Share

bab 3 Surat Terakhir

Author: PRS Familly
last update Last Updated: 2025-12-20 15:19:50

Setelah mendengar kata-kata wanita yang mengaku sebagai kakak kandung Indah, Alvian merasa tubuhnya sedikit gemetar. Ia menatap wajah wanita itu dengan cermat – memang ada sedikit kemiripan dengan wajah Indah yang pernah ia cintai, terutama pada bentuk mata dan bibirnya.

“Kakak kandung Indah? Tapi kenapa aku tidak pernah mendengarnya dari Indah?” tanya Alvian dengan suara penuh keraguan. Selama bertahun-tahun bersama, Indah selalu mengatakan bahwa dia adalah anak tunggal dari orang tuanya. Tidak pernah ada cerita tentang saudara kandung apapun.

Wanita yang bernama Rania itu menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab. “Karena adikmu menyembunyikannya dari semua orang, termasuk kamu, mas Alvian. Mari kita duduk saja di tempat yang lebih tenang ya, agar saya bisa menjelaskannya dengan jelas.”

Mereka berdua pergi ke kedai kopi kecil dekat pemakaman. Tempat itu sepi, hanya ada beberapa pelanggan yang duduk berjauhan. Rania memesan dua gelas teh hangat, lalu mulai menceritakan dengan suara yang penuh kesedihan.

“Kita memang bersaudara kandung, tapi sejak kecil kita sudah hidup terpisah. Ayah kandung kita adalah seorang pria yang tidak bertanggung jawab – setelah mengetahui bahwa ibumu sedang hamil denganku, dia pergi dan menghilang tanpa jejak. Ibuku tidak punya cukup uang untuk merawat kita berdua, jadi dia memutuskan untuk menyerahkanku ke keluarga pamannya yang tinggal di luar kota. Saat itu Indah baru berusia dua tahun, dan dia tidak pernah ingat kalau dia punya kakak kandung.”

Alvian mendengarkan dengan seksama, matanya tetap terpaku pada wajah Rania. Setiap kata yang keluar dari mulutnya membuatnya semakin paham tentang latar belakang Indah yang selama ini tidak ia ketahui.

“Ketika saya tahu bahwa adikku sakit parah, saya datang untuk mengunjunginya,” lanjut Rania, meneteskan air mata ke dalam cangkir tehnya. “Namun dia menolak untuk bertemu denganku. Dia bilang dia tidak ingin aku melihatnya dalam kondisi seperti itu, dan dia juga takut kamu akan bertanya banyak hal tentang diriku. Tapi sebelum dia pergi, dia memberikan surat khusus untukku – surat yang harus aku berikan padamu setelah dia tiada.”

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Rania mengeluarkan amplop berwarna putih dari tasnya dan memberikannya kepada Alvian. Amplop itu memiliki tulisan tangan Indah yang sudah sangat akrab baginya: “Untuk Alvian – Dibuka hanya oleh kamu.”

Dengan hati yang penuh kerinduan dan rasa penasaran, Alvian membuka amplop itu. Di dalamnya ada dua lembar kertas – satu berisi tulisan panjang dari Indah, dan yang satunya adalah sebuah foto lama berwarna kecoklatan. Di foto itu terlihat dua anak kecil perempuan sedang bermain di taman, salah satunya jelaslah Indah yang masih kecil, dan yang satunya sangat mirip dengan Rania.

Alvian mulai membaca tulisan Indah dengan seksamaseksama.

“Untuk sayangku Alvian…

Jika kamu sedang membaca ini, berarti Rania sudah memberitahumu tentang keberadaannya. Maafin aku ya sayang, karena menyembunyikan rahasia ini dari kamu selama ini. Aku tidak berniat untuk berbohong, hanya saja cerita tentang keluarga ku sangat menyakitkan, dan aku tidak ingin kamu merasa kasihan padaku.

Ketika aku pertama kali tahu bahwa aku punya kakak kandung, aku sangat ingin bertemu dengannya. Tapi ketika akhirnya kami bertemu beberapa tahun yang lalu, aku merasa sangat canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Rania sudah punya keluarga sendiri dan hidup bahagia, sementara aku masih berjuang untuk mendapatkan cinta orang tua dan menemukan tempatku di dunia ini.

