LOGIN“Ughhh…” Tanpa sadar Leena melenguh halus saat merasakan telapak tangannya tengah memeluk sesuatu yang lembut dan hangat. Jemarinya meraba secara acak, tapi kesadarannya belum pulih.Barulah ketika kesadarannya terkumpul, otak Leena dihantam realitas. Ia buru-buru membuka mata dan sadar kalau posisi tubuhnya melintang jauh, melewati benteng guling dan selimut yang semalam disusun sendiri.Deg!Spontan. Leena langsung tersentak bangun sampai terduduk tegak. Dengan rambutnya yang acak-acakan seperti singa, ia menelisik panik ke sisi kanan ranjang.Sisi kasur sebelahnya masih tampak rapi. Ternyata yang ia peluk tadi hanya guling pembatas yang kini sudah koyak oleh polah tidurnya sendiri.“Eh? Loh… Pak Zayn nggak tidur di sini?”Heran, Leena kaget sekaligus lega saat mendapati dirinya tidur sendirian di kamar utama sang dosen. Ia menggaruk pelan tengkuknya dengan raut bingung.Leena kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Saat manik matanya tertuju pada sofa panjang di sebe
“A—anu, Pak… kamarnya…?”Leena menghentikan langkahnya tepat di ruang tengah apartemen yang luas itu. Ia menatap Zyan dengan raut memelas, memastikan apa dirinya benar-benar akan satu ranjang dengan sang dosen.Mendengar itu, Zayn yang sibuk melonggarkan dasi hanya menoleh sekilas dengan santai. “Kamar yang kemarin kamu pakai.”Zayn kemudian melengos begitu saja menuju dapur, meninggalkan Leena yang mematung di tempat.‘Gila! Ini beneran kita bakal tidur satu ranjang kah?!’ bisik Leena panik dalam hati.Jantung Leena semakin tak karuan membayangkan berbagai skenario. Namun, karena tubuhnya sudah terasa sangat lengket, ia mengesampingkan kepanikannya sejenak.‘Ah, gue pikirin nanti deh! Yang penting sekarang gue harus mandi dulu biar otak waras,’ batin Leena pasrah.Hembusan napas panjang akhirnya Leena loloskan. Ia menyeret kakinya masuk ke kamar utama milik sang dosen.Setelah beberapa saat, Leena selesai mandi. Gadis itu sudah tampak jauh lebih segar dalam balutan setelan piyama len
‘Duh… tadi gue ngomong apaan sih?!’ rutuk Leena dalam hati.Lagi-lagi Leena merutuki kecerobohannya sendiri sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.Sekitar hampir satu jam setelah drama emosional di kampus tadi, Leena kini sudah terduduk kaku di dalam kabin mobil SUV perak milik sang dosen.Secara fisik, Leena memang tampak jauh lebih tenang. Sisa isakannya sudah hilang, tapi ada hal lain yang tiba-tiba mengusik pikirannya.Bukan lega, Leena justru memikirkan ulang semua ucapan impulsifnya.‘Tunggu deh… kalau gue beneran satu atap sama dia, berarti kita… bakal sekamar terus dong?!’ jerit akal sehat Leena yang baru saja aktif lagi.Detak jantung Leena mendadak mencelos. Sebelumnya, di taman tadi, ia masih sempat tersenyum. Awalnya berpikir bahwa melalui keputusan beraninya itu, ia sedang memberi pernyataan tegas bahwa keduanya sudah saling menaruh perasaan.Namun, realitas tinggal bersama seorang Zayn Vaughan ternyata jauh lebih mengintimidasi daripada sekadar teori otak sendiri.D
“Karena lo nggak pernah ngerasain jadi kita!” Dengan intonasi yang lebih tinggi, Leena menahan kalimat Evan sebelum pria itu kembali memangkas ucapannya. Bola mata Leena kini sudah mulai berkaca-kaca, meluapkan seluruh realitas pahit yang ditelan sendiri. “Lo kaya! Dari lahir udah terjamin! Jelas segalanya beda sama kita-kita yang harus mati-matian berjuang di kampus ini!” seru Leena dengan napas memburu.“Dan satu lagi…” Sempat menjeda kalimatnya, Leena melemparkan tatapan yang lebih tajam. “Lo nggak punya kuasa di sini, jadi… mau bantu apa?”Fakta sosial itu seketika membuat Evan bungkam dan kalah telak di tempatnya berdiri. Semua tekad dan ego pria itu runtuh oleh hantaman kalimat Leena.Brak! Lagi-lagi, Evan meluapkan frustasinya yang mendalam dengan menghentakkan kepalan kedua tangan ke atas meja sampai menimbulkan dentuman yang cukup keras.Suasana hening dan makin memanas. Leena sudah menumpahkan kejelasan yang selama ini mengendap, sementara Evan juga tak tahu harus member
