Share

Hamil

Pada saat makan malam, Noura sudah merasakan mual sebelum menghabiskan makanannya. Dia segera berlari ke arah wastafel di ujung ruangan. Di sana, dia memuntahkan seluruh isi dalam perutnya.

"Hweeek ... hweeek ...!"

Suara muntahan Noura sontak membuat tahanan lainnya merasa jijik. Seorang wanita yang paling disegani lebih dulu mendekati Noura.

Wanita itu bernama Rachel. Dia berdiri di samping Noura. "Hei ... tidak bisakah kau muntah di tempat lain saja? Apa kau tidak punya mata, apa kau tidak melihat kita semua sedang makan?"

Ketika pandangan Noura menyapu orang-orang di sekitarnya, dia terdiam. Sambil memegang perutnya, Noura pun berusaha menahan mual di perutnya. Hampir semua orang menatap Noura dengan pandangan yang sama, jijik dan juga marah.

"Maaf, aku tidak sengaja," ucap Noura lesu, kemudian meninggalkan semua orang.

Akan tetapi, baru beberapa langkah saja, tangan Noura telah ditarik paksa dari belakang. Dia terpaksa menoleh pada Rachel yang tengah didampingi oleh empat wanita lainnya.

"Ada apa lagi? Bukankah tadi aku sudah meminta maaf?" tanya Noura dengan sopan. Selama dalam tahanan, dia paham jika Rachel adalah jenis wanita yang suka mencari masalah, maka lebih baik mengalah daripada terkena masalah yang baru.

"Kau pikir cukup dengan hanya meminta maaf saja?" Rachel yang berpenampilan tomboy itu mendorong pundak Noura dengan keras. "Kau harus mendapatkan hukuman sekarang juga!"

"Apa yang kamu inginkan?"

Rachel menyeringai sembari melirik ke empat temannya. "Pijit seluruh badanku, dimulai dari kaki, tangan dan badan. Setelah itu lanjutkan dengan badan teman-teman di sampingku ini!" suruh Rachel seperti preman jalanan.

Pandangan Noura lebih dulu tertuju pada ujung kaki para wanita di depannya. Total ada lima pasang kaki, ditambah lagi dengan seluruh tubuh yang rata-rata memiliki berat badan di atas 65 kg. Bagaimana mungkin Noura sanggup melaksanakan hukuman itu?

Memikirkannya saja sudah membuat Noura mual. "Hweeek ... hweeek ...!"

Noura buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tidak bisa berlari ke mana pun, karena tubuhnya sudah dikepung oleh para tahanan wanita lainnya.

Rachel merasa terhina oleh sikap Noura. Dia marah pada wanita itu. "Beraninya kau berbuat seperti itu! Apa kau tidak mengenal siapa aku?" bentaknya.

"Aku tidak bermaksud seperti yang kamu tuduhkan, aku hanya sedang mual, sungguh, aku tidak bermaksud menghina," jelas Noura.

"Kau pikir kami akan percaya begitu saja!" Satu wanita lainnya bernama Tanti ikut mendorong pundak Noura. "Anak baru sepertimu perlu diberi pelajaran agar tidak berani melakukan kesalahan yang sama di lain waktu," gertaknya.

"Aku minta maaf, aku mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi." Pada saat itu, mual sudah tidak tertahankan lagi. Noura segera mendorong tubuh dua orang wanita di depannya agar dia bisa keluar dari lingkaran tersebut.

Menyaksikan keberanian Noura, Rachel, Tante dan tiga wanita lainnya tentu saja merasa geram.

"Kita ikuti, dia harus segera diberi pelajaran!" Rachel memberi perintah. Mereka semua mengikuti Noura secara serentak.

Noura menoleh ke belakang dan mendapati lima orang asing mengikuti langkahnya. "Ah ... ya ampun, kenapa mereka harus salah paham padaku?" dia bergumam pelan.

Satu minggu sebelumnya, Noura telah menyaksikan kejahatan Rachel pada tahanan lainnya. Sontak saja Noura ketakutan membayangkannya lagi. Akibat memikirkan itu, kakinya tersandung.

