ホーム / Mafia / Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran / Bab 5 | Pacar Sewaan Datang

共有

Bab 5 | Pacar Sewaan Datang

作者: Heni HN
last update 最終更新日: 2025-12-24 15:54:14

Seminggu kemudian... hari yang dikutuk Eliana pun tiba. Hari di mana pertunangan Emely dan Revan akan berlangsung dalam beberapa jam lagi.

Namun Eliana gamang. Dia masih bingung, dengan siapa dia akan datang. Gaun sudah tersedia, tapi tidak dengan pasangan.

“Bagaimana ini. Acara akan berlangsung saat malam nanti. Tapi aku masih belum bersiap untuk acara itu.” Eliana berjalan resah kesana-kemari.

Tiba-tiba Eliana kembali diingatkan dengan jasa sewa pacar online. Livia pernah memberitahunya perihal situs itu. Karena sebelumnya dia memang pernah memakai jasa itu.

“Apa aku ikutan cara Livia saja, ya?” sejenak ragu masih sempat menyeruak. Tapi mengingat tidak ada pilihan lain, akhirnya Eliana iseng membuka situs itu.

Dan begitu tampilan di situs itu terbuka, Eliana melihat deretan gambar wajah banyak orang. Mulai dari pria dan wanita, di antaranya bahkan ada yang masih belia.

“Wih, cakep-cakep, sih. Tapi kok, tidak ada keterangan harganya, ya? Nanti kemahalan lagi.”

Sayangnya foto yang memiliki wajah tampan dan rating tinggi sangat mahal. Eliana tidak mampu membayarnya. Jadi dia memilih yang biasa saja, yang penting bisa diajak kerja sama.

Perhatian Eliana mulai tertuju ke salah satu foto pria yang bernama Arif. Ratingnya juga belum terlalu tinggi, sepertinya dia baru bergabung di situs itu. Eliana mulai menanyakan harga via chat pribadi, dan pria yang bernama Arif merespon.

Tarif sekali kencan, tiga ratus ribu. Cukup terjangkau untuk kantong Eliana yang sedang sekarat. Kemudian mereka berdua mulai membuat janji. Janji kalau sang pacar sewaan untuk datang sebelum jam delapan malam.

* * *

Eliana sudah tampil rapi dan memukau dengan gaun A-line, serta rambut yang digelung indah. Tampak sangat cantik, walau hanya dengan balutan sederhana.

Namun pacar sewaannya masih belum datang. Eliana berusaha menghubungi, panggilan tersambung tapi tidak kunjung diangkat. Terakhir pacar sewanya mengirim pesan padanya dengan singkat. Hanya kata 'OTW'yang berarti dia sedang di perjalannan menuju ke kontrakan Eliana.

“Ini si Arif mana, ya? Sudah hampir jam delapan, tapi dia belum juga datang.” gumam Eliana resah sambil melihat jam dinding di kamarnya.

Eliana melipir ke depan dan mengintip ke arah luar lewat jendela. keadaan di luar sana masih saja hening. Belum ada tanda-tanda Arif akan datang.

Akhirnya Eliana memutuskan untuk menunggu di luar rumah. Dia yang sedang kalut, tidak menyadari ada seseorang yang berjalan tergesa di sekitar depan rumahnya, sampai tubuhnya menabraki orang itu.

Bruk!

Eliana menubruk orang itu hingga badannya hilang keseimbangan. High heels yang menjadi penopang tak lagi mampu menyeimbangkan tubuhnya.

“Aaa!” Eliana menjerit saat tubuhnya hendak terjatuh.

Taph!

Orang itu menangkap pinggang ramping Eliana dengan cepat, sehingga tubuh yang nyaris terjatuh tak sampai menyentuh tanah.

Eliana membeku. Matanya terpaku pada seorang lelaki yang kini tengah mendekap erat. Wajahnya tertutup masker, hanya nampak area mata dan dahi saja. Namun tatapan mata pria itu mampu menghipnotis Eliana. Mata hazel yang indah berwarna coklat terang kehijauan tengah menatapinya. Orang itu menggunakan hoodie besar. Area kepala yang memiliki rambut keemasan ditutupi kupluk.

Jantung Eliana berdegub kencang. Aliran darahnya berdesir hebat. Nafasnya serasa tercekat saking melompat-lompat irama detak jantungnya. Wajahnya tercengang saking terpesonanya.

Dahi orang itu berkedut. Alisnya menyatu saat melihat ekspresi Eliana yang terkesima melihatnya.

Namun kemudian Eliana tersadar. Dia mulai ingat kalau dirinya tidak lagi memiliki waktu banyak.

“Kamu Arif, ’kan? kenapa lama sekali?” sembur Eliana. “Ayo kita berangkat, sekarang! Acara tukar cincin tunangannya akan segera dimulai.” Eliana menyeret langkah pria itu sampai pria itu terpaksa mengikutinya.

