Beranda / Mafia / Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran / Bab 3 | Membalas Perbuatan Emely

Share

Bab 3 | Membalas Perbuatan Emely

Penulis: Heni HN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-22 22:50:13

Eliana menyikut Livia yang tak habis-habisnya menggerogoti ceker ayam.

“Liv, lihat deh, siapa yang datang.” tunjuk Eliana menggunakan lirikan matanya.

Livia yang sedang fokus memakan ceker ayam pun nyaris tersedak saat melihat siapa yang datang.

“Emely dan Revan? Gak salah mereka datang kemari setelah membuat bajumu kotor, Lin?” ketus Livia saat mengetahui siapa yang datang. Livia tahu tentang Eliana hampir dari separuh hidupnya, termasuk kisah percintaannya yang kandas oleh sahabat Eliana sendiri.

“Yah, mau gimana lagi. Kan kita kerja di café, jadi wajar sih, siapa saja bisa datang, termasuk mereka.” kata Eliana yang bersiap mencuci piring bekas makan mereka berdua. Dia harus segera melayani Customer, termasuk kedua orang menyebalkan itu.

“Iya, sih. Tapi kalau mereka berbuat menjengkelkan lagi sama kamu, laporan sama aku, ya? Biar aku tampol!” sahut Livia sambil memeragakan gerakan silat.

“Gak usah lebay! Udah nih, taruh piring bersihnya. Aku mau keluar nawarin menu.” Eliana menyodorkan piring yang telah dia cuci kepada Livia, kemudian bergegas menuju ke depan untuk kembali bekerja.

Eliana menghampiri Chiko yang sedang mencatat pesanan pelanggan. Eliana berbisik tepat di samping Chiko.

“Chik, tolong kamu catat pesanan di meja itu juga, ya? Males banget aku kalau harus ke sana. Kamu tau sendiri mereka siapanya aku, ’kan?”

Chiko melihat sebentar ke arah meja yang Eliana tunjukkan. Chiko tahu betul siapa mereka, karena baik dari Revan mau pun Emely, mereka sama-sama sering mampir ke café tempatnya bekerja. Lebih-lebih saat hubungan Eliana dengan mereka masih baik. Namun sayangnya Chiko harus menolak, sebab meja lain masih menunggu untuk dicatat pesanannya.

“Duh, sama kamu sajalah! Aku gak sanggup.” keluh Chiko.

“Ya sudah, biar aku handle bagian kamu. Kamu handle bagianku.” kekeuh Eliana.

“Gak bisa. Nanti yang ada jadi bingung. Udah sana, gak akan terjadi apa-apa, tenang saja.” usir Chiko yang kembali mencatat pesanan pelanggan.

Eliana kembali mengedarkan pandangan. Matanya berlabuh pada meja Emely dan Revan yang kebetulan keduanya juga sedang memperhatikannya.

Emely tersenyum miring, mulutnya mulai terbuka. “Pelayan mana, sih, pelayan? Kok lama banget pelayanannya. Nanti aku kasih bintang satu, baru tahu rasa!” Emely sengaja memancing perhatian publik, membuat Eliana kembali merasa geram.

Eliana kemudian menghampiri meja Emely dan Revan, kemudian menyodorkan list menu, sedangkan kedua tangannya siap mencatat apa yang hendak mereka berdua pesan.

“Mau pesan apa?” tanya Eliana. Wajah dan nadanya dia buat seramah mungkin, meski kedengarannya amat terpaksa.

“Sebentar, ya... aku tanya pacarku dulu.” jawab Emely dengan nada manja yang memuakkan di telinga Eliana.

“Iwh, bikin mual dengarnya.” gumam Eliana lirih, sangat lirih macam bisikan, namun masih dapat Emely dengar jelas.

“Kamu bilang apa?” tanya Emely dengan tatapan menyelidik.

“Enggak. Enggak bilang apa-apa.” sahut Eliana, cepat. Namun matanya membuang pandangan ke arah lain.

Emely terdiam, namun dari ekspresinya dia terlihat sangat tidak terima. Dia seperti tengah merencanakan sesuatu terhadap Eliana sebelum akhirnya kembali membaca daftar menu.

