FAZER LOGINCahaya lampu ruang observasi rumah sakit temaram dan terasa dingin di sepanjang lorong, sesekali terputus bayangan perawat yang lewat berjalan cepat. Pemeriksaan lanjutan Arven berlangsung sejak pagi, serangkaian prosedur untuk mengevaluasi kondisi jantungnya yang memakan banyak tenaga dan membuatnya menahan rasa cemas yang tak terlihat. Setelah semuanya selesai, wajahnya tampak pucat pasi, keringat dingin menempel di pelipisnya, sementara langkahnya tampak sedikit goyah ketika perawat membantunya berjalan perlahan kembali ke ruang observasi.Elena yang kebetulan sedang memeriksa catatan pasien di bangsal terlihat dari kejauhan. Ia segera menutup berkasnya dengan gerakan ringkas dan menghampirinya dengan langkah cepat, tatapannya langsung tertuju pada wajah Arven yang tampak lemah.“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya dengan nada khawatir, matanya memindai wajah dan postur tubuh Arven dari atas hingga bawah.“Lelah,” jawab Arven singkat, suaranya lemah seolah tenaga hampir habis. “Kepalaku
Pagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui celah jendela ruang rawat, menyentuh meja tempat Elena sedang menyusun catatan pemeriksaan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar pelan. Itu pesan dari Arven, yang menanyakan apakah ia memiliki waktu luang sebelum jam makan siang tiba. Setelah membalas bahwa ia bisa bertemu menjelang siang, Elena segera merapikan berkas‑berkasnya dan berjalan menuju taman kecil rumah sakit, tempat yang sudah disepakati.Ketika Elena tiba, Arven sedang duduk di bangku kayu yang menghadap ke pepohonan rindang. Bahunya sedikit menunduk, pandangannya tertuju pada daun‑daun yang bergoyang tertiup angin sepoi‑sepoi, seolah sedang tenggelam dalam pikiran sendiri.“Kau sudah menunggu lama?” tanya Elena sambil duduk perlahan di sampingnya, agar tidak mengejutkannya.“Tidak.” Arven meliriknya sebentar, matanya tampak masih tertutup bayangan kecemasan yang belum hilang sepenuhnya. “Aku hanya ingin berbicara denganmu.”Elena menoleh ke arahnya, sedikit terkejut.
Elena masih memikirkan kejadian di ruang pemeriksaan saat kembali ke ruang kerjanya sore itu. Selama menangani Arven, ia sudah sering melihat reaksi pria itu terhadap tindakan medis, kadang bersikeras menolak, kadang diam dengan wajah tegang, atau meminta penjelasan berulang‑ulang. Elena tahu itu bukan sekadar sifat keras kepala. Pengalaman buruk membuatnya sulit merasa aman di rumah sakit, baginya mendekat dengan peralatan medis berarti mengambil risiko yang selalu ia hindari.Karena itu, kejadian kemarin terasa begitu berbeda. Arven masih takut, Elena melihat jemarinya mencengkeram sisi ranjang, nafasnya tidak teratur, pandangannya terpaku pada jarum yang disiapkan petugas. Akan tetapi saat tiba waktunya menjalani prosedur, ia tidak melawan, tidak menarik tangan, tidak menyuruh orang menjauh. Setelah mendengarkan penjelasan dokter dan menenangkan diri, ia justru mengulurkan tangannya atas kemauan sendiri.Perubahan itu membuat Elena terkejut. Bukan karena Arven berhasil menjalani pr
Pagi berikutnya, Arven masih mengingat percakapannya dengan dokter di rumah sakit. Kondisi tulangnya memang menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi masalah pada jantungnya belum sepenuhnya bisa diabaikan. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.Sejujurnya, Arven tidak menyukai gagasan itu. Bukan karena ia tidak memahami pentingnya pemeriksaan, melainkan karena bayangan tentang ruang medis, jarum, dan berbagai peralatan yang mungkin digunakan selalu membangkitkan kecemasan yang sulit dikendalikan.Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Elena muncul di layar, mengingatkannya bahwa pemeriksaan lanjutan telah dijadwalkan hari itu. Arven membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum akhirnya membalas singkat bahwa ia akan datang.Ketika Arven tiba di rumah sakit, Elena sudah menunggunya di dekat ruang kerjanya. Hari itu, ia kembali memiliki waktu luang di antara jadwal praktiknya.“Kamu datang,” ujar Elena sambil menghampirinya, ma
Pagi berikutnya, Arven masih mengingat percakapannya dengan dokter di rumah sakit. Kondisi tulangnya memang menunjukkan perkembangan yang baik, tetapi masalah pada jantungnya belum sepenuhnya bisa diabaikan. Ia harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya tetap terpantau.Sejujurnya, Arven tidak menyukai gagasan itu. Bukan karena ia tidak memahami pentingnya pemeriksaan, melainkan karena bayangan tentang ruang medis, jarum, dan berbagai peralatan yang mungkin digunakan selalu membangkitkan kecemasan yang sulit dikendalikan.Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari Elena muncul di layar, mengingatkannya bahwa pemeriksaan lanjutan telah dijadwalkan hari itu. Arven membaca pesan tersebut beberapa kali sebelum akhirnya membalas singkat bahwa ia akan datang.Ketika Arven tiba di rumah sakit, Elena sudah menunggunya di dekat ruang kerjanya. Hari itu, ia kembali memiliki waktu luang di antara jadwal praktiknya.“Kamu datang,” ujar Elena sambil menghampirinya, ma
Pagi itu, Elena sedang berada di ruang kerjanya di rumah sakit ketika sesekali melirik jam di dinding. Jadwal praktiknya hari itu tidak terlalu padat, sehingga ia memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan beberapa laporan medis sebelum pasien berikutnya datang.Namun, ada satu hal yang membuatnya beberapa kali memperhatikan ponsel di atas meja. Arven dijadwalkan menjalani pemeriksaan lanjutan hari ini.Elena tahu bahwa bagi orang lain, kunjungan ke rumah sakit mungkin hanya menjadi rutinitas biasa. Akan tetapi, bagi Arven, kembali ke tempat yang menyimpan begitu banyak pengalaman buruk bukanlah perkara mudah. Karena itu, ia berniat menemui pria tersebut begitu Arven tiba, selama tidak ada urusan mendesak yang menghalanginya.Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunannya. Seorang staf rumah sakit menyodorkan kepala dari celah pintu, wajahnya tampak sopan akan tetapi terburu‑buru sedikit.“Dok Elena, pasien bernama Arven sudah tiba di lobi.” Elena segera merapikan berkas‑berkas yang bers