Tubuh kurus Noura seketika terjatuh ke lantai.

Brugh.

Detik kemudian, Noura sudah tidak sadarkan diri. Para tahanan lain ikut mengelilingi tubuhnya, menyaksikannya dengan jarak yang begitu dekat.

"Hah ... kasihan sekali. Pasti kurang makan, lihat mukanya sangat pucat."

"Badannya juga semakin kurus, mungkin dia stres karena masuk penjara."

Berbagai pendapat dan gelak tawa terdengar dari mulut para tahanan. Mereka silih berganti melihat keadaan Noura yang tergeletak di atas lantai.

"Hah ... dasar lemah, belum diapa-apain sudah jatuh lebih dulu!" ledek Rachel sembari menendang kaki Noura.

Dalam hitungan menit berikutnya, petugas segera mendatangi area kerumunan, memberi bantuan untuk Noura.

"Minggir ... semua minggir!" teriak salah satu penjaga. Bersama dengan dua temannya, tubuh Noura digotong ke sebuah ruangan medis.

Ketika Noura terbangun, dia bertatap muka langsung dengan seorang dokter pria. "Aku kenapa?" tanya Noura sambil memijit-mijit kepalanya.

Dokter muda itu bernama Mike. Dia kebetulan bertugas di sel tahanan wanita untuk menggantikan salah satu temannya yang tengah cuti.

"Kamu berada di tempat yang aman," jawab Mike, kemudian membantu Noura untuk duduk. "Kamu sudah siap dengan hasil pemeriksaan hari ini?"

"Apa yang terjadi denganku?" Noura juga butuh penjelasan. Dia sudah merasakan banyak perubahan dalam tubuhnya semenjak masuk ke dalam tahanan.

Mike mengeluarkan hasil pengetesan yang dilakukannya terhadap Noura, sebelum menyerahkannya, dia lebih dulu bertanya, "Apa kamu sudah menikah sebelumnya?"

Seketika Noura tercengang. "Apa maksud Dokter menanyakan hal itu?"

"Ini adalah hasil yang akurat, dan kamu dinyatakan hamil, usia kandunganmu sekitar tiga minggu."

"Apa ....?" Kepala Noura kembali berdenyut memikirkan hal tersebut.

"Sebaiknya segera sampaikan berita ini pada suamimu!" Mike membereskan alat-alat medisnya. "Meski berada di tempat yang berbeda, suami kamu berhak tahu jika istrinya sedang hamil," lanjutnya lagi.

"Aku tidak punya suami," balas Noura dengan perasaan campur aduk. Dia sedih, marah dan bingung. Apa yang harus dia lakukan dengan kondisi tersebut? Kenapa bayi itu harus hadir di saat yang tidak tepat?

"Oh ya?" Merasa terkejut, Mike bertanya lagi, "Bagaimana dengan kekasih?"

"Aku tidak tahu." Noura semakin bingung lagi, Nader yang merupakan kekasihnya belum muncul hingga detik ini. Berita dari Bu Meta pun masih ditunggu. Apakah Nader telah meninggalkannya dalam keadaan terpuruk? Pikiran itu terkadang bisa muncul kapan saja.

Pada malam berikutnya, ingatan Noura pun terlempar pada kisahnya bersama Nader.

Satu bulan yang lalu.

Nader telah melamar Noura. Mereka akan melangsungkan pernikahan hanya dalam hitungan hari.

Akan tetapi, acara itu diundurkan karena Nader harus melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.

"Aku akan kembali cepat, ini hanya beberapa hari saja, setelah itu kita akan menikah dengan pesta yang meriah. Aku akan membawamu ke mana pun aku pergi," ungkap Nader di malam perpisahannya dengan Noura.

"Aku akan menunggumu," ucap Noura pasrah. "Selama kamu tidak ada, aku akan menyibukkan diri dengan anak-anak panti. Selain itu, aku juga ingin menemui ibu sambungku yang sudah kurawat sejak lama."

Selain memiliki Ibu Meta, Noura juga tengah merawat seorang wanita paruh baya yang dirawat sejak usianya masih sepuluh tahun.

