Masuk“Jasa pacar sewaan?” gumam Eliana sambil tertawa kecil. Apa aku sejelek itu sampai harus menyewa pacar online?
“Hah, sudahlah, Eliana. Sekarang tidur, besok kamu kerja bagian shif pagi. Jangan sampai terlambat kalau tidak mau mulut Bu Diana meledak-ledak seperti petasan mercon.” racau Eliana yang bersiap untuk tidur. Tak memperdulikan sampah-sampah tisu yang berserakan di bawah kasurnya bekas dia menangisi Revan tadi. Karena kelelahan menangis, Eliana bisa dengan mudah untuk terlelap. Membiarkan kasur empuk memijat tubuh dan memanjakan hatinya yang lelah. * * * Hawa dingin menyelimuti Eliana. Dia sempat menarik selimut lalu mendekapnya erat-erat. Namun sayup-sayup dia mendengar suara ayam kerkokok, terdengar nyaring dan saling sahut menyahut dengan ayam pejantan yang lain. Menandakan, kalau matahari sudah mulai terbit. Eliana terbangun. Dia ingat, kalau hari ini dia masuk shif pagi. Jadi mau tidak mau, siap tidak siap, dia harus tetap pergi. Eliana duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa sambil mengucek mata. Rambut panjangnya tergerai kusut, matanya masih berat untuk terbuka. Dia menggaruk lehernya yang terasa gatal, kemudian mulai meregangkan otot sambil menguap, khas orang yang baru bangun dari tidur. “Hoam... perasaan aku baru saja terpejam, sekarang sudah berganti pagi. Cepat sekali waktu berlalu.” Eliana beranjak dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak butuh waktu lama Untuk Eliana membersihkan diri. Dia hanya butuh waktu sepuluh menit di dalamnya untuk menggosok gigi, mengguyur tubuh lalu menyabuni badannya. Karena Eliana sedang tidak berkeramas, jadi bisa menghemat waktu. Eliana tampil lebih segar setelah mandi. Kini tubuhnya sudah dibaluti pakaian kerja khas pegawai café tempat dia mengais rezeki. Eliana adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Dia nekat merantau meninggalkan keluarganya di kampung demi bisa membantu keuangan orangtuanya di kampung untuk membiayai sekolah kedua adiknya. Setiap gajihan, Eliana selalu rutin mengirim gajinya setengah ke kampung, dan setengahnya lagi Eliana gunakan untuk menyambung hidup di tengah ibukota yang serba mahal ini. Eliana mulai menghadap cermin, bersiap untuk menaburi bedak di wajahnya yang putih bersih. Tapi kali ini wajahnya terlihat agak berbeda. Wajahnya masih terlihat sembab dengan mata yang masih sedikit bengkak karena semalam dia menangisi Revan cukup lama. Dia lupa tidak mengompresnya dengan air hangat, jadi bengkaknya terlihat amat kentara, dan itu sangat menganggu penampilannya sebagai seorang pramusaji. “Astaga... Mata masih bengkak lagi, bekas nangisin Revan semalem. Ih, ada-ada saja.” gemes Eliana pada dirinya sendiri. Kenapa dia pakai menangis segala sih semalam? Mana yang ditangisi si Revan lagi, orang yang sudah menyia-nyiakan hidupnya. “Aduh, gak ada pilihan lain. Satu-satunya cara untuk menyembunyikan mata bengkak ini dengan cara pake kacamata hitam. Biarin deh dikira buta juga, yang penting gak bikin malu di depan tamu nanti.” Eliana mulai mencari-cari kacamata hitamnya di dalam laci meja riasnya. “Oke, sudah bagus. Dari pada mendapat surat pemecatan dari ibu Diana, itu lebih horror.” ujar Eliana sambil bergidik ngeri ketika membayangkan itu. Dengan semangat empat lima, Eliana meninggalkan