Share

Bab 3 ー Curiga

Author: Onigiri
last update publish date: 2025-11-03 10:17:38

"Lis, kenapa beli itu siang-siang gini, sih? Kenapa nggak beli online aja," bisik Meyra setengah menahan malu.

Kepalanya menunduk. Sedikit menutupi wajah dengan rambut panjangnya.

Lisa hanya menoleh santai.

"Ya kalau malem, mall tutup. Aku udah beli online, tapi lama nyampe."

Lalu melangkah santai menyusuri deretan rak yang dipenuhi berbagai benda berwarna mencolok. Meyra hanya menggelengkan kepala.

Perusahaan keluarga Anderson sedikit unik. Bisnis mereka bergerak di bidang fesyen khusus dewasa, dan memproduksi mainan sex. Toko Arson di mall ini adalah salah satu cabangnya.

“Mey, lihat deh. Ini lumayan bagus,” panggil Lisa.

Sambil mengangkat sebuah mainan sex berwarna hitam dengan ukuran yang cukup besar.

“Kamu mau nggak? Katanya ini paling laku.”

Meyra langsung melotot.

“Nggak, ah! Kamu aja,” tolaknya.

Lisa terkekeh kecil.

“Duh, bener juga. Kamu kan udah punya suami.”

Meyra pura-pura tak mendengar. Sambil memalingkan wajah.

Namun, kata-kata Lisa sedikit menusuk hatinya. Meski memiliki Suami, tapi Meyra tak pernah sekalipun mendapat nafkah batin.

Setelah Lisa selesai berbelanja, mereka melangkah keluar dari toko. Namun sebelum berpisah, Lisa menyelipkan sesuatu ke dalam kantung belanjaan Meyra.

“Nih, cobain satu. Siapa tahu kalau suami kamu sibuk atau dinas, kamu nggak kesepian,” katanya sambil terkekeh nakal.

“Heh? Apa nih?” Meyra menatapnya bingung.

“Makasih udah nemenin ya! Nanti aku bawain oleh-oleh!” seru Lisa.

Lalu berlari pergi sebelum Meyra sempat menegurnya.

Meyra menghela napas, membuka kantung belanjaan. dan seketika wajahnya memanas.

“Ya ampun, Lisa…” desisnya kesal.

Itu adalah mainan sex yang ditawarkan Lisa tadi. Hanya melihatnya saja sudah membuat telinganya merah.

Buru-buru Meyra menutup kantung belanjaan. Dan pergi ke arah sebaliknya.

Niat awalnya ingin membeli cermin jadi hilang sudah. Meyra memilih langsung pulang saja.

Saat turun ke lantai satu, aroma wangi dari berbagai restoran memenuhi udara.

Meyra sempat melirik ke kiri dan kanan, mencari pintu keluar. Tapi langkahnya berhenti mendadak.

Di salah satu restoran, Meyra melihat sosok pria yang familier.

Pria itu duduk dengan seorang wanita berambut panjang. Yang mengenakan blus putih elegan.

Meyra tertegun. Napasnya tercekat.

'Mas Evan? Kenapa dia sama Clara di sini?'

Jantungnya berdegup kencang. Meyra hendak melangkah mendekat. Tapi dia masih berusaha menahan diri. Dan tetap tenang.

Meyra mengeluarkan ponsel dari tas dan menekan nama suaminya.

Sambungan tersambung setelah beberapa saat.

“Halo,” ucap Evan. Terdengar datar seperti biasa.

“Mas, kamu lagi di mana?”

“Makan siang. Kenapa?” jawabnya singkat.

Meyra menggigit bibir bawahnya.

“Sama Clara, kan? Kamu suka nolak bawa bekal masakan aku. Tapi ternyata lebih suka makan sama dia, ya?”

Suara Evan langsung berubah tegang.

“Apa? Emang kamu di mana?!”

Dari kejauhan, Meyra melihat Evan celingukan. Mencari-cari dengan wajah panik. Hal itu sudah cukup membuktikan kecurigaannya.

Begitu tatapan mereka bertemu, Meyra buru-buru menutup telepon dan berbalik.

Kemudian berjalan cepat menuju arah pintu keluar. Menahan air mata yang sudah menggenang.

“Meyra!” teriak Evan.

Mengikuti dengan langkah tergesa-gesa.

Clara pun berdiri dari tempat duduk. Wajahnya terlihat bingung.

Begitu sampai di luar mall, Evan berhasil menyusul dan menarik pergelangan tangannya.

"Kamu mau ke mana?"

Meyra menepis tangannya. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan amarah dan sedih.

"Kamu lanjut aja makannya sama Clara."

"Coba kamu denger dulu!" Evan sedikit menaikkan nada suaranya. Tak berniat menjelaskan dengan lembut.

"Aku abis ketemu klien di sini. Tapi karena udah jam makan siang, jadi sekalian."

