Share

65.

Penulis: Shaveera
last update Tanggal publikasi: 2026-04-24 21:56:08

Aku masih teringat peristiwa siang itu, kalimat Gendhis sangat mengganggu pikiranku hingga semua kembali berputar seakan aku melihat kejadian nyata.

“Kehormatan atau penghinaan?”

Sengaja Gendhis menggantung kalimat untuk mengetahui reaksi kami, tajam seperti ujung pisau yang sering menggores luka di hatiku. Tidak ada yang langsung menjawab, hening. Bahkan Ibu Suri pun terdiam sesaat, meski sorot matanya masih penuh amarah.

Ruang sidang kembali dipenuhi bisik-bisik pelan para bangsawan yang had
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   70.

    Aku terdiam cukup lama, menunggu jawaban dari pria ini. Hening, tenang. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.Ada sesuatu yang sejak tadi mengusik pikiranku—lebih dalam dari sekadar sidang, lebih tajam dari sekadar bisikan istana. Dan kali ini … aku tidak ingin menghindarinya lagi.Langkah itu sangat jelas siapa pemiliknya. Langkah yang semakin dekat, tetapi terhenti di sana. Di balik pilar yang ke sekian, dan cukup terjangkau untuk pria itu melihat seluruh aktifitasku di sini, bersama pamannya. “Ranggalawe,” panggilku pelan, namun nadanya berbeda. Lebih tegas.Ia menatapku, menyadari perubahan itu.“Ada yang ingin kutanyakan.”Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk kecil. “Tanyakan.”Aku menarik napas panjang. Lalu langsung menatap matanya. “Dunia modern itu.”Hening.Untuk pertama kalinya sejak ia duduk di hadapanku, sorot mata Ranggalawe berubah. Tipis.Hampir tak terlihat. Namun, aku menangkapnya. "Apakah kau juga di sana?" “Kau tahu tentang itu, bukan?” lanjutku, kal

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   69.

    POV GendhisAku mengembuskan napas panjang, membiarkan sisa-sisa ketegangan dari ruang sidang perlahan luruh bersama angin sore. Kutinggalkan ruang itu setelah kepergian Ranggalawe tanpa menoleh lagi meskipun suara Anusapati terus menyebut namaku. Aku tidak peduli. Akhirnya langkahku sampai di depan istana keputren khusus milikku dan pelayan setiaku sudah menyambutku di depan pintu. Dia tersenyum ragu saat melihatku sudah datang, tubuhnya membungkuk sesaat lalu membukakan pintu itu. "Apakah putri ingin segera berendam atau istirahat dulu?" tanya dia dengan nada rendah. "Lebih baik kau siapkan air hangat untuk putri kita membersihkan diri dan segarkan otaknya. Benar begitu 'kan, Putri?" jawab dan tanya pelayan yang sejak tadi mengikutiku. Sementara pelayan yang lain justru menatapku bingung, aku mengangguk padanya. Wanita sederhana itu memberi hormat sekilas padaku, baru berbalik untuk melakukan apa yang disarankan rekannya itu. Aku duduk menunggu semua siap, tidak butuh waktu lam

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   68.

    "Satu lagi, aku hamil dan ini bukan milikmu!" Djer! Bagai petir menyambar tubuhku, aku tersentak. Kata-kata itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan. Nada bicaranya pun begitu tegas dan dingin. Namun, dampaknya menghancurkan segala yang tersisa dalam diriku.“Hamil?” Suaraku keluar lirih, nyaris tak terdengar. Namun, gema dari kata itu terus berulang di kepalaku, memukul tanpa ampun.Mungkinkah benih itu dari pamanku? Atau justru dari pria lain. Bukankah selama beberapa bulan ini dia sering menghilang entah kemana. Tiba-tiba muncul dengan pakaian yang berbeda bukan dari bangsa kami. Seolah Gendhis bisa menjelajah waktu. Pernah aku melihatnya masuk ke sebuah lingkaran bercahaya dan aku pun pernah mengikutinya. Namun, lingkaran itu menghilang. Kutatap lebih dalam kedua manik matanya, tidak ada kerinduan di sana. Dadaku mengencang, napasku tercekat di tenggorokan melihat semua itu. Ada sesuatu yang retak—bukan di luar, tapi di dalam diriku sendiri.Dan sebelum aku sempat memproses sem

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   67.

