بيت / Romansa / Terjerat Cinta Gadis Bisu / 6. Suatu Senja Di Danau

مشاركة

6. Suatu Senja Di Danau

مؤلف: Shaveera
last update آخر تحديث: 2026-01-08 18:36:28

Sejak kejadian di Mall itu, aku sering menghindar untuk bertemu Ortega. Identitas yang tidak biasa sedikit terungkap, dia adalah paman dari Sagara. Namun, sentuhan malam itu sangat membekas dalam ingatanku.

"Apa aku salah jika mereguk manisnya cinta pria senja? Dia begitu lembut dan penuh perhatian."

"Apa dosa senantiasa hadir untuk cinta beda usia? Ya Tuhan," ujarku lirih sambil menatap riak air danau tersapu angin.

Cukup lama aku berdiri di tepi danau, suasana yang sejuk mampu melupakan kisahku meskipun sesaat. Di sini kuberanikan diri untuk memulai melukis, satu kebiasaan masa silam sebagai seorang putri kerajaan.

Dengan melukis, sedikit banyak bisa mengurangi rasa rinduku pada duniaku yang dulu. Iya, meskipun aku terlempar ke dunia lain tidak merubah ingatan dan keahlianku masa itu.

Dunia ini terasa lebih panas dari kota Blambangan, berdiri di sini hanya beberapa saat saja sudah membuat kulitku terbakar. Namun, ingatan pemilik tubuh mengharuskan aku datang ke tempat ini. Mungkinkah ada sesuatu?

"Hai, bukankah kau Gendhis. Apa kabarmu, Gadis Bisu?"

Aku menoleh ke sumber suara, menatap sekilas lalu kembali melihat kanvas. Perlahan kugerakkan kuas melukis apa yang tersirat dalam otakku.

"Rupanya si Bisu sudah bisa melukis, Kawan. Lihatlah!"

"Lumayan juga hasilnya."

Kubiarkan saja mereka bersuara tanpa ikut menimpali atau pun menjawab pernyataan, pikiranku tenggelam dalam ingatan si pemilik tubuh tentang mereka. Aku terdiam, fokus pada kanvas yang menghasilkan satu pemandangan kuno masa kejayaan ibunda ratu.

"Dasar, Bisu." hentak salah satu dari mereka.

Tubuhku seketika limbung, terhuyung ke belekang. Namun, dengan cepat keseimbangan pun sudah kuraih membuat mereka terpana. Bibirku menyeringai dengan kedua tangan terkepal menahan Semua luka yang pernah ditorehkan mereka pada pemilik tubuh.

"Jangan memulai dulu sebelum Aurel datang, tidak seru," larang seorang pria tampan yang kuingat bernama Adrean.

"Buat apa menunggu wanita manja itu jika tanpa dia aku bisa menguasai keadaan kalian," balasku dengan gerak tangan tegas.

Mereka datang berempat, dengan pakaian serba mewah selayaknya putri orang kaya. Namun, otaknya begitu dangkal hingga mau saja dijadikan boneka oleh Aurel.

"Apa kalian tidak ingin bebas dari kekuasaan wanita manja yang tidak bisa apa pun itu?" Kembali aku berkata dengan ciriku yang mungkin tidak ada yang bisa artikan bahasa isyarat. "Apa kalian tidak ada yang paham?"

"Cuih jangan menghina kemampuan kami dalam mengartikan semua gerakanmu, Bisu. Asal kau tahu, Aurel lebih berarti bagi kami daripada wanita bisu sepertimu yang tidak bisa bersuara," tegas Andrean. "Sayang kau wanita, tanganku tidak layak untuk melukai."

"Tidak layak atau kau tidak mampu?" ejekku dengan sedikit menyeringai dan menyipitkan mata mencoba memancing emosi.

Rupanya, Adrean mulai tersulut emosinya. Kedua tangannya mengepal menimbulkan jarinya memutih, kedua matanya sedikit memerah. Aku hanya mengulum senyum.

"Apa belum cukup siksaan kami masa itu?" ujar Adrean, ia mulai melangkah maju mendekat ke arahku.

Aku bergeming, tetap berdiri tanpa menggeser sedikit pun posisiku bahkan dengan sombongnya kulipat dua tanganku di depan dada seolah menantangnya dan kepala terangkat. Sikapku ini ternyata membuat tubuh Adrean berubah, terlihat ia ragu melangkah.

"Mengapa berhenti, Adrean? Dia hanya gadis lemah dan bisu, apa pun yang akan kita lakukan pasti tidak akan terungkap seperti masa silam," kata Laura, sahabat Aurel.

