LOGINTubuhku dihentak dengan kasar oleh wanita itu, aku hanya melotot tidak terima dengan perlakuannya. Dengan berani kubalas mendorongnya tetapi lebih keras hingga membuat tubuhnya jatuh. Tiba-tiba ia menangis seolah teraniaya olehku.
"Gendhis, apa-apaan kau ini." Suara ini seperti milik Sagara, aku mengulum senyum tipis. Sekarang aku paham, mengapa Aurel mencebikkan bibirnya. Ternyata ia telah melihat kehadiran Sagara. Dengan cepat pria itu menolong Aurel untuk bangkit lalu memeriksa keadaannya dan berbalik menghadap . "Apa?'' tanyaku sesuai keadaanku. "Mengapa kau jadi kasar seperti ini. Mana Gendhis ku dulu yang lembut dan bersahaja?" tanyanya sambil menatapku tajam. Aku menyeringai sinis, kukibaskan tanganku seolah tidak mau mengerti dengan kalimatnya itu. Dengan malas kutinggalkan kedua pengkhianat itu. Namun, baru beberapa langkah namaku dipanggil keras oleh Sagara. Ini membuatku berbalik badan. "Ayolah, Gendhis. Sebaiknya kau kembali padaku, lihatlah penampilanmu itu?" Aku mengangkat bahu tidak peduli, "Bukankah sejak dulu hingga kini selalu seperti ini?" "Semua kejadian masa silam akan kukubur, lalu kita mulai lagi dari awal. Bagaimana?" Kuhirup udara sekitar lebih dalam, lalu kugerakkan lagi lenganku, "Apakah kau bisa melepaskan Aurel dari sisimu?" Melihat gerakan tanganku membuat Sagara mendengus lirih, bisa kupastikan jika pria ini akan menolak permintaanku. Selama sepuluh tahun pemilik tubuh menyertai jalan hidupnya hingga bisa berdiri tegak di dunia bisnis, ia tidak pernah meninggalkan pria ini sendiri dan berusaha mengerti caranya berinteraksi. Akan tetapi, hari ini mengapa sungguh sial nasibku hingga melihat mereka lagi. Tidak aku harus bisa keluar dari dunianya yang membuatku mual. Ingin rasanya aku bersuara, tetapi jerit suara yang lain menegurku tegas. Bukan saatnya suara ini keluar untuk meluluhkan emosi pria laknat itu. Aku mencoba tersenyum, menatap pada setiap pengunjung sambil menangkupkan kedua telapak tangan di dada sebagai permohonan maaf. Mereka mengerti dan berbalik badan melangkah meninggalkan tempat itu. "Kak Saga, tolong aku," rintih Aurel manja. Kembali lagi bibirku melengkung melihat ulah wanita itu yang mencari perhatian Sagara, dan sayangnya pria itu justru terus merayuku untuk kembali lagi padanya. "Bantulah wanitamu itu, Tuan Saga. Aku sudah biasa tanpa hadirmu," ucapku dalam bahasa isyarat. "Sayang, kau tidak apa?" tanya Ortega dengan lembut, "Lain kali jaga wanita Anda, Tuan Saga!" Seketika dahiku berkerut, menanyakan sejak kapan pria ini ada di mall padahal tadi ia sudah berangkat ke kantor. Apakah rapat penting itu telah usai? Rupanya wajahku membuat ia tahu hingga kudengar jawaban bahwa saat ini kebetulan pria itu ada jadwal bertemu klien di mall yang sama. Aku tersenyum mendengar cara pria itu menjelaskan padaku. "Tuan Ortega, apakah Anda tidak jijik dengan wanita bisu ini. Lihatlah penampilannya, sangat tidak pas berdiri di samping Anda," kata Aurel sambil berusaha berdiri. Ortega sama sekali tidak memandang wajah Aurel membuatku mengulum senyum sambil melirik wanita itu, tetapi memang dasar wanita bermuka tebal ia tetap melontarkan kalimat hinaan padaku dan meninggikan posisinya. Kutatap Ortega sekilas, tidak tersirat sedikit pun rasa ketertarikan pada sorot matanya untuk Aurel. Ia justru terus menatap lembut ke arahku membuat aku mengangkat bahu tanda tidak mengerti. "Maaf, siapa Anda untuk mengatur hidupku, Nona?" Suara Ortega begitu dingin dan tegas, lalu ia berpaling ke arah ku lagi, "Bagaimana keadaanmu, perlukan kubalas kan semua?" "Tetapi wanita itu masih istriku, Tuan Ortega. Maka lepaskan tanganmu!" kata Sagara sambil menatap tajam ke arah Ortega. "Kak Saga, akulah tunanganmu. Auh, kakiku sulit menopang tubuhku, tolonglah, Kak," pinta Aurel bernada manja. Sagara mendekati Aurel, lalu menyentuh tangan wanita itu. Apakah ini tidak menjadi nyata jika pria itu inginkan Aurel? Aku hanya mendengus saja, ini adalah bukti. Melihat perlakuan