“Revan sayang... kamu mau pesan apa? kalau aku mau pesan makanan kesukaanku dulu, kamu masih ingat, ’kan?” tanya Emely manja kepada Revan.

“Iya. Tentu aku masih ingat. Kamu suka roti bakar keju dan pisang penyet mentega.” sahut Revan, namun nadanya terdengar malas meladeni Emely.

“Ih, kamu masih ingat, Sayang! Kamu memang pacar terbaik. Ops! Maksudnya calon suami terbaik.” kata Emely dengan gerakan menutup mulut sambil pura-pura meralat ucapannya yang sengaja dibuat-buat untuk memanasi Eliana.

Namun Eliana tidak terpengaruh kali ini. Dia justru merasa mual seketika saat pasangan tak tahu malu ini terang-terangan menunjukkan kemesraannya.

“Ya sudah, aku pesan makanan kesukaanku saja! Kalau kamu mau pesan apa, Sayang?” tanya Emely kepada Revan.

“Samain saja sama kamu.” sahut Revan yang menjawab pertanyaan Emely, namun matanya curi-curi pandang ke arah Eliana.

“Ya sudah, nih! Cepat buatkan pesenan kita! Awas, jangan sampai salah!” Emely mengembalikan daftar menu kepada Eliana setelah membuat pesanan.

“Baik. Ditunggu pesanannya...” timpal Eliana dengan ekspresi jengah sambil berlalu dari hadapan mereka.

Beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan Emely dan Revan sampai, dan yang mengantarkannya masih oleh Eliana. Dengan sesopan mungkin, Eliana meletakkan menu yang dipesan oleh Emely dan Revan.

“Selamat menikmati.” ujar Eliana yang siap beranjak pergi.

Namun, kejadian tak terduga mulai terjadi. Tiba-tiba Eliana merasa ada sesuatu yang menghalangi langkahnya sampai dirinya terjatuh ke lantai. Menghasilkan suara gaduh yang memancing perhatian semua pengunjung café.

Gedebuk!

“Aah...” Eliana terpekik, sakit. Tak hanya itu, matcha yang tersaji di sisi meja sengaja Emely senggol sampai terjatuh menimpa Eliana yang masih kesakitan setelah terjatuh.

Pukh!

Minuman hijau itu mendarat tepat di punggung Eliana, menghasilkan noda hijau di seragam kerjanya. Menambah rasa malu kian meningkat. Di bawah sana Eliana melihat dengan jelas kaki Emely yang sedikit menjulur ke samping. Menandakan kalau terjatuhnya Eliana itu sengaja disebabkan olehnya.

Eliana mendongak, tampak Emely yang sedang menyembunyikan tawa setelah berhasil mempermalukannya. Namun sayangnya kacamata Eliana terjatuh saat dirinya jatuh, membuat Emely semakin terkikik.

“Ya ampun, matamu bengkak, Eliana. Pasti kamu habis menangis lama setelah membaca surat undanganku kemarin, ’kan?” terka Emely.

“Bukan urusanmu!” dengus Eliana, kembali memasang kacamata yang terlepas. Meski kenyataannya memang benar, kalau penyebab mata bengkaknya disebabkan oleh Revan.

Menyadari Eliana sedang memperhatikannya, buru-buru Emely menguasai diri. Dia berpura-pura iba dan hendak menolong Eliana.

“Ya ampun, Eliana, hati-hati!” sergahnya sambil berusaha membangunkan Eliana penuh perhatian. Berusaha menarik empati para pengunjung.

Tapi Eliana menepis tangan Emely kasar. Rahangnya mengetat dengan mata yang sedikit memerah menahan malu.

Bugh!

Tanpa Emely duga, Eliana tiba-tiba menghajarnya menggunakan nampan yang kebetulan masih berada di dalam genggaman, membuat Emely terhuyung ke samping.

Semua pengunjung histeris, namun tak sedikit dari mereka mulai merekam aksi heroin Eliana yang berusaha membela diri.

