Beranda / Mafia / Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran / Bab 6 | Berita Pembunuhan

Share

Bab 6 | Berita Pembunuhan

Penulis: Heni HN
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-29 21:56:49

Eliana merasa puas dengan kencan malam ini bersama pacar sewaannya. Melihat wajah Emely yang takjub saat melihat wajah pacar yang telah dia sewa, membuat Eliana merasa menang kali ini, walau sementara.

Sekarang Eliana sedang dalam perjalanan menuju pulang. Pacar sewaannya pun masih setia mengikutinya, mungkin hendak mengantarkan pulang. Mengingat malam semakin larut, sebab tidak baik seorang gadis berjalan seorang diri di tengah gelapnya malam.

“Hahahah! Aku puas sekali membuat Emely tegang. Wajahnya itu lho, tertekan banget saat kamu memperlihatkan wajahmu, Arif!” kelakar Eliana sambil tertawa keras. Menertawakan, bagaimana ekspresi Emely tadi. Mungkin dia merasa heran, darimana Eliana mendapatkan teman kencan setampan Arif.

Namun pria yang diduga bernama Arif hanya diam saja. Tapi langkahnya masih terus terayun mengikuti irama langkah kaki Eliana yang terus meracau kegirangan.

“Arif, kenapa kamu diam saja, sih? Katakan, di mana kamu tinggal?” celetuk Eliana yang tiba-tiba bertanya.

Pria yang Eliana duga sebagai pacar sewanya hanya mendelik tajam tanpa menyahut, membuat dahi Eliana mengerut dalam.

“Misterius sekali...” cetus Eliana sambil memanyunkan bibir. Dia sebal kepada pria itu. Kenapa jika ditanya hanya diam saja. Apa dia marah karena belum aku bayar? Makanya dia terus mengikutiku sampai rumah. Eliana mulai berasumsi.

Tapi ada bagusnya. Meski pria itu hanya diam, namun Eliana bisa merasa sedikit lebih aman dibandingkan berjalan seorang diri. Kebisuan itu akan dimanfaatkan oleh Eliana agar pria bisu itu mau menghantarnya sampai rumah. Barulah setelah itu dia membayar tarifnya.

Eliana dan pria itu berjalan dalam keheningan. Tidak ada lagi yang berbicara setelah pertanyaan Eliana tadi, yang menanyakan di mana pria itu tinggal.

Sampai tak terasa keduanya sudah sampai di kediaman Eliana. Pria itu berhenti ketika melihat Eliana yang juga memberhentikan diri.

“Arif. Aku puas sekali dengan aktingmu tadi. Aku akan memberikan kamu rating lima di akunmu. Terima kasih banyak untuk malam ini.” kata Eliana sambil meraih jemari tangan lalu menyerahkan uang berwarna merah sebanyak tiga lembar ke telapak tangan pria itu.

Pria itu menatap lembaran merah itu dengan tatapan heran, lalu wajahnya kembali terangkat bingung ketika memandang Eliana.

Eliana yang paham keheranan dari pria itu meringiskan tawa. “Maaf, Arif. Untuk malam ini aku hanya bisa memberikanmu uang sebanyak itu. Itu pun uang hasil pinjaman dari Livia. Tapi aku janji, lain kali aku akan melebihkannya, kok! Apa kamu mempunyai nomor ponsel yang bisa aku hubungi? Supaya lebih mudah urusannya nanti bila suatu saat aku membutuhkan jasamu lagi.”

Karena Eliana berpikir, pasti Emely merencanakan rencana lain untuk membuktikan, apakah pria yang dia bawa ke acara pertunangannya tadi adalah benar kekasih atau bukan. Jika Emely menginginkan hal itu, maka Eliana sudah harus siap. Jadi itu alasan mengapa Eliana meminta nomor ponsel pria di depannya saat ini.

Tapi pria itu malah menatapnya tajam. Mungkin tidak ingin berkencan dengan Eliana lagi karena tarif yang terlalu murah.