"Jika kau masih berani majulah, tak perlu satu per satu. Langsung saja, kalian dua pria lemah. Majulah!" tantangku sambil mengacungkan ujung kuas pada dua wajah pria tersebut.

Aku tahu ini adalah tindakan yang berani, hanya ini yang bisa aku lakukan agar masak di dunia ini segera berakhir. Semua harus aku kendalikan untuk mendapatkan bukti. Mereka tidak tahu saja, dalam lukisan itu telah kutanam sebuah chip dual fungsi yaitu merekam gambar dan suara.

Suaraku memang tidak ada, tetapi gerakan tanganku sangat jelas terekam.

Tiba-tiba Adrean tertawa keras dan melengking, ia menatapku penuh gairah.

Tatapan itu seketika membuat tubuhku merinding, bergerak liar, tanpa sadar kedua tanganku menutup rapat kedua telinga. Aku terduduk dalam posisi jongkok, mendekap kedua lutut dan telinga. Perasaan takut dan jijik muncul bersamaan, ini sangat familiar.

"Apa kau inginkan sentuhanku lagi, Gendhis? Masih terlihat jelas tubuh polosmu di mataku," ujar Adrean saat kepalanya menunduk tepat di ujung telinga kananku. "Tubuhmu begitu nikmat dan legit, gerakkan liar itu begitu memuaskan kami."

Ingatan pemilik tubuh melintas, persenggamaan yang brutal terlihat diujung mataku meskipun aku terpejam. Sungguh biadab mereka, tanpa ampun tubuh wanita ini dipermainkan dan dipertontonkan di depan lima sekawan dalam gedung itu. Kuingat semua wajah itu.

Sial, mungkin di duniaku aku bisa mengalah, tetapi ini dunia yang berbeda. Aku harus bangkit, penindasan ini tidak boleh terus hidup. Aku mencoba bangkit, menatap mereka satu per satu.

"Majulah!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   8. akhirnya datang juga

    Suara itu begitu nyata hingga aku terpaku menatap ke asal suara. Dia-pria yang aku goda beberapa hari yang lalu berjalan dengan langkah tegas dan dingin, tatapannya terfokus hanya padaku. Namun, entah mengapa jantungku ilut berhenti berdetak apalagi saat senyum samar muncul di bingkai bibirnya.Hanya sesaat senyum itu muncul, tetapi mampu membuat suasana hatiku galau, tubuhku gemetar dan otakku berkelana pada malam itu. Sungguh perasaan ini bisa membuatku gila, pesona pria itu begitu nyata melebihi priaku di masa silam.Cara jalannya, senyumnya, bahkan suaranya sangat mirip mungkin bisa aku katakan sama persis dengan priaku di masa kerajaan. Ranggalawe, pria ini lah yang sejak lama telah membelenggu seluruh duniaku.Dia terus melangkah maju mendekat padaku,lalu tanpa banyak kata lengannya melingkar ke belakang dan berdiam di pinggangku. Kemudian kepalanya menoleh menatapku hangat. "Apakah mereka mengganggu kamu lagi, Sayang?"Suaranya begitu lembut dan napas hangatnya menyapa ujung hi

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   7. Info Apa Ini?

    Aku menatap dingin dan datar pada kedua pria itu, tanganku mengepal kuat, lalu menghempaskan kanvas yang telah selesai. Mereka tidak heran, tetapi justru tertawa puas. Tubuhku bergetar akibat menahan emosi yang berlebih."Apakah seorang bisu bisa marah? Semakin kau emosi maka akan semakin seru," kata Andrean, "Benarkan, Kawan?""Aku masih ingat jelas, kulitmu begitu lembut dan halus. Saat mendapat sentuhan begitu liar, dengan cepat belajar.""Bangsat!" Suaraku keluar, serak dan terluka.Apa yang terjadi membuat mereka berempat saling tatap, "Apa kalian mendengar suaranya?" "Ini makin menggairahkan, Stepan."Mereka terus melangkah maju, aku melangkah mundur mencari celah dan tempat sedikit luas agar memudahkan aku bergerak."Mau kemana, Bisu. Ayo, keluarkan suara merdumu itu!"Mereka terus menekanku, mendekat lalu mengulurkan tangannya bersamaan meraih lenganku untuk mengunci. Dengan sigap kutangkis gerakan itu lalu membuat tendangan ringan mempertahankan diri. Mereka terhenyak kaget,

