Mag-log inEliana duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Bu Diana. Kemudian Ibu Diana menyusul untuk duduk di kursinya, lalu menatap Eliana dengan wajah menghakimi.
“Eliana, kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan terhadap Customer tadi?” tanya Ibu Diana sambil mengintimidasi. Eliana mengangguk kecil dengan wajah gusar. “Iya. Aku sadar.” sahut Eliana. “Dan kamu tau, apa sanksi yang akan kamu dapat?” tanya Ibu Diana lagi. Eliana membuang nafas berat. “Huh... dipecat.” Ibu Diana menatap wajah Eliana sejenak, sebelum memutuskan apa yang akan Eliana terima selanjutnya. Apakah dipecat, atau ada alasan lain untuk mempertahankan Eliana supaya diterima lagi untuk bekerja. “Selama ini kamu bekerja untuk keluarga, bukan?” selidik Bu Diana. “Betul.” “Kalau begitu, kamu saya beri kesempatan untuk bertahan di café ini.” putus Bu Diana. “Jangan diulangi lagi, paham? Karena setiap pengunjung wajib kita hormati dan diberikan pelayanan terbaik. Meskipun... permintaannya sedikit menguras emosi.” “Baik, Bu. Lain kali tidak akan saya ulangi.” Eliana hanya mengangguk saja sambil mengucapkan rasa berterima kasih tanpa berniat menjelaskan permasalahan sebelumnya, mengenai siapa yang mulai atau siapa yang salah. “Ya sudah, kembali bekerja. Bersihkan bajumu sebelum memulai kembali pekerjaan.” titah Ibu Diana sambil mempersilakan Eliana untuk keluar. Setelah mendapat peringatan di ruang Ibu Diana, hari penuh drama pun berakhir. Kini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, saatnya Eliana untuk pulang. Sebelum pulang, Eliana memastikan pekerjaannya sudah benar-benar selesai sebelum karyawan shif malam datang. “Ayo, kita pulang, Lin.” ajak Livia yang sudah bersiap untuk pergi. “Sebentar, tinggal satu meja lagi.” Eliana mengelap meja terakhir sampai benar-benar kinclong. Dan tak lama, karyawan shif malam pun datang menggantikan pekerjaan mereka. Sepanjang perjalanan, keheningan malam dihiasi oleh obrolan Eliana dan Livia. Mereka masih membahas masalah memalukan tadi yang disebabkan oleh Emely. “Eliana, apa kamu yakin akan tetap datang setelah apa yang Emely lakukan padamu?” “Ya, sepertinya begitu. Aku akan menunjukkan, kalau aku bisa hidup tanpa Revan. Jika aku menolak datang, pasti Emely merasa menang dan menertawakan kehancuranku, itu tidak boleh terjadi.” sahut Eliana yang terdengar yakin, namun terselip rasa ragu. “Tapi aku bingung hendak datang dengan siapa. Jika aku datang sendiri tanpa pasangan, mereka pasti akan mengejekku lagi dengan pura-pura bertanya kabar lalu beralih ke pasangan. Itu menjengkelkan.” “Ya sudah, pakai caraku saja. Kamu sewa jasa pacar online untuk ke acara pertunangan Emely, beres, ’kan?” usul Livia asal, namun sempat terpikir oleh Eliana sebelumnya. “Ya. Aku sempat berpikir begitu. Tapi, apa mahal tarif sewanya? Hari masih jauh ke gajihan, mana mungkin aku sanggup membayar jika tarifnya mahal.” nada Eliana berubah lesu. “Tenang... gak mahal-mahal banget, kok! Tergantung dengan siapa kamu kencan. Kalau ganteng dan keren, pasti lumayan mahal. Kamu cari yang biasa saja, asal jangan malu-maluin saja.” kelakar Livia. “Kalau jelek buat apa, Liv? Mereka akan semakin menertawakanku.” sewot Eliana, kemudian mendengus. “Sudahlah, minta saran sama kamu sama saja menjerumuskan. kita jumpa lagi, besok!” Eliana dan Livia berpisah di jalan besar, sebab rumah Eliana dan Livia memang