“Maaf. Sepertinya, anda salah orang.” kata pria itu, sambil berusaha menahan langkah kakinya.

Eliana memandang pria itu lalu membuang nafas kasar. “Udah deh, gak usah banyak alesan. Udah lambat, masih saja cari pembenaran.” Eliana kembali menarik pria itu untuk ikut ke acara pertunangan Emely dan Revan.

Tiba-tiba jalan yang hendak dilalui Eliana dihadang oleh seorang pria lain. Pria itu berdiri mematung lengkap dengan setelan jas.

“Permisi! Apa kamu perempuan bernama, Eliana?” tanya orang asing itu.

Eliana mendegus. Haih, apalagi sekarang!

“Iya. Saya Eliana. Kamu siapa? Dan ada perlu apa?” tanya Eliana, ketus. Dia benar-benar sedang terburu-buru saat ini.

“Saya Arif! teman kencan yang sudah kamu sewa malam ini.” ujar pria itu yang mengaku-ngaku sebagai Arif.

Eliana terbelalak.

“Tidak mungkin. Arif sudah bersamaku sekarang. Kamu jangan mengaku-aku, ya!” hardik Eliana.

“Benar saya Arif, Mbak! Lihat, aku sudah rapi dengan setelan untuk menemanimu ke pesta malam ini.” bela pria yang mengaku Arif itu sambil menunjuk diri.

Eliana mulai tersadar. Akhirnya dia memindai penampilan orang yang diduga Arif dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai Arif.

Benar. Orang yang aku tabrak tadi memakai hoodie. Dan orang yang baru datang ini... pakai jas.

“Tapi mukamu beda sama yang di foro profil? Di foto cakep, aslinya beda. Lebih mirip yang ini.” tunjuk Eliana kepada pria yang ia duga sebagai Arif, pacar sewaannya.

“Beda bagaimana? Aslinya juga ganteng, kok!” sahut orang yang mengaku-ngaku sebagai Arif itu.

“Sudahlah! Aku mau jalan sama Arif yang ini saja. Soalnya mukamu kayak copet!” kata Eliana sambil berlari mengajak orang yang ia duga Arif samapai membuat orang yang mengaku-ngaku sebagai Arif itu tertohok.

“Loh, Mbak Eliana! Lalu bayaranku bagaimana?” teriak orang itu kepada Eliana yang sudah pergi menjauh.

* * *

Eliana membuang nafas lega begitu berhasil menjauh dari orang yang mengaku sebagai pacar sewanya. Kini dia berhenti di depan ruko yang tutup sambil memandangi pacar sewaannya yang ini.

“Kamu, kok, pakai hoodie? Harusnya pakai jas seperti orang tadi!” Eliana ingin menyugar rambut sanggulnya. Seandainya bukan karena ada acara, Eliana pasti sudah mengacaukan riasan itu sedari tadi.

Pria itu hanya diam. Wajahnya masih dibalut masker hitam yang menutupi separuh wajah.

“Aku sudah tidak punya uang untuk menyewakanmu setelan jas. Hanya ada tarif untuk membayarmu saja, itu pun aku pinjam ke Livia.” terang Eliana dengan nada lemas.

Namun pria itu masih saja diam. Tanpa berniat menyahut atau sekedar menjawab sepatah-duapatah.

“Kamu bisu, ya? Ditanya, diam saja.”

Karena kesal pria itu hanya diam, akhirnya Eliana kembali melanjutkan perjalanan menuju pesta dengan rasa terpaksa mengajak pria itu yang hanya mengenakan hoodie dan celana jeans.

* * *

Sesampainya di acara pertunangan, Eliana langsung disuguhkan dengan sambutan meriah oleh properti acara. Hiasan yang indah dengan tema indoor yang mewah. Emely dan Revan yang melihat Eliana datang, bergegas menghampirinya.

“Hai, Eliana! Selamat datang! Aku pikir kamu tidak akan datang.” sambut Emely sambil tersenyum, namun dari nada bicaranya terkesan mengejek.

“Aku pasti datang! Aku tidak mau dikira patah hati karena hubungan yang sudah lalu.” sahut Eliana yang menantang Emely sambil melihat ke arah Revan, seolah sedang menyinggung.

“Kamu benar!” Emely menyadarkan diri ke pundak Revan untuk memanasi Eliana. “Kalau kamu sudah melupakan Revan, lalu dengan siapa kamu datang ke sini?” tanya Emely yang kembali menantang pengakuan Eliana tadi.

Eliana gugup. Tangannya memikin jari, ragu. Ragu untuk mengatakan dengan siapa ia datang. Perlahan, matanya melirik ke arah teman kencannya yang sudah ia sewa yang tengah berdiri tepat di sampingnya.

