Mag-log inEliana merasa puas dengan kencan malam ini bersama pacar sewaannya. Melihat wajah Emely yang takjub saat melihat wajah pacar yang telah dia sewa, membuat Eliana merasa menang kali ini, walau sementara.
Sekarang Eliana sedang dalam perjalanan menuju pulang. Pacar sewaannya pun masih setia mengikutinya, mungkin hendak mengantarkan pulang. Mengingat malam semakin larut, sebab tidak baik seorang gadis berjalan seorang diri di tengah gelapnya malam. “Hahahah! Aku puas sekali membuat Emely tegang. Wajahnya itu lho, tertekan banget saat kamu memperlihatkan wajahmu, Arif!” kelakar Eliana sambil tertawa keras. Menertawakan, bagaimana ekspresi Emely tadi. Mungkin dia merasa heran, darimana Eliana mendapatkan teman kencan setampan Arif. Namun pria yang diduga bernama Arif hanya diam saja. Tapi langkahnya masih terus terayun mengikuti irama langkah kaki Eliana yang terus meracau kegirangan. “Arif, kenapa kamu diam saja, sih? Katakan, di mana kamu tinggal?” celetuk Eliana yang tiba-tiba bertanya. Pria yang Eliana duga sebagai pacar sewanya hanya mendelik tajam tanpa menyahut, membuat dahi Eliana mengerut dalam. “Misterius sekali...” cetus Eliana sambil memanyunkan bibir. Dia sebal kepada pria itu. Kenapa jika ditanya hanya diam saja? Apa dia marah karena belum aku bayar? Makanya dia terus mengikutiku sampai rumah. Eliana mulai berasumsi. Tapi ada bagusnya. Meski pria itu hanya diam, namun Eliana bisa merasa sedikit lebih aman dibandingkan berjalan seorang diri. Kebisuan itu akan dimanfaatkan oleh Eliana agar pria bisu itu mau menghantarnya sampai rumah. Barulah setelah itu dia membayar tarifnya. Eliana dan pria itu berjalan dalam keheningan. Tidak ada lagi yang berbicara setelah pertanyaan Eliana tadi, yang menanyakan di mana pria itu tinggal. Sampai tak terasa keduanya sudah sampai di kediaman Eliana. Pria itu berhenti ketika melihat Eliana yang juga memberhentikan diri. “Arif. Aku puas sekali dengan aktingmu tadi. Aku akan memberikan kamu rating lima di akunmu. Terima kasih banyak untuk malam ini.” kata Eliana sambil meraih jemari tangan lalu menyerahkan uang berwarna merah sebanyak tiga lembar ke telapak tangan pria itu. Pria itu menatap lembaran merah itu dengan tatapan heran, lalu wajahnya kembali terangkat bingung ketika memandang Eliana. Eliana yang paham keheranan dari pria itu meringiskan tawa. “Hehe ... Maaf, Arif. Untuk malam ini aku hanya bisa memberikanmu uang sebanyak itu. Itu pun uang hasil pinjaman dari Livia. Tapi aku janji, lain kali aku akan melebihkannya, kok! Apa kamu mempunyai nomor ponsel yang bisa aku hubungi? Supaya lebih mudah urusannya nanti bila suatu saat aku membutuhkan jasamu lagi.” Karena Eliana berpikir, pasti Emely merencanakan rencana lain untuk membuktikan, apakah pria yang dia bawa ke acara pertunangannya tadi adalah benar kekasih atau bukan. Jika Emely menginginkan hal itu, maka Eliana sudah harus siap. Jadi itu alasan mengapa Eliana meminta nomor ponsel pria di depannya saat ini. Tapi pria itu malah menatapnya tajam. Mungkin tidak ingin berkencan dengan Eliana lagi karena tarif yang terlalu murah. Eliana menyadari perubahan ekspresi itu secara signifikan. Dia merasa tidak enak hati karena terlalu banyak menuntut pada pria itu. “Baiklah. Jika kamu tidak berkenan tuk memberikan nomor ponselmu, aku tidak akan memaksa. Aku tetap akan memesanmu lewat aplikasi nanti sewaktu butuh.” ucap Eliana dengan senyum getir. Dia segera melipir membuka pintu yang terkunci lalu memasukinya. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup rapat, Eliana masih melihat pria itu masih berdiri mematung di luar rumahnya sambil memperhatikannya. Tatapannya tajam dan awas, telapak tangannya masih menggenggam uang pemberian Eliana tadi. Eliana tidak ingin ambil pusing. Baginya, misi memanasi Emely dan Revan telah berhasil. Kini Eliana tinggal menuai pendapat Emely mengenai pacarnya yang dia sewa jika nanti bertemu lagi. Jika membayangkan wajah kekasih sewaannya, membuat jantung Eliana kembali berdebar kencang. Wajah putih, rambut coklat keemasan dan mata hazelnya begitu memikat hati Eliana. Tanpa dia tahu... kalau pria yang mengantarnya ke acara pertunangan tadi bukanlah pacar yang dia sewa, melainkan pria yang berasal dari kegelapan. Dan pertemuan pertamanya ini dengan pria itu merupakan awal dari perubahan besar dalam hidup