rumah hendak berangkat bekerja. Selama di perjalanan, Eliana selalu disuguhkan dengan jalan raya ramai namun masih lancar. Dia berangkat ke café dengan berjalan kaki. Bukan tidak ingin memiliki kendaraan pribadi, tapi dia belum mempunyai uang. Dulu sih punya, tapi dipinjam oleh Revan dan sampai saat ini belum dia ganti. Memang kurang ajar si Revan. Walau pun uang lima juta yang dipinjam masih belum cukup untuk membeli motor baru, tapi cukup jika membeli sepeda motor bekas asal layak pakai. Rasanya menyesal Eliana telah meminjamkan uang tabungannya dulu. Revan yang kuliah, tapi Eliana yang dibuat pusing. “Hah, sudahlah. Jika diingat-ingat, maka perasaanku kembali perih.” Eliana membuang nafas berat ketika sekelebat ingatan masalalu kembali terngiang di kepala. Saat Eliana larut dalam lamunan, tiba-tiba mobil metalic hitam melaju kencang melintasi genangan air di jalan yang rusak sampai air genangan itu menciprati baju seragam Eliana hingga terlihat agak kotor. Eliana yang merasa tidak terima, meneriaki pengemudi mobil itu. “Hei, berhenti di situ! Bajuku kotor karena mobilmu!” suara Eliana memekik dengan urat leher yang sedikit menegang. Namun seperkian detik kemudian, Eliana dibuat terkesiap saat tahu mobil siapa yang telah menyiprati genangan air ke bajunya tadi. Mobil metalic warna hitam mengkilat sangat Eliana hafal pemiliknya. “Bukankah itu mobil Emely?” gumam Eliana dengan wajah syok. Mobil itu menepi setelah diteriaki oleh Eliana. Kaca mobilnya perlahan turun, menampilkan siapa pemilik mobil mewah itu. Dan benar saja. Di dalam mobil itu, ada Emely. Menandakan kalau kendaraan bergengsi itu benar-benar miliknya. “Eliana? Oops, sorry! Aku gak lihat kalau ada orang yang sedang berjalan di sisi jalan tadi. Aku gak nyangka kalau ternyata kita akan bertemu di sini, disaat kamu dalam keadaan menyedihkan.” ucap Emely yang meminta maaf kepada Eliana tanpa turun dari mobilnya, namun nadanya terkesan merendahkan dan mengolok Eliana. “Sampai nanti!” Emely berpamitan kepada Eliana sambil melambaikan jemarinya di balik kaca mobilnya, kemudian Eliana bisa mendengar tawa terbahak dari mulut Emely yang kurang ajar itu, dibarengi dengan tawa dari suara pria. Eliana menatap kepergian Emely dengan tangan yang mengepal. Dia tau betul, kalau suara tawa dari seorang pria di dalam mobilnya adalah suara Revan. “Jadi mereka sengaja melindas genangan air itu untuk mempermalukanku? Dasar sialan!” maki Eliana setelah mobil metalic itu pergi menjauh. Dengan perasaan kacau dan campur aduk, Eliana tetap memacu langkah ke tempat bekerjanya. Tanpa terasa, kini dia sudah menginjakkan kaki di pelataran café tempat pekerjaannya. Livia segera menghampiri Eliana yang tampak kacau. Dia memandangi temannya dengan wajah cemas. “Eliana, kamu baik-baik saja? Kau hampir terlambat!” “Iya. Aku baik. Tapi bajuku kotor gara-gara Emely...” terang Eliana dengan wajah melas. “Ya udah, cepet bersihin nodanya sebelum Bu Diana datang. Nanti dia marahin kamu.” Livia segera menuntun Eliana untuk segera menuju toilet. * * * Eliana sedang makan siang dengan Livia. Waktu istirahat mereka hanya diberi jatah dua puluh lima menit, setelah itu mereka harus kembali disibukkan oleh pekerjaan. Apalagi ini hari minggu, di mana Customer sedang ramai-ramainya. “Liv, makannya