Emely mengikuti gerakan mata Eliana yang terarah pada pria di sampingnya, membuat Emely kembali tergelak. Memancing seluruh tamu yang hadir di acara pertunangannya.

“Kau datang dengannya?” tanya Emely dengan wajah tidak percaya sekaligus mencemooh. “Tidak salah?” mata Emely mulai terarah pada Revan yang juga tengah menahan tawa.

Eliana semakin menenggelamkan wajahnya. Dia hanya bisa menunduk dalam sambil menahan rasa malu.

“Pacarmu... menggunakan hoodie saat ke pesta? Lucu sekali!” kelakar Emely yang mengundang gelak tawa yang lain.

“Lihat! Bahkan dia mengenakan masker!” sahut yang lain, membuat suasana Eliana semakin berkabung.

Eliana semakin tertunduk. Matanya terasa pedih dan memerah. Pandangannya mulai berkabut oleh tangis yang tertahan. Bahkan suhu tubuhnya mendadak dingin. Pada kenyataannya, sekeras apapun ia berjuang, tetap dipandang rendah oleh semua orang—terutama Emely dan Revan.

Tidak! Bukan ini yang aku mau!

Jerit Emely di dalam hati.

Saat gelak tawa merundungnya, tiba-tiba telapak tangan seseorang terulur mengamit jemarinya yang dingin, kemudian menggenggam erat. Suhu hangat terasa mengaliri nadinya yang terasa tersendat, lalu Eliana melihat siapa yang kini tengah menggenggam erat tangannya.

Ternyata Arif, pacar sewaannya.

Mau apa dia menggenggam tanganku? Bukankah rasa malu ini tercipta olehnya?

Pria yang diduga pacar sewaan Eliana mulai bereaksi. Dia membuka masker lalu menurunkan kupluk hoodienya. Dan semua yang melihat itu terdiam, termasuk Eliana.

“Maaf, saya salah kostum di sini. Itu karena saya terburu-buru hendak menjemput Eliana.” jelas pria itu, membuat Eliana dan yang lain tercengang. Bahkan Emely pun sampai tidak bisa berkata-kata.

Dia tampam sekali...

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 12 | Dia milikku!

    Hyaa! Max memulai serangan pertama kepada Aron dengan cara melayangkan satu pukulan. Namun Aron berhasil menghindari serangan, sebisa mungkin Aron akan menghindarinya. Mereka menyerang dari berbagai arah, pistol dan pisau berkilau di tangan mereka. Aron berputar, mengantisipasi serangan. Meningkatkan rasa awas dan kehati-hatian. Salah satu dari mereka berlari maju menyerang Aron menggunakan pisau. Aron yang sudah siaga kembali menghindari dan menarik tangan yang mengayunkan pisau itu lalu menelintirnya hingga terdengar retakan tulang. “Aaaa!” pria yang menyerang menggunakan pisau itu memekik kesakitan saat Aron dengan bengis mematahkan lengannya. Bugh! Aron menjatuhkannya begitu saja. Lalu matanya kembali menatap liar pada yang lain. Serangan kedua, kini dilakukan tiga orang sekaligus. Ketiga orang itu memposisikan diri seperti lingkaran yang mengungkung keberadaan Aron di tengah gelapnya malam. Namun itu tidak membuat Aron gentar sedikitpun. Dia semakin tertantang. Du

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 11 | Serangan Tak Terduga

    Eliana sudah bersiap hendak berpamit pergi. Ia hanya menginap semalam bersama Aron, karena malam ini Eliana harus kembali bekerja di shif malam. Waktu sudah menunjuk angka tiga sore. Jadi Eliana harus segera berangkat sekarang jika tidak ingin pulang terlalu malam. “Kau yakin mau langsung pulang hari ini?” tanya Medina dengan mata menggembun. “Iya, Bu. Eliana harus kembali bekerja.” sahut Eliana dengan suara sedih. “Ibu merasa... ini pertemuan terakhir kita, Eliana. Ibu merasa... kita akan terpisah dalam waktu lama.” Eliana menghela nafas berat. “Huh... itu hanya perasaan ibu saja. Eliana berangkat, ya, Bu. Sebelum hari gelap.” Eliana meraih tangan berkeriput halus itu lalu mengecup takzim. “Hati-hati Eliana. Bapak akan selalu merindukanmu.” Ernad mengecup kening Eliana penuh kasih. Begitu pun dengan Aron. Pria itu melakukan hal sama seperti yang Eliana lakukan. Berpamitan dengan baik dan sopan kepada orangtua Eliana. Tibalah di Nayla. Gadis itu tampak merengut sedih

