LOGINEliana menyikut Livia yang tak habis-habisnya menggerogoti ceker ayam.
“Liv, lihat deh, siapa yang datang.” tunjuk Eliana menggunakan lirikan matanya. Livia yang sedang fokus memakan ceker ayam pun nyaris tersedak saat melihat siapa yang datang. “Emely dan Revan? Gak salah mereka datang kemari setelah membuat bajumu kotor, Lin?” ketus Livia saat mengetahui siapa yang datang. Livia tahu tentang Eliana hampir dari separuh hidupnya, termasuk kisah percintaannya yang kandas oleh sahabat Eliana sendiri. “Yah, mau gimana lagi. Kan kita kerja di café, jadi wajar sih, siapa saja bisa datang, termasuk mereka.” kata Eliana yang bersiap mencuci piring bekas makan mereka berdua. Dia harus segera melayani Customer, termasuk kedua orang menyebalkan itu. “Iya, sih. Tapi kalau mereka berbuat menjengkelkan lagi sama kamu, laporan sama aku, ya? Biar aku tampol!” sahut Livia sambil memeragakan gerakan silat. “Gak usah lebay! Udah nih, taruh piring bersihnya. Aku mau keluar nawarin menu.” Eliana menyodorkan piring yang telah dia cuci kepada Livia, kemudian bergegas menuju ke depan untuk kembali bekerja. Eliana menghampiri Chiko yang sedang mencatat pesanan pelanggan. Eliana berbisik tepat di samping Chiko. “Chik, tolong kamu catat pesanan di meja itu juga, ya? Males banget aku kalau harus ke sana. Kamu tau sendiri mereka siapanya aku, ’kan?” Chiko melihat sebentar ke arah meja yang Eliana tunjukkan. Chiko tahu betul siapa mereka, karena baik dari Revan mau pun Emely, mereka sama-sama sering mampir ke café tempatnya bekerja. Lebih-lebih saat hubungan Eliana dengan mereka masih baik. Namun sayangnya Chiko harus menolak, sebab meja lain masih menunggu untuk dicatat pesanannya. “Duh, sama kamu sajalah! Aku gak sanggup.” keluh Chiko. “Ya sudah, biar aku handle bagian kamu. Kamu handle bagianku.” kekeuh Eliana. “Gak bisa. Nanti yang ada jadi bingung. Udah sana, gak akan terjadi apa-apa, tenang saja.” usir Chiko yang kembali mencatat pesanan pelanggan. Eliana kembali mengedarkan pandangan. Matanya berlabuh pada meja Emely dan Revan yang kebetulan keduanya juga sedang memperhatikannya. Emely tersenyum miring, mulutnya mulai terbuka. “Pelayan mana, sih, pelayan? Kok lama banget pelayanannya. Nanti aku kasih bintang satu, baru tahu rasa!” Emely sengaja memancing perhatian publik, membuat Eliana kembali merasa geram. Eliana kemudian menghampiri meja Emely dan Revan, kemudian menyodorkan list menu, sedangkan kedua tangannya siap mencatat apa yang hendak mereka berdua pesan. “Mau pesan apa?” tanya Eliana. Wajah dan nadanya dia buat seramah mungkin, meski kedengarannya amat terpaksa. “Sebentar, ya... aku tanya pacarku dulu.” jawab Emely dengan nada manja yang memuakkan di telinga Eliana. “Iwh, bikin mual dengarnya.” gumam Eliana lirih, sangat lirih macam bisikan, namun masih dapat Emely dengar jelas. “Kamu bilang apa?” tanya Emely dengan tatapan menyelidik. “Enggak. Enggak bilang apa-apa.” sahut Eliana, cepat. Namun matanya membuang pandangan ke arah lain. Emely terdiam, namun dari ekspresinya dia terlihat sangat tidak terima. Dia seperti tengah merencanakan sesuatu terhadap Eliana sebelum akhirnya kembali membaca daftar menu. “Revan sayang... kamu mau pesan apa? kalau aku mau pesan makanan kesukaanku dulu, kamu masih ingat, ’kan?” tanya Emely manja kepada Revan. “Iya. Tentu aku masih ingat. Kamu suka roti bakar keju dan pisang penyet mentega.” sahut Revan, namun nadanya terdengar malas meladeni Emely. “Ih, kamu masih ingat, Sayang! Kamu memang pacar terbaik. Ops! Maksudnya calon suami terbaik.” kata Emely dengan gerakan menutup mulut sambil pura-pura meralat ucapannya yang sengaja dibuat-buat untuk memanasi Eliana. Namun Eliana tidak terpengaruh kali ini. Dia justru merasa mual seketika saat pasangan tak tahu malu ini terang-terangan menunjukkan kemesraannya. “Ya sudah, aku pesan makanan kesukaanku saja! Kalau kamu mau pesan apa, Sayang?” tanya Emely kepada Revan. “Samain saja sama kamu.” sahut Revan yang menjawab pertanyaan Emely, namun matanya curi-curi pandang ke arah Eliana. “Ya sudah, nih! Cepat buatkan pesenan kita! Awas, jangan sampai salah!” Emely mengembalikan daftar menu kepada Eliana setelah membuat pesanan. “Baik. Ditunggu pesanannya...” timpal