udah belum? Aku udah mau cuci tangan, nih. Kasian Chiko sendirian aja, sampai kelihatan sibuk banget tuh dia.” tunjuk Eliana kepada Chiko yang sibuk mengepul piring-piring kotor bekas makan Customer. Chiko adalah rekan pramusaji Eliana, bedanya dia adalah laki-laki. “Ya sudah, kamu duluan saja dulu. Aku masih nanggung, nih.” sahut Livia sambil menggerogoti ceker ayam mercon miliknya. Eliana mengangguk. Saat dia tengah membereskan piring bekas makannya sendiri, tiba-tiba matanya melihat tamu baru masuk. Bukan soal tamunya yang datang, melainkan siapa yang datang. “Emely? Revan? Mau apa lagi mereka...”Hyaa! Max memulai serangan pertama kepada Aron dengan cara melayangkan satu pukulan. Namun Aron berhasil menghindari serangan, sebisa mungkin Aron akan menghindarinya. Mereka menyerang dari berbagai arah, pistol dan pisau berkilau di tangan mereka. Aron berputar, mengantisipasi serangan. Meningkatkan rasa awas dan kehati-hatian. Salah satu dari mereka berlari maju menyerang Aron menggunakan pisau. Aron yang sudah siaga kembali menghindari dan menarik tangan yang mengayunkan pisau itu lalu menelintirnya hingga terdengar retakan tulang. “Aaaa!” pria yang menyerang menggunakan pisau itu memekik kesakitan saat Aron dengan bengis mematahkan lengannya. Bugh! Aron menjatuhkannya begitu saja. Lalu matanya kembali menatap liar pada yang lain. Serangan kedua, kini dilakukan tiga orang sekaligus. Ketiga orang itu memposisikan diri seperti lingkaran yang mengungkung keberadaan Aron di tengah gelapnya malam. Namun itu tidak membuat Aron gentar sedikitpun. Dia semakin tertantang. Du
Eliana sudah bersiap hendak berpamit pergi. Ia hanya menginap semalam bersama Aron, karena malam ini Eliana harus kembali bekerja di shif malam. Waktu sudah menunjuk angka tiga sore. Jadi Eliana harus segera berangkat sekarang jika tidak ingin pulang terlalu malam. “Kau yakin mau langsung pulang hari ini?” tanya Medina dengan mata menggembun. “Iya, Bu. Eliana harus kembali bekerja.” sahut Eliana dengan suara sedih. “Ibu merasa... ini pertemuan terakhir kita, Eliana. Ibu merasa... kita akan terpisah dalam waktu lama.” Eliana menghela nafas berat. “Huh... itu hanya perasaan ibu saja. Eliana berangkat, ya, Bu. Sebelum hari gelap.” Eliana meraih tangan berkeriput halus itu lalu mengecup takzim. “Hati-hati Eliana. Bapak akan selalu merindukanmu.” Ernad mengecup kening Eliana penuh kasih. Begitu pun dengan Aron. Pria itu melakukan hal sama seperti yang Eliana lakukan. Berpamitan dengan baik dan sopan kepada orangtua Eliana. Tibalah di Nayla. Gadis itu tampak merengut sedih
Suasana kediaman Eliana semakin meriah ketika Aron dipersilakan masuk ke dalam. Sepertinya orangtua beserta kedua adiknya, menerima dengan baik kehadiran Aron. Terbukti dari cara mereka menyambut dengan penuh keramahan serta humble untuk lebih mengakrabkan diri. Sedangkan Eliana menatap tajam pada Aron, seperti kilatan pedang yang siap menghunus lawan. Aron duduk di sofa dengan wajah tenang. Di sebelahnya, ada adik Eliana bernama, Nayla. Nayla adalah anak kedua Ernad, yang saat ini masih menduduki sekolah menengah pertama. Sedangkan si bungsu bernama, Erdan, yang masih menduduki sekolah dasar. “Jadi, nama kamu ... Aron, ya?” tanya ayah dari Eliana sambil memandangi Aron dari sofa seberang. “Betul, Om. Saya Aron, teman kencan Eliana.” sahutnya, jujur. Membenarkan pertanyaan ayah Eliana bernama, Ernad. “Teman kencan, dalam artian kekasih, ’kan?” tohok Ernad, membuat Eliana tersedak salivanya sendiri. Uhuk! Uhuk! Eliana terbatuk-batuk saking terkejut mendengar praduga sang ay