Tapi sayang, ada satu hal lagi yang aku harus katakan padamu – sesuatu yang aku sembunyikan dengan sangat rahasia selama ini. Ketika dokter memberitahukan kondisiku, mereka juga mengatakan bahwa penyakitku bisa diturunkan dari keluarga. Rania belum tahu tentang hal ini, dan aku ingin kamu membantu aku menjaganya. Tolong pantau kesehatan dia dengan baik ya, sayang. Jangan biarkan dia mengalami hal yang sama seperti yang aku alami.

Selain itu, aku juga ingin kamu tahu bahwa di bawah matras kasur kamarku di rumah kita, aku menyembunyikan sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada semua surat cinta yang pernah kamu kirimkan padaku, serta beberapa barang kecil yang aku persiapkan untuk masa depan kita – termasuk pola baju untuk anak pertama kita yang aku impikan selalu. Jangan buang semuanya ya, sayang. Simpan sebagai kenangan tentang cinta kita.

Aku tahu kamu akan menemukan cinta baru nanti, dan aku akan selalu merestuiinya dari surga. Cintakan dia dengan sepenuh hati seperti yang kamu cintai aku. Jaga dirimu dengan baik, sayangku. Jadikan hidupmu sebagai bukti bahwa cinta itu benar-benar ada dan bisa mengubah segalanya.

Aku mencintaimu selamanya,

Indah.”

Setelah selesai membaca surat itu, Alvian merasa dada nya sesak dan mata nya penuh dengan air mata. Ia tidak pernah menyangka bahwa Indah menyembunyikan begitu banyak rahasia dan perhatian untuknya bahkan setelah dia pergi.

“Indah juga memberitahuku tentang perusahaan mu, mas Alvian,” ucap Rania dengan suara lembut, melihat wajah Alvian yang penuh kesedihan. “Dia bilang kamu adalah orang yang sangat pekerja keras dan penuh dengan ide-ide baik. Dia selalu bangga dengan apa yang kamu capai, dan dia ingin kamu terus maju dan sukses.”

Alvian mengangguk pelan, masih belum bisa berkata apa-apa. Semua informasi baru yang masuk membuatnya merasa sedikit kebingungan tapi juga semakin menghargai cinta yang diberikan oleh Indah selama ini.

“Kamu tahu tidak, Rania?” ujar Alvian akhirnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Indah selalu bilang bahwa dia tidak punya keluarga yang lengkap, tapi sekarang aku menyadari bahwa dia salah. Dia punya kamu sebagai kakak kandungnya, dia punya orang tuanya yang mencintainya dengan sepenuh hati, dan dia punya aku yang rela melakukan apa saja untuknya. Dia tidak pernah sendirian.”

Rania mengangguk dan menangis bersama Alvian. “Ya, mas Alvian. Adikmu adalah orang yang paling kuat dan terbaik yang pernah aku kenal. Dia pantas mendapatkan cinta yang tulus seperti yang kamu berikan padanya.”

Setelah beberapa saat, Alvian berdiri dan membayar tagihan teh mereka. Ia merasa ada kekuatan baru yang muncul di dalam dirinya – kekuatan untuk melanjutkan hidup seperti yang diinginkan Indah. Ia akan menjaga Rania dan keluarganya dengan baik, ia akan menjalankan perusahaan nya dengan lebih baik lagi, dan ia akan menyimpan kenangan tentang Indah di dalam hatinya selamanya.

“Saya akan mengunjungi rumah Indah besok pagi,” ujar Alvian pada Rania saat mereka siap pergi dari kedai kopi. “Saya ingin mengambil kotak kecil yang dia sembunyikan untuk saya. Setelah itu, saya ingin bertemu dengan orang tuamu juga – untuk berbicara tentang Indah dan untuk memastikan bahwa mereka baik-baik saja.”

Rania mengangguk dengan senyum haru. “Saya akan menemani kamu jika kamu mau, mas Alvian. Saya juga ingin tahu lebih banyak tentang adikku dari orang-orang yang mencintainya.”

Saat mereka berjalan keluar dari kedai kopi, matahari sudah mulai terbit, menyebarkan cahaya ke seluruh langit. Alvian melihat ke atas langit yang semakin terang, lalu mengucapkan doa dalam hati untuk Indah yang sudah berada di surga. “Aku akan menjalankan semua permintaan mu, sayang,” bisiknya pelan. “Aku akan hidup dengan baik dan bahagia, seperti yang kamu mau. Aku mencintaimu selamanya.”

