Share

Bab. 61

     Arnold masih berada di Hotel mewah. terpekur sendiri. Memikirkan Tania. Mencoba menghubungi gawainya tapi tak aktif. Kangen di dada serasa akan meledak. Akhirnya ia menemui kembali Tania. Bukankah cinta harus di perjuangkan? Pikir Arnold. 

Di depan Apartemen kakaknya. Ia memencet bel. 

Ting tong. 

Arnold berniat ingin melamar Tania secara baik- baik. 

Tania bangkit dan membuka pintu. Alangkah terkejutnya ia saat tau Arnold ada di depanya. 

"Arnold ...." gumam Tania lirih. 

"Iya ini aku, sambil memegangi daun pintu. 

Tania menatap manik mata  milik Arnold. Ada cinta yang dalam di matanya. 

"Ada apa, kenapa menatapku seperti itu?" 

Arnold tersenyum semanis mungkin di hadapan belahan jiwanya. 

"Tania ... aku ingin melamarmu," 

Jantung Tania serasa ingin melompat keluar juga deg- deg an. Senang mendapat perhatian dari laki- laki berdiri di hadapanya. Hatinya menghangat. Beda perlakuanya saat bersama Ryan dulu. Ryan sangat cuek dan dingin kepada. Tapi hangat saat bersama Amelia. 

Wajah Tania memerah bak kepiting rebus. 

Tania menetap manik milik Arnold. Netra coklat yang menenangkan. Apa aku harus berlabuh pada lelaki ini? Dia sang mantan Don juan? 

"Tania siapa yang datang? Tolong di suruh masuk. Itu temen kakak ya!" Seru kakak Tania. 

"Bukan kak, ini temenku!" ucap Tania tak kalah lantang. 

"Suruh masuk, Jangan di depan pintu!" 

"Ya kak," 

Arnold masuk. Duduk di sofa ruang tamu. Kakak Tania turun menuju ruang Tamu. 

"Siapa yang  Datang Tania?" 

"Arnold temenku kuliah S1 kak," 

Arnold berdiri menjabat tangan  kakak Tania. 

"Arnold" 

"Arga, kakaknya Tania," 

Arnold melepas gengaaman tanganya. 

"Silakan duduk, Tania tolong buatkan minum untuk Arnold!" 

"Iya kak," 

Arnold canggung di hadapan kakaknya Tania  Grogi menguasai hati. 

"Arnold kerja  di Belanda  juga?"

"Nggak Kak, aku punya bisnis sendiri di Singapore,"  

"Oh ...." ucap Arga mangut- mangut. 

'Apa dia menyukai Tania? Kalau iya syukurlah agar Tania cepet Move on,' batin Arga. 

Tania membawa tiga cangkir teh hijau hangat. Serta cemilan khas Belanda. Ia menaruh di atas meja. Mata Arnold tak berkedip memandang Tania. Tanpa Riasan berlebih Tania lebih cantik. 

"Silakan Arnold di minum tehnya mumpung masih hangat," 

"Iya ...." 

Kakak Tania pun ikut menyicipi Teh bikinan Adik kesayanganya itu. Setelah menyesap teh ia berniat bangkit akan ke kamar. Melanjutkan pekerjaan tadi. Arga bekerja di Ritel sebagai kepala Produksi. 

Tapi Arnold mencegahnya. Ia ingin menyampaikan maksud hatinya. 

"Sebentar Kak Arga!" Panggil Arnold. Secara otomatis Arga membalikan badanya. 

"Ada Apa Arnold? Ada yang bisa kakak bantu?" 

"Emm kakak duduk dulu, ada yang aku bicarkan sama kakak," 

Wajah Tania mendadak pucat. Ia mengigit bibirnya kuat sambil meremas ujung bajunya. 

Wajah Arga juga tegang. Ia menatap lurus Arnold. 

Arnold menguatkan hati untuk mengatakanya. 

" Kak Arga, Aku ingin melamar Tania menjadi istriku," 

Tania langsung menunduk malu. Ada bahagia juga dendam yang belum tuntas kepada Ryan? Ia memejamkan matanya. Saat Pria itu mentalaknya. Tanpa rasa sedikit kasihan. Apakah aku harus menerima Arnold dan melupakan dendam di hati ini? 

Pikiran Tania berperang dalam benaknya. 

Hati Arga plong. Ada yang menghargai adik semata wayangnya. 

"Saya sebagai kakaknya sangat setuju kalau kamu menjadi suami Tania, walau belum mengenalmu secara intens tapi keberanian kamu melamar adiku sudah Gentle. Dan itu cukup membuktikan kamu lelaki yanga baik," 

Arnold tersentuh dengan kata- kata Kakaknya Tania. 