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 10 | Aku Mau Hidupmu

    Suasana kediaman Eliana semakin meriah ketika Aron dipersilakan masuk ke dalam. Sepertinya orangtua beserta kedua adiknya, menerima dengan baik kehadiran Aron. Terbukti dari cara mereka menyambut dengan penuh keramahan serta humble untuk lebih mengakrabkan diri. Sedangkan Eliana menatap tajam pada Aron, seperti kilatan pedang yang siap menghunus lawan. Aron duduk di sofa dengan wajah tenang. Di sebelahnya, ada adik Eliana bernama, Nayla. Nayla adalah anak kedua Ernad, yang saat ini masih menduduki sekolah menengah pertama. Sedangkan si bungsu bernama, Erdan, yang masih menduduki sekolah dasar. “Jadi, nama kamu ... Aron, ya?” tanya ayah dari Eliana sambil memandangi Aron dari sofa seberang. “Betul, Om. Saya Aron, teman kencan Eliana.” sahutnya, jujur. Membenarkan pertanyaan ayah Eliana bernama, Ernad. “Teman kencan, dalam artian kekasih, ’kan?” tohok Ernad, membuat Eliana tersedak salivanya sendiri. Uhuk! Uhuk! Eliana terbatuk-batuk saking terkejut mendengar praduga sang ay

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 9 | Pengenalan Diri—Aron

    Eliana telah sampai di terminal. Ia mencari bus yang beroperasi sesuai dengan tujuan akhir. Para kernet dari masing-masing bus meneriakan area pemberhentian mereka untuk menarik perhatian penumpang. Kemudian Eliana mulai mendengar seorang kernet meneriaki kampung halamannya. “Mau naik bus ini?” tanya kernet yang berjaga di pintu depan. Eliana mengangguk sambil menunjukkan tiket yang telah ia beli di loket sebelumnya. Kernet itu menerima lalu mengamati. “Benar. Ini bus yang sesuai dengan tujuan Anda.” Kernet itu mengembalikan lagi tiket itu lalu mempersilakan Eliana masuk untuk menaiki bus itu. Sesampainya di dalam, pandangan Eliana kembali mengedar. Dia bermaksud mencari nomor urut bangku yang sesuai dengan yang tertera di nomor tiketnya, dan Eliana mendapat kursi bagian double seat yang tepat berada di sisi jendela. Eliana duduk. Suasana bus masih sepi, belum terlalu banyak penumpang. Jadi Eliana akan sarapan roti kemasan sebelum memulai perjalanan. Tiba-tiba seorang pr

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 8 | Tulisan Darah

    Hari yang dinanti-nanti tiba. Hari ini waktunya semua karyawan café menerima upah dari hasil jeri payah mereka. Eliana yang berdiri di depan pintu ruang Ibu Diana sambil menunggu giliran merasa excited. Ia tidak sabar ingin pulang ke kampung lalu memeluk tubuh Ibu dan Ayah beserta kedua adiknya. “Eliana Emelinda...” panggil Bu Diana yang menggemakan nama Eliana. Eliana masuk lalu menunggu gaji tuk diserahkan. “Duduk!” titah Bu Diana. Eliana duduk dengan senyum canggung di bibirnya. Menunggu sesuatu yang dinanti-nanti sejak lama. Ibu Diana mengela nafas sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Kemudian mendorong pelan di permukaan meja kerja untuk diserahkan kepada Eliana. “Ini gaji kamu untuk bulan ini. Tapi sebelumnya saya meminta maaf, sebab gajimu aku potong untuk biaya ganti rugi properti yang rusak pasca keributan yang terjadi karenamu bersama Customer kemarin, Eliana.” Eliana menatap Ibu Diana tanpa berkedip, lalu beralih ke amplop coklat yang teronggok d

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 7 | Bukan Arif

    Eliana sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Kali ini dia bekerja di shif malam, bergantian dengan rekannya yang lain. Yang pasti, Livia juga shif malam sama seperti Eliana. “Semua keperluanku sudah siap. Tinggal berangkat.” Eliana berjalan mendekati pintu depan lalu membukanya perlahan. Namun, saat pintu itu terbuka lebar, sosok yang amat Eliana kenal sudah berdiri memandangi rumah kontrakannya. “Arif? Kamu di sini?” heran Eliana, sekaligus senang hatinya. Namun pria yang diduga Eliana sebagai Arif itu melengos ke arah lain, meninggalkan Eliana yang masih termangu sambil memandangi kepergiannya. “Dia itu kenapa, sih? Setiap aku tanya diam, ngilang... aneh banget!” gerutu Eliana yang merasa sebal dengan tingkah laku pria itu. * * * Eliana sudah sampai di café. Bahkan dia sudah memulai pekerjaannya bersama dengan Livia. Kini mereka sedang mengelap piring basah setelah dicuci tadi. “Bagaimana rencanamu di acara pertunangan Revan? Sukses?” tanya Livia. “Sukses, dong!

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status