INICIAR SESIÓNLeena: Kak Anggi, tolong bantu gue biar Evan cepet pulang ya, penjelasan menyusul!Anggi menatap layar ponselnya dengan kening mengernyit sebelum akhirnya melirik Evan yang masih berdiri tegak di depan counter dengan raut penuh curiga.“Van, mendingan lo buruan balik deh. Ini resto hari ini bakal tutup lebih awal, soalnya kita mau deep cleaning,” ujar Anggi sembari melipat kedua tangan di depan dada.Bukannya pulang, Evan justru menantang. “Gue nggak percaya. Kalian kalau mau ngibulin gue, minimal kompak dulu lah.”Menyadari dalih yang ia lontarkan ternyata beda, Anggi sempat tertegun sejenak, tapi tetap menetralkan rautnya. Tatapan Evan semakin memicing, pria itu melirik ke arah tangga menuju lantai dua yang tampak sepi. “Tolong panggilin Leena turun, Kak. Gue cuma mau mastiin sebentar.”Dengan nada yakin Anggi menambahkan, “Dia sibuk, Evan! Lo kayak nggak tau Leena aja kalau lagi kerja.”Tak mau berdebat panjang, Anggi cepat-cepat keluar dari balik counter untuk menghalau pandangan
“Bapak kenapa sih?!” Nada suara Leena meluncur lebih tinggi tanpa sengaja. Begitu sadar, ia buru-buru menurunkan intonasi dan menutupinya dengan nada yang lebih tenang. “Eh, anu, Pak… saya masih banyak kerjaan,” ucap Leena lagi, kali ini dengan nada yang lebih pelan.Zayn menarik napas panjang yang terdengar berat seakan sedang menahan sesuatu. Langkah pria itu semakin maju, membuat Leena mundur sampai terhimpit ke sandaran sofa. “Temani aku disini. Sebentar aja,” kata Zayn lirih, suaranya melembut.Leena kaku. Tubuhnya seakan terkunci. Aroma Zayn yang khas bercampur dengan nada lembutnya membuat jantung Leena berdebar tak beraturan. “A—ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?” suara Leena sedikit gugup saat memastikan ulang maksud sang dosen.Zayn mendekatkan wajahnya, membiarkan bibirnya tepat di samping telinga Leena. Hembusan napas hangatnya menyapu kulit Leena, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. Lalu, dengan suara rendah yang terdengar sangat intim, Zayn berbisik. “Ada.”Tega
“Apaan sih, Kak Anggi! Jangan melenceng dari topik deh, siapa juga yang habis di tembak,” elak Leena dengan wajah yang mulai merona lagi.Anggi tampak masih mencoba menelisik, tapi saat terdengar denting bel di pintu resto seketika mengurungkan niatnya untuk menggoda.Seorang pria muda dengan jaket bomber santai melangkah masuk. Evan menghampiri Leena yang masih berdiri kaku di balik meja counter.Melihat Leena yang tampak terperangah, Anggi menyenggol lengan Leena pelan. “Apa ini, Na? Si kulkas yang lo maksud?” tanya Anggi memastikan.“Ish! Bukan, Kak!” jawab Leena cepat dengan nada yang sedikit melengking.Kening Anggi spontan mengernyit saat mendengar pengakuan yang terselip dari jawaban Leena. Saat Evan sampai di hadapan mereka sambil meletakkan kunci mobilnya di atas meja counter, ia bilang, “Apanya yang bukan? Kalian lagi bahas apa nih, seru banget kayaknya?”Suasana hening. Manik mata Anggi juga masih menelisik raut Leena yang mendadak kosong, menatap lekat ke arah pintu rest
“Bercandanya nggak lucu, Pak,” timpal Leena lagi sambil menggeleng pelan. Tangan Leena refleks terangkat, lalu menepuk dada Zayn dengan pukulan ringan. Raut gadis itu kini jelas menunjukkan kesal sekaligus bingung menghadapi intensitas sang dosen.Sempat memalingkan wajahnya sekilas, dengan seringai tak percaya, kening Leena mulai mengernyit dalam. Baginya, melihat Zayn bersikap serius soal perasaan adalah hal yang paling mustahil.Zayn tak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menatap bibir Leena yang sedikit terbuka dengan tatapan mendalam. Rautnya seolah sedang menimbang berapa lama lagi ia harus menunggu jawaban Leena.“Apa aku kelihatan lagi bercanda, Leena Laudya?” tanya Zayn dengan suara rendah yang mendebarkan.Tangan Zayn kini perlahan menyentuh dagu Leena dan mengangkatnya pelan agar gadis itu kembali menatap matanya.Tanpa ragu dan tanpa memberi celah bagi Leena untuk menghindar, Zayn langsung membungkam bibir gadis itu dengan lumatannya.Sedangkan Leena hanya bisa mengeluar