Sagara pada Aurel, Ortega justru makin berulah. Dengan santai ia meraih tubuhku lalu dipeluknya posesif, dahiku berkerut melihat aksinya yang begitu berani bermain api. Segera kucubit pinggangnya agar ia tidak melanjutkan aksinya yang makin membuatku malu. "Dia terlalu muda untukmu, justru lebih pantas sebagai anakmu, Tuan Ortega. Tolong lepaskan istriku ," pinta Sagara dengan nada begitu rendah. Masih dengan posisinya yang terakhir. "Apa perlu kuungkap identitas Anda?" lanjut Sagara. "Dia yang mendekatiku, jadi tidak salah jika kubalas. Sedangkan kau, saat ini sudah ada wanita lain di sisimu," kata Ortega. "Lihatlah wanita di sisimu itu, apakah kau tidak merasa kasian. Dia begitu tersiksa lho." Aurel kulihat mengulum senyum, lalu pandangannya terarah padaku. "Apakah kau juga mendengar kalimat Tuan Ortega, Bisu? Nyata dia membelaku." Aku hanya tersenyum ringan sekilas, lalu berpaling menatap pada Ortega. Pria itu tersenyum dengan mengangkat bahu tidak mau tahu. Sialan batinku, pria ini seakan sedang mempermainkan peran bipolar. Namun, aku tidak peduli kutinggalkan saja mereka tanpa berkata dan menoleh lagi. "Hai, tunggu dong jangan asal pergi." Suara Aurel tidak mampu menghentikan langkahku, tetapi ada suara lain yang membuatku berdiri terpaku. "Sayang, tunggu aku!" Suara Ortega menghentikan langkahku tetapi tubuhku tidak bisa bergerak, tetap berdiri terpaku di tempat terakhir kaki ini melangkah. Kupejamkan kedua mata, menata ulang hati dan jiwaku untuk menghadapi sosok pria yang tidak jelas sikapnya. "Jangan terlalu mudah terpancing, apa tidak lelah selalu ditipu?" Suara Ortega terdengar dingin dan datar membuatku menoleh ke samping. Pria itu menatapku datar, tanpa senyum. Sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu, dahiku berkerut menatapnya penuh tanya. "Gendhis, apa kau yakin akan melanjutkan hubungan itu?" tanya Sagara saat ia sudah kembali di depanku, "Dia ini adalah pamanku."Aku menatap dingin dan datar pada kedua pria itu, tanganku mengepal kuat, lalu menghempaskan kanvas yang telah selesai. Mereka tidak heran, tetapi justru tertawa puas. Tubuhku bergetar akibat menahan emosi yang berlebih."Apakah seorang bisu bisa marah? Semakin kau emosi maka akan semakin seru," kata Andrean, "Benarkan, Kawan?""Aku masih ingat jelas, kulitmu begitu lembut dan halus. Saat mendapat sentuhan begitu liar, dengan cepat belajar.""Bangsat!" Suaraku keluar, serak dan terluka.Apa yang terjadi membuat mereka berempat saling tatap, "Apa kalian mendengar suaranya?" "Ini makin menggairahkan, Stepan."Mereka terus melangkah maju, aku melangkah mundur mencari celah dan tempat sedikit luas agar memudahkan aku bergerak."Mau kemana, Bisu. Ayo, keluarkan suara merdumu itu!"Mereka terus menekanku, mendekat lalu mengulurkan tangannya bersamaan meraih lenganku untuk mengunci. Dengan sigap kutangkis gerakan itu lalu membuat tendangan ringan mempertahankan diri. Mereka terhenyak kaget,
Sejak kejadian di Mall itu, aku sering menghindar untuk bertemu Ortega. Identitas yang tidak biasa sedikit terungkap, dia adalah paman dari Sagara. Namun, sentuhan malam itu sangat membekas dalam ingatanku."Apa aku salah jika mereguk manisnya cinta pria senja? Dia begitu lembut dan penuh perhatian.""Apa dosa senantiasa hadir untuk cinta beda usia? Ya Tuhan," ujarku lirih sambil menatap riak air danau tersapu angin.Cukup lama aku berdiri di tepi danau, suasana yang sejuk mampu melupakan kisahku meskipun sesaat. Di sini kuberanikan diri untuk memulai melukis, satu kebiasaan masa silam sebagai seorang putri kerajaan.Dengan melukis, sedikit banyak bisa mengurangi rasa rinduku pada duniaku yang dulu. Iya, meskipun aku terlempar ke dunia lain tidak merubah ingatan dan keahlianku masa itu.Dunia ini terasa lebih panas dari kota Blambangan, berdiri di sini hanya beberapa saat saja sudah membuat kulitku terbakar. Namun, ingatan pemilik tubuh mengharuskan aku datang ke tempat ini. Mungkinka