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   6. Suatu Senja Di Danau

    Sejak kejadian di Mall itu, aku sering menghindar untuk bertemu Ortega. Identitas yang tidak biasa sedikit terungkap, dia adalah paman dari Sagara. Namun, sentuhan malam itu sangat membekas dalam ingatanku."Apa aku salah jika mereguk manisnya cinta pria senja? Dia begitu lembut dan penuh perhatian.""Apa dosa senantiasa hadir untuk cinta beda usia? Ya Tuhan," ujarku lirih sambil menatap riak air danau tersapu angin.Cukup lama aku berdiri di tepi danau, suasana yang sejuk mampu melupakan kisahku meskipun sesaat. Di sini kuberanikan diri untuk memulai melukis, satu kebiasaan masa silam sebagai seorang putri kerajaan.Dengan melukis, sedikit banyak bisa mengurangi rasa rinduku pada duniaku yang dulu. Iya, meskipun aku terlempar ke dunia lain tidak merubah ingatan dan keahlianku masa itu.Dunia ini terasa lebih panas dari kota Blambangan, berdiri di sini hanya beberapa saat saja sudah membuat kulitku terbakar. Namun, ingatan pemilik tubuh mengharuskan aku datang ke tempat ini. Mungkinka

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   5. Kejadian Tak Terduga

    Tubuhku dihentak dengan kasar oleh wanita itu, aku hanya melotot tidak terima dengan perlakuannya. Dengan berani kubalas mendorongnya tetapi lebih keras hingga membuat tubuhnya jatuh. Tiba-tiba ia menangis seolah teraniaya olehku."Gendhis, apa-apaan kau ini." Suara ini seperti milik Sagara, aku mengulum senyum tipis. Sekarang aku paham, mengapa Aurel mencebikkan bibirnya. Ternyata ia telah melihat kehadiran Sagara. Dengan cepat pria itu menolong Aurel untuk bangkit lalu memeriksa keadaannya dan berbalik menghadap ."Apa?'' tanyaku sesuai keadaanku."Mengapa kau jadi kasar seperti ini. Mana Gendhis ku dulu yang lembut dan bersahaja?" tanyanya sambil menatapku tajam.Aku menyeringai sinis, kukibaskan tanganku seolah tidak mau mengerti dengan kalimatnya itu. Dengan malas kutinggalkan kedua pengkhianat itu. Namun, baru beberapa langkah namaku dipanggil keras oleh Sagara. Ini membuatku berbalik badan."Ayolah, Gendhis. Sebaiknya kau kembali padaku, lihatlah penampilanmu itu?"Aku menga

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   4. Makin Seru

    "Hem, sudah bangun? Selamat pagi, Nyonya Ortega," sapanya saat kubuka mata.Aku tersenyum dan tentunya pipiku pasti berubah warna. Kugeser tubuhku sedikit menjauh melepaskan dari pelukannya, tetapi lengannya kembali menarik tubuhku masuk dalam pelukannya."Tunggu lima menit lagi, diamlah dalam pelukku. Jangan bergerak!"Aku terpaku, merasakan kehangatan tubuhnya yang polos. Akhirnya kubenamkan kepala ini dalam dekap dada bidang itu. Detak jantungnya terdengar begitu teratur bagai musik yang menenangkan pikiranku."Maafkan aku yang telah membawa Anda dalam masalah hidupku, Tuan Ortega," kataku saat kedua matanya menatapku hangat.Pria itu tersenyum padaku, ia membenarkan surai rambutku yang berantakan hingga menutupi sebagian wajahku. Lalu wajahnya mendekat, perlahan kurasakan hangat dan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Deru napasnya yang panas kembali membangunkan gairahku."Baiklah, aku akan bersiap ke kantor lebih dulu. Jangan lupa sarapan sebelum kau pergi," katanya tiba-tiba sam

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   3. Satu Kisah

    Akhirnya malam yang dijanjikan oleh Sagara pun tiba. Aku sudah bersiap sejak satu jam yang lalu tetapi tak ada suara mobil yang datang menjemputku. Pelayan wanita yang biasa mengurus pemilik tubuh ini pun sudah tidak terlihat lagi berkeliaran di dalam rumah."Mungkin ia sudah pulang seperti biasa aku sendiri dalam malam sepi," gumamku.Jika keadaan rumah sudah kosong aku baru berani mengeluarkan suara, hal ini sengaja aku lakukan demi alasan yang belum bisa aku ungkap sekarang.Benda pipih hitam yang tergeletak begitu saja di meja mulai bergetar, lalu suara notif terdengar. Kuraih benda itu, rupanya ponsel milik Sagara tertinggal. Atau mungkin sengaja ditinggal agar aku bisa menggunakan benda tersebut.Kutekan tombol khusus untuk membuka benda itu sesuai arahan Saga waktu itu. Dan berhasil. Sayangnya dalam tampilan layar utama terlihat kemesraan mereka berdua. Ah, tidak rupanya itu bukan milik Sagara. Hal ini kusimpulkan dari semua karakter isi ponsel bernuansa wanita yang lembut. Tib

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status