“Gue serius, Na.”Sekali lagi, Evan menegaskan perasannya pada Leena. Nada bicaranya berubah menjadi jauh lebih lembut disertai senyuman hangat yang nampak dipaksakan.“Apa nggak bisa kalau… status kita lebih dari sekadar sahabat?” timpal Evan lagi.Melihat raut Evan yang sama sekali tak menunjukkan riak bercanda, rekahan senyum di bibir Leena lenyap seketika. Sorot mata gadis itu kembali datar dan dingin seperti sebelumnya. Dengan satu sentakan yang cukup kuat dan penuh penekanan, Leena refleks menarik paksa kedua tangannya yang sejak tadi dicengkram oleh Evan sampai jarak keduanya kembali merenggang.“Sorry, Van. Kita nggak akan pernah bisa lebih dari itu,” jawab Leena dengan tegas, meski ada sedikit getaran di suaranya.Seketika itu juga, raut Evan langsung bergeser menjadi kilat kecewa. Baru saja suasananya membaik, sekarang malah mendorong ikatan mereka ke jurang canggung yang baru.Setelah sempat hening sepersekian detik, Evan dengan suaranya yang jadi sedikit serak bersuara la
“Tunggu, Na!”Dari jauh, Evan menyerukan nama Leena dengan intonasi yang terdengar mendesak.Seketika itu juga Leena menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan memberikan sorot mata yang cenderung dingin dan datar.Rasa senang yang sempat membuncah di dadanya sejak pagi mendadak pudar begitu melihat sosok yang sedang ingin ia hindari untuk sementara waktu kini tengah mendekat.“Evan… dia mau ngapain lagi?” gumam Leena selagi manik matanya menangkap Evan yang tampak kacau.Dengan napas yang masih terengah, Evan berhenti di depan Leena dengan raut keruh, seolah sedang memikul beban pikiran. Pria itu menatap Leena dengan sirat penuh harap. “Bisa ngobrol sebentar, Na? Ada yang mau gue omongin.”Masih mempertahankan sorot dinginnya, Leena diam-diam menimbang perubahan raut sahabatnya itu.“Boleh, langsung aja di sini. Gue lagi agak buru-buru nih soalnya,” jawab Leena dengan nada formalitas.Mendengar respons Leena yang kesannya sangat menjaga jarak, tubuh Evan mendadak kaku. Cara bicaranya
“Kamu nunggu pencairan, ya?” Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Saga. Ia memotong ucapan Leena yang bahkan belum sempat tuntas. Saga melempar tuduhan itu dengan raut yang tampak dibuat serius, tapi jelas ada binar jenaka yang tertahan di ekor matanya. Leena sempat terdiam, butuh beberapa
“Bisa liat jalan nggak sih?!”Suara itu meledak, memutus panik si pesepeda yang baru saja hendak mendekati Leena yang masih terduduk di aspal.Pria dengan setelan hoodie dan topi hitam itu jongkok di hadapan Leena. Aroma khas pria itu sangat Leena kenali, jelas menyeruak ke indra penciumannya.“Pak
“Sialan! Kenapa gue jadi gini sih?” dengus Leena. Manik mata Leena mengikuti punggung Zayn yang menjauh. Ia refleks menepuk-nepuk pipi sendiri, seolah ingin mengusir rasa panas yang tiba-tiba merayap.Gerakan Leena terhenti saat ia mengapit wajah sendiri yang sudah semakin merona.“Lagian kenapa d
“Siapa sih?”Leena memicingkan mata, berusaha menembus kaca film yang gelap dari mobil mewah yang baru saja melengos dari arah berlawanan.Hanya sekilas, tapi merk mobil itu tak pernah Leena lihat sebelumnya.“Kenapa, Na?” tanya Evan sambil memutar setir, manik matanya menatap spion tengah sejenak.







