Home / Romansa / Terjerat Cinta Pasien Tampan / Bab 56. Bukan Sekadar Pasien

Share

Bab 56. Bukan Sekadar Pasien

Author: Aireth
last update publish date: 2026-09-21 15:36:04

Keesokan paginya, Elena kembali ke rumah sakit lebih awal dari biasanya. Entah mengapa, sejak membuka mata pagi itu, pikirannya tak pernah lepas dari percakapan semalam bersama Arven. Tentang masa lalu lima tahun silam. Tentang ketakutan yang selama ini ia pendam sendirian. Tentang bagaimana Arven pernah berada di titik paling tak berdaya, sementara orang yang seharusnya melindunginya justru membiarkannya menghadapi segalanya seorang diri.

Elena masih teringat jelas tatapan Arven saat mencerita
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 91. Pengakuan

    Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui kaca jendela mobil, menyentuh wajah Arven yang tampak lebih segar dibanding minggu‑minggu sebelumnya. Kael mengantar Arven ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rutin. Meski kondisi Arven telah membaik setelah prosedur sebelumnya, ia masih harus menjalani pemantauan berkala, terutama terkait kondisi jantungnya yang perlu diawasi dengan ketat. Ketika mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit, udara pagi yang sejuk menyapu wajah mereka.“Kau yakin tidak perlu aku menemanimu sampai selesai?” tanya Kael sambil melepas sabuk pengaman, matanya memandang Arven dengan ragu.“Tidak perlu. Kau bisa menunggu di lobi,” jawab Arven sambil membuka pintu mobil, berusaha terlihat tenang meskipun jantungnya sedikit berdebar setiap kali mengingat akan bertemu Elena nanti.Kael mengangkat alis sambil mengikuti langkahnya masuk ke dalam gedung. “Aku mengantarmu ke sini bukan untuk duduk sendirian di lobi.”Arven mendengus pelan, sudut bibirnya terang

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 90. Setelah Prosedur

    Cahaya lampu ruang observasi rumah sakit temaram dan terasa dingin di sepanjang lorong, sesekali terputus bayangan perawat yang lewat berjalan cepat. Pemeriksaan lanjutan Arven berlangsung sejak pagi, serangkaian prosedur untuk mengevaluasi kondisi jantungnya yang memakan banyak tenaga dan membuatnya menahan rasa cemas yang tak terlihat. Setelah semuanya selesai, wajahnya tampak pucat pasi, keringat dingin menempel di pelipisnya, sementara langkahnya tampak sedikit goyah ketika perawat membantunya berjalan perlahan kembali ke ruang observasi.Elena yang kebetulan sedang memeriksa catatan pasien di bangsal terlihat dari kejauhan. Ia segera menutup berkasnya dengan gerakan ringkas dan menghampirinya dengan langkah cepat, tatapannya langsung tertuju pada wajah Arven yang tampak lemah.“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada khawatir, matanya memindai wajah dan postur tubuh Arven dari atas hingga bawah.“Lelah,” jawab Arven singkat, suaranya lemah seolah tenaga hampir habis. “Kepalaku

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 89. Aku Mempercayaimu

    Pagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui celah jendela ruang rawat, menyentuh meja tempat Elena sedang menyusun catatan pemeriksaan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar pelan. Itu pesan dari Arven, yang menanyakan apakah ia memiliki waktu luang sebelum jam makan siang tiba. Setelah membalas bahwa ia bisa bertemu menjelang siang, Elena segera merapikan berkas‑berkasnya dan berjalan menuju taman kecil rumah sakit, tempat yang sudah disepakati.Ketika Elena tiba, Arven sedang duduk di bangku kayu yang menghadap ke pepohonan rindang. Bahunya sedikit menunduk, pandangannya tertuju pada daun‑daun yang bergoyang tertiup angin sepoi‑sepoi, seolah sedang tenggelam dalam pikiran sendiri.“Kau sudah menunggu lama?” tanya Elena sambil duduk perlahan di sampingnya, agar tidak mengejutkannya.“Tidak.” Arven meliriknya sebentar, matanya tampak masih tertutup bayangan kecemasan yang belum hilang sepenuhnya. “Aku hanya ingin berbicara denganmu.”Elena menoleh ke arahnya, sedikit terkejut.

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 88. Elena Terkejut

    Elena masih memikirkan kejadian di ruang pemeriksaan saat kembali ke ruang kerjanya sore itu. Selama menangani Arven, ia sudah sering melihat reaksi pria itu terhadap tindakan medis, kadang bersikeras menolak, kadang diam dengan wajah tegang, atau meminta penjelasan berulang‑ulang. Elena tahu itu bukan sekadar sifat keras kepala. Pengalaman buruk membuatnya sulit merasa aman di rumah sakit, baginya mendekat dengan peralatan medis berarti mengambil risiko yang selalu ia hindari.Karena itu, kejadian kemarin terasa begitu berbeda. Arven masih takut, Elena melihat jemarinya mencengkeram sisi ranjang, nafasnya tidak teratur, pandangannya terpaku pada jarum yang disiapkan petugas. Akan tetapi saat tiba waktunya menjalani prosedur, ia tidak melawan, tidak menarik tangan, tidak menyuruh orang menjauh. Setelah mendengarkan penjelasan dokter dan menenangkan diri, ia justru mengulurkan tangannya atas kemauan sendiri.Perubahan itu membuat Elena terkejut. Bukan karena Arven berhasil menjalani pr

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 87. Kepercayaan

    Pagi berikutnya, Arven masih mengingat percakapannya dengan dokter di rumah sakit. Kondisi tulangnya memang menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi masalah pada jantungnya belum sepenuhnya bisa diabaikan. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.Sejujurnya, Arven tidak menyukai gagasan itu. Bukan karena ia tidak memahami pentingnya pemeriksaan, melainkan karena bayangan tentang ruang medis, jarum, dan berbagai peralatan yang mungkin digunakan selalu membangkitkan kecemasan yang sulit dikendalikan.Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Elena muncul di layar, mengingatkannya bahwa pemeriksaan lanjutan telah dijadwalkan hari itu. Arven membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum akhirnya membalas singkat bahwa ia akan datang.Ketika Arven tiba di rumah sakit, Elena sudah menunggunya di dekat ruang kerjanya. Hari itu, ia kembali memiliki waktu luang di antara jadwal praktiknya.“Kamu datang,” ujar Elena sambil menghampirinya, ma

  • Terjerat Cinta Pasien Tampan   Bab 87. Kepercayaan

    Pagi berikutnya, Arven masih mengingat percakapannya dengan dokter di rumah sakit. Kondisi tulangnya memang menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi masalah pada jantungnya belum sepenuhnya bisa diabaikan. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.Sejujurnya, Arven tidak menyukai gagasan itu. Bukan karena ia tidak memahami pentingnya pemeriksaan, melainkan karena bayangan tentang ruang medis, jarum, dan berbagai peralatan yang mungkin digunakan selalu membangkitkan kecemasan yang sulit dikendalikan.Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Elena muncul di layar, mengingatkannya bahwa pemeriksaan lanjutan telah dijadwalkan hari itu. Arven membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum akhirnya membalas singkat bahwa ia akan datang.Ketika Arven tiba di rumah sakit, Elena sudah menunggunya di dekat ruang kerjanya. Hari itu, ia kembali memiliki waktu luang di antara jadwal praktiknya.“Kamu datang,” ujar Elena sambil menghampirinya, ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status