Eliana. * * * Eliana melenguh sambil menggeliat di kasur empuknya. Tidurnya sangat nyenyak semalam, ditambah diantar oleh pria tampan yang dia sewa semalam, membuat mimpinya semakin indah. Apalagi setelah menyaksikan wajah Emely yang tertekan ketika melihat itu, membuat mimpi di dunia nyata semakin terangkai indah. Eliana tidak berangkat kerja pagi ini, sebab di minggu ini Eliana bekerja di shif malam. Jadi dia bisa sedikit bersantai untuk memulai hari. Setelah membenarkan posisi rebahanmya, Eliana meraih ponsel bututnya yang sudah retak di bagian sisi. Bahkan layarnya hampir memudar setengahnya. Tapi Eliana tetap tersenyum senang. Walaupun ponselnya sudah sangat memprihatinkan, selagi masih dipakai, kenapa harus beli yang baru? “Yang penting fungsi” gumamnya sambil mengutak-atik ponselnya. Untuk mengusir kejenuhan di hari libur, Eliana memutuskan untuk bermain ponsel dan berselancar di sosial media. Barangkali ada berita bagus atau penting, atau mungkin sekedar hiburan. Namun sayangnya tidak ada yang membuat Eliana terhibur. Topik berita atau konten yang discroll-scrollnya hanya membahas berita yang sudah-sudah dan konten kreator yang joget-joget tidak jelas. Itu membuat Eliana bosan, sehingga memutuskan untuk menekan tombol 'back'supaya tontonan berakhir. Tapi saat ia menekan tombol itu satu kali, konten-konten baru mulai dimuat oleh aplikasi. Jadi Eliana memutuskan untuk urung mengetuk tombol 'back'lagi agar berita bagus itu tidak hilang. Berita baru itu membahas tentang kasus yang marak terjadi akhir-akhir ini. Yakni kasus pembunuhan yang sangat mengerikan yang menimpa korbannya. Mulai dari termutilasi, dibakar untuk menghilangkan jejak, bahkan ada yang dicor. Dan kemungkinan dugaan kuat mengarah ke pelaku yang memiliki kekuasaan besar, sehingga sulit tersentuh oleh hukum. “Ih, kenapa orang zaman sekarang semengerikan itu, ya? Menghabisi nyawa orang sudah seperti menghabisi anak ayam.” gerutu Eliana yang masih memantengi berita memilukan itu. Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kontrakan Eliana. Memaksanya untuk mengsudahi tontonan baru itu. “Haish! Siapa, sih ... pagi-pagi sudah bertandang ke rumah orang. Apa dia enggak tahu kalau aku mau istirahat.” omel Eliana meski ia tetap beranjak untuk membukakan pintu. “Siapa?” tanya Eliana dengan tangan yang dibarengi tuk membuka pintu. Namun setelah tahu siapa yang datang, Eliana terkejut bukan main. “Lho, Emely? Mau apa pagi-pagi ke sini?” heran Eliana. Kali ini Emely datang sendiri tanpa Revan yang biasanya selalu berada di sisinya. Emely tidak langsung menjawab. Dia langsung menyelubung masuk tanpa dipersilakan. “Santai saja, Eliana. Aku datang ke sini hanya ingin bicara ringan padamu.” sahut Emely sambil memindai suasana sekeliling kontrakan yang dihuni oleh Eliana, lalu kembali berlabuh menatapi Eliana. “Bicara apa? Jika tidak penting, sebaiknya kamu pulang. Ini waktu istirahatku sebelum aku masuk shif malam.” ketus Eliana. “Siapa pria yang datang bersamamu ke acara pertunanganku semalam, Eliana?” tanya Emely to the point. Dahi Eliana mengerut, alisnya menukik tajam dan bibirnya sedikit mencebik. “Maksudmu... pacarku, Arif?” “Iya. Ah, siapapun namanya, aku tidak peduli. Tapi aku hanya ingin tahu di mana kekasihmu tinggal?” tanya Emely lagi. “Katamu tidak peduli, tapi kenapa ingin tahu di. mana rumahnya. Lalu itu namanya apa selain masih peduli tuk mencampuri urusan orang lain.” sahut Eliana menantang pengakuan Emely tadi, yang mengatakan kalau dirinya tidak peduli pada kehidupan Eliana. “Sudah kubilang, aku hanya ingin tahu.” timpal Emely. “Itu samasekali bukan urusanmu lagi, Emely. Kamu bukan sahabatku lagi. Dan kamu juga sudah memiliki Revan.” kilah Eliana dengan ekspresi datar. Tidak ada nada keramahan sedikit pun saat menjawab pertanyaan Emely yang terkesan menyudutkan. “Kenapa? Apa kau takut kebohonganmu terbongkar, Eliana?” sergah Emely dengan wajah penuh ejekan. Eliana menatap tajam Emely yang masih berjalan mengedar di sekitar ruang depan. Merasa terganggu dengan pertanyaan sekaligis kehadiran wanita racun seperti Emely. “Saya tahu kalau itu hanya pacar sewaan, Eliana!” lantang Emely tepat ke wajah Eliana. Membuat Eliana hampir tersedak oleh salivanya sendiri. “Kenapa? Kau terkejut dengan fakta yang aku beberkan?” Emely terkekeh. “Jangan terkejut seperti itu, Eliana. Aku