Meyra mengernyit.

"Klien mana yang pengen ketemu di mall?" sindirnya.

Evan mendengus kasar, memejamkan mata sejenak. Lalu mendekat. Dengan raut menahan kejengkelan.

"Klien aku macem-macem kemauannya. Bisa nggak, percaya aja apa yang aku bilang? Nggak usah memperpanjang masalah," gumamnya pelan.

Berusaha tak berteriak karena berada di tempat umum.

Sebelum Meyra sempat menjawab, seseorang menghampiri mereka.

"Maaf Bu. Yang Pak Evan bilang itu betul. Karena dia mau cek langsung barang di toko Arson cabang mall ini," ujar Clara.

Orang yang jadi sumber pertengkaran mereka.

Meyra menyipitkan mata.

'Tapi aku juga tadi ke toko Arson. Kenapa nggak ketemu ya? Apa waktunya nggak pas?' pikirnya.

"Maaf kalau sekiranya saya bikin Bu Meyra salah paham," lanjut Clara sambil menunduk.

Evan menatap Clara sekilas. Diam-diam tersenyum puas. Lalu kembali menatap Meyra.

"Denger, kan? Masih mau salah paham lagi?"

Meyra hanya memalingkan pandangan. Menghela nafas panjang.

"Aku nggak salah paham," elaknya.

Evan memutar bola matanya. Lelah berdebat lebih jauh.

"Mending sekarang kamu pulang aja. Tadi ke sini naik apa?" katanya. Mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Taksi,” jawab Meyra. “Tadinya mau ke makam Ayah. Kamu lupa ya, kalau hari ini peringatan kematiannya?”

Evan terdiam. Tatapannya goyah. Rasa bersalah akan kejadian dua tahun lalu kembali menggerogoti hatinya.

'Kenapa harus hari ini, sih,' gumamnya dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 178 — Kita Keluarga

    Meyra tak bisa menjawab. Ia menunduk lebih dalam, bahunya bergetar. Seketika air matanya jatuh."Kenapa kamu selalu seenaknya?" suaranya pecah. "Kenapa kamu selalu egois? Dari dulu kamu nggak pernah berubah."Glen tersenyum pahit. Namun dia memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Ini waktu yang tepat saat Meyra membahasnya."Maaf. Kalau bisa dibilang... aku memang masih egois. Aku mau kembali sama kamu, Meyra." Suara Glen lirih, tapi jelas. "Aku mau memperbaiki hubungan kita. Aku mau buka lembaran baru."Meyra mendongak, namun hanya terdiam. Matanya masih basah, menatap Glen dengan perasaan yang campur aduk. Ia tak bisa menjawab. Masih terlalu banyak luka dan rasa sakit yang belum sembuh.Tapi di saat hening itu, di saat Meyra sedang bergulat dengan perasaannya sendiri,"Mama..." terdengar suara kecil dari sofa.Mereka menoleh. Giovanni sudah bangun. Bocah itu duduk di sofa, mata masih setengah terpejam, rambutnya berantakan. Ia mengucek matanya, lalu menatap Glen.Matanya bergerak

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 177 — Melindungi Kebahagiaanmu

    Ambulans tiba beberapa menit kemudian. Para petugas medis bergerak cepat mengeluarkan Glen dari mobil yang hancur itu. Tubuhnya diangkat dengan hati-hati, dipindahkan ke tandu.Meyra mengikuti dari belakang. Tanpa sadar, kakinya hendak ikut naik ke ambulans."Maaf, Ibu keluarganya?" tanya petugas.Meyra terdiam sejenak. "Iya. Saya, saya kenal dia."Petugas mengangguk. "Baik. Kita bawa ke rumah sakit terdekat."Meyra membawa Giovanni masuk ke mobilnya dan segera mengikuti ambulan itu.Di rumah sakit, Glen langsung digiring ke IGD. Para dokter dan perawat bergerak cepat. Meyra berdiri di luar, menunggu."Pasien mengalami luka parah di bagian kepala dan dada," kata dokter yang keluar. "Ada pendarahan internal. Kami harus segera melakukan operasi."Meyra mengangguk cepat. "Ya, ya silakan.""Kami butuh persetujuan dari keluarga."Meyra terdiam. "Saya... saya kenal pasien. Tapi saya bukan keluarganya."Dokter mengernyit. "Kalau begitu, apa ada yang bisa dihubungi?"Meyra menggigit bibir. "D