Namun saat mereka akan masuk ke dalam mobil masing-masing, sebuah mobil hitam yang sama seperti yang pernah ia lihat dua kali sebelumnya muncul dari kejauhan dan berhenti tepat di depan mereka. Pintu mobil terbuka, dan seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan wajah tampan tapi tampak serius keluar dari dalamnya. Ia mengenakan jas hitam yang rapi dan memiliki tatapan mata yang sangat kuat.

“Permisi, apakah kamu adalah Alvian Pratama?” tanya pria itu dengan suara yang tenang tapi tegas. “Saya adalah Dr. Reza Wijaya, spesialis onkologi dari rumah sakit pusat di Jakarta. Saya punya informasi penting tentang kondisi Indah Kusumawati – sesuatu yang mungkin akan mengubah semua yang kamu ketahui tentang penyakitnya.”

Alvian dan Rania saling melihat satu sama lain dengan wajah yang penuh dengan kebingungan dan rasa takut. Apa lagi yang bisa jadi rahasia tentang penyakit Indah yang belum terungkap? Dan siapakah pria ini yang datang dengan berita penting di saat mereka baru saja mulai menerima kehilangan Indah?

 

****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB15: Memberi Makan Joni Yang Kelaparan

    Alvian tak pulang ke rumah orang tua nya itu. Ia memilih pulang ke apartemen milik nya sendiri, dan sesampainya Alvian di dalam kamar, ia pun langsung menjatuhkan bobot tubuh nya itu di atas tempat tidur yang lembut. "Haduh... Hari sial banget dah, mimpi apa ya yang membuat gue bisa ketemu Clara lagi seperti ini." Ujar Alvian dengan nada kesal. Ia pun mulai menscroll layar ponsel nya itu perlahan, kemudian membuka sebuah video rekaman dirinya bersama Ani. Melihat wajah Ani di layar, Alvian pun secara perlahan tersenyum... "Kalau melihat dia seperti ini, rasanya gue seperti melihat Indah. Sungguh jadi sangat kangen sama Indah." Ucap nya dengan suara lirih yang penuh dengan rasa rindu. Setelah itu, Alvian pun kembali membuka video rekaman yang lain di galeri ponsel nya. Ia pun kembali sekali lagi tersenyum lebar melihatnya... "Ini cewe memang binal juga ya, tapi gaya nya bikin gue suka banget." Ucap nya sambil tersenyum. Lalu Alvian pun kembali fokus dengan memperhatikan video itu

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB16: kemarahan Alvian

    Di ruang tertutup yang lembap, Clara mencengkeram lengan Alvian dengan kekuatan luar biasa. Matanya yang kemerahan memancarkan hasrat dan dendam, membuat Alvian kesulitan bernapas. Dengan keberanian terakumulasi, ia menendang perut Clara dan melepaskan diri dari cengkramannya. Ia segera keluar ruangan dan langsung menarik kerah baju Rafka. "Kurang ajar lo, ka. Bugh..." Alvian memberikan pukulan langsung ke rahang sahabatnya. "Lo kenapa?" tanya Rafka terkejut. "Lo yang kenapa? Lo jebak gue lagi? Sekarang apa yang lo lakukan?" bentak Alvian penuh emosi. "Tenang dulu bro, gue bisa jelaskan," ucap Rafka dengan nada memohon. "Jelaskan apa? Gue benar-benar kecewa sama lo. Gue kira lo sahabat yang baik, ternyata gue salah. Mulai sekarang, lo gue pecat!" ucap Alvian sebelum keluar meninggalkan Rafka. Rafka tercengang dengan keputusan bosnya, lalu mengejar Alvian sampai ke parkiran. "Ayo bos, masa cuma segitu aja langsung pecat?" pinta Rafka. "Lo sudah keterlaluan! Lo bilang cew

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB14: Bertemu Clara

    Dua sahabat menyisir setiap sudut pemakaman—tempat pertama Alvian bertemu gadis yang kini menjadi buruan hatinya. Bersama Rafka, ia telusuri setiap lorong sempit, setiap gundukan tanah, setiap batu nisan, tapi jejak gadis itu seperti hanyut di angin, tak ada jejak yang tersisa. Mata Alvian sudah merah karena menatap terlalu lama, kaki nya pegal karena berjalan jauh, tapi harapan untuk menemukannya semakin surut. Tak kunjung ketemu, Alvian memutuskan berziarah ke makam istri tercinta sebelum meninggalkan TPU. Di hadapan gundukan tanah yang baru beberapa bulan istri nya, Indah, meninggal—ia bersimpuh, air mata menetes membasahi batu nisan yang bertuliskan nama mendiang istrinya, indah. Ingatan tentang malam yang salah—ketika ia terjebak dalam pelukan wanita bayaran setelah pesta kerja yang terlalu banyak minuman—menghantui, menyisakan rasa bersalah yang menusuk hati terhadap mendiang Indah. Rasa bersalah itu seolah-olah rantai yang mengikat leher nya, membuat nafas tersesak. “Sayang…

