Accueil / Romansa / Terjerat Cinta Gadis Bisu / 5. Kejadian Tak Terduga

Share

5. Kejadian Tak Terduga

Auteur: Shaveera
last update Dernière mise à jour: 2026-01-03 14:56:31

Tubuhku dihentak dengan kasar oleh wanita itu, aku hanya melotot tidak terima dengan perlakuannya. Dengan berani kubalas mendorongnya tetapi lebih keras hingga membuat tubuhnya jatuh. Tiba-tiba ia menangis seolah teraniaya olehku.

"Gendhis, apa-apaan kau ini."

Suara ini seperti milik Sagara, aku mengulum senyum tipis. Sekarang aku paham, mengapa Aurel mencebikkan bibirnya. Ternyata ia telah melihat kehadiran Sagara. Dengan cepat pria itu menolong Aurel untuk bangkit lalu memeriksa keadaannya dan berbalik menghadap .

"Apa?'' tanyaku sesuai keadaanku.

"Mengapa kau jadi kasar seperti ini. Mana Gendhis ku dulu yang lembut dan bersahaja?" tanyanya sambil menatapku tajam.

Aku menyeringai sinis, kukibaskan tanganku seolah tidak mau mengerti dengan kalimatnya itu. Dengan malas kutinggalkan kedua pengkhianat itu. Namun, baru beberapa langkah namaku dipanggil keras oleh Sagara. Ini membuatku berbalik badan.

"Ayolah, Gendhis. Sebaiknya kau kembali padaku, lihatlah penampilanmu itu?"

Aku mengangkat bahu tidak peduli, "Bukankah sejak dulu hingga kini selalu seperti ini?"

"Semua kejadian masa silam akan kukubur, lalu kita mulai lagi dari awal. Bagaimana?"

Kuhirup udara sekitar lebih dalam, lalu kugerakkan lagi lenganku, "Apakah kau bisa melepaskan Aurel dari sisimu?"

Melihat gerakan tanganku membuat Sagara mendengus lirih, bisa kupastikan jika pria ini akan menolak permintaanku. Selama sepuluh tahun pemilik tubuh menyertai jalan hidupnya hingga bisa berdiri tegak di dunia bisnis, ia tidak pernah meninggalkan pria ini sendiri dan berusaha mengerti caranya berinteraksi.

Akan tetapi, hari ini mengapa sungguh sial nasibku hingga melihat mereka lagi. Tidak aku harus bisa keluar dari dunianya yang membuatku mual. Ingin rasanya aku bersuara, tetapi jerit suara yang lain menegurku tegas. Bukan saatnya suara ini keluar untuk meluluhkan emosi pria laknat itu.

Aku mencoba tersenyum, menatap pada setiap pengunjung sambil menangkupkan kedua telapak tangan di dada sebagai permohonan maaf. Mereka mengerti dan berbalik badan melangkah meninggalkan tempat itu.

"Kak Saga, tolong aku," rintih Aurel manja.

Kembali lagi bibirku melengkung melihat ulah wanita itu yang mencari perhatian Sagara, dan sayangnya pria itu justru terus merayuku untuk kembali lagi padanya.

"Bantulah wanitamu itu, Tuan Saga. Aku sudah biasa tanpa hadirmu," ucapku dalam bahasa isyarat.

"Sayang, kau tidak apa?" tanya Ortega dengan lembut, "Lain kali jaga wanita Anda, Tuan Saga!"

Seketika dahiku berkerut, menanyakan sejak kapan pria ini ada di mall padahal tadi ia sudah berangkat ke kantor. Apakah rapat penting itu telah usai? Rupanya wajahku membuat ia tahu hingga kudengar jawaban bahwa saat ini kebetulan pria itu ada jadwal bertemu klien di mall yang sama. Aku tersenyum mendengar cara pria itu menjelaskan padaku.

"Tuan Ortega, apakah Anda tidak jijik dengan wanita bisu ini. Lihatlah penampilannya, sangat tidak pas berdiri di samping Anda," kata Aurel sambil berusaha berdiri.

Ortega sama sekali tidak memandang wajah Aurel membuatku mengulum senyum sambil melirik wanita itu, tetapi memang dasar wanita bermuka tebal ia tetap melontarkan kalimat hinaan padaku dan meninggikan posisinya. Kutatap Ortega sekilas, tidak tersirat sedikit pun rasa ketertarikan pada sorot matanya untuk Aurel. Ia justru terus menatap lembut ke arahku membuat aku mengangkat bahu tanda tidak mengerti.

"Maaf, siapa Anda untuk mengatur hidupku, Nona?" Suara Ortega begitu dingin dan tegas, lalu ia berpaling ke arah ku lagi, "Bagaimana keadaanmu, perlukan kubalas kan semua?"

"Tetapi wanita itu masih istriku, Tuan Ortega. Maka lepaskan tanganmu!" kata Sagara sambil menatap tajam ke arah Ortega.

"Kak Saga, akulah tunanganmu. Auh, kakiku sulit menopang tubuhku, tolonglah, Kak," pinta Aurel bernada manja.

