Beranda / Mafia / Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran / Bab 1 | Jasa Pacar Sewaan

Share

Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran
Penulis: Heni HN

Bab 1 | Jasa Pacar Sewaan

Penulis: Heni HN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 19:21:21

“Aku tidak menyangka, kalau ternyata Revan mengkhianatiku.” Eliana tergugu sambil mengelap ingusnya menggunakan tisu. Matanya sembab, hidungnya merah, namun air mata masih terus berderai menangisi laki-laki bernama Revan yang selama ini menemani hari-harinya selama tiga tahun lamanya. Namun hubungannya harus kandas karena orang ketiga.

Eliana masih menyumpal hidungnya dengan tisu agar cairan hidung itu tak sampai menyebrangi bibirnya. Sambil memandangi surat undangan Revan, Eliana meremas dadanya yang kian sakit akibat pengkhianatan yang sudah Revan lakukan terhadap dirinya.

“Lalu selama tiga tahun ini, kamu menganggapku apa, Revan? Aku sudah menganggapmu sebagai pangeran di dalam hidupku, tapi kamu malah menghancurkan perasaanku hingga berkeping-keping.” Eliana masih meracau, menyayangkan hubungan yang terlanjur hancur oleh pengkhianatan Revan.

Eliana Emelinda, gadis berusia 21 tahun. Dia bekerja di salah satu café yang terdapat di ibukota besar. Sedangkan Revan Erlangga, yang kini statusnya sudah berubah menjadi mantan Eliana, dia adalah seorang mahasiswa. Dan sebentar lagi akan merayakan pelulusannya sebagai seorang sarjana muda berjurusan kedokteran. Usianya terpaut lima tahun, karena usia Revan 26 tahun dan sebentar lagi akan merayakan hari wisudanya.

Eliana merasa terbuang seperti sampah. Padahal, hari-hari Revan selalu diisi oleh Eliana. Saat mengerjakan skripsi, kerja kelompok, atau nongkrong bareng temannya, Eliana selalu ada. Bahkan ada masanya saat Revan membutuhkan biaya tambahan untuk dana kuliahnya, karena memilih jurusan kedokteran harus memiliki modal besar. Padahal Revan berasal dari keluarga berada, jadi untuk biaya kuliahnya masih bisa disanggupi oleh orang tuanya, namun entah kenapa Revan tetap kekeuh ingin meminjam uang Eliana, sehingga tanpa mempunyai pilihan lain untuk menolak, Eliana memberikan uang tabungannya yang tidak seberapa banyak itu kepada Revan.

Mungkin, bagi Revan, uang sebanyak lima juta hanyalah uang receh. Tapi bagi Eliana, itu sangatlah besar. Perlu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang dari hasil jeri payahnya untuk bisa mendapat uang sebanyak lima juta.

Tapi lihatlah kini. Apa yang Eliana dapatkan setelah berkorban banyak untuk kekasihnya? Bukan intan permata yang didapat, bukan pula cincin emas mengkilat yang melingkar di jari manisnya, tapi sebuah surat undangan sebagai akhir dari hubungan mereka. Revan hendak bertunangan dengan wanita lain, yang mirisnya adalah sahabatnya sendiri bernama—Emely.

Emely adalah teman dekat Eliana. Mereka sering berbagi kisah disetiap pertemuan mereka. Eliana sering membagikan kisah asmaranya kepada Emely, begitu pun sebaliknya, Emely sering menceritakan kisah percintaannya juga, namun tidak semulus Eliana.

Emely adalah teman Eliana, yang Eliana kenal saat Emely menjadi salah satu pelanggan di cafénya. Dari sekedar curhat biasa yang dilandasi candaan, lama-lama menjadi nyaman, yang seiringnya berjalan waktu menjadi sahabat dekat. Dan itu adalah keputusan yang paling Eliana sesali seumur hidupnya, karena dari sahabat berujung menjadi penghianat.

Awal pertama penghianatan itu terendus saat Eliana yang diam-diam datang hendak menemui Revan di apartemennya. Dia ingin mengejutkan Revan dengan merayakan hari anniversary mereka yang ketiga. Namun siapa sangka, bukan Revan yang terkejut, justru Eliana yang dibuat terkejut.