Eliana telah sampai di terminal. Ia mencari bus yang beroperasi sesuai dengan tujuan akhir. Para kernet dari masing-masing bus meneriakan area pemberhentian mereka untuk menarik perhatian penumpang. Kemudian Eliana mulai mendengar seorang kernet meneriaki kampung halamannya. “Mau naik bus ini?” tanya kernet yang berjaga di pintu depan. Eliana mengangguk sambil menunjukkan tiket yang telah ia beli di loket sebelumnya. Kernet itu menerima lalu mengamati. “Benar. Ini bus yang sesuai dengan tujuan Anda.” Kernet itu mengembalikan lagi tiket itu lalu mempersilakan Eliana masuk untuk menaiki bus itu. Sesampainya di dalam, pandangan Eliana kembali mengedar. Dia bermaksud mencari nomor urut bangku yang sesuai dengan yang tertera di nomor tiketnya, dan Eliana mendapat kursi bagian double seat yang tepat berada di sisi jendela. Eliana duduk. Suasana bus masih sepi, belum terlalu banyak penumpang. Jadi Eliana akan sarapan roti kemasan sebelum memulai perjalanan. Tiba-tiba seorang pr
Hari yang dinanti-nanti tiba. Hari ini waktunya semua karyawan café menerima upah dari hasil jeri payah mereka. Eliana yang berdiri di depan pintu ruang Ibu Diana sambil menunggu giliran merasa excited. Ia tidak sabar ingin pulang ke kampung lalu memeluk tubuh Ibu dan Ayah beserta kedua adiknya. “Eliana Emelinda...” panggil Bu Diana yang menggemakan nama Eliana. Eliana masuk lalu menunggu gaji tuk diserahkan. “Duduk!” titah Bu Diana. Eliana duduk dengan senyum canggung di bibirnya. Menunggu sesuatu yang dinanti-nanti sejak lama. Ibu Diana mengela nafas sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Kemudian mendorong pelan di permukaan meja kerja untuk diserahkan kepada Eliana. “Ini gaji kamu untuk bulan ini. Tapi sebelumnya saya meminta maaf, sebab gajimu aku potong untuk biaya ganti rugi properti yang rusak pasca keributan yang terjadi karenamu bersama Customer kemarin, Eliana.” Eliana menatap Ibu Diana tanpa berkedip, lalu beralih ke amplop coklat yang teronggok d
Eliana sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Kali ini dia bekerja di shif malam, bergantian dengan rekannya yang lain. Yang pasti, Livia juga shif malam sama seperti Eliana. “Semua keperluanku sudah siap. Tinggal berangkat.” Eliana berjalan mendekati pintu depan lalu membukanya perlahan. Namun, saat pintu itu terbuka lebar, sosok yang amat Eliana kenal sudah berdiri memandangi rumah kontrakannya. “Arif? Kamu di sini?” heran Eliana, sekaligus senang hatinya. Namun pria yang diduga Eliana sebagai Arif itu melengos ke arah lain, meninggalkan Eliana yang masih termangu sambil memandangi kepergiannya. “Dia itu kenapa, sih? Setiap aku tanya diam, ngilang... aneh banget!” gerutu Eliana yang merasa sebal dengan tingkah laku pria itu. * * * Eliana sudah sampai di café. Bahkan dia sudah memulai pekerjaannya bersama dengan Livia. Kini mereka sedang mengelap piring basah setelah dicuci tadi. “Bagaimana rencanamu di acara pertunangan Revan? Sukses?” tanya Livia. “Sukses, dong!