berbeda arah. Rumah Livia memasuki gang kecil, sedangkan rumah kontrakan Eliana masih lumayan jauh untuk ditempuh. Tapi itu tidak menyurutkan rasa semangatnya untuk mencari uang. Baginya, keuangan orangtua yang terbantu olehnya, sangat membuatnya bahagia. Karena di dalam rezekinya, Eliana bisa membantu biaya sekolah adik-adiknya. Dia hanya berdo'a, semoga badannya selalu sehat untuk terus bisa berpenghasilan. Sebelum melangkah pulang ke kontrakan, Eliana berniat singgah ke salah satu butik, di mana butik itu menyediakan jasa rental gaun atau sewa baju untuk dia kenakan di acara pertunangan Emely dan Revan tanpa perlu membeli mahal-mahal. Toh, hanya dipakai sekali. Kringgg! Lonceng yang digantung tepat di atas pintu berbunyi saat Eliana mendorongnya. Penjaga butik datang menghampiri dan menyambut Eliana. “Selamat datang di butik kami. Apa yang anda butuhkan?” sapa penjaga butik, sekaligus bertanya. “Aku mau sewa gaun ... gaun buat ke acara pesta pertunangan, apakah ada?” “Gaun jenis apa? A-line? Mermaid? Ball gown?Sheath? Fit-and-flare?” tawar penjaga butik, membuat Eliana melongo seketika. Dia sangat awam masalah pakaian mecing itu. Bagaimana aku tahu jenis gaun-gaun itu? Yang aku tau semua nama itu hanyalah... gaun saja. Eliana meringis, “Apa saja boleh, yang penting gaun.” sahutnya asal. Padahal kebenarannya adalah, Eliana tidak tahu model. Pelayan butik itu mengangguk, mengerti. “Baiklah. Kalau begitu, kami akan merekomendasikan model terbaru dari butik kami. Gaun model terbaru kami di sini adalah, gaun ball gown berwarna caramel ini. Sangat glamour jika dikenakan oleh anda.” kata pelayan butik itu sambil menampilkan gaun yang disebutkannya tadi. “Iya. Bagus sekali. Berapa harga sewanya?” tanya Eliana yang terpukau dengan gaun itu. “Harga sewanya per-sekali pakai kisaran, lima juta saja, kak!” jawab pelayan itu, enteng. Glek! Eliana meneguk salivanya yang mendadak seret. Lima juta? Gajiku saja tidak sampai lima juta. “Eh, begini saja. Aku, kan, cuma sekali pakai saja. Sayang kalau terlalu mahal. Yang paling murah saja, ada?” Pinta Eliana, malu-malu. Pelayan yang semula beramah-ramah, menyurutkan senyum. “Ada.” jawabnya berubah datar. Eliana menunggu dengan harapan cemas. Sambil menunggu, dia menatapi gaun-gaun dan koleksi lain dari bukti itu sampai pelayan toko tadi kembali sambil membawakan sebuah gaun. “Hanya ini. Tidak ada lagi. Harganya satu juta per-sekali pakai.” Pelayan toko menyodorkan gaun jenis A-line tanpa variasi, alias polos, berwarna hitam. Eliana mengelus dada. Harga paling murah berkisar satu juta. Mana gajihan masih lama. “Sebentar...” Eliana merogoh tas selempangnya, lalu mulai menghitung uang di dalamnya. “Satu juta tiga ratus. Cukup, sih. Tapi bagaimana untuk sehari-hari, ya?” gumam Eliana, bimbang. “Bagaimana, jadi atau tidak?” Tanggung kepalang. Eliana juga sudah banyak merepotkan pelayan toko. Jadi dengan berat hati, akhirnya dia menerima gaun itu dengan tarif satu juta. Transaksi berhasil. Eliana berhasil membawa pulang gaun itu walau harus merelakan uang satu juta miliknya. Kini di dalam tasnya tersisa tiga ratus ribu, belum lagi untuk jasa menyewa pacar online nanti. Eliana menghela nafas. “Huh, sudahlah. Urusan sewa pacar nanti biar aku pikirkan lagi.” Eliana kembali menyusuri jalan di tengah pekatnya malam. Dia melihat arlojinya yang melingkar di pergelangannya. Waktu sudah