Eliana menyadari perubahan ekspresi itu secara signifikan. Dia merasa tidak enak hati karena terlalu banyak menuntut pada pria itu.

“Baiklah. Jika kamu tidak berkenan tuk memberikan nomor ponselmu, aku tidak akan memaksa. Aku tetap akan memesanmu lewat aplikasi nanti sewaktu butuh.” ucap Eliana dengan senyum getir. Dia segera melipir membuka pintu yang terkunci lalu memasukinya.

Namun sebelum pintu benar-benar tertutup rapat, Eliana masih melihat pria itu masih berdiri mematung di luar rumahnya sambil memperhatikannya. Tatapannya tajam dan awas, telapak tangannya masih menggenggam uang pemberian Eliana tadi.

Eliana tidak ingin ambil pusing. Baginya, misi memanasi Emely dan Revan telah berhasil. Kini Eliana tinggal menuai pendapat Emely mengenai pacarnya yang dia sewa jika nanti bertemu lagi. Jika membayangkan wajah kekasih sewaannya, membuat jantung Eliana kembali berdebar kencang. Wajah putih, rambut coklat keemasan dan mata hazelnya begitu memikat hati Eliana.

Tanpa dia tahu... kalau pria yang mengantarnya ke acara pertunangan tadi bukanlah pacar yang dia sewa, melainkan pria yang berasal dari kegelapan. Dan pertemuan pertamanya ini dengan pria itu merupakan awal dari perubahan besar dalam hidup Eliana.

* * *

Eliana melenguh sambil menggeliat di kasur empuknya. Tidurnya sangat nyenyak semalam, ditambah diantar oleh pria tampan yang dia sewa semalam, membuat mimpinya semakin indah. Apalagi setelah menyaksikan wajah Emely yang tertekan ketika melihat itu, membuat mimpi di dunia nyata semakin terangkai indah.

Eliana tidak berangkat kerja pagi ini, sebab di minggu ini Eliana bekerja di shif malam. Jadi dia bisa sedikit bersantai untuk memulai hari.

Setelah membenarkan posisi rebahanmya, Eliana meraih ponsel bututnya yang sudah retak di bagian sisi. Bahkan layarnya hampir memudar setengahnya.

Tapi Eliana tetap tersenyum senang. Walaupun ponselnya sudah sangat memprihatinkan, selagi masih dipakai, kenapa harus beli yang baru?

“Yang penting fungsi” gumamnya sambil mengutak-atik ponselnya.

Untuk mengusir kejenuhan di hari libur, Eliana memutuskan untuk bermain ponsel dan berselancar di sosial media. Barangkali ada berita bagus atau penting, atau mungkin sekedar hiburan.

Namun sayangnya tidak ada yang membuat Eliana terhibur. Topik berita atau konten yang discroll-scrollnya hanya membahas berita yang sudah-sudah dan konten kreator yang joget-joget tidak jelas. Itu membuat Eliana bosan, sehingga memutuskan untuk menekan tombol 'back'supaya tontonan berakhir.

Tapi saat ia menekan tombol itu satu kali, konten-konten baru mulai dimuat oleh aplikasi. Jadi Eliana memutuskan untuk urung mengetuk tombol 'back'lagi agar berita bagus itu tidak hilang.

Berita baru itu membahas tentang kasus yang marak terjadi akhir-akhir ini. Yakni kasus pembunuhan yang sangat mengerikan yang menimpa korbannya. Mulai dari termutilasi, dibakar untuk menghilangkan jejak, bahkan ada yang dicor. Dan kemungkinan dugaan kuat mengarah ke pelaku yang memiliki kekuasaan besar, sehingga sulit tersentuh oleh hukum.

“Ih, kenapa orang zaman sekarang semengerikan itu, ya? Menghabisi nyawa orang sudah seperti menghabisi anak ayam.” gerutu Eliana yang masih memantengi berita memilukan itu.