"Aku akan melihatnya setelah kembali nanti. Dia juga harus hadir dalam pernikahan kita," kata Nader sambil mengelus-elus wajah mulus Noura. "Sayang, aku boleh meminta sesuatu?"

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Noura dengan polos.

Tinggal dengan ayah dan juga ibu tirinya, Nader kerap mendapat pengaruh negatif dari sang ibu sambung. Ketika memutuskan akan menikahi Noura, Heba telah mengatakan hal-hal buruk tentang Noura.

Nader lebih sering mengabaikan hasutan itu. Akan tetapi, ketika dia mendengar tentang para pria yang tengah mengejar mati-matian cinta Noura, Nader seperti ketakutan untuk meninggalkan kekasih hatinya. Dia khawatir ada laki-laki yang mendahuluinya untuk meluluhkan perasaan Noura.

Nader memaksakan diri untuk secepatnya menikahi Noura. Namun, tiba-tiba sang ayah memberi perintah untuk mengurus bisnis mereka di luar negeri, dan itu tidak bisa diwakilkan.

"Apa yang kamu inginkan?" Noura mengagetkan pria yang tengah termenung itu. "Kenapa jadi bengong gitu?"

"Noura ...." Nader menatap wajah Noura dengan lekat. Gadis di depannya adalah wanita tercantik di kota itu. Banyak yang ingin menjadikan Noura sebagai istri, tapi Nader yang akhirnya menjadi pemenang.

"Ada apa?" Noura bertanya lagi sembari mengamati perubahan di wajah kekasihnya.

"Aku ingin memilikimu selamanya. Aku tidak ingin ada satu pria pun yang menyentuhmu selain aku," ungkap Nader dengan penuh harap.

"Sebentar lagi itu akan terjadi, kita akan segera menikah," balas Noura, lalu mengecup kedua pipi kekasihnya secara bergantian. "Sekarang antarkan aku pulang, besok kamu harus berangkat pagi-pagi sekali."

Pada saat itu, Nader langsung melumat bibir Noura. Dia mendekap tubuh gadis itu sembari memberikan ciuman panas. Tindakannya yang agresif menunjukkan bahwa dia seakan-akan takut kehilangan Noura.

"Aku ingin melakukannya sekarang!" Nader tiba-tiba ingin berhubungan suami istri dengan Noura. "Kita akan segera menikah, Sayang. Bolehkah kita melakukannya sekali saja?"

Tatapan Nader sungguh memabukkan. Noura juga sangat mencintai pria itu. Dia terdiam dan tidak tahu harus berkata apa.

"Kamu adalah wanita yang sangat penting bagiku." Nader kembali melumat bibir Noura. "Aku tidak ingin kehilanganmu."

Flashback off.

Di dalam tahanan sempit itu, Noura menangis sejadi-jadinya. "Huhuu huhuu ...!" Sembari membenamkan kepalanya, dia memeluk lututnya dengan kedua tangan. Kini semua hanya tinggal penyesalan.

"Aku sangat bodoh," gumam Noura dalam penyesalannya. Air matanya semakin mengalir deras. "Harusnya aku tidak percaya begitu saja, harusnya aku tidak melakukan hal bodoh itu dengannya."

Tanti kebetulan satu tahanan bersama dengan Noura. Di antara teman-temannya, hanya Tanti yang sedikit memiliki empati. Ketika dia melihat Noura menangis pilu, hatinya yang sekeras baja itu sedikit melunak. Sebagai sesama wanita, mendadak dia merasa iba. Tergerak oleh kesedihan Noura, Tanti pun mendekati wanita itu.

"Ada apa denganmu?" Walau merasa kasihan, tapi nada bertanya Rachel masih terdengar bengis. "Kenapa dari tadi hanya menangis terus?"

Dengan berderai air mata, Noura mendongak. "Aku ...." Mulutnya baru saja terbuka untuk bercerita lebih lanjut, namun suara sang sipir sudah mengangetkannya.

"Tahanan 201...!"

Noura segera bangkit dan menghampiri sipir. "Siapa yang ingin mengunjungiku?"

"Seorang pria dari keluarga Othmani, namanya Nader."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status