"Tapi keputusan ada di tangan Tania, ia berhak menentukan jalan hidupnya," 

"Buat kamu Tania, kakak harap kamu belajar dari kegagalan yang dulu. Jadikan pelajaran untuk hidup kamu kedepanya!" 

Tania diam membisu. Kata- kata kakaknya membius hatinya. Saat ini terasa gamang. Bayangan wajah Ryan masih suka singgah di ruang memori kepalanya. 

"Baiklah ... itu aja dari kakak, saya mau ke atas dulu, ada pekerjaan yang harus di selesaikan," 

"Ya kak, silakan." ucap Arnold membungkuk hormat. 

Arga bangkit menuju kamarnya. Ke lantai dua. Meninggalkan Tania dan Arnold. 

Tania diam memandang Arnold. Canggung, kikuk mendera bahasa tubuh Tania. 

Arnold hanya tersenyum melihat tingkah Tania yang mengemaskan menurutnya. Untuk mencairka suasana Tania menawarkan camilan. 

"Silakan di makan camilanya, Arnold," 

"Iya ...." ucap Arnold kemudian mencomot camilan di piring. Tania memperhatikan Arnold makan. Kenapa serasa indah memandangnya? 

'Ups' 

Tania menghela nafas pelan. Kemudian ikut makan camilan. Hanya ada suara makanan yang terkunyah di dalam mulut. Tapi keheningan tercipta diantara mereka berdua. 

Arnold menatap kedua  netra yang indah. Dari wajah Tania. Arnold menyukai mata bening milik Tania. Arnold ingin mencari jawaban atas pertanyaan tadi. Bukankah mata jendela hati? 

"Tania apa jawaban mu, bersediakah kau menjadi istriku?" 

Tania langsung tersedak. 

"Uhuk ... uhuk ...." 

Arnold mengambilkan Teh untuk Tania. Ia menyerahkan sambil tersenyum. 

"Pelan- pelan, aku tak ambil makananmu. Aku hany ingin ambil hatimu," 

Wajah Tania merona mendengar ledekan Arnold. 

"Ehheem ...." Tania menhilangkan serak di tengorokan. 

"Maaf Arnold, aku ingin memikirkan dulu pinanganmu, tak ingin gegabah   menyakinkan hatiku bahwa kau layak untuk ku. Dan aku layak untukmu. Aku tau kau sudah banyak berubah. Tapi saat ini aku hanya ingin memantapkan hatiku," 

"Iya sayang ... aku kan menunggumu," 

Arnold meremas  jemari Tania. Memberi rasa hangat mengalirkan cinta pada  gadis cantik di depanya. Tania merasa hangat dengan gengaman Arnold. Jantungnya serasa akan melompat keluar. Ia tersenyum memandang lekat wajah Arnold. Sekian waktu berhenti. 

Wajah Tania menunduk kemudian melepaskan gengaman jemari Arnold. Tak kuasa akan tatapan Netra Arnold. 

"Eem ... Tania, aku ke Hotel dulu, kabari aku atas jawabanmu. Aku menunggu!" 

Deg. 

"Iya ..." ucap Tania parau. Berkecamuk saat ini perasaanya. Antara canggung. Senang juga gamang. 

Arnold melangkah keluar dari Apartemen kakaknya Tania. Apartemen di Belanda. Setiap Apartemen dua lantai. 

Tania mengantar sampai depan pintu. Arnold masuk mobil di kendarai seorang sopir. 

Tania melambaikan tanganya. Arnold tersenyum bahagia. 

'Aku yakin Tania menjadi miliku' batin Arnold. 

Mobil Arnold hilang dari pandangan. Tania masuk ke dalam dan mengunci pintu. 

Ucapan Arnold tergiang- ngiang di telinganya. 

'Ya Tuhan. Haruskah aku menerima Arnold?' Batin Tania. 

Pusing memikirkan itu. Ia mending memilih beranjak memberesi  teh bekas Arnold dan kakaknya. Ia ke dapur dan mencuci cangkir. Arga, kakaknya Tania turun menemui adiknya. 

" Arnold sudah pulang?" 

Tania berjingkat mendengar suara kakaknya. 

"Astaga Kakak ngagetin aja !" 

"Lagian kamu mencuci cangkir sambil melamun!" 

"Apa jawabanmu untuk Arnold?" 

"Aku masih memikirkanya kak!" 

"Nggak usah lama- lama berpikirnya, Arnold pasti laki- laki yang baik untukmu!" 

Tania diam sejenak. Untungnya Tania tak pernah cerita masa lalu Arnold. Seandainya cerita tak yakin kakaknya mendorong menerima Arnold. 

"Kenapa diam Tania?"

Bersambung..

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status