MasukSore itu, udara di sekitar kolam renang terasa hangat dan santai. Tawa dan percakapan ringan mengisi suasana. Ariana duduk bersandar di kursi malas, ditemani Sergio dan Andrew di sisi kanan.
Sementara di kejauhan, Diego dan Jorge tampak sibuk dengan pekerjaan taman, meski nyatanya, suasana sudah lebih mirip pertunjukan komedi.
Jorge mendekati Diego dengan ekspresi penuh niat iseng. Tanpa aba-aba, ia mengarahkan selang air langsung ke tubuh sahabatnya.
Air menyembur deras, membasahi baju Diego dalam hitungan detik.
“Hei, Jorge! Berhenti!” seru Diego, tapi tawanya malah pecah bersama cipratan air yang muncrat ke mana-mana.
Tawa Ariana ikut pecah melihat adegan itu. Sergio pun terkekeh lepas, menepuk pahanya ringan, menikmati kelakuan kedua pekerja mudanya yang semakin akrab dari hari ke hari.
Hubungan antara mereka kini sudah jauh dari formalitas kaku. Setelah beberapa hari bekerja di rumah itu, Diego dan Jorge tak lagi canggung berada di sekitar tuan dan nyonya rumah.
Diego meraih ujung bajunya, menariknya hingga terlepas. Tubuhnya yang basah dan berotot terlihat jelas dalam cahaya sore yang keemasan.
Tetesan air menelusuri garis ototnya, dan dari sudut matanya, ia bisa menangkap pandangan Ariana yang sekejap menoleh lalu cepat-cepat mengalihkan mata.
“Andrew, lihat tingkah mereka,” kata Sergio sambil tertawa.
Andrew mengangguk pelan, sedikit kikuk, lalu berujar, “Maaf, Tuan. Saya akan menertibkan-”
“Tidak perlu,” potong Sergio sambil melambaikan tangan. “Justru rumah ini terasa hidup karena mereka. Bukankah begitu, Ariana?”
Nada suara Sergio menggoda.
Ariana tampak terkejut oleh pertanyaan itu. Ia menunduk cepat, dan meski tak berkata banyak, rona merah samar sudah terlihat jelas di pipinya.
“I... iya,” balasnya pelan.
Diego sempat melirik sekilas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Wajah Ariana, yang biasanya tenang dan anggun, terlihat makin memesona dengan semburat malu seperti itu.
Tanpa menunggu lebih lama, ia pamit untuk mengganti baju dan mulai melangkah cepat menuju mes karyawan.
Namun baru beberapa langkah, suara Sergio menghentikannya.
“Hei, Diego! Kemari sebentar.”
Diego berbalik, kembali menghampiri dengan langkah mantap. Bajunya yang basah masih digenggam di tangan kanan, air menetes perlahan ke tanah.
“Iya, Tuan?”
Sergio tersenyum tipis. Pandangannya sekilas mengarah ke Ariana, lalu kembali ke Diego.
“Aku dengar dari Jorge, kamu cukup ahli dalam pijat-memijat,” ucap Sergio.
Diego mengerutkan dahi. “Ah... saya bisa, Tuan. Tapi, tidak sehebat yang Jorge bilang. Dia suka melebih-lebihkan.”
Sergio tertawa kecil. “Ahli atau tidak, yang menilainya bukan kamu, tapi orang yang menerima pijatan itu.”
Tanpa banyak bicara, Sergio memberi isyarat ke Andrew. Beberapa menit kemudian, Andrew kembali dengan sebuah botol kaca bening berisi minyak herbal. Aroma hangat rempah dan lavender langsung menyeruak pelan.
Diego menerima botol itu dengan ekspresi ragu. “Ini untuk saya, Tuan?”
Sergio mengangguk ringan. “Istriku bilang tubuhnya kurang enak badan. Tolong pijatkan punggungnya.”
Ariana yang sejak tadi diam, langsung menoleh, matanya membesar.
“S-sayang, kenapa aku?” ucapnya cepat.
Sergio berdiri dan menahan gerakan istrinya yang hendak bangkit, menepuk bahunya lembut.
“Selama tiga hari ini kamu tidak berhenti mengurusku. Waktunya kamu yang dimanjakan sedikit,” katanya ringan, nada suaranya terdengar seperti godaan kecil yang hanya dimengerti mereka berdua.
“Anggap saja ini balasannya.”
