Mag-log inSejak kejadian di Mall itu, aku sering menghindar untuk bertemu Ortega. Identitas yang tidak biasa sedikit terungkap, dia adalah paman dari Sagara. Namun, sentuhan malam itu sangat membekas dalam ingatanku.
"Apa aku salah jika mereguk manisnya cinta pria senja? Dia begitu lembut dan penuh perhatian." "Apa dosa senantiasa hadir untuk cinta beda usia? Ya Tuhan," ujarku lirih sambil menatap riak air danau tersapu angin. Cukup lama aku berdiri di tepi danau, suasana yang sejuk mampu melupakan kisahku meskipun sesaat. Di sini kuberanikan diri untuk memulai melukis, satu kebiasaan masa silam sebagai seorang putri kerajaan. Dengan melukis, sedikit banyak bisa mengurangi rasa rinduku pada duniaku yang dulu. Iya, meskipun aku terlempar ke dunia lain tidak merubah ingatan dan keahlianku masa itu. Dunia ini terasa lebih panas dari kota Blambangan, berdiri di sini hanya beberapa saat saja sudah membuat kulitku terbakar. Namun, ingatan pemilik tubuh mengharuskan aku datang ke tempat ini. Mungkinkah ada sesuatu? "Hai, bukankah kau Gendhis. Apa kabarmu, Gadis Bisu?" Aku menoleh ke sumber suara, menatap sekilas lalu kembali melihat kanvas. Perlahan kugerakkan kuas melukis apa yang tersirat dalam otakku. "Rupanya si Bisu sudah bisa melukis, Kawan. Lihatlah!" "Lumayan juga hasilnya." Kubiarkan saja mereka bersuara tanpa ikut menimpali atau pun menjawab pernyataan, pikiranku tenggelam dalam ingatan si pemilik tubuh tentang mereka. Aku terdiam, fokus pada kanvas yang menghasilkan satu pemandangan kuno masa kejayaan ibunda ratu. "Dasar, Bisu." hentak salah satu dari mereka. Tubuhku seketika limbung, terhuyung ke belekang. Namun, dengan cepat keseimbangan pun sudah kuraih membuat mereka terpana. Bibirku menyeringai dengan kedua tangan terkepal menahan Semua luka yang pernah ditorehkan mereka pada pemilik tubuh. "Jangan memulai dulu sebelum Aurel datang, tidak seru," larang seorang pria tampan yang kuingat bernama Adrean. "Buat apa menunggu wanita manja itu jika tanpa dia aku bisa menguasai keadaan kalian," balasku dengan gerak tangan tegas. Mereka datang berempat, dengan pakaian serba mewah selayaknya putri orang kaya. Namun, otaknya begitu dangkal hingga mau saja dijadikan boneka oleh Aurel. "Apa kalian tidak ingin bebas dari kekuasaan wanita manja yang tidak bisa apa pun itu?" Kembali aku berkata dengan ciriku yang mungkin tidak ada yang bisa artikan bahasa isyarat. "Apa kalian tidak ada yang paham?" "Cuih jangan menghina kemampuan kami dalam mengartikan semua gerakanmu, Bisu. Asal kau tahu, Aurel lebih berarti bagi kami daripada wanita bisu sepertimu yang tidak bisa bersuara," tegas Andrean. "Sayang kau wanita, tanganku tidak layak untuk melukai." "Tidak layak atau kau tidak mampu?" ejekku dengan sedikit menyeringai dan menyipitkan mata mencoba memancing emosi. Rupanya, Adrean mulai tersulut emosinya. Kedua tangannya mengepal menimbulkan jarinya memutih, kedua matanya sedikit memerah. Aku hanya mengulum senyum. "Apa belum cukup siksaan kami masa itu?" ujar Adrean, ia mulai melangkah maju mendekat ke arahku. Aku bergeming, tetap berdiri tanpa menggeser sedikit pun posisiku bahkan dengan sombongnya kulipat dua tanganku di depan dada seolah menantangnya dan kepala terangkat. Sikapku ini ternyata membuat tubuh Adrean berubah, terlihat ia ragu melangkah. "Mengapa berhenti, Adrean? Dia hanya gadis lemah dan bisu, apa pun yang akan kita lakukan pasti tidak akan terungkap