Sagara mendekati Aurel, lalu menyentuh tangan wanita itu. Apakah ini tidak menjadi nyata jika pria itu inginkan Aurel? Aku hanya mendengus saja, ini adalah bukti.

Melihat perlakuan Sagara pada Aurel, Ortega justru makin berulah. Dengan santai ia meraih tubuhku lalu dipeluknya posesif, dahiku berkerut melihat aksinya yang begitu berani bermain api. Segera kucubit pinggangnya agar ia tidak melanjutkan aksinya yang makin membuatku malu.

"Dia terlalu muda untukmu, justru lebih pantas sebagai anakmu, Tuan Ortega. Tolong lepaskan istriku ," pinta Sagara dengan nada begitu rendah. Masih dengan posisinya yang terakhir. "Apa perlu kuungkap identitas Anda?" lanjut Sagara.

"Dia yang mendekatiku, jadi tidak salah jika kubalas. Sedangkan kau, saat ini sudah ada wanita lain di sisimu," kata Ortega. "Lihatlah wanita di sisimu itu, apakah kau tidak merasa kasian. Dia begitu tersiksa lho."

Aurel kulihat mengulum senyum, lalu pandangannya terarah padaku. "Apakah kau juga mendengar kalimat Tuan Ortega, Bisu? Nyata dia membelaku."

Aku hanya tersenyum ringan sekilas, lalu berpaling menatap pada Ortega. Pria itu tersenyum dengan mengangkat bahu tidak mau tahu. Sialan batinku, pria ini seakan sedang mempermainkan peran bipolar. Namun, aku tidak peduli kutinggalkan saja mereka tanpa berkata dan menoleh lagi.

"Hai, tunggu dong jangan asal pergi." Suara Aurel tidak mampu menghentikan langkahku, tetapi ada suara lain yang membuatku berdiri terpaku.

"Sayang, tunggu aku!"

Suara Ortega menghentikan langkahku tetapi tubuhku tidak bisa bergerak, tetap berdiri terpaku di tempat terakhir kaki ini melangkah. Kupejamkan kedua mata, menata ulang hati dan jiwaku untuk menghadapi sosok pria yang tidak jelas sikapnya.

"Jangan terlalu mudah terpancing, apa tidak lelah selalu ditipu?" Suara Ortega terdengar dingin dan datar membuatku menoleh ke samping.

Pria itu menatapku datar, tanpa senyum. Sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu, dahiku berkerut menatapnya penuh tanya.

"Gendhis, apa kau yakin akan melanjutkan hubungan itu?" tanya Sagara saat ia sudah kembali di depanku, "Dia ini adalah pamanku."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   42.

    "Kau gila, bagaimana bisa aku berbagi peluh dengan wanita jalang itu," decakku tajam dengan kedua mata melotot pada Siska.Wanita itu tidak ada rasa takut sama sekali dengan sikapku, tetapi justru tertawa terbahak melihatku seperti kebakaran jenggot."Apa kau lupa, semua harta yang didapatnya hasil dari jual organ. Dan itu ada organ mama!" Aku sangat emosi mendengar semua penuturan asisten geblek itu. Entah ini nasibku yang sial atau memang takdir sedang mempermainkan aku. Hidup di dua dunia memiliki asisten yang sama gebleknya. Bahkan di kerajaan Balai Kambang Warni lebih sulit diajari sesuatu. Angin malam menusuk jantungku membuat otakku sulit berpikir jernih.\Aku harus segera mengambil keputusan akan kuapakan pria sialan itu sebelum waktu kembali berjalan normal. Aku harus fokus dan berpikir ulang, akhirnya kuputuskan untuk memejam sesaat dengan mengatur jalan napas secara perlahan."Tunggu aku di sini untuk beberapa detik, awasi pergerakan Sagara dan Ortega. yang lain biarkan s

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   41.

    Seketika kedua mata Sagara membulat sambil kepalanya menggeleng menolak tuduhanku itu, tetapi aku tidak percaya dengan sanggahannya. Kucoba melawan gerakannya yang makin kuat mencengkeram pergelangan tanganku. Namun, apapun yang kucoba tetap tidak berhasil.Sementara di depanku Aurel terus berbicara bahwa janin dalam kandungannya adalah benih yang disebar Sagara tanpa sadar saat dia terbuai dengan alkohol dua bulan yang lalu. Pernyataannya itu terbukti dengan rekaman vidio di salah satu hotel berbintang. Bukti nyata itu tidak dapat disanggah oleh Sagara."Lepaskan calom bibi kamu itu, Saga!" Suara lantang Ortega menenggelamkan pikiranku.Aku langsung berhenti memberontak, menatap pada Ortega yang terus berusaha untuk membebaskan aku. Sagara tertawa sinis, pria ini sangat pandai memainkan peran hingga aku tidak dapat mengendus kesalahannya selama ini."Dia milikku, bukan untukmu, Paman. Dan semua organnya pun juga sudah menjadi milikku sejak dijual oleh ayahnya sebagai pengganti perusa

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   40.

