduk di tepi ranjang, punggungnya membelakangi Meya. Bahunya naik turun dalam tarikan napas yang berusaha dikendalikan.Tak bisa dipungkiri, raut Glen tampak kecewa. Bukan pada Meya, tetapi pada situasi yang tak bisa memuaskan hasratnya yang telah berkobar."Maaf, Meya. Kalau gitu kamu tidur aja di sini, ya. Aku mau nenangin diri dulu," ucap Glen, suaranya serak. Ia turun dari tempat tidur.Namun saat hendak melangkah menjauh, Meya
Glen tertawa mendengar penuturan Meyra tentang apa yang telah ia lakukan."Bagus," pujinya, matanya berbinar bangga. "Gitu, dong. Itu baru namanya keluarga Anderson."Tangan Glen terangkat, lalu mengusap pipi Meyra dengan gemas.Meyra hanya bisa merapatkan bibirnya, menahan senyuman. Pipinya memerah, tersipu oleh pujian dan gesture Glen yang tiba-tiba mesra itu.Tak lama kemudian, mobil sport berwarna biru berhenti di depan rumah keluarga Anderson. Meyra turun dan masuk lebih dulu, tubuhnya masih terasa lembap dan tidak nyaman. Gaun mewahnya yang basah kini hanya menjadi beban kain yang berat dan dingin.Usai berendam lama di air hangat, Meyra segera mengenakannya. Saat ia sedang merapikan tempat tidur, ponselnya tiba-tiba berdering. Layar menyala menunjukkan nomor asing yang tak ia simpan.Jantung Meyra sedikit berdebar kencang, rasa skeptis dan waswas muncul. Teringat pada nomor anonim yang pernah ia terima sebelumnya. Namun, Meyra tetap merasa penasaran dan akhirnya menerima panggi
Di tengah kebimbangan dan kepanikan, Erina berusaha mati-matian untuk tetap tenang. Ia menggeleng cepat."I-ini cuma salah paham. Saya nggak sengaja celakain nona Atheril," katanya dengan suara yang sedikit tergagap, buru-buru menjelaskan.Altmer yang masih ada di sana mendekat pada Erina dengan tatapan tajam."Artinya, betul kamu yang buat putri saya tenggelam, kan? Mau itu sengaja atau nggak."Sontak, Erina menutup mulutnya dengan tangan. Saking gugupnya, ia tak sadar telah mengakui perbuatannya secara tidak langsung. Ia terpojok."Bukan gitu maksud saya, nyonya—" Erina mencoba berbelit, mencari celah.Namun, wanita paruh baya di depannya tak memberi kesempatan lagi untuk berbicara. "Ikut. Kita bicara di tempat lain."Suara dingin yang penuh penekanan itu membuat Erina kehilangan nyali untuk membantah. Erina akhirnya dengan sangat terpaksa, berjalan mengikuti Altmer.Ketika berbalik, sekilas dari sudut matanya, Erina menangkap ekspresi Meyra yang berdiri di antara kerumunan orang. M
Usai acara lelang, suasana di vila mewah itu belum sepenuhnya reda. Sebagian tamu masih bertahan, menikmati kelanjutan pesta di tepi kolam renang. Mereka berkelompok, berbincang santai sambil meneguk anggur, memanfaatkan malam untuk memperluas relasi.Di tengah keramaian itu, Meyra berdiri dekat meja prasmanan. Perutnya sedikit keroncongan setelah semua drama lelang tadi"Meyra, aku mau telpon dulu, ya," pamit Atheril di sampingnya."Iya, silahkan," jawab Meyra dengan anggukan pelan, lalu kembali fokus pada piring kuenya, memberikan Atheril ruang untuk privasi.Di saat Meyra berbalik, mencari tempat duduk yang nyaman, ia tak sadar ada seseorang yang berjalan agak cepat melewatinya. Tubuh mereka bertabrakan dengan sentuhan yang tidak terlalu keras, namun cukup untuk membuat keseimbangan goyah."Akh!" Meyra sedikit meringis. Bukan karena sakit, tetapi karena cipratan dingin dan basah yang tiba-tiba membasahi sisi tubuhnya.Minuman anggur merah gelap di gelas tinggi itu tumpa , menciptak
"Hai. Selamat malam," sapa Atheril dengan ramah memecah kesibukan percakapan kecil mereka.Mereka yang berdiri di sekitar Erina serempak menoleh. Wajah-wajah itu langsung membalas sapaan, tentu mengenal siapa Atheril."Lama nggak ketemu, Nona Erina," lanjut Atheril.Erina menunduk sopan dengan senyuman tipis. "Iya, terakhir kita ketemu di—"Namun perkataan Erina terhenti mendadak, seolah baru tersadar. Pandangannya, tertuju pada sosok yang berdiri di belakang Atheril. Matanya membelalak syok.Atheril menyeringai kecil. Lalu ia menarik Meyra ke sampingnya dengan bangga. "Oh, iya. Saya mau kenalin teman saya yang baru gabung."Meyra masih terlihat gugup. Bahunya sedikit kaku. Namun, Atheril di sampingnya mendekat, dan berbisik pelan ke telinganya."Istri sah jangan mau kalah."Setelah mendengar hal itu, Meyra akhirnya paham tujuan Atheril mengampiri Erina lebih dulu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya. Senyum manis yang sempurna terukir di wajahnya."Selama
“Oh, Suami kamu masih di Lovata, ya? Si Glen mana sekarang?” sahut Luna santai, tampak sama sekali tidak curiga dengan kegugupan kecil Meyra.Diam-diam, Meyra langsung menghela napas lega di dalam hati.“Papa mungkin nunggu di parkiran. Kan, nggak bisa masuk ke dalam acara kalau laki-laki.”Luna mengangguk paham. “Iya, sih. Ya udah, masuk yuk.”Luna kemudian mengajak Meyra berjalan menuju pintu aula besar di ujung koridor.Saat melangkah masuk, Meyra sedikit terpana dengan suasana di dalamnya. Ruangan itu sangat luas dan mewah, dipenuhi oleh para wanita dengan gaun-gaun elegan. Untuk sejenak, Meyra menghentikan langkahnya.‘Apa aku pantas ada di tengah-tengah mereka?’ pikirnya ragu, perasaan rendah diri muncul di tengah kalangan sosialita itu.Di sampingnya, Luna menyadari keraguan Meyra. Dia mendekat dan membisikkan sesuatu padanya.“Jangan gugup. Mereka semua orang baik-baik, kok. Kamu nggak bakal digigit,” katanya mencoba menenangkan dengan sedikit candaan.Seketika, Meyra tertawa







