LOGINSeminggu kemudian... hari yang dikutuk Eliana pun tiba. Hari di mana pertunangan Emely dan Revan akan berlangsung dalam beberapa jam lagi.
Namun Eliana gamang. Dia masih bingung, dengan siapa dia akan datang. Gaun sudah tersedia, tapi tidak dengan pasangan. “Bagaimana ini. Acara akan berlangsung saat malam nanti. Tapi aku masih belum bersiap untuk acara itu.” Eliana berjalan resah kesana-kemari. Tiba-tiba Eliana kembali diingatkan dengan jasa sewa pacar online. Livia pernah memberitahunya perihal situs itu. Karena sebelumnya dia memang pernah memakai jasa itu. “Apa aku ikutan cara Livia saja, ya?” sejenak ragu masih sempat menyeruak. Tapi mengingat tidak ada pilihan lain, akhirnya Eliana iseng membuka situs itu. Dan begitu tampilan di situs itu terbuka, Eliana melihat deretan gambar wajah banyak orang. Mulai dari pria dan wanita, di antaranya bahkan ada yang masih belia. “Wih, cakep-cakep, sih. Tapi kok, tidak ada keterangan harganya, ya? Nanti kemahalan lagi.” Sayangnya foto yang memiliki wajah tampan dan rating tinggi sangat mahal. Eliana tidak mampu membayarnya. Jadi dia memilih yang biasa saja, yang penting bisa diajak kerja sama. Perhatian Eliana mulai tertuju ke salah satu foto pria yang bernama Arif. Ratingnya juga belum terlalu tinggi, sepertinya dia baru bergabung di situs itu. Eliana mulai menanyakan harga via chat pribadi, dan pria yang bernama Arif merespon. Tarif sekali kencan, tiga ratus ribu. Cukup terjangkau untuk kantong Eliana yang sedang sekarat. Kemudian mereka berdua mulai membuat janji. Janji kalau sang pacar sewaan untuk datang sebelum jam delapan malam. * * * Eliana sudah tampil rapi dan memukau dengan gaun A-line, serta rambut yang digelung indah. Tampak sangat cantik, walau hanya dengan balutan sederhana. Namun pacar sewaannya masih belum datang. Eliana berusaha menghubungi, panggilan tersambung tapi tidak kunjung diangkat. Terakhir pacar sewanya mengirim pesan padanya dengan singkat. Hanya kata 'OTW'yang berarti dia sedang di perjalannan menuju ke kontrakan Eliana. “Ini si Arif mana, ya? Sudah hampir jam delapan, tapi dia belum juga datang.” gumam Eliana resah sambil melihat jam dinding di kamarnya. Eliana melipir ke depan dan mengintip ke arah luar lewat jendela. keadaan di luar sana masih saja hening. Belum ada tanda-tanda Arif akan datang. Akhirnya Eliana memutuskan untuk menunggu di luar rumah. Dia yang sedang kalut, tidak menyadari ada seseorang yang berjalan tergesa di sekitar depan rumahnya, sampai tubuhnya menabraki orang itu. Bruk! Eliana menubruk orang itu hingga badannya hilang keseimbangan. High heels yang menjadi penopang tak lagi mampu menyeimbangkan tubuhnya. “Aaa!” Eliana menjerit saat tubuhnya hendak terjatuh. Taph! Orang itu menangkap pinggang ramping Eliana dengan cepat, sehingga tubuh yang nyaris terjatuh tak sampai menyentuh tanah. Eliana membeku. Matanya terpaku pada seorang lelaki yang kini tengah mendekap erat. Wajahnya tertutup masker, hanya nampak area mata dan dahi saja. Namun tatapan mata pria itu mampu menghipnotis Eliana. Mata hazel yang indah berwarna coklat terang kehijauan tengah menatapinya. Orang itu menggunakan hoodie besar. Area kepala yang memiliki rambut keemasan ditutupi kupluk. Jantung Eliana berdegub kencang. Aliran darahnya berdesir hebat. Nafasnya serasa tercekat saking melompat-lompat irama detak jantungnya. Wajahnya tercengang saking terpesonanya. Dahi orang itu berkedut. Alisnya menyatu saat melihat ekspresi Eliana yang terkesima melihatnya. Namun kemudian Eliana tersadar. Dia mulai ingat kalau dirinya tidak lagi memiliki waktu banyak. “Kamu Arif, ’kan? kenapa lama sekali?” sembur Eliana. “Ayo kita berangkat, sekarang! Acara tukar cincin tunangannya akan segera dimulai.” Eliana menyeret langkah pria itu sampai pria itu terpaksa mengikutinya. “Maaf. Sepertinya, anda salah orang.” kata