tahu karena aku selalu berpikir secara logika. Mana ada, sih, laki-laki yang mau sama kamu? Kamu itu orang tidak punya, mustahil bisa memiliki pria setampan itu. Kecuali... kalau kamu jual diri.” tohok Emely, membuat Eliana murka. “Keluar kamu dari rumahku, Emely! Kamu sungguh keterlaluan!” usir Eliana sambil menyeret lengan Emely. “Lepas! Aku bisa keluar sendiri. Lagipula, aku tidak betah jika berlama-lama di sini. Sumpek, dan bikin gerah.” keluh Emely sambil mengibasi wajahnya karena kegerahan. “Tidak ada yang memintamu datang ke sini. Jadi pergilah, Emely.” usir Eliana lagi tanpa memandangi wajah Emely. “Tapi sebelum itu ... mengakulah kalau dugaanku benar, Eliana. Pria yang kamu bawa semalam ke acara pertunganku adalah pacar sewaan, ’kan?” “Keluar kamu, Emely! Kedatanganmu samasekali tidak penting.” hardik Eliana sambil mendorong Emely agar segera enyah dari kontrakannya. Begitu Eliana berhasil membuat Emely keluar, dia berkata lagi sebelum menutup pintu. “Asal kamu tau, ya... pria yang semalam aku bawa itu benar-benar pacar saya! Aku bisa membuktikannya lain waktu. Aku akan mengajaknya pergi jalan-jalan nanti, dan aku harap kamu menyaksikannya sendiri.” Emely mengangat satu alis. “Oh, ya? Kalau begitu aku terima tantanganmu, Eliana.” jawaban Emely, membuat Eliana berubah pias. Bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi? Sepertinya pria itu enggan untuk berkencan denganku lagi karena bayaran yang murah. “Deal?” Emely menyodorkan satu tangan kepada Eliana. Eliana menatap Emely sejenak, sebelum tangannya terulur tuk meraih tangan Emely. Dengan perasaan ragu, Eliana menggapai tangan itu dan menyepakati persetujuan. “Deal!” Emely tersenyum sinis sambil berlalu meninggalkan kediaman Eliana. Namun sebelum dia benar-benar menghilang dari pandangan, Emely mendesis tajam. “Seharusnya kamu sudah pergi jauh dari sini, Eliana. Jauh ... jauh sekali dari sini.” setelah itu, Emely kembali melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi ke belakang, membiarkan Eliana sibuk dengan pemikirannya. Apa maksudnya pergi jauh?Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia
Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D
Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita
Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana
Eliana mengerjap. Cahaya menyilaukan yang pertama kali menyambut. Dia terbangun dari tidurnya, merasa lelah dan sakit kepala. Eliana membuka mata, dan melihat sekeliling. Dia berada di kamar yang terang, dengan jendela yang lebar bertirai tebal. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan seolah lupa apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ini bukan kastil tempat di mana ia dikurung kemarin. Eliana bangkit. Ia merasa sakit saat tubuhnya dipaksa bangun. Terasa hancur, seperti telah diinjak-injak. Dia kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi, pikirannya mulai menerawang jauh. Tiba-tiba, kenangan itu kembali. Kenangan tentang Aron, tentang apa yang dia lakukan pada dirinya. Eliana merasa dirinya seperti diserang, menyadari tubuhnya telah dijamahi dan dirusak. Mata Eliana mengembun, merasa lemah, tidak ada kekuatan sama sekali yang dia punya untuk melawan. Eliana melihat sekeliling, dan menyadari bahwa dia berada di kamar yang sama seperti mimpi buruk semalam, kamar yang dia tiduri den
Aron melangkah masuk, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Eliana. Dia berhenti di depan jasad Mike, lalu menatap Eliana dengan tajam. “Kamu... kamu yang membiarkannya masuk?” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. Eliana menegang, mencoba menghindari tatapan Aron. Dia hanya mampu menjawab dengan gelengan kecil. Antara mengakui dan tidak. Aron tertawa, tapi tawa itu tidak ada kegembiraan. “Tidak? Lalu siapa yang membiarkan orang ini masuk? Kastil ini tidak bisa dimasuki dengan mudah.” Eliana menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa masuk, tapi tidak bisa menjelaskan itu kepada Aron. Sebab yang Eliana tahu hanyalah... kebebasan. Dia ingin kebebasan. Aron melangkah lebih dekat, membuat Eliana merasa tertekan. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Eliana. Apa itu?” Eliana menatap Aron, matanya penuh ketakutan. “Aku... tidak tahu...” Aron menatapnya dengan tajam, lalu tiba-tiba dia membungkuk dan mengambil kampak yang