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB13: Di Palak Rafka

    Sesampainya di rumah, Alvian langsung disambut hangat oleh maminya yang tercinta."Sayang... Dari mana kamu? Kok semalam tidak pulang?" tanya Mami Bunga."Hmm... Anu mi, aku nginep di rumah teman," bohong Alvian. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa baru saja tidur bersama wanita bayaran – bisa saja dianggap tidak pantas dan membuat orang tuanya kecewa, pikirnya."Mi, Alvian masuk kamar dulu ya, mau mandi," pamitnya."Iya sayang," jawab Mami Bunga.Alvian pun melangkahkan kakinya menuju kamar. Setelah masuk, ia langsung menjatuhkan badannya ke ranjang dan menatap langit-langit kamar. Adegan panas dirinya bersama Ani masih jelas terngiang-ngiang, seakan menari-nari di depan matanya. Alvian pun tersenyum...."Bener apa kata Rafka, hidup harus dinikmati. Buat apa kerja keras kalau hasilnya tidak dinikmati?" gumamnya. Ia kemudian mengambil ponsel dan melihat rekaman adegan panas itu – rekaman yang sengaja ia buat untuk mengingat bahwa kehilangan perjakaannya terjadi karena Ani. Setelah puas

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB12: Rasa Bersalah

    Di pagi hari, Alvian terkejut saat membuka mata—badannya tak bersentuhan dengan sehelai kain pun. Ia dengan hati-hati mengangkat ujung selimut untuk melihat kondisi dirinya."Ya ampun... Apa yang terjadi?" gumam Alvian, sambil menyisir rambutnya dengan kasar. Lalu pandangannya melirik ke sisi tempat tidur. Seketika, ia melompat dari ranjang saat melihat seorang wanita yang hanya bergelut selimut sedang terlelap tenang di sebelahnya."Apa yang gue buat kemarin malam?" bisik Alvian dalam hati, mencoba menggaruk ingatan tentang peristiwa semalam. Namun kepalanya yang masih pusing membuatnya tak bisa mengingat apa-apa. Ia segera mengambil boxer miliknya, mengenakannya dengan tergesa-gesa, lalu duduk di sofa yang ada di sudut kamar. Matanya tak bisa lepas dari sosok wanita yang masih tertidur pulas."Apa yang gue lakukan dengan dia?" gumamnya pelan, menyandarkan kepala ke sandaran sofa."Ponsel gue... Dimanakah ponsel gue?"Alvian langsung mencari benda pipih itu di sekitar kamar. Setelah

  • Terjerat Cinta Duda Menyebalkan   BAB 11: Terbayang Akan Indah

    Tok… Tok… Tok…“Masuk…”Suara itu terdengar berat keluar dari bibir Alvian. Dia menghembuskan napas panjang sambil menatap jendela kantornya, sebelum akhirnya menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka. Rafka, asisten sekaligus sahabatnya yang sudah bersama sejak lama, masuk dengan langkah ringan dan langsung menepuk bahunya.“Lo kenapa bro?” tanya Rafka dengan nada khawatir.“Pusing,” jawab Alvian dengan singkat, matanya masih terpaku pada kejauhan.“Lo pusing mikirin apa ya?”Alvian menghela nafas lagi, kemudian mengambil sebuah sepatu wanita yang terletak di sudut meja. Dia mengangkatnya perlahan, mata terpaku pada barang itu. “Lo bayangin aja, gue masih belum bisa lupakan kejadiannya. Tadi pagi, gue di tabrak sama seorang gadis yang sangat kasar. Bukannya minta maaf, malah dia yang keluarin kata-kata kasar sama gue. Dan nih…” Alvian mengangkat sepatunya lebih tinggi, “Sepatunya yang sekarang ada di sini.”“Hah? Kok bisa sampai lo bawa ke kantor?” Rafka mengerutkan dahi.“Dia mau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status