pria itu, sambil berusaha menahan langkah kakinya. Eliana memandang pria itu lalu membuang nafas kasar. “Udah deh, gak usah banyak alesan. Udah lambat, masih saja cari pembenaran.” Eliana kembali menarik pria itu untuk ikut ke acara pertunangan Emely dan Revan. Tiba-tiba jalan yang hendak dilalui Eliana dihadang oleh seorang pria lain. Pria itu berdiri mematung lengkap dengan setelan jas. “Permisi! Apa kamu perempuan bernama, Eliana?” tanya orang asing itu. Eliana mendegus. Haih, apalagi sekarang! “Iya. Saya Eliana. Kamu siapa? Dan ada perlu apa?” tanya Eliana, ketus. Dia benar-benar sedang terburu-buru saat ini. “Saya Arif! teman kencan yang sudah kamu sewa malam ini.” ujar pria itu yang mengaku-ngaku sebagai Arif. Eliana terbelalak. “Tidak mungkin. Arif sudah bersamaku sekarang. Kamu jangan mengaku-aku, ya!” hardik Eliana. “Benar saya Arif, Mbak! Lihat, aku sudah rapi dengan setelan untuk menemanimu ke pesta malam ini.” bela pria yang mengaku Arif itu sambil menunjuk diri. Eliana mulai tersadar. Akhirnya dia memindai penampilan orang yang diduga Arif dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai Arif. Benar. Orang yang aku tabrak tadi memakai hoodie. Dan orang yang baru datang ini... pakai jas. “Tapi mukamu beda sama yang di foto profil? Di foto cakep, aslinya beda. Lebih mirip yang ini.” tunjuk Eliana kepada pria yang ia duga sebagai Arif, pacar sewaannya. “Beda bagaimana? Aslinya juga ganteng, kok!” sahut orang yang mengaku-ngaku sebagai Arif itu. “Sudahlah! Aku mau jalan sama Arif yang ini saja. Soalnya mukamu kayak copet!” kata Eliana sambil berlari mengajak orang yang ia duga Arif sampai membuat orang yang mengaku-ngaku sebagai Arif itu tertohok. “Loh, Mbak Eliana! Lalu bayaranku bagaimana?” teriak orang itu kepada Eliana yang sudah pergi menjauh. * * * Eliana membuang nafas lega begitu berhasil menjauh dari orang yang mengaku sebagai pacar sewanya. Kini dia berhenti di depan ruko yang tutup sambil memandangi pacar sewaannya yang ini. “Kamu, kok, pakai hoodie? Harusnya pakai jas seperti orang tadi!” Eliana ingin menyugar rambut sanggulnya. Seandainya bukan karena ada acara, Eliana pasti sudah mengacaukan riasan itu sedari tadi. Pria itu hanya diam. Wajahnya masih dibalut masker hitam yang menutupi separuh wajah. “Aku sudah tidak punya uang untuk menyewakanmu setelan jas. Hanya ada tarif untuk membayarmu saja, itu pun aku pinjam ke Livia.” terang Eliana dengan nada lemas. Namun pria itu masih saja diam. Tanpa berniat menyahut atau sekedar menjawab sepatah-duapatah. “Kamu bisu, ya? Ditanya, diam saja.” Karena kesal pria itu hanya diam, akhirnya Eliana kembali melanjutkan perjalanan menuju pesta dengan rasa terpaksa mengajak pria itu yang hanya mengenakan hoodie dan celana jeans. * * * Sesampainya di acara pertunangan, Eliana langsung disuguhkan dengan sambutan meriah oleh properti acara. Hiasan yang indah dengan tema indoor yang mewah. Emely dan Revan yang melihat Eliana datang, bergegas menghampirinya. “Hai, Eliana! Selamat datang! Aku pikir kamu tidak akan datang.” sambut Emely sambil tersenyum, namun dari nada bicaranya terkesan mengejek. “Aku pasti datang! Aku tidak mau dikira patah hati karena hubungan yang sudah lalu.” sahut Eliana yang menantang Emely sambil melihat ke arah Revan, seolah sedang menyinggung. “Kamu benar!” Emely menyadarkan diri ke pundak Revan untuk memanasi Eliana. “Kalau kamu sudah melupakan Revan, lalu dengan siapa kamu datang ke sini?” tanya Emely yang kembali menantang pengakuan Eliana tadi. Eliana gugup. Tangannya memilin jari, ragu. Ragu untuk mengatakan dengan siapa ia datang. Perlahan, matanya melirik ke arah teman kencannya yang sudah ia sewa yang tengah berdiri tepat di sampingnya. Emely mengikuti gerakan mata Eliana yang terarah pada pria di sampingnya, membuat Emely kembali tergelak. Memancing seluruh tamu yang