    "Jika kau tidak mau tinggalkan saja, biar aku yang rawat cewek bisu itu!"Suara tegas terdengar dari arah ruang tamu dan langkahnya sangat familiar buatku. Setiap ayunan dan hentakan kaki yang menyentuh lantai porselen begitu khas, aku sangat paham intonasi dan ritme langkah ini.Otakku sudah jauh berpikir yang sesuatu tidak mungkin, tetapi hati ini selalu benar. Panggilan nama Ortega dalam hati selalu benar, iya, aku yakin suara dan pemilik langkah ini adalah Samuel Ortega."Paman!"Seketika aku termangu mendapati sosok Ortega berdiri tegak di ambang batas antara ruang tamu dan ruang makan. Sosok pria itu telah banyak berubah, ada cambang tipis mulai tumbuh di sana. Bahkan terdapat lingkar mata yang gelap.'Apakah pria ini kurang istirahat hanya untuk membebaskan aku?'Ah, ini hanya anganku saja. Tidak mungkin pria sekelas Samuel Ortega menyimpan hati untuk aku-wanita miskin dan bisu."Apa kau tidak sanggup memilih berlian di antara batu kali? Maka biarkan batu usang itu aku rawat b

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   39.

    Tidak ada hujan, tanpa suara langkah kaki, tiba-tiba terdengar suara lantang meminta tanggungjawab atas kehamilan seseorang. Ini membuatku tersentak kaget, suara ini begitu familiar. "Sagara, jangan kau kira tante inginkan kau jadi membantuku lalu dengan seenaknya menghamili Aurel." Suara itu makin dekat dan aku bisa menghirup parfum khas ibu tiriku. "Cih, ternyata sebulan ini kau menyimpan jalang bisu. Pantas saja kau tinggalkan Aurel begitu saja," cicit ibu tiriku. Aku masih diam saja, menikmati drama yang dihadirkan oleh wanita ini. Sedangkan Sagara terlihat duduk tenang, tetap menikmati makanan dihadapannya. Tidak berapa lama terdengar langkah tergesa menuju ke ruang makan. Belum aku sempat bereaksi untuk berbalik menatap ke sumber suara, sebuah tangan sudah meraih bahuku dan menariknya agar tubuhku berdiri.Aku terbawa oleh tenaga kuat wanita tua itu, belum juga keseimbanganku terjaga lengan ibu tiriku itu melayang menampar pipiku. Aku terkesiap kaget, lalu sosok Aurel berdiri

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   38.

    Satu bulan aku berada di villa milik Sagara, villa yang baru kutahu bahwa ini miliknya saat pertama kali aku dibawanya beberapa hari yang lalu. Selama ini pula pria itu selalu memperlakukan aku penuh kelembutan. Sejak membuka mata hingga memejamkan mata lagi tidak ada secuil kesakitan yang dia berikan. Ini makin membuatku bingung. Entah apa yang dia inginkan hingga berbuat sedemikian rupa. Seperti sore itu, "Sayang, tidakkah kau bosan selalu diam tanpa kata seperti ini?" Aku hanya tersenyum saja. "Ayo ikut aku sebentar, kuperlihatkan sesuatu yang indah," ajak Sagara sambil meraih lenganku. Lembut, sangat lembut pria ini memperlakukan tubuhku. Dibawanya tubuhku berjalan menuju ke balkon, tangannya tidak lepas dari bahuku. Aroma maskulin terhirup olehku. Mungkin jika saat ini bukan jiwaku yang berada di tubuh Gendhis bisa saja aku terhanyut. Sayangnya aku sudah tahu seperti apa kelakuan pria ini di belakangku. "Lihatlah di bawah sana!" Sagara berkata sambil menunjuk ke bawah. S

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   36. Ternyata

    Aku terbangun dari tidur panjang saat kurasakan wajahku disiram dengan air dingin. Siraman air itu tidak hanya pada wajahku saja melainkan hingga setengah badan. Perlahan kubuka kedua mataku, tatapanku langsung bertemu dengan dua manik hitam milik Aurel. Wanita itu menyeringai sinis menatap keadaanku."Apa kabar Kakakku tercinta?"Aku mendengus lirih, lalu kuedarkan pandanganku ke seluruh ruangan sekitar hingga akhirnya berhenti pada kedua tanganku yang terikat di atas pangkuanku. Ku angkat kepalaku menatap pada Aurel. Wanita itu tersenyum mania membuat perutku seketika terasa mual."Apa yang kau inginkan?"Dia tertawa sumbang, lalu bertepuk tangan dua kali. Dari arah pintu muncul Sagara dengan angkuhnya berjalan mendekati aku. "Apa kabarmu, Sayang? Sebaiknya kau nurut agar tidak merasakan sakitnya," ujar Sagara sambil mengulurkan tangannya hendak meraih daguku.Aku menolaknya, kupalingkan wajahku ke arah lain hingga gerakannya tidak berhasil. Aku berdecih, pria itu mendengus kasar.

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status