    Langkahku terhenti beberapa meter dari mereka.Suara napasku terasa lebih berat dari seharusnya, seolah setiap detik yang berlalu menarik sesuatu dari dalam dada. Kata-kataku menggantung di udara malam yang dingin dan tajam, penuh tuduhan yang bahkan belum sempat dibantah.Mendengar suaraku, Gendhis seketika bangkit. Gerakannya tenang, tanpa tergesa. Tidak ada keterkejutan di sana, tidak pula kegugupan seperti yang mungkin kuharapkan. Dia berdiri tegak, menatapku lurus tanpa bertanya dan berusaha menjelaskan, ataupun berusaha membela diri.Itulah yang justru membuat dadaku terasa sesak. Begitu tenang, tidak riak di sorot matanya. Perlahan, ia melangkah mundur.Bukan menjauh dariku sepenuhnya, tetapi lebih mendekat ke arah Ranggalawe yang masih duduk dengan sikap tenang. Dadaku terasa sesak, keduanya terlihat seakan sudah memperkirakan kedatanganku sejak awal.Jarak di antara keduanya menyempit. Sementara jarakku dengannya terasa makin jauh.Bibir itu bergerak, pelan dengan ritme yang

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   66.

    "Pangeran." Suara Zahra menyadarkan ku. Jarinya sudah bermain di dadaku. Aku mencoba menepis setiap sentuhan Zahra.Jari-jarinya yang semula hanya bermain di dadaku mulai merayap lebih pelan, lebih terarah—seolah ia memahami betul bagian mana yang mampu meruntuhkan pertahananku. Aku menarik napas panjang, menahan diri. Tanganku sempat menangkap pergelangannya.“Cukup, Zahra.” Nada suaraku tegas, tapi tidak cukup kuat.Zahra tidak melawan. Ia justru tersenyum kecil, matanya meredup penuh arti. Perlahan, ia melepaskan tangannya dari genggamanku, hanya untuk berpindah ke titik lain. Ujung jarinya menyentuh leherku, menelusuri garisnya dengan lembut, nyaris seperti bisikan yang tak bersuara.Tangannya terus bermain di sana, menggerakkan jakun milikku. Perlahan tapi pasti sesuatu mulai melarap di bawah alam sadarku. Bibirku melenguh lirih membuat senyum di bibir Zahra muncul begitu puas. “Apa Pangeran benar-benar ingin berhenti? Lepaskan semua beban itu," gumamnya pelan di dekat telingaku

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   65.

    Aku masih teringat peristiwa siang itu, kalimat Gendhis sangat mengganggu pikiranku hingga semua kembali berputar seakan aku melihat kejadian nyata. “Kehormatan atau penghinaan?”Sengaja Gendhis menggantung kalimat untuk mengetahui reaksi kami, tajam seperti ujung pisau yang sering menggores luka di hatiku. Tidak ada yang langsung menjawab, hening. Bahkan Ibu Suri pun terdiam sesaat, meski sorot matanya masih penuh amarah.Ruang sidang kembali dipenuhi bisik-bisik pelan para bangsawan yang hadir. Mereka sengaja diundangkan oleh ibu Suri guna memojokkan istriku. Mereka hanya saling bertukar pandang, seolah tidak percaya menantu yang dulu bisu dan penurut telah berani berbicara sejauh ini di hadapan Raja dan bahkan mendorongnya. Aku berdiri tegak, menahan segala getaran di dalam tubuhku. Dua sudah sejauh ini. Sakan tidak ada jalan untuk mundur.“Cukup.”Suara Raja Gunadarma memecah keheningan. Berat. Lelah.Semua kembali diam.Beliau menatapku lama, lalu beralih padaku yang masih ber

  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   28. Satu Keyakinan

    Tanpa berkata lagi aku bangkit dari kursi itu, lalu berjalan menuju ke mej a kecil di sudut ruangan. Berdiri menatap ke luar di mana terlihat kesibukan kota yang begitu padat."Apa tujuanmu mengundang aku dan Siska?" "Akhirnya dapat kudengar dengan jelas suaramu, Sayang," ujar Sagara sesaat sebelu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   29. Akhirnya Sedikit Beban Hilang

    Setelah urusanku dengan Siska selesai, aku pun keluar dari cafe tersebut, Langkahku y ang awalnya semangat tiba-tiba harus berhenti di tengah jalan. Dari jauh kulihat sosok Ranggalawe berjalan menuju ke cafe Ini juga. Rasa penasaranku muncul, maka kuikuti segera langkahnya dalam senyap.Pria itu te

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   27. Sesuatu yang membuatku pilu

    Seluruh duniaku seketika bungkam, sungguh satu kenyataan yang sulit kupahami. Apa yang ada padaku hingga mereka saling berebut untuk mendapatkan perhatianmu kembali. Dulu, saat masih bisu tidak satu pun pria yang mendekat bahkan mereka sering menghina kekuranganku itu meskipun ada aku berusaha menu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Terjerat Cinta Gadis Bisu   25. terbangun di tempat berbeda

    Cukup lama aku tertidur hingga suara kicau burung terdengar membangunkan aku. Sesaat kulihat sekitar, ada yang berbeda dengan lingkungan sekitar. Kuedarkan pandanganku ke sekitar, ada yang aneh."Kau sudah bangun, Putri. Syukurlah." Suara ini mengapa sangat familiar, sebutan putri membuat daku ber

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status