Revan mendekati Emely sambil mengusap pipinya yang berubah warna menjadi kemerahan setelah mendapat bogem nampan yang Eliana berikan.

“Eliana! Apa yang kamu lakukan? Emely jelas ingin menolongmu!” bentak Revan kepada Eliana. Kemudian perhatiannya beralih kepada Emely. “Kamu gak apa-apa, Sayang?” tanya Revan pada Emely dengan raut khawatir.

Eliana menatap nanar pada Revan. Apa mata hatinya sudah tertutup oleh cinta Emely? Sehingga tidak lagi mampu melihat mana kebenarannya. Padahal di sini jelas kalau Eliana yang menjadi korban, bukan Emely. Tapi kenapa Revan malah membentaknya dan sibuk menyalahkan.

Eliana jelas tidak ingin menyerah. Dia ingin membeberkan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang di sana.

“Emely! Kamu yang meringkas kakiku, ’kan, sampai aku terjatuh?” tuduh Eliana.

“Apa? Kau sudah memukulku menggunakan nampan, dan sekarang kamu menuduhku, Eliana?” timpal Emely, geram. Sekarang bukan hanya Eliana yang dibuat malu, tapi dirinya juga.

“Jangan berkilah. Aku melihat kakimu menjulur ke samping saat aku hendak lewat.” Eliana masih kukuh dengan argumennya.

“Kau?!” pekik Emely dengan suara tertahan, tangannya siap untuk menjambak Eliana yang masih berdiri di depannya dengan tatapan garang. “Aku tidak akan mengampunimu!” Emely mulai menjambak Eliana.

Eliana tertarik mengikuti jambakan Emely. Semua pengunjung café bersorak, seolah itu adalah sebuah tontonan hiburan.

Eliana tidak tinggal diam. Dia juga menarik rambut Emely yang dicat pirang, sehingga keduanya kini tampak saling tarik-menarik.

Revan gelapan melihat kedua perempuan itu berkelahi. Namun dengan cepat dia juga segera melerai pertikaian itu, sebab semua pengunjung mulai menatapinya.

“Hentikan, Sayang, hentikan!” Revan memisahkan keduanya dengan berdiri di tengah di antara mereka berdua.

Pertikaian berakhir, namun netra keduanya masih saling menyorot penuh kebencian dengan nafas terengah-engah.

“Aku akan melaporkanmu ke polisi, Eliana!” kata Emely lantang sambil menunjuk ke arah Eliana.

Eliana hanya diam, namun wajahnya masih beringas kelihatannya. Menunjukkan kalau dirinya sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman Emely, meskipun hatinya terasa amat ketar-ketir.

Ya. Eliana hanya berpura-pura berani saat mendapati ancaman dari Emely. Jika dia menunjukkan ketakutan sedikit saja, maka Emely akan semakin besar kepala nantinya. Walau kebenarannya, Eliana sangat takut dilaporkan ke polisi.

“Silahkan saja!” tantang Eliana dengan suara agak gemetar.

“Oke, aku akan lapor polisi sekarang!” Emely mulai memainkan ponselnya.

“Aku akan memberitahu, kalau kamu yang mulai duluan.” sergah Eliana.

“Silahkan saja, aku sama sekali tidak takut. Aku punya banyak uang, jadi aku bisa menyewa pengacara. Sedangkan kamu? Kamu hanya mempunyai cinta Revan, itu pun bertepuk sebelah tangan.” sahut Emely yang kembali menghina Eliana.

Revan menatap Eliana dengan wajah iba. Namun Eliana yang mengetahui itu, hanya balas menatapnya datar. Baginya, seorang penghianat tidak pantas mendapat senyumannya lagi, walau sekedar senyum sapaan.

“Emely, sebaiknya kamu ampuni saja dia. Sebentar lagi kita akan bertunangan, dan kamu menginginkan dia untuk datang, ’kan? Anggap saja itu sebagai hadiah spesial dari acara bahagia kita, ’kan?” kata Revan, yang membuat Emely terdiam sejenak.