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 176 — Tertabrak

    Pagi hari. Sinar matahari masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah Giovanni yang mulai membuka mata.Bocah kecil itu mengerjap beberapa kali, lalu tersenyum sendiri. Hari ini ia akan pergi ke pesta ulang tahun temannya, anak dari Atheril. Ia sudah tidak sabar.Giovanni bangkit dari tempat tidur, melompat-lompat kecil menuju kamar mandi. Setelah selesai mencuci muka, ia berlari ke ruang makan."Mama!" serunya ceria.Meyra sudah duduk di meja makan, menyiapkan sarapan. Roti panggang, telur, susu, dan buah-buahan segar tertata rapi."Pagi, sayang," sapa Meyra, tersenyum.Tapi Giovanni langsung melihat sesuatu yang berbeda. Mata Mamanya yang agak bengkak, seperti habis menangis.Giovanni mengerjap. "Mama kenapa?"Meyra menggeleng cepat. "Nggak kenapa-kenapa, kok.""Mata Mama merah," tunjuk Giovanni."Kemarin kurang tidur aja." Meyra mengusap rambut Giovanni. "Ayo makan dulu. Nanti kita siap-siap."Giovanni masih menatap ibunya ragu, tapi akhirnya mengangguk. Ia duduk di kursinya, mulai

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 175 — Tolong Pergilah

    Meyra menatap layar dan segera menerima panggilan saat melihat nama Eri di layar."Halo?""Hai, Meyra!" suara ceria dari seberang terdengar khas. "Gimana kabarmu?"Meyra tersenyum tipis, berusaha terdengar normal. "Baik. Kamu sendiri?""Baik dong. Eh, besok aku mau ultah anakku. Kamu datang, ya? Bawa Giovanni."Meyra terkekeh pelan. "Pasti dong. Tenang aja.""Janji ya! Nggak boleh nolak!""Nggak akan," sahut Meyra. Mereka berbasa-basi sebentar. Meyra mendengar suara riang Atheril yang selalu berhasil membuatnya merasa sedikit lebih tenang.Atheril, atau sering disebut Eri, gadis albino dari keluarga Gray Evander yang menolongnya lima tahun lalu. Saat ia memutuskan pergi dan butuh tempat bersembunyi, ia tak tahu harus ke mana.Atheril memberinya dukungan penuh. Dia menyembunyikannya dan tempat tinggal setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Karena keluarga Gray Evander itu, Glen tak pernah bisa menemukannya.Koneksi keluarga Gray Evander yang kuat membuat jejak Meyra lenyap seolah di

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 174 — Kenapa Dia Datang?

    Glen mempercepat langkahnya. Giovanni yang pertama melihatnya. Bocah itu langsung tersenyum lebar."Om Glen!" serunya, melambaikan tangan kecil.Meyra membeku. Ia menoleh, dan di sana, hanya beberapa langkah dari mereka, Glen berdiri.Meyra mundur selangkah. Matanya membelalak, wajahnya pucat.Glen mencoba tersenyum pada bocah kecil yang menghampirinya. "Halo, Gio."Giovanni menghambur mendekat, tak sadar dengan ketegangan yang menyelimuti ibunya. "Om, kamu ke sini juga?""Gio..." Meyra memanggil, suaranya bergetar. "Kamu kenal Om ini?"Giovanni mengangguk bangga. "Iya, Ma. Ini Om Glen. Dia om baik yang anter aku tadi."Meyra menelan ludah. Tangannya meraih bahu Giovanni, menarik bocah itu ke belakangnya.Glen melangkah maju. "Meyra."Meyra mundur lagi. Wajahnya tegang, matanya waspada."Jangan mendekat," ucapnya cepat. Suaranya lirih, tapi tegas.Glen berhenti. Ia menatap Meyra, mencoba membaca apa yang ada di matanya. Takut? Marah? Atau keduanya?"Meyra, aku...""Saya bilang jangan

  • Terjerat Cinta Ayah Mertua   Bab 173 — Apa Aku Pantas?

    Di tengah diamnya Glen, pintu aula terbuka lagi dan Giovanni menghampirinya.Glen mengernyit heran. Dan tiba-tiba bocah kecil itu menyodorkan sebuah permen susu."Paman kelihatan pucat, pasti kurang tidur kayak Mama," jelasnya dengan suara yang menggemaskan. "Makan itu sebelum tidur."Glen menatap permen di telapak tangannya. Suaranya sedikit gemetar."Terima kasih," katanya pelan. Pandangannya kemudian beralih pada poster di dekat pintu. "Itu benar mamamu?"Giovanni mengangguk bangga. "Iya! Mama Mey. Cantik, kan?"Glen tak bisa menjawab. Tangannya bergetar hebat. Ia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Gio, berusaha menatap bocah itu setara."Kalau gitu..." Glen menelan ludah, berusaha menahan segala yang ingin meledak di dadanya. "Di mana Papa kamu?"Gio terdiam. Wajahnya yang ceria sedikit berubah. Matanya menunduk."Aku nggak punya Papa. Dia udah pergi ke surga," jawab Gio dengan suara kecil.Glen terdiam. Dadanya terasa sesak. Kata-kata itu menusuk begitu dalam.'Ke surg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status