hadir di acara pertunangannya. “Kau datang dengannya?” tanya Emely dengan wajah tidak percaya sekaligus mencemooh. “Tidak salah?” mata Emely mulai terarah pada Revan yang juga tengah menahan tawa. Eliana semakin menenggelamkan wajahnya. Dia hanya bisa menunduk dalam sambil menahan rasa malu. “Pacarmu... menggunakan hoodie saat ke pesta? Lucu sekali!” kelakar Emely yang mengundang gelak tawa yang lain. “Lihat! Bahkan dia mengenakan masker!” sahut yang lain, membuat suasana Eliana semakin berkabung. Eliana semakin tertunduk. Matanya terasa pedih dan memerah. Pandangannya mulai berkabut oleh tangis yang tertahan. Bahkan suhu tubuhnya mendadak dingin. Pada kenyataannya, sekeras apapun ia berjuang, tetap dipandang rendah oleh semua orang—terutama Emely dan Revan. Tidak! Bukan ini yang aku mau! Jerit Emely di dalam hati. Saat gelak tawa merundungnya, tiba-tiba telapak tangan seseorang terulur mengamit jemarinya yang dingin, kemudian menggenggam erat. Suhu hangat terasa mengaliri nadinya yang terasa tersendat, lalu Eliana melihat siapa yang kini tengah menggenggam erat tangannya. Ternyata Arif, pacar sewaannya. Mau apa dia menggenggam tanganku? Bukankah rasa malu ini tercipta olehnya? Pria yang diduga pacar sewaan Eliana mulai bereaksi. Dia membuka masker lalu menurunkan kupluk hoodienya. Dan semua yang melihat itu terdiam, termasuk Eliana. “Maaf, saya salah kostum malam ini. Itu karena saya terburu-buru hendak menjemput Eliana.” jelas pria itu, membuat Eliana dan yang lain tercengang. Bahkan Emely pun sampai tidak bisa berkata-kata. Di-dia tampan sekali...Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia
Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D
Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita
Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana
Eliana mengerjap. Cahaya menyilaukan yang pertama kali menyambut. Dia terbangun dari tidurnya, merasa lelah dan sakit kepala. Eliana membuka mata, dan melihat sekeliling. Dia berada di kamar yang terang, dengan jendela yang lebar bertirai tebal. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan seolah lupa apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ini bukan kastil tempat di mana ia dikurung kemarin. Eliana bangkit. Ia merasa sakit saat tubuhnya dipaksa bangun. Terasa hancur, seperti telah diinjak-injak. Dia kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi, pikirannya mulai menerawang jauh. Tiba-tiba, kenangan itu kembali. Kenangan tentang Aron, tentang apa yang dia lakukan pada dirinya. Eliana merasa dirinya seperti diserang, menyadari tubuhnya telah dijamahi dan dirusak. Mata Eliana mengembun, merasa lemah, tidak ada kekuatan sama sekali yang dia punya untuk melawan. Eliana melihat sekeliling, dan menyadari bahwa dia berada di kamar yang sama seperti mimpi buruk semalam, kamar yang dia tiduri den
Aron melangkah masuk, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Eliana. Dia berhenti di depan jasad Mike, lalu menatap Eliana dengan tajam. “Kamu... kamu yang membiarkannya masuk?” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. Eliana menegang, mencoba menghindari tatapan Aron. Dia hanya mampu menjawab dengan gelengan kecil. Antara mengakui dan tidak. Aron tertawa, tapi tawa itu tidak ada kegembiraan. “Tidak? Lalu siapa yang membiarkan orang ini masuk? Kastil ini tidak bisa dimasuki dengan mudah.” Eliana menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa masuk, tapi tidak bisa menjelaskan itu kepada Aron. Sebab yang Eliana tahu hanyalah... kebebasan. Dia ingin kebebasan. Aron melangkah lebih dekat, membuat Eliana merasa tertekan. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Eliana. Apa itu?” Eliana menatap Aron, matanya penuh ketakutan. “Aku... tidak tahu...” Aron menatapnya dengan tajam, lalu tiba-tiba dia membungkuk dan mengambil kampak yang







