Share

Bab. 60.

    Ryan menyuruh Mamanya duduk di sofa,  ia kembali berkutat dengan pekerjaanya. Agar tak mengganggu konsentrasinya. 

Akhirnya Mama Lina mau menuruti anaknya duduk di sofa. Tapi mulutnya tak  bisa berhenti ngomel. 

"Kamu tuh keterlaluan banget ya, udah lupa sama Mamamu ini hah?! Beberapa Bulan tak ada kabar!" 

"Tapi Ryan selalu komunikasi sama kakak Ma?" 

"Kalau kakakmu aja di hubungi masa sama Mama nggak?" 

Lina semakin emosi. Anak bungsunya ini bikin gemes. 

Ryan kembali menekuri pekerjaanya. Tanpa melirik Mamanya. Tapi Mamanya masih aja nyerocos. 

"Kamu  tuh belum tau rasanya jadi orang Tua sih!" 

Deg 

Hati Ryan tercubit. Ada Nyeri menyapa. Mencoba sabar omelan Mamanya. 

'Ya Tuhan, sabarkanlah hamba menghadapi Mama' 

"Oh ya Si Amel udah hamil belum?" 

"Belum, kenapa Ma? 

"Kamu tuh ya, Istri kayak Amel aja di pelihara?

"Emang kenapa Ma, dia istriku. Aku mencintainya ...." 

"Tolong terima Amelia Ma ...." ucapan Ryan melunak. Tak ingin ia ribut dengan Mamanya sendiri.  

"Huufft ...  itu yang Mama tidak suka dari kamu? Sekarang suka membantah Mama sejak punya istri !" 

"Bukan membantah Ma, tapi memberi pengertian untuk Mama," 

"Halah ... sama aja!" 

'Ya Robb' 

Ryan mengelus dadanya sendiri. Meredakan emosi yang hampir meledak, tapi di tahan. Ia berdiri menghampiri Mamanya. Duduk di sampingnya. Memberi pengertian pada wanita yang melahirkanya 29 tahun lalu. 

Ryan pikir Ibunya  cemburu. 

"Ma ... udah ya jangan ngomel terus? Apa nggak capek? Nanti hipertensi Mama kambuh lho!" 

Lina tak mau menatap Anaknya. Emosi juga sebel. 

Ryan tersenyum melihat wajah Mamanya yang serasa di tekuk. 

"Mama, ku mohon Ma terimalah Amelia! seperti Mama menerima Kak putri sebagai menantu Mama," 

"Putri Beda dong? Dia sederajat sama kita. Ayahya pengusaha Batubara sedang Amel ...." 

"Di mata Allah, derajat kita sama Mama," 

Ryan menghembuskan nafas pelan. Harus extra sabar menghadapi Mamanya. Ryan merangkul pundak Mamanya. 

"Halo Akbar tolong ke ruangan saya !" 

"Baik pak!" 

Ceklek. 

Akbar melangkah mendekat. 

"Ada yang bisa saya bantu pak?" 

"Kalau ada yang cari saya, bilang lagi keluar ya!" 

"Baik Tuan." 

"Ayoo Ma ... kita makan siang bareng," Ryan menatap lurus wanita paruh baya di depanya. Menunggu reaksi darinya. Dengan mengajak Mamanya makan di luar mungkin akan meredakan emosinya. 

"Hemm ...." 

Lina beranjak dari sofa. Ia memang kangen dengan putra bungsunya ketika menawarkan makan siang langsung di terimanya. 

"Ayoo ... Mama juga laper !" 

Mereka berdua keluar. Menuju Restorant Malaysia kesukaan Mamanya. Nasi lemak dan ikan bakar adalah kesukaanya. 

Mereka menikmati hidangan di depanya. 

"Sehabis makan mau aku antar pulang Ma?" 

"Pulang kemana, ke Indonesia apa rumah kamu?" 

"Rumah ku lah Ma?" 

"Nggak, Mama mau pulang ke Indonesia aja!" 

"Apa Mama nggak capek, Bolak balik?

"Nggak lah. Singapore- Jakarta kan deket paling satu jam! 

"Ya udah terserah Mama, nanti aku antar ke Bandara," 

"Heem ...." 

Lina dan Ryan menikmati makanan di depanya. 

Ryan sehabis makan mengantar Mamanya ke Bandara. Ia juga memesankan tiket untuknya. Lina sudah terbiasa bolak balik Jakarta- Singapore. Umurnya juga baru 55 tahun. Ia masih fit untuk melakukan perjalanan itu. Ryan meningakan Mamanya di Bandara.  Ia  merasa tak khawatir . Mamanya terbiasa melakukan perjalanan sendiri. 

Saat duduk di belakang kemudi. Ia masih memikirkan caranya Mama dan Istrinya akur. Ingin istrinya di perlakukan menantu yang baik. Tanpa ada benci. Ryan menghela nafas pelan. 'Mungkin ini ujian dari Tuhan' batin Ryan. 

"Kenapa Mama tidak menanyakan Tania ya?" Gumam Ryan lirih. Tapi ia tak pedulikan itu. Gegas injek gasnya menuju kantor. Ada beberapa data yang belum di rekap tadi.

Selesai dari pekerjaanya ia pulang di antar Akbar sekretarisnya.  Ingin menemui istri udah kangen dengan masakanya. 

*****

 Pov. Lina.(Mama Ryan) 

Aku  menunggu landing. Duduk sendiri sambil minum coffe late yang di belikan Ryan. Anak bungsu memang baik. Bobby juga baik sih. Tapi karena  wajahku lebih mirip denganku. Aku sangat posesif. 

Ketika seorang Ibu paruh baya duduk di sebelah. Mereka berbincang sangat akrab. Aku kepo ingin tau. Karena wajahnya nggak mirip. 

"Bu, mau kemana sama anaknya? Tanya Lina pada Ibu paruh baya duduk di sebelahnya. 

"Mau jenguk Mantu di kalimantan," 

"Oh ... lah mbak ini anak Ibu?" 

"Bukan, ini juga mantu saya orang malaysia," 

"Ooh ..." 

'Ddeer ...' 

Lina  merasa tertampar. Ia hanya menerima mantu dari Istrinya Bobby. Sedang Amelia? Tak henti menyakitinya. Yang paling parah saat Ryan meminta Menikahi Tania. 

'Pasti dia terluka,' batin Lina. Suara memanggil para penumpang untuk segera naik membuyarkan lamunan Lina. Ia beranjak menuju pesawat. Lina duduk di pesawat sambil memejamkan mata. Mengingat kembali perlakuan pada Amelia. 

Bersambung..

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status