Tubuhku dihentak dengan kasar oleh wanita itu, aku hanya melotot tidak terima dengan perlakuannya. Dengan berani kubalas mendorongnya tetapi lebih keras hingga membuat tubuhnya jatuh. Tiba-tiba ia menangis seolah teraniaya olehku."Gendhis, apa-apaan kau ini." Suara ini seperti milik Sagara, aku mengulum senyum tipis. Sekarang aku paham, mengapa Aurel mencebikkan bibirnya. Ternyata ia telah melihat kehadiran Sagara. Dengan cepat pria itu menolong Aurel untuk bangkit lalu memeriksa keadaannya dan berbalik menghadap ."Apa?'' tanyaku sesuai keadaanku."Mengapa kau jadi kasar seperti ini. Mana Gendhis ku dulu yang lembut dan bersahaja?" tanyanya sambil menatapku tajam.Aku menyeringai sinis, kukibaskan tanganku seolah tidak mau mengerti dengan kalimatnya itu. Dengan malas kutinggalkan kedua pengkhianat itu. Namun, baru beberapa langkah namaku dipanggil keras oleh Sagara. Ini membuatku berbalik badan."Ayolah, Gendhis. Sebaiknya kau kembali padaku, lihatlah penampilanmu itu?"Aku menga
"Hem, sudah bangun? Selamat pagi, Nyonya Ortega," sapanya saat kubuka mata.Aku tersenyum dan tentunya pipiku pasti berubah warna. Kugeser tubuhku sedikit menjauh melepaskan dari pelukannya, tetapi lengannya kembali menarik tubuhku masuk dalam pelukannya."Tunggu lima menit lagi, diamlah dalam pelukku. Jangan bergerak!"Aku terpaku, merasakan kehangatan tubuhnya yang polos. Akhirnya kubenamkan kepala ini dalam dekap dada bidang itu. Detak jantungnya terdengar begitu teratur bagai musik yang menenangkan pikiranku."Maafkan aku yang telah membawa Anda dalam masalah hidupku, Tuan Ortega," kataku saat kedua matanya menatapku hangat.Pria itu tersenyum padaku, ia membenarkan surai rambutku yang berantakan hingga menutupi sebagian wajahku. Lalu wajahnya mendekat, perlahan kurasakan hangat dan lembut bibirnya menyentuh bibirku. Deru napasnya yang panas kembali membangunkan gairahku."Baiklah, aku akan bersiap ke kantor lebih dulu. Jangan lupa sarapan sebelum kau pergi," katanya tiba-tiba sam
Akhirnya malam yang dijanjikan oleh Sagara pun tiba. Aku sudah bersiap sejak satu jam yang lalu tetapi tak ada suara mobil yang datang menjemputku. Pelayan wanita yang biasa mengurus pemilik tubuh ini pun sudah tidak terlihat lagi berkeliaran di dalam rumah."Mungkin ia sudah pulang seperti biasa aku sendiri dalam malam sepi," gumamku.Jika keadaan rumah sudah kosong aku baru berani mengeluarkan suara, hal ini sengaja aku lakukan demi alasan yang belum bisa aku ungkap sekarang.Benda pipih hitam yang tergeletak begitu saja di meja mulai bergetar, lalu suara notif terdengar. Kuraih benda itu, rupanya ponsel milik Sagara tertinggal. Atau mungkin sengaja ditinggal agar aku bisa menggunakan benda tersebut.Kutekan tombol khusus untuk membuka benda itu sesuai arahan Saga waktu itu. Dan berhasil. Sayangnya dalam tampilan layar utama terlihat kemesraan mereka berdua. Ah, tidak rupanya itu bukan milik Sagara. Hal ini kusimpulkan dari semua karakter isi ponsel bernuansa wanita yang lembut. Tib
"Bagaimana perasaanmu, Gendhis?" tanya seorang pria dengan pakaian serba hitam.Aku terdiam, pandanganku melihat ke sekitar. Sungguh ini bukan duniaku, lalu dimana aku saat ini? Ku alihkan lagi pandanganku menatap pada pria itu. Dia juga sedang menatapku, sedikit berbeda memang. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, bayangan hitam mulai bermunculan di sana."Kau tidak apa, Gendhis. Apakah masih sakit?"Aku masih diam, kuedarkan pandanganku ke sekelilingku. Ruangan yang tampak rapi dengan alat berbeda jauh pada saat masa kerajaan silam. Ada sesuatu yang masih sama, benda yang dulu begitu aku minat ternyata sudah menempel di dinding itu dekat benda berbentuk lingkaran dengan angka yang memutar. "Masih lama, dua jam lagi ada pertemuan pemegang saham. Masih ada waktu buat kau untuk bersiap diri, Gendhis," kata pria itu lagi.Aku tidak bereaksi, pandanganku masih fokus pada benda berbentuk lingkaran yang akhirnya kutahu benda itu bernama jam dinding. Ia menatapku heran. Tak ada suara, tetap