Saat Eliana mendorong pintu apartemen Revan yang kebetulan tidak terkunci, pemandangan menjijikkan yang pertama Eliana lihat. Yaitu Revan yang sedang mencumbui Emely di sofa minimalisnya sambil berpelukan layaknya pasangan halal. Itu membuat Eliana sakit hati setengah mati. Dia langsung menghempas kue bundar kecilnya ke lantai, lalu kemudian berlalu pergi meninggalkan mereka yang terkejut dengan kehadiran Eliana yang secara mendadak itu.

Revan sempat mengejar, namun Eliana tidak memperdulikan. Dia terus mengayunkan langkah meninggalkan apartemen Revan. Revan yang berusaha mengejar sampai tidak memperdulikan penampilannya; kemeja dengan kacing terbuka, serta jejak merah kecil yang menghiasi lehernya.

“Eliana, ini tidak seperti apa yang kamu lihat.” kata Revan setelah berhasil menyusul Eliana. Tangannya mencekal lengan Eliana agar mau mendengar penjelasannya.

“Lalu yang seperti apa yang kamu maksud? Aku tidak bodoh, Van! Aku lihat, kok, kamu sedang mesra-mesraan sama Emely!” pekik Eliana sambil menepis cekalan Revan.

“Emely yang tiba-tiba datang ke apartemenku. Dia pura-pura menanyakanmu lalu tiba-tiba duduk di pangkuanku, kemudian menggodaku.” jelas Revan, yang sama sekali tidak dipercayai oleh Eliana.

“Lalu kamu tergoda, iya? Matamu kelilipan sampai mengira kalau si Emely itu adalah aku, iya?” tohok Eliana dengan wajah memerah. “Aku tidak sebodoh itu, Revan. Aku memang miskin, tapi pantang bagiku untuk dikhianati!” Eliana menunjuk dirinya sendiri sambil bergetar menahan gejolak amarah.

Revan terdiam, namun matanya masih memaku ke arah Eliana yang sangat kecewa oleh perlakuannya tadi.

“Maaf, Van, sepertinya hubungan kita cukup sampai di sini. Aku mau kita putus. Hubungan kita selesai.” Eliana berbalik dengan perasaan hancur. Sambil mengusap air mata, dia berjalan menyusuri lorong apartemen yang menjadi saksi bisu berakhirnya hubungan mereka. Membawa kenangan duka dan luka yang mendalam.

Revan hanya menatap kepergian Eliana dengan diam. Matanya menerawang jauh, apa dia sedang menyesal, atau justru senang karena berhasil terlepas dari hubungannya dengan Eliana. Karena dalam waktu dekat ini, Revan memang hendak mengakhiri hubungannya dengan Eliana demi bisa hidup bersama Emely tanpa gangguan siapa pun lagi.

Saat Revan yang tengah meratapi kepergian Eliana, tiba-tiba Emely menyusul dan langsung memeluknya dari belakang. Dia berbisik, “Jangan dipikirkan. Masih ada aku di sini, sayang. Mari kita lanjutkan permainan kita tadi...”

Revan mengangguk lalu mengikuti Emely untuk kembali masuk ke apartemennya, tanpa dia tahu, kalau Eliana masih berada di sana dan mengintip, apakah Revan akan menyusulnya sebagai tanda keseriusannya dengan ucapannya tadi atau tidak.

Ternyata tidak. Kata-katanya hanya alasan klasik disetiap pasangan yang ketahuan berkhianat. Alasan kalau pelakor yang mencoba mengganggu duluan. Padahal sama saja, sama-sama ulat bulu—gatal.

Dan sebulan setelah kejadian itu, Revan kembali, namun bukan untuk mengajaknya kembali, melainkan menyerahkan surat undangan, yang di mana tertulis nama; yang berbahagia, Emely & Revan.

Saat itu Eliana sempat membeku sesaat, namun setelahnya dia kembali biasa saja. Tidak ada air mata yang keluar, mungkin karena terlalu kecewa dengan apa yang sudah terjadi. Revan pun kembali tanpa permisi, tanpa berpamitan, hanya asing yang meliputi mereka berdua saat itu, namun dari lirikan matanya seolah menjelaskan kepada Eliana untuk datang ke acara pesta pertunangannya.

Eliana kembali masuk, menutup pintu, lalu bersandar di daunnya. Kenangan indah bersama Revan seketika berputar dalam ingatan di masa lalu, di mana masa-masa saat berbahagia. Eliana teringat ketika dirinya digendong oleh Revan saat kakinya terkilir karena terpeleset sewaktu menghantar pesanan salah satu pelanggan di café tempat ia bekerja. Semua pengunjung memandang iri padanya, yang diperlakukan bagaikan ratu oleh sang pangeran.

