Home / Mafia / Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran / Bab 2 | Penghinaan Emely dan Revan

Share

Bab 2 | Penghinaan Emely dan Revan

Author: Heni HN
last update Huling Na-update: 2025-12-21 13:20:16

“Jasa pacar sewaan?” gumam Eliana sambil tertawa kecil. Apa aku sejelek itu sampai harus menyewa pacar online?

“Hah, sudahlah, Eliana. Sekarang tidur, besok kamu kerja bagian shif pagi. Jangan sampai terlambat kalau tidak mau mulut Bu Diana meledak-ledak seperti petasan mercon.” racau Eliana yang bersiap untuk tidur.

Tak memperdulikan sampah-sampah tisu yang berserakan di bawah kasurnya bekas dia menangisi Revan tadi.

Karena kelelahan menangis, Eliana bisa dengan mudah untuk terlelap. Membiarkan kasur empuk memijat tubuh dan memanjakan hatinya yang lelah.

* * *

Hawa dingin menyelimuti Eliana. Dia sempat menarik selimut lalu mendekapnya erat-erat.

Namun sayup-sayup dia mendengar suara ayam kerkokok, terdengar nyaring dan saling sahut menyahut dengan ayam pejantan yang lain. Menandakan, kalau matahari sudah mulai terbit.

Eliana terbangun. Dia ingat, kalau hari ini dia masuk shif pagi.

Jadi mau tidak mau, dia harus tetap pergi.

Eliana duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa sambil mengucek mata. Rambut panjangnya tergerai kusut, matanya masih berat untuk terbuka.

Dia menggaruk lehernya yang terasa gatal, kemudian mulai meregangkan otot sambil menguap, khas orang yang baru bangun dari tidur.

“Hoam... perasaan aku baru saja terpejam, sekarang sudah berganti pagi. Cepat sekali waktu berlalu.” Eliana beranjak dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tidak butuh waktu lama Untuk Eliana membersihkan diri.

Dia hanya butuh waktu sepuluh menit di dalamnya untuk menggosok gigi, mengguyur tubuh lalu menyabuni badannya. Karena Eliana sedang tidak berkeramas, jadi bisa menghemat waktu.

Eliana tampil lebih segar setelah mandi. Kini tubuhnya sudah dibaluti pakaian kerja khas pegawai café tempat dia mengais rezeki.

Eliana adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Dia nekat merantau meninggalkan keluarganya di kampung demi bisa membantu keuangan orangtuanya di kampung untuk membiayai sekolah kedua adiknya.

Setiap gajihan, Eliana selalu rutin mengirim gajinya setengah ke kampung, dan setengahnya lagi Eliana gunakan untuk menyambung hidup di tengah ibukota yang serba mahal ini.

Eliana mulai menghadap cermin, bersiap untuk menaburi bedak di wajahnya yang putih bersih.

Tapi kali ini wajahnya terlihat agak berbeda. Wajahnya masih terlihat sembab dengan mata yang masih sedikit bengkak karena semalam dia menangisi Revan cukup lama.

Dia lupa tidak mengompresnya dengan air hangat, jadi bengkaknya terlihat amat kentara, dan itu sangat menganggu penampilannya sebagai seorang pramusaji.

“Astaga... Mata masih bengkak lagi, bekas nangisin Revan semalem. Ih, ada-ada saja.” gemes Eliana pada dirinya sendiri.

Kenapa dia pakai menangis segala sih semalam? Mana yang ditangisi si Revan lagi, orang yang sudah menyia-nyiakan hidupnya.

“Aduh, gak ada pilihan lain. Satu-satunya cara untuk menyembunyikan mata bengkak ini dengan cara pake kacamata hitam. Biarin deh dikira buta juga, yang penting gak bikin malu di depan tamu nanti.” Eliana mulai mencari-cari kacamata hitamnya di dalam laci meja riasnya.

“Oke, sudah bagus. Dari pada mendapat surat pemecatan dari ibu Diana, itu lebih horror.” ujar Eliana sambil bergidik ngeri ketika membayangkan itu.

Dengan semangat empat lima, Eliana meninggalkan rumah hendak berangkat bekerja.

Selama di perjalanan, Eliana selalu disuguhkan dengan jalan raya ramai namun masih lancar. Dia berangkat ke café dengan berjalan kaki.

Bukan tidak ingin memiliki kendaraan pribadi, tapi dia belum mempunyai uang. Dulu sih punya, tapi dipinjam oleh Revan dan sampai saat ini belum dia ganti.

Memang kurang ajar si Revan. Walau pun uang lima juta yang dipinjam masih belum cukup untuk membeli motor baru, tapi cukup jika membeli sepeda motor bekas asal layak pakai.

Rasanya menyesal Eliana telah meminjamkan uang tabungannya dulu. Revan yang kuliah, tapi Eliana yang dibuat pusing.

“Hah, sudahlah. Jika diingat-ingat, maka perasaanku kembali perih.” Eliana membuang nafas berat ketika sekelebat ingatan masalalu kembali terngiang di kepala.

Saat Eliana larut dalam lamunan, tiba-tiba mobil metalic hitam melaju kencang melintasi genangan air di jalan yang rusak sampai air genangan itu menciprati baju seragam Eliana hingga terlihat agak kotor.

Eliana yang merasa tidak terima, meneriaki pengemudi mobil itu.

“Hei, berhenti di situ! Bajuku kotor karena mobilmu!” suara Eliana memekik dengan urat leher yang sedikit menegang.

Namun seperkian detik kemudian, Eliana dibuat terkesiap saat tahu mobil siapa yang telah menyiprati genangan air ke bajunya tadi.