“Lah… gimana, sih?!”Nada bicara Leena sedikit meninggi, tubuh gadis itu tersentak saat kedua pergelangan tangannya mendadak disambar Zayn dari belakang.“Udah cukup,” ujar Zayn tegas.Leena berusaha menarik diri sebisa mungkin, dan saat cekalan Zayn mengendur, ia langsung berbalik untuk protes. Manik mata keduanya kini beradu intens dalam jarak yang sangat dekat, membuat napas Leena mendadak tersendat di kerongkongan.Zayn menunduk, menatap Leena dengan kilat yang sulit diartikan.“Kayaknya emang nggak dibutuhin,” bisik Zayn dengan santainya.Hembusan napas kesal lolos dari bibir Leena, rautnya mulai merah karena merasa dipermainkan di tengah rasa lelah.“Huft! Jadi, dari tadi emang lagi ngerjain saya? Cape tahu, Pak! Saya kira emang penting buat rapat!” omel Leena dengan spontan.Seakan tak peduli lagi dengan sopan santun, rasa jengkel Leena sudah lebih dulu meluap karena tenaga yang sudah ia buang untuk mencari arsip tadi.Di tengah situasi intens itu, Leena mengambil kesempatan s
“H—hah?” seru Leena refleks, disertai matanya yang berkedip cepat. Leena otomatis menekan rasa kikuk yang baru saja menyambar. Otaknya berputar cepat mencari konteks dari pertanyaan singkat Zayn yang tiba-tiba muncul.Karena Leena baru kembali dari ruang rapat, mungkin yang dimaksud dosennya itu adalah tentang persiapannya.“”Eh, iya, Pak. Udah siap semua kok,” jawab Leena spontan dengan senyum canggung yang dipaksakan. “Kayaknya belum,” timpal Zayn cepat.Kening Leena mengernyit dalam, ia menatap Zayn dengan raut bingung. “Belum gimana, Pak? Emang Pak Zayn udah liat?”Tak langsung menjawab, Zayn justru mendekat. Pria itu justru malah menciptakan aura intimidasi yang membuat Evan yang berada di belakang mereka ikut geram.Lalu, dengan datar Zayn bilang, “Masih ada banyak berkas penting di ruangan saya yang mau dipakai rapat.”“Ya… terus?” tanya Leena polos.Merasa sang direktur tak memberi instruksi tambahan soal berkas lain di tangan Zayn, Leena pikir itu diluar dari tugasnya. Lee
‘Dia punya pacar?” Pikiran itu muncul begitu saja di otak Arin.Sorotnya masih tertahan di layar ponsel Leena yang masih menyala. Nama pengirim pesan hanya tersimpan dengan inisial “Z”. Tak ada foto dan nama lengkap. Otaknya langsung bekerja, menebak-nebak tanpa dasar yang jelas.Namun, sebelum Ar
“Kamu nunggu pencairan, ya?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Saga. Ia memotong ucapan Leena yang bahkan belum sempat tuntas. Saga melempar tuduhan itu dengan raut yang tampak dibuat serius, tapi jelas ada binar jenaka yang tertahan di ekor matanya. Leena sempat terdiam, butuh beberapa
‘Duh, gue tanya dari mana dulu, ya. Jangan sampe ni mulut asal nyeplos,’ batin Leena sambil menahan diri.Leena paham betul. Kalau ia salah arah dikit saja, bisa-bisa Anggi akan salah paham dan menganggap dirinya sebagai orang yang kepo.“Na, malah bengong ni anak,” ujar Anggi sambil menyenggol pel
“Bisa liat jalan nggak sih?!”Suara itu meledak, memutus panik si pesepeda yang baru saja hendak mendekati Leena yang masih terduduk di aspal.Pria dengan setelan hoodie dan topi hitam itu jongkok di hadapan Leena. Aroma khas pria itu sangat Leena kenali, jelas menyeruak ke indra penciumannya.“Pak