Eliana kembali menangis lagi. Ternyata dia hanya pura-pura kuat di depan Revan. Eliana hanya tidak ingin disangka gagal move on oleh Revan, walau sebenarnya iya. Dia sampai sekarang belum bisa melupakan Revan. Sulit baginya untuk melupakan kenangan indah ketika masih bersama. Tiga tahun mereka merajut kasih, namun takdir sudah berkata lain.

Kini dia harus siap hadir di acara pertunangan Revan bersama mantan sahabatnya. Dia tidak mau disangka kalah oleh hubungan dari hasil merampas itu. Dia harus kembali bangkit dan menunjukkan, kalau hidup tanpa Revan akan baik-baik saja.

“Aku harus tampil cetar dan mecing di acara pertunangan mereka.” gumam Eliana. “Tapi... jika aku datang sendiri, pasti mereka akan kembali mengejekku. Aku pasti akan dikatai jomblo gak laku. Duh, gimana, ya?” Eliana berpikir keras, bagaimana caranya hadir di acara Revan dan Emely tanpa harus merasa kembali terhina. Karena sayangnya Eliana masih sendiri setelah putus dari Revan. Dia merasa sedikit trauma jika harus menjalin kasih.

“Apa aku memakai jasa pacar sewaan aja, ya?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 12 | Dia milikku!

    Hyaa! Max memulai serangan pertama kepada Aron dengan cara melayangkan satu pukulan. Namun Aron berhasil menghindari serangan, sebisa mungkin Aron akan menghindarinya. Mereka menyerang dari berbagai arah, pistol dan pisau berkilau di tangan mereka. Aron berputar, mengantisipasi serangan. Meningkatkan rasa awas dan kehati-hatian. Salah satu dari mereka berlari maju menyerang Aron menggunakan pisau. Aron yang sudah siaga kembali menghindari dan menarik tangan yang mengayunkan pisau itu lalu menelintirnya hingga terdengar retakan tulang. “Aaaa!” pria yang menyerang menggunakan pisau itu memekik kesakitan saat Aron dengan bengis mematahkan lengannya. Bugh! Aron menjatuhkannya begitu saja. Lalu matanya kembali menatap liar pada yang lain. Serangan kedua, kini dilakukan tiga orang sekaligus. Ketiga orang itu memposisikan diri seperti lingkaran yang mengungkung keberadaan Aron di tengah gelapnya malam. Namun itu tidak membuat Aron gentar sedikitpun. Dia semakin tertantang. Du

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 11 | Serangan Tak Terduga

    Eliana sudah bersiap hendak berpamit pergi. Ia hanya menginap semalam bersama Aron, karena malam ini Eliana harus kembali bekerja di shif malam. Waktu sudah menunjuk angka tiga sore. Jadi Eliana harus segera berangkat sekarang jika tidak ingin pulang terlalu malam. “Kau yakin mau langsung pulang hari ini?” tanya Medina dengan mata menggembun. “Iya, Bu. Eliana harus kembali bekerja.” sahut Eliana dengan suara sedih. “Ibu merasa... ini pertemuan terakhir kita, Eliana. Ibu merasa... kita akan terpisah dalam waktu lama.” Eliana menghela nafas berat. “Huh... itu hanya perasaan ibu saja. Eliana berangkat, ya, Bu. Sebelum hari gelap.” Eliana meraih tangan berkeriput halus itu lalu mengecup takzim. “Hati-hati Eliana. Bapak akan selalu merindukanmu.” Ernad mengecup kening Eliana penuh kasih. Begitu pun dengan Aron. Pria itu melakukan hal sama seperti yang Eliana lakukan. Berpamitan dengan baik dan sopan kepada orangtua Eliana. Tibalah di Nayla. Gadis itu tampak merengut sedih