Eliana dengan ekspresi jengah sambil berlalu dari hadapan mereka. Beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan Emely dan Revan sampai, dan yang mengantarkannya masih oleh Eliana. Dengan sesopan mungkin, Eliana meletakkan menu yang dipesan oleh Emely dan Revan. “Selamat menikmati.” ujar Eliana yang siap beranjak pergi. Namun, kejadian tak terduga mulai terjadi. Tiba-tiba Eliana merasa ada sesuatu yang menghalangi langkahnya sampai dirinya terjatuh ke lantai. Menghasilkan suara gaduh yang memancing perhatian semua pengunjung café. Gedebuk! “Aah...” Eliana terpekik, sakit. Tak hanya itu, matcha yang tersaji di sisi meja sengaja Emely senggol sampai terjatuh menimpa Eliana yang masih kesakitan setelah terjatuh. Pukh! Minuman hijau itu mendarat tepat di punggung Eliana, menghasilkan noda hijau di seragam kerjanya. Menambah rasa malu kian meningkat. Di bawah sana Eliana melihat dengan jelas kaki Emely yang sedikit menjulur ke samping. Menandakan kalau terjatuhnya Eliana itu sengaja disebabkan olehnya. Eliana mendongak, tampak Emely yang sedang menyembunyikan tawa setelah berhasil mempermalukannya. Namun sayangnya kacamata Eliana terjatuh saat dirinya jatuh, membuat Emely semakin terkikik. “Ya ampun, matamu bengkak, Eliana. Pasti kamu habis menangis lama setelah membaca surat undanganku kemarin, ’kan?” terka Emely. “Bukan urusanmu!” dengus Eliana, kembali memasang kacamata yang terlepas. Meski kenyataannya memang benar, kalau penyebab mata bengkaknya disebabkan oleh Revan. Menyadari Eliana sedang memperhatikannya, buru-buru Emely menguasai diri. Dia berpura-pura iba dan hendak menolong Eliana. “Ya ampun, Eliana, hati-hati!” sergahnya sambil berusaha membangunkan Eliana penuh perhatian. Berusaha menarik empati para pengunjung. Tapi Eliana menepis tangan Emely kasar. Rahangnya mengetat dengan mata yang sedikit memerah menahan malu. Bugh! Tanpa Emely duga, Eliana tiba-tiba menghajarnya menggunakan nampan yang kebetulan masih berada di dalam genggaman, membuat Emely terhuyung ke samping. Semua pengunjung histeris, namun tak sedikit dari mereka mulai merekam aksi heroin Eliana yang berusaha membela diri. Revan mendekati Emely sambil mengusap pipinya yang berubah warna menjadi kemerahan setelah mendapat bogem nampan yang Eliana berikan. “Eliana! Apa yang kamu lakukan? Emely jelas ingin menolongmu!” bentak Revan kepada Eliana. Kemudian perhatiannya beralih kepada Emely. “Kamu gak apa-apa, Sayang?” tanya Revan pada Emely dengan raut khawatir. Eliana menatap nanar pada Revan. Apa mata hatinya sudah tertutup oleh cinta Emely? Sehingga tidak lagi mampu melihat mana kebenarannya. Padahal di sini jelas kalau Eliana yang menjadi korban, bukan Emely. Tapi kenapa Revan malah membentaknya dan sibuk menyalahkan. Eliana jelas tidak ingin menyerah. Dia ingin membeberkan apa yang sebenarnya terjadi kepada semua orang di sana. “Emely! Kamu yang meringkas kakiku, ’kan, sampai aku terjatuh?” tuduh Eliana. “Apa? Kau sudah memukulku menggunakan nampan, dan sekarang kamu menuduhku, Eliana?” timpal Emely, geram. Sekarang bukan hanya Eliana yang dibuat malu, tapi dirinya juga. “Jangan berkilah. Aku melihat kakimu menjulur ke samping saat aku hendak lewat.” Eliana masih kukuh dengan argumennya. “Kau?!” pekik Emely dengan suara tertahan, tangannya siap untuk menjambak Eliana yang masih berdiri di depannya dengan tatapan garang. “Aku tidak akan mengampunimu!” Emely mulai menjambak Eliana. Eliana tertarik mengikuti jambakan Emely. Semua pengunjung café bersorak, seolah itu adalah sebuah tontonan hiburan. Eliana tidak tinggal diam. Dia juga menarik rambut Emely yang dicat pirang, sehingga keduanya kini tampak saling tarik-menarik. Revan gelapan melihat kedua perempuan itu berkelahi. Namun dengan cepat dia juga segera melerai pertikaian itu, sebab semua pengunjung mulai menatapinya. “Hentikan, Sayang, hentikan!” Revan memisahkan keduanya dengan berdiri di tengah di antara mereka berdua. Pertikaian berakhir, namun netra keduanya masih saling menyorot penuh kebencian dengan nafas terengah-engah. “Aku akan melaporkanmu ke polisi, Eliana!” kata Emely lantang sambil menunjuk ke arah Eliana. Eliana hanya diam, namun wajahnya masih beringas