Mobil metalic warna hitam mengkilat sangat Eliana hafal pemiliknya.

“Bukankah itu mobil Emely?” gumam Eliana dengan wajah syok.

Mobil itu menepi setelah diteriaki oleh Eliana. Kaca mobilnya perlahan turun, menampilkan siapa pemilik mobil mewah itu.

Dan benar saja. Di dalam mobil itu, ada Emely. Menandakan kalau kendaraan bergengsi itu benar-benar miliknya.

“Eliana? Oops, sorry! Aku gak lihat kalau ada orang yang sedang berjalan di sisi jalan tadi. Aku gak nyangka kalau ternyata kita akan bertemu di sini, disaat kamu dalam keadaan menyedihkan.” ucap Emely yang meminta maaf kepada Eliana tanpa turun dari mobilnya, namun nadanya terkesan merendahkan dan mengolok Eliana.

“Sampai nanti!” Emely berpamitan kepada Eliana sambil melambaikan jemarinya di balik kaca mobilnya, kemudian Eliana bisa mendengar tawa terbahak dari mulut Emely yang kurang ajar itu, dibarengi dengan tawa dari suara pria.

Eliana menatap kepergian Emely dengan tangan yang mengepal. Dia tau betul, kalau suara tawa dari seorang pria di dalam mobilnya adalah suara Revan.

“Jadi mereka sengaja melindas genangan air itu untuk mempermalukanku? Dasar sialan!” maki Eliana setelah mobil metalic itu pergi menjauh.

Dengan perasaan kacau dan campur aduk, Eliana tetap memacu langkah ke tempat bekerjanya.

Tanpa terasa, kini dia sudah menginjakkan kaki di pelataran café tempat pekerjaannya.

Livia segera menghampiri Eliana yang tampak kacau. Dia memandangi temannya dengan wajah cemas.

“Eliana, kamu baik-baik saja? Kau hampir terlambat!”

“Iya. Aku baik. Tapi bajuku kotor gara-gara Emely...” terang Eliana dengan wajah melas.

“Ya udah, cepet bersihin nodanya sebelum Bu Diana datang. Nanti dia marahin kamu.” Livia segera menuntun Eliana untuk segera menuju toilet.

* * *

Eliana sedang makan siang dengan Livia. Waktu istirahat mereka hanya diberi jatah dua puluh lima menit, setelah itu mereka harus kembali disibukkan oleh pekerjaan.

Apalagi ini hari minggu, di mana Customer sedang ramai-ramainya.

“Liv, makannya udah belum? Aku udah mau cuci tangan, nih. Kasian Chiko sendirian aja, sampai kelihatan sibuk banget tuh dia.” tunjuk Eliana kepada Chiko yang sibuk mengepul piring-piring kotor bekas makan Customer.

Chiko adalah rekan pramusaji Eliana, bedanya dia adalah laki-laki.

“Ya sudah, kamu duluan saja dulu. Aku masih nanggung, nih.” sahut Livia sambil menggerogoti ceker ayam mercon miliknya.

Eliana mengangguk. Saat dia tengah membereskan piring bekas makannya sendiri, tiba-tiba matanya melihat tamu baru masuk.

Bukan soal tamunya yang datang, melainkan siapa yang datang.

“Emely? Revan? Mau apa lagi mereka...”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 43 | Nikahi Aku!

    Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 42 | Sudah Terlalu Lama

    Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 41 | Emely, Menginginkan Kematian Eliana

    Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 40 | Aron Montgomery—Identitas Asli

    Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 39 | Mencintai dengan Cara yang Salah

    Eliana mengerjap. Cahaya menyilaukan yang pertama kali menyambut. Dia terbangun dari tidurnya, merasa lelah dan sakit kepala. Eliana membuka mata, dan melihat sekeliling. Dia berada di kamar yang terang, dengan jendela yang lebar bertirai tebal. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan seolah lupa apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ini bukan kastil tempat di mana ia dikurung kemarin. Eliana bangkit. Ia merasa sakit saat tubuhnya dipaksa bangun. Terasa hancur, seperti telah diinjak-injak. Dia kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi, pikirannya mulai menerawang jauh. Tiba-tiba, kenangan itu kembali. Kenangan tentang Aron, tentang apa yang dia lakukan pada dirinya. Eliana merasa dirinya seperti diserang, menyadari tubuhnya telah dijamahi dan dirusak. Mata Eliana mengembun, merasa lemah, tidak ada kekuatan sama sekali yang dia punya untuk melawan. Eliana melihat sekeliling, dan menyadari bahwa dia berada di kamar yang sama seperti mimpi buruk semalam, kamar yang dia tiduri den

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 38 | Monster

    Aron melangkah masuk, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Eliana. Dia berhenti di depan jasad Mike, lalu menatap Eliana dengan tajam. “Kamu... kamu yang membiarkannya masuk?” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. Eliana menegang, mencoba menghindari tatapan Aron. Dia hanya mampu menjawab dengan gelengan kecil. Antara mengakui dan tidak. Aron tertawa, tapi tawa itu tidak ada kegembiraan. “Tidak? Lalu siapa yang membiarkan orang ini masuk? Kastil ini tidak bisa dimasuki dengan mudah.” Eliana menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa masuk, tapi tidak bisa menjelaskan itu kepada Aron. Sebab yang Eliana tahu hanyalah... kebebasan. Dia ingin kebebasan. Aron melangkah lebih dekat, membuat Eliana merasa tertekan. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Eliana. Apa itu?” Eliana menatap Aron, matanya penuh ketakutan. “Aku... tidak tahu...” Aron menatapnya dengan tajam, lalu tiba-tiba dia membungkuk dan mengambil kampak yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status