“Kamu benar, Sayang. Aku ingin mantan sahabat baikku ini hadir di acara spesialku.” Emely mulai melihati Eliana. “baiklah, kamu aku maafkan. Anggap saja sebagai kebaikan terhadap seorang sahabat, dulu.” cemooh Emely kapada Eliana.

“Ya sudah, Sayang. Kita pulang saja, yuk! Aku sudah tidak berselara makan.” ajak Emely kepada Revan yang bersambut uluran tangan keduanya.

Kini tinggal Eliana sendiri yang menanggung rasa malu dan pusat perhatian dari para pengunjung. Matanya mengedar dan melihat, Ibu Diana sudah menatapnya dari depan ruangan pribadinya sambil bersidekap dada.

“Eliana, sekarang juga... kamu ikut ke ruangan saya!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 12 | Dia milikku!

    Hyaa! Max memulai serangan pertama kepada Aron dengan cara melayangkan satu pukulan. Namun Aron berhasil menghindari serangan, sebisa mungkin Aron akan menghindarinya. Mereka menyerang dari berbagai arah, pistol dan pisau berkilau di tangan mereka. Aron berputar, mengantisipasi serangan. Meningkatkan rasa awas dan kehati-hatian. Salah satu dari mereka berlari maju menyerang Aron menggunakan pisau. Aron yang sudah siaga kembali menghindari dan menarik tangan yang mengayunkan pisau itu lalu menelintirnya hingga terdengar retakan tulang. “Aaaa!” pria yang menyerang menggunakan pisau itu memekik kesakitan saat Aron dengan bengis mematahkan lengannya. Bugh! Aron menjatuhkannya begitu saja. Lalu matanya kembali menatap liar pada yang lain. Serangan kedua, kini dilakukan tiga orang sekaligus. Ketiga orang itu memposisikan diri seperti lingkaran yang mengungkung keberadaan Aron di tengah gelapnya malam. Namun itu tidak membuat Aron gentar sedikitpun. Dia semakin tertantang. Du

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 11 | Serangan Tak Terduga

    Eliana sudah bersiap hendak berpamit pergi. Ia hanya menginap semalam bersama Aron, karena malam ini Eliana harus kembali bekerja di shif malam. Waktu sudah menunjuk angka tiga sore. Jadi Eliana harus segera berangkat sekarang jika tidak ingin pulang terlalu malam. “Kau yakin mau langsung pulang hari ini?” tanya Medina dengan mata menggembun. “Iya, Bu. Eliana harus kembali bekerja.” sahut Eliana dengan suara sedih. “Ibu merasa... ini pertemuan terakhir kita, Eliana. Ibu merasa... kita akan terpisah dalam waktu lama.” Eliana menghela nafas berat. “Huh... itu hanya perasaan ibu saja. Eliana berangkat, ya, Bu. Sebelum hari gelap.” Eliana meraih tangan berkeriput halus itu lalu mengecup takzim. “Hati-hati Eliana. Bapak akan selalu merindukanmu.” Ernad mengecup kening Eliana penuh kasih. Begitu pun dengan Aron. Pria itu melakukan hal sama seperti yang Eliana lakukan. Berpamitan dengan baik dan sopan kepada orangtua Eliana. Tibalah di Nayla. Gadis itu tampak merengut sedih

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 10 | Aku Mau Hidupmu

    Suasana kediaman Eliana semakin meriah ketika Aron dipersilakan masuk ke dalam. Sepertinya orangtua beserta kedua adiknya, menerima dengan baik kehadiran Aron. Terbukti dari cara mereka menyambut dengan penuh keramahan serta humble untuk lebih mengakrabkan diri. Sedangkan Eliana menatap tajam pada Aron, seperti kilatan pedang yang siap menghunus lawan. Aron duduk di sofa dengan wajah tenang. Di sebelahnya, ada adik Eliana bernama, Nayla. Nayla adalah anak kedua Ernad, yang saat ini masih menduduki sekolah menengah pertama. Sedangkan si bungsu bernama, Erdan, yang masih menduduki sekolah dasar. “Jadi, nama kamu ... Aron, ya?” tanya ayah dari Eliana sambil memandangi Aron dari sofa seberang. “Betul, Om. Saya Aron, teman kencan Eliana.” sahutnya, jujur. Membenarkan pertanyaan ayah Eliana bernama, Ernad. “Teman kencan, dalam artian kekasih, ’kan?” tohok Ernad, membuat Eliana tersedak salivanya sendiri. Uhuk! Uhuk! Eliana terbatuk-batuk saking terkejut mendengar praduga sang ay