seperti masa silam," kata Laura, sahabat Aurel. "Jika kau masih berani majulah, tak perlu satu per satu. Langsung saja, kalian dua pria lemah. Majulah!" tantangku sambil mengacungkan ujung kuas pada dua wajah pria tersebut. Aku tahu ini adalah tindakan yang berani, hanya ini yang bisa aku lakukan agar masak di dunia ini segera berakhir. Semua harus aku kendalikan untuk mendapatkan bukti. Mereka tidak tahu saja, dalam lukisan itu telah kutanam sebuah chip dual fungsi yaitu merekam gambar dan suara. Suaraku memang tidak ada, tetapi gerakan tanganku sangat jelas terekam. Tiba-tiba Adrean tertawa keras dan melengking, ia menatapku penuh gairah. Tatapan itu seketika membuat tubuhku merinding, bergerak liar, tanpa sadar kedua tanganku menutup rapat kedua telinga. Aku terduduk dalam posisi jongkok, mendekap kedua lutut dan telinga. Perasaan takut dan jijik muncul bersamaan, ini sangat familiar. "Apa kau inginkan sentuhanku lagi, Gendhis? Masih terlihat jelas tubuh polosmu di mataku," ujar Adrean saat kepalanya menunduk tepat di ujung telinga kananku. "Tubuhmu begitu nikmat dan legit, gerakkan liar itu begitu memuaskan kami." Ingatan pemilik tubuh melintas, persenggamaan yang brutal terlihat diujung mataku meskipun aku terpejam. Sungguh biadab mereka, tanpa ampun tubuh wanita ini dipermainkan dan dipertontonkan di depan lima sekawan dalam gedung itu. Kuingat semua wajah itu. Sial, mungkin di duniaku aku bisa mengalah, tetapi ini dunia yang berbeda. Aku harus bangkit, penindasan ini tidak boleh terus hidup. Aku mencoba bangkit, menatap mereka satu per satu. "Majulah!""Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasil dari jual organ. Dan itu ada organ mama!" Aku sangat emosi mendengar semua penuturan asisten geblek itu. Entah ini nasibku yang sial atau memang takdir sedang mempermainkan aku. Hidup di dua dunia memiliki asisten yang sama gebleknya. Bahkan di kerajaan Balai Kambang Warni lebih sulit diajari sesuatu. Angin malam menusuk jantungku membuat otakku sulit berpikir jernih.\Aku harus segera mengambil keputusan akan kuapakan pria sialan itu sebelum waktu kembali berjalan normal. Aku harus fokus dan berpikir ulang, akhirnya kuputuskan untuk memejam sesaat dengan mengatur jalan napas secara perlahan."Tunggu aku di sini untuk beberapa detik, awasi pergerakan Sagara dan Ortega. yang lain biarkan s
Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicara bahwa janin dalam kandungannya adalah benih yang disebar Sagara tanpa sadar saat dia terbuai dengan alkohol dua bulan yang lalu. Pernyataannya itu terbukti dengan rekaman vidio di salah satu hotel berbintang. Bukti nyata itu tidak dapat disanggah oleh Sagara."Lepaskan calom bibi kamu itu, Saga!" Suara lantang Ortega menenggelamkan pikiranku.Aku langsung berhenti memberontak, menatap pada Ortega yang terus berusaha untuk membebaskan aku. Sagara tertawa sinis, pria ini sangat pandai memainkan peran hingga aku tidak dapat mengendus kesalahannya selama ini."Dia milikku, bukan untukmu, Paman. Dan semua organnya pun juga sudah menjadi milikku sejak dijual oleh ayahnya sebagai pengganti perusa