“Tapi...” Ariana mencoba menyanggah. Suaranya nyaris hilang.
Diego hanya berdiri membeku, masih memegang botol minyak di tangan. Wajahnya memanas. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap.
Sementara itu, Sergio justru menahan tawa melihat ekspresi Diego yang jelas-jelas salah tingkah.
“Diego,” ucapnya dengan nada bercanda, “aku titip istriku yang cantik ini. Jangan macam-macam, ya?”
Diego tersentak. “A-aku tidak akan berani, Tuan!”
“Haha! Santai saja. Aku cuma bercanda,” kata Sergio sambil tertawa ringan, lalu berjalan pergi bersama Andrew dan Jorge.
Kini Diego benar-benar sendiri. Bersama Ariana, di sisi kolam renang.
Ia menelan ludah. Tegukan kering. Udara seolah berubah sedikit lebih padat.
Dan saat ia menatap ke arah sang majikan, wanita itu perlahan mulai berbaring, membalikkan tubuh, memunggunginya. Gerakan tangan wanita itu pelan tapi tegas, menarik tali kimononya hingga bagian punggungnya terbuka sepenuhnya.
Kulitnya bersih, halus, dan bercahaya di bawah sinar sore. Napas Diego nyaris tercekat melihat pemandangan itu.
Tangannya yang memegang botol bergetar halus. Ia memalingkan wajah sejenak, mencoba mengatur napas dan menyusun ulang akal sehatnya.
Namun satu hal kini pasti, apa pun yang terjadi setelah ini, akan selalu membekas di hatinya.
Bersambung...
Terima kasih sudah membaca ✌😊
Lampu kristal di ruang ganti Mansion Ortiz memantulkan cahaya redup pada setelan tuksedo hitam pekat yang terhampar di atas meja beludru. Kain itu terlihat menyerap cahaya, dingin, dan mengintimidasi.Andrew berdiri di sampingnya, mengusap bahu jas itu seolah sedang membersihkan debu imajiner. Wajahnya serius, seperti seorang jenderal yang sedang mempersiapkan prajurit terbaiknya sebelum garis depan."Ini bukan sekadar pakaian mahal, Diego," ucap Andrew, suaranya rendah namun menggema di ruangan yang sunyi itu. "Ini adalah seragam perangmu."Diego menatap pantulan dirinya di cermin besar. Kemeja putih yang ia kenakan sudah pas di badan, tapi ia masih merasa ada beban tak kasat mata di pundaknya."Mereka akan menelanjangiku dengan tatapan mereka, bukan begitu, Tuan Andrew?" tanya Diego tanpa menoleh.Andrew mengambil tuksedo itu dan memutarnya, memberi isyarat agar Diego memasukkan lengannya."Mereka akan mencoba," jawab Andrew tenang saat Diego mengenakan jas itu."Di Círculo de Sevill
Matahari pagi menembus kaca jendela lantai eksekutif, namun tidak ada kehangatan yang menyertainya. Diego melangkah keluar dari ruangannya, membawa tumpukan map hitam tebal di tangan kanannya. Langkahnya tidak lagi ragu seperti saat pertama kali ia mengenakan jas mahal itu, langkahnya kini berat, penuh tujuan, dan mematikan.Ia berhenti tepat di depan meja Elisa Marquez. Sekretaris itu mendongak, dan senyum sopan di wajahnya seketika luntur saat melihat ekspresi Diego. Datar. Dingin. Seperti permukaan danau beku.*BRUK.*Diego menjatuhkan tumpukan map itu ke atas meja Elisa. Suaranya tidak keras, namun di ruangan yang hening, bunyi itu terdengar seperti ledakan."Selamat pagi, Tuan Diego. Ini..." Elisa menelan ludah, matanya menatap nanar tumpukan map yang seolah memancarkan aura kelam."Surat pemutusan hubungan kerja," jawab Diego singkat. Nadanya tidak mengizinkan pertanyaan. "Siapkan stempel perusahaan. Distribusikan ke nama-nama yang tertera di sampul. Sekarang."Tangan Elisa gemet