menunjuk angka sebelas, di mana kebanyakan orang sudah tertidur pulas. Namun dirinya masih berkeliaran di luar. Tanpa sadar, Eliana sudah memasuki jalan kecil menuju kontrakannya. Suasana sekitar amat gelap, hanya bermodalkan lampu jalan yang redup. Tiba-tiba Eliana merasa merinding. Bulu kuduknya meremang. Dia merasa ada sesuatu yang mengintai. Dia menyapu sekeliling, namun tidak ada siapapun di sekitarnya. Semua tampak hening saja. Eliana mempercepat langkahnya. Namun semakin dia mempercepat langkah, justru hatinya kian terasa terancam. Dia seperti mendengar derap langkah kaki yang tergesa mengejar dari belakang, akan tetapi kali ini nyali Eliana tidak cukup berani walau hanya sekedar menoleh. Tibalah dia di kontrakannya. Dengan tangan gemetar, Eliana segera memutar anak kunci. Begitu pintu terbuka, lekas dia masuk lalu kembali menguncinya dari dalam. “Huh... aman.” Eliana membuang nafas lega. Dadanya masih naik turun karena nervous. Namun, sebelum Eliana beranjak dari sana, dia sempat mengintip di celah tirai jendela, nampak ada sekelebat bayangan hitam melintas di sekitar rumah kontrakannya.Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia
Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D
Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita
Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana
Eliana mengerjap. Cahaya menyilaukan yang pertama kali menyambut. Dia terbangun dari tidurnya, merasa lelah dan sakit kepala. Eliana membuka mata, dan melihat sekeliling. Dia berada di kamar yang terang, dengan jendela yang lebar bertirai tebal. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan seolah lupa apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ini bukan kastil tempat di mana ia dikurung kemarin. Eliana bangkit. Ia merasa sakit saat tubuhnya dipaksa bangun. Terasa hancur, seperti telah diinjak-injak. Dia kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi, pikirannya mulai menerawang jauh. Tiba-tiba, kenangan itu kembali. Kenangan tentang Aron, tentang apa yang dia lakukan pada dirinya. Eliana merasa dirinya seperti diserang, menyadari tubuhnya telah dijamahi dan dirusak. Mata Eliana mengembun, merasa lemah, tidak ada kekuatan sama sekali yang dia punya untuk melawan. Eliana melihat sekeliling, dan menyadari bahwa dia berada di kamar yang sama seperti mimpi buruk semalam, kamar yang dia tiduri den
Aron melangkah masuk, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Eliana. Dia berhenti di depan jasad Mike, lalu menatap Eliana dengan tajam. “Kamu... kamu yang membiarkannya masuk?” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. Eliana menegang, mencoba menghindari tatapan Aron. Dia hanya mampu menjawab dengan gelengan kecil. Antara mengakui dan tidak. Aron tertawa, tapi tawa itu tidak ada kegembiraan. “Tidak? Lalu siapa yang membiarkan orang ini masuk? Kastil ini tidak bisa dimasuki dengan mudah.” Eliana menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa masuk, tapi tidak bisa menjelaskan itu kepada Aron. Sebab yang Eliana tahu hanyalah... kebebasan. Dia ingin kebebasan. Aron melangkah lebih dekat, membuat Eliana merasa tertekan. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Eliana. Apa itu?” Eliana menatap Aron, matanya penuh ketakutan. “Aku... tidak tahu...” Aron menatapnya dengan tajam, lalu tiba-tiba dia membungkuk dan mengambil kampak yang