Tok! Tok! Tok!

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kontrakan Eliana. Memaksanya untuk mengsudahi tontonan baru itu.

“Haish! Siapa, sih ... pagi-pagi sudah bertandang ke rumah orang. Apa dia enggak tahu kalau aku mau istirahat.” omel Eliana meski ia tetap beranjak untuk membukakan pintu.

“Siapa?” tanya Eliana dengan tangan yang dibarengi tuk membuka pintu. Namun setelah tahu siapa yang datang, Eliana terkejut bukan main.

“Lho, Emely? Mau apa pagi-pagi ke sini?” heran Eliana. Kali ini Emely datang sendiri tanpa Revan yang biasanya selalu berada di sisinya.

Emely tidak langsung menjawab. Dia langsung menyelubung masuk tanpa dipersilakan.

“Santai saja, Eliana. Aku datang ke sini hanya ingin bicara ringan padamu.” sahut Emely sambil memindai suasana sekeliling kontrakan yang dihuni oleh Eliana, lalu kembali berlabuh menatapi Eliana.

“Bicara apa? Jika tidak penting, sebaiknya kamu pulang. Ini waktu istirahatku sebelum aku masuk shif malam.” ketus Eliana.

“Siapa pria yang datang bersamamu ke acara pertunanganku semalam, Eliana?” tanya Emely to the point.

Dahi Eliana mengerut, alisnya menukik tajam dan bibirnya sedikit mencebik.

“Maksudmu... pacarku, Arif?”

“Iya. Ah, siapapun namanya, aku tidak peduli. Tapi aku hanya ingin tahu di mana kekasihmu tinggal?” tanya Emely lagi.

“Katamu tidak peduli, tapi kenapa ingin tahu di. mana rumahnya. Lalu itu namanya apa selain masih peduli tuk mencampuri urusan orang lain.” sahut Eliana menantang pengakuan Emely tadi, yang mengatakan kalau dirinya tidak peduli pada kehidupan Eliana.

“Sudah kubilang, aku hanya ingin tahu.” timpal Emely.

“Itu samasekali bukan urusanmu lagi, Emely. Kamu bukan sahabatku lagi. Dan kamu juga sudah memiliki Revan.” kilah Eliana dengan ekspresi datar. Tidak ada nada keramahan sedikit pun saat menjawab pertanyaan Emely yang terkesan menyudutkan.

“Kenapa? Apa kau takut kebohonganmu terbongkar, Eliana?” sergah Emely dengan wajah penuh ejekan.

Eliana menatap tajam Emely yang masih berjalan mengedar di sekitar ruang depan. Merasa terganggu dengan pertanyaan sekaligis kehadiran wanita racun seperti Emely.

“Saya tahu kalau itu hanya pacar sewaan, Eliana!” lantang Emely tepat ke wajah Eliana. Membuat Eliana hampir tersedak oleh salivanya sendiri.

“Kenapa? Kau terkejut dengan fakta yang aku beberkan?” Emely terkekeh. “Jangan terkejut seperti itu, Eliana. Aku tahu karena aku selalu berpikir secara logika. Mana ada, sih, laki-laki yang mau sama kamu? Kamu itu orang tidak punya, mustahil bisa memiliki pria setampan itu. Kecuali... kalau kamu jual diri.” tohok Emely, membuat Eliana murka.

“Keluar kamu dari rumahku, Emely! Kamu sungguh keterlaluan!” usir Eliana sambil menyeret lengan Emely.

“Lepas! Aku bisa keluar sendiri. Lagipula, aku tidak betah jika berlama-lama di sini. Sumpek, dan bikin gerah.” keluh Emely sambil mengibasi wajahnya karena kegerahan.

“Tidak ada yang memintamu datang ke sini. Jadi pergilah, Emely.” usir Eliana lagi tanpa memandangi wajah Emely.

“Tapi sebelum itu ... mengakulah kalau dugaanku