Tiga hari yang lalu...Andrew berdiri di depan cermin panjang di apartemennya yang sunyi. Pagi itu hening, hanya ada suara detak jam dinding antik yang seolah menghitung mundur sisa harga dirinya.Tangannya yang biasanya stabil saat memecat direktur korup atau menyusun strategi akuisisi, kini bergerak lambat saat menyimpulkan dasi. Ia menarik ujung kain sutra itu, merapikan kerahnya hingga presisi milimeter. Sempurna. Kaku. Dingin.Ia menatap pantulan dirinya. Rambutnya yang mulai memutih di pelipis menjadi saksi puluhan tahun ia mengabdi pada Sergio Ortiz. Ia dikenal sebagai "Anjing Penjaga" sosok yang tak pernah menunduk, tak pernah memohon, dan hanya menggigit saat diperintah.Namun hari ini berbeda."Ini bukan untukmu, Andrew," bisiknya pada bayangannya sendiri di cermin. "Ini untuk masa depan yang Sergio inginkan."Ia menarik napas panjang, mengancingkan jasnya, lalu berbalik meninggalkan apartemen. Hari ini, sang Anjing Penjaga harus belajar caranya mengemis.***Langkah kaki An
Jam dinding digital di sudut meja menunjukkan pukul 23.45.Hening.Lantai eksekutif Gedung OBC yang biasanya sibuk kini terasa seperti makam marmer yang dingin. Hanya dengung halus dari mesin pendingin udara sentral yang mengisi kekosongan, menemani Diego yang duduk sendirian di balik meja kerjanya yang luas.Lampu utama ruangan sudah dimatikan sejak satu jam lalu. Hanya cahaya kuning redup dari lampu meja yang menerangi wajah Diego, menciptakan bayangan-bayangan tajam di sekitar matanya yang cekung.Di hadapannya, bukan lagi tumpukan kertas, melainkan gunung persoalan.Diego melepas kacamata bacanya, aksesori baru yang ia pakai untuk membantu fokus, ia lalu memijat pangkal hidungnya yang berdenyut."Gila..." desisnya pelan. Suaranya serak, tertelan oleh kesunyian ruangan.Data di hadapannya bukan sekadar angka merah. Ini adalah bangkai. Semakin dalam ia menggali laporan keuangan lima tahun terakhir, semakin ia sadar bahwa OBC, raksasa konstruksi yang disegani di Sevilla, sebenarnya se
Pagi itu, sinar matahari Sevilla yang biasanya hangat terasa menusuk dingin saat Diego melangkah masuk ke lobi Gedung Pusat OBC. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua, potongan rambutnya rapi, dan tas kerja kulit hitam tergenggam mantap di tangan kanannya.Namun, ada yang salah dengan udara di lobi itu.Kemarin, saat ia berjalan melintasi marmer mengkilap ini, ia merasakan tatapan hormat, atau setidaknya rasa segan dari para karyawan. Tapi hari ini, atmosfernya berubah drastis. Udara terasa berat, lengket oleh kecurigaan.Suara langkah sepatu pantofelnya terdengar menggema, seolah menjadi satu-satunya suara yang berani memecah keheningan ganjil tersebut.Para staf resepsionis yang biasanya menyapa dengan senyum lebar kini buru-buru menundukkan kepala begitu melihatnya. Di sudut lobi dekat lift, sekelompok karyawan dari divisi pemasaran tampak berkerumun.Mata mereka terpaku pada layar ponsel masing-masing, jemari mereka bergerak lincah menggulir layar, lalu sesekali mendongak, melirik
Malam setelah rapat itu, Diego tak bisa tidur. Ia duduk di balkon Mansion Ortiz hingga dini hari, menatap cakrawala kota yang tak pernah benar-benar gelap.Kata-kata Vargas, “dari cleaning service langsung ke kursi rapat terus berputar di kepalanya, bukan sebagai ejekan, tapi sebagai pertanyaan yang ia ajukan pada dirinya sendiri: Apa aku benar-benar layak?Andrew bilang itu baru pemanasan. Tapi tubuh Diego masih menegang seperti habis bertarung. Ia tahu, mulai besok, setiap langkahnya akan diawasi, setiap keputusannya akan dipelintir. Dan satu-satunya cara untuk membungkam mereka bukan dengan berbicara, tapi dengan bertindak.Sayangnya, keyakinan itu belum cukup kuat untuk mengusir rasa asing yang menyelinap saat melihat pantulan dirinya di cermin pagi ini.Cahaya pagi menerobos masuk melalui jendela besar Mansion Ortiz, memantul pada permukaan cermin setinggi tubuh di sudut kamar. Diego berdiri kaku di sana. Setelan jas bespoke berwarna charcoal itu membalut tubuhnya dengan presisi