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 10 | Aku Mau Hidupmu

    Suasana kediaman Eliana semakin meriah ketika Aron dipersilakan masuk ke dalam. Sepertinya orangtua beserta kedua adiknya, menerima dengan baik kehadiran Aron. Terbukti dari cara mereka menyambut dengan penuh keramahan serta humble untuk lebih mengakrabkan diri. Sedangkan Eliana menatap tajam pada Aron, seperti kilatan pedang yang siap menghunus lawan. Aron duduk di sofa dengan wajah tenang. Di sebelahnya, ada adik Eliana bernama, Nayla. Nayla adalah anak kedua Ernad, yang saat ini masih menduduki sekolah menengah pertama. Sedangkan si bungsu bernama, Erdan, yang masih menduduki sekolah dasar. “Jadi, nama kamu ... Aron, ya?” tanya ayah dari Eliana sambil memandangi Aron dari sofa seberang. “Betul, Om. Saya Aron, teman kencan Eliana.” sahutnya, jujur. Membenarkan pertanyaan ayah Eliana bernama, Ernad. “Teman kencan, dalam artian kekasih, ’kan?” tohok Ernad, membuat Eliana tersedak salivanya sendiri. Uhuk! Uhuk! Eliana terbatuk-batuk saking terkejut mendengar praduga sang ay

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 9 | Pengenalan Diri—Aron

    Eliana telah sampai di terminal. Ia mencari bus yang beroperasi sesuai dengan tujuan akhir. Para kernet dari masing-masing bus meneriakan area pemberhentian mereka untuk menarik perhatian penumpang. Kemudian Eliana mulai mendengar seorang kernet meneriaki kampung halamannya. “Mau naik bus ini?” tanya kernet yang berjaga di pintu depan. Eliana mengangguk sambil menunjukkan tiket yang telah ia beli di loket sebelumnya. Kernet itu menerima lalu mengamati. “Benar. Ini bus yang sesuai dengan tujuan Anda.” Kernet itu mengembalikan lagi tiket itu lalu mempersilakan Eliana masuk untuk menaiki bus itu. Sesampainya di dalam, pandangan Eliana kembali mengedar. Dia bermaksud mencari nomor urut bangku yang sesuai dengan yang tertera di nomor tiketnya, dan Eliana mendapat kursi bagian double seat yang tepat berada di sisi jendela. Eliana duduk. Suasana bus masih sepi, belum terlalu banyak penumpang. Jadi Eliana akan sarapan roti kemasan sebelum memulai perjalanan. Tiba-tiba seorang pr

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 8 | Tulisan Darah

    Hari yang dinanti-nanti tiba. Hari ini waktunya semua karyawan café menerima upah dari hasil jeri payah mereka. Eliana yang berdiri di depan pintu ruang Ibu Diana sambil menunggu giliran merasa excited. Ia tidak sabar ingin pulang ke kampung lalu memeluk tubuh Ibu dan Ayah beserta kedua adiknya. “Eliana Emelinda...” panggil Bu Diana yang menggemakan nama Eliana. Eliana masuk lalu menunggu gaji tuk diserahkan. “Duduk!” titah Bu Diana. Eliana duduk dengan senyum canggung di bibirnya. Menunggu sesuatu yang dinanti-nanti sejak lama. Ibu Diana mengela nafas sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Kemudian mendorong pelan di permukaan meja kerja untuk diserahkan kepada Eliana. “Ini gaji kamu untuk bulan ini. Tapi sebelumnya saya meminta maaf, sebab gajimu aku potong untuk biaya ganti rugi properti yang rusak pasca keributan yang terjadi karenamu bersama Customer kemarin, Eliana.” Eliana menatap Ibu Diana tanpa berkedip, lalu beralih ke amplop coklat yang teronggok d

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 7 | Bukan Arif

    Eliana sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Kali ini dia bekerja di shif malam, bergantian dengan rekannya yang lain. Yang pasti, Livia juga shif malam sama seperti Eliana. “Semua keperluanku sudah siap. Tinggal berangkat.” Eliana berjalan mendekati pintu depan lalu membukanya perlahan. Namun, saat pintu itu terbuka lebar, sosok yang amat Eliana kenal sudah berdiri memandangi rumah kontrakannya. “Arif? Kamu di sini?” heran Eliana, sekaligus senang hatinya. Namun pria yang diduga Eliana sebagai Arif itu melengos ke arah lain, meninggalkan Eliana yang masih termangu sambil memandangi kepergiannya. “Dia itu kenapa, sih? Setiap aku tanya diam, ngilang... aneh banget!” gerutu Eliana yang merasa sebal dengan tingkah laku pria itu. * * * Eliana sudah sampai di café. Bahkan dia sudah memulai pekerjaannya bersama dengan Livia. Kini mereka sedang mengelap piring basah setelah dicuci tadi. “Bagaimana rencanamu di acara pertunangan Revan? Sukses?” tanya Livia. “Sukses, dong!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status