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 9 | Pengenalan Diri—Aron

    Eliana telah sampai di terminal. Ia mencari bus yang beroperasi sesuai dengan tujuan akhir. Para kernet dari masing-masing bus meneriakan area pemberhentian mereka untuk menarik perhatian penumpang. Kemudian Eliana mulai mendengar seorang kernet meneriaki kampung halamannya. “Mau naik bus ini?” tanya kernet yang berjaga di pintu depan. Eliana mengangguk sambil menunjukkan tiket yang telah ia beli di loket sebelumnya. Kernet itu menerima lalu mengamati. “Benar. Ini bus yang sesuai dengan tujuan Anda.” Kernet itu mengembalikan lagi tiket itu lalu mempersilakan Eliana masuk untuk menaiki bus itu. Sesampainya di dalam, pandangan Eliana kembali mengedar. Dia bermaksud mencari nomor urut bangku yang sesuai dengan yang tertera di nomor tiketnya, dan Eliana mendapat kursi bagian double seat yang tepat berada di sisi jendela. Eliana duduk. Suasana bus masih sepi, belum terlalu banyak penumpang. Jadi Eliana akan sarapan roti kemasan sebelum memulai perjalanan. Tiba-tiba seorang pr

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 8 | Tulisan Darah

    Hari yang dinanti-nanti tiba. Hari ini waktunya semua karyawan café menerima upah dari hasil jeri payah mereka. Eliana yang berdiri di depan pintu ruang Ibu Diana sambil menunggu giliran merasa excited. Ia tidak sabar ingin pulang ke kampung lalu memeluk tubuh Ibu dan Ayah beserta kedua adiknya. “Eliana Emelinda...” panggil Bu Diana yang menggemakan nama Eliana. Eliana masuk lalu menunggu gaji tuk diserahkan. “Duduk!” titah Bu Diana. Eliana duduk dengan senyum canggung di bibirnya. Menunggu sesuatu yang dinanti-nanti sejak lama. Ibu Diana mengela nafas sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Kemudian mendorong pelan di permukaan meja kerja untuk diserahkan kepada Eliana. “Ini gaji kamu untuk bulan ini. Tapi sebelumnya saya meminta maaf, sebab gajimu aku potong untuk biaya ganti rugi properti yang rusak pasca keributan yang terjadi karenamu bersama Customer kemarin, Eliana.” Eliana menatap Ibu Diana tanpa berkedip, lalu beralih ke amplop coklat yang teronggok d

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 7 | Bukan Arif

    Eliana sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Kali ini dia bekerja di shif malam, bergantian dengan rekannya yang lain. Yang pasti, Livia juga shif malam sama seperti Eliana. “Semua keperluanku sudah siap. Tinggal berangkat.” Eliana berjalan mendekati pintu depan lalu membukanya perlahan. Namun, saat pintu itu terbuka lebar, sosok yang amat Eliana kenal sudah berdiri memandangi rumah kontrakannya. “Arif? Kamu di sini?” heran Eliana, sekaligus senang hatinya. Namun pria yang diduga Eliana sebagai Arif itu melengos ke arah lain, meninggalkan Eliana yang masih termangu sambil memandangi kepergiannya. “Dia itu kenapa, sih? Setiap aku tanya diam, ngilang... aneh banget!” gerutu Eliana yang merasa sebal dengan tingkah laku pria itu. * * * Eliana sudah sampai di café. Bahkan dia sudah memulai pekerjaannya bersama dengan Livia. Kini mereka sedang mengelap piring basah setelah dicuci tadi. “Bagaimana rencanamu di acara pertunangan Revan? Sukses?” tanya Livia. “Sukses, dong!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status