"Jika kau tidak mau tinggalkan saja, biar aku yang rawat cewek bisu itu!"Suara tegas terdengar dari arah ruang tamu dan langkahnya sangat familiar buatku. Setiap ayunan dan hentakan kaki yang menyentuh lantai porselen begitu khas, aku sangat paham intonasi dan ritme langkah ini.Otakku sudah jauh berpikir yang sesuatu tidak mungkin, tetapi hati ini selalu benar. Panggilan nama Ortega dalam hati selalu benar, iya, aku yakin suara dan pemilik langkah ini adalah Samuel Ortega."Paman!"Seketika aku termangu mendapati sosok Ortega berdiri tegak di ambang batas antara ruang tamu dan ruang makan. Sosok pria itu telah banyak berubah, ada cambang tipis mulai tumbuh di sana. Bahkan terdapat lingkar mata yang gelap.'Apakah pria ini kurang istirahat hanya untuk membebaskan aku?'Ah, ini hanya anganku saja. Tidak mungkin pria sekelas Samuel Ortega menyimpan hati untuk aku-wanita miskin dan bisu."Apa kau tidak sanggup memilih berlian di antara batu kali? Maka biarkan batu usang itu aku rawat b
Tidak ada hujan, tanpa suara langkah kaki, tiba-tiba terdengar suara lantang meminta tanggungjawab atas kehamilan seseorang. Ini membuatku tersentak kaget, suara ini begitu familiar. "Sagara, jangan kau kira tante inginkan kau jadi membantuku lalu dengan seenaknya menghamili Aurel." Suara itu makin dekat dan aku bisa menghirup parfum khas ibu tiriku. "Cih, ternyata sebulan ini kau menyimpan jalang bisu. Pantas saja kau tinggalkan Aurel begitu saja," cicit ibu tiriku. Aku masih diam saja, menikmati drama yang dihadirkan oleh wanita ini. Sedangkan Sagara terlihat duduk tenang, tetap menikmati makanan dihadapannya. Tidak berapa lama terdengar langkah tergesa menuju ke ruang makan. Belum aku sempat bereaksi untuk berbalik menatap ke sumber suara, sebuah tangan sudah meraih bahuku dan menariknya agar tubuhku berdiri.Aku terbawa oleh tenaga kuat wanita tua itu, belum juga keseimbanganku terjaga lengan ibu tiriku itu melayang menampar pipiku. Aku terkesiap kaget, lalu sosok Aurel berdiri
Satu bulan aku berada di villa milik Sagara, villa yang baru kutahu bahwa ini miliknya saat pertama kali aku dibawanya beberapa hari yang lalu. Selama ini pula pria itu selalu memperlakukan aku penuh kelembutan. Sejak membuka mata hingga memejamkan mata lagi tidak ada secuil kesakitan yang dia berikan. Ini makin membuatku bingung. Entah apa yang dia inginkan hingga berbuat sedemikian rupa. Seperti sore itu, "Sayang, tidakkah kau bosan selalu diam tanpa kata seperti ini?" Aku hanya tersenyum saja. "Ayo ikut aku sebentar, kuperlihatkan sesuatu yang indah," ajak Sagara sambil meraih lenganku. Lembut, sangat lembut pria ini memperlakukan tubuhku. Dibawanya tubuhku berjalan menuju ke balkon, tangannya tidak lepas dari bahuku. Aroma maskulin terhirup olehku. Mungkin jika saat ini bukan jiwaku yang berada di tubuh Gendhis bisa saja aku terhanyut. Sayangnya aku sudah tahu seperti apa kelakuan pria ini di belakangku. "Lihatlah di bawah sana!" Sagara berkata sambil menunjuk ke bawah. S
Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaanku."Apa kabar Kakakku tercinta?"Aku mendengus lirih, lalu kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan sekitar hingga akhirnya berhenti pada kedua tanganku yang terikat di atas pangkuanku. Ku angkat kepalaku menatap pada Aurel. Wanita itu tersenyum mania membuat perutku seketika terasa mual."Apa yang kau inginkan?"Dia tertawa sumbang, lalu bertepuk tangan dua kali. Dari arah pintu muncul Sagara dengan angkuhnya berjalan mendekati aku. "Apa kabarmu, Sayang? Sebaiknya kau nurut agar tidak merasakan sakitnya," ujar Sagara sambil mengulurkan tangannya hendak meraih daguku.Aku menolaknya, kupalingkan wajahku ke arah lain hingga gerakannya tidak berhasil. Aku berdecih, pria itu mendengus kasar.