kelihatannya. Menunjukkan kalau dirinya sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman Emely, meskipun hatinya terasa amat ketar-ketir. Ya. Eliana hanya berpura-pura berani saat mendapati ancaman dari Emely. Jika dia menunjukkan ketakutan sedikit saja, maka Emely akan semakin besar kepala nantinya. Walau kebenarannya, Eliana sangat takut dilaporkan ke polisi. Apalagi ayah Emely memang termasuk salah satu anggota kepolisian yang disegani. “Silahkan saja!” tantang Eliana dengan suara agak gemetar. “Oke, aku akan lapor polisi sekarang!” Emely mulai memainkan ponselnya. “Aku akan memberitahu, kalau kamu yang mulai duluan.” sergah Eliana. “Silahkan saja, aku sama sekali tidak takut. Aku punya banyak uang, jadi aku bisa menyewa pengacara. Sedangkan kamu? Kamu hanya mempunyai cinta Revan, itu pun bertepuk sebelah tangan.” sahut Emely yang kembali menghina Eliana. Revan menatap Eliana dengan wajah iba. Namun Eliana yang mengetahui itu, hanya balas menatapnya datar. Baginya, seorang penghianat tidak pantas mendapat senyumannya lagi, walau sekedar senyum sapaan. “Emely, sebaiknya kamu ampuni saja dia. Sebentar lagi kita akan bertunangan, dan kamu menginginkan dia untuk datang, ’kan? Anggap saja itu sebagai hadiah spesial dari acara bahagia kita, ’kan?” kata Revan, yang membuat Emely terdiam sejenak. “Kamu benar, Sayang. Aku ingin mantan sahabat baikku ini hadir di acara spesialku.” Emely mulai melihati Eliana. “baiklah, kamu aku maafkan. Anggap saja sebagai kebaikan terhadap seorang sahabat, dulu.” cemooh Emely kapada Eliana. “Ya sudah, Sayang. Kita pulang saja, yuk! Aku sudah tidak berselara makan.” ajak Emely kepada Revan yang bersambut uluran tangan keduanya. Kini tinggal Eliana sendiri yang menanggung rasa malu dan pusat perhatian dari para pengunjung. Matanya mengedar dan melihat, Ibu Diana sudah menatapnya dari depan ruangan pribadinya sambil bersidekap dada. “Eliana, sekarang juga... kamu ikut ke ruangan saya!”Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia
Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D
Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita
Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana
Eliana mengerjap. Cahaya menyilaukan yang pertama kali menyambut. Dia terbangun dari tidurnya, merasa lelah dan sakit kepala. Eliana membuka mata, dan melihat sekeliling. Dia berada di kamar yang terang, dengan jendela yang lebar bertirai tebal. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan seolah lupa apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ini bukan kastil tempat di mana ia dikurung kemarin. Eliana bangkit. Ia merasa sakit saat tubuhnya dipaksa bangun. Terasa hancur, seperti telah diinjak-injak. Dia kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi, pikirannya mulai menerawang jauh. Tiba-tiba, kenangan itu kembali. Kenangan tentang Aron, tentang apa yang dia lakukan pada dirinya. Eliana merasa dirinya seperti diserang, menyadari tubuhnya telah dijamahi dan dirusak. Mata Eliana mengembun, merasa lemah, tidak ada kekuatan sama sekali yang dia punya untuk melawan. Eliana melihat sekeliling, dan menyadari bahwa dia berada di kamar yang sama seperti mimpi buruk semalam, kamar yang dia tiduri den
Aron melangkah masuk, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Eliana. Dia berhenti di depan jasad Mike, lalu menatap Eliana dengan tajam. “Kamu... kamu yang membiarkannya masuk?” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. Eliana menegang, mencoba menghindari tatapan Aron. Dia hanya mampu menjawab dengan gelengan kecil. Antara mengakui dan tidak. Aron tertawa, tapi tawa itu tidak ada kegembiraan. “Tidak? Lalu siapa yang membiarkan orang ini masuk? Kastil ini tidak bisa dimasuki dengan mudah.” Eliana menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa masuk, tapi tidak bisa menjelaskan itu kepada Aron. Sebab yang Eliana tahu hanyalah... kebebasan. Dia ingin kebebasan. Aron melangkah lebih dekat, membuat Eliana merasa tertekan. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Eliana. Apa itu?” Eliana menatap Aron, matanya penuh ketakutan. “Aku... tidak tahu...” Aron menatapnya dengan tajam, lalu tiba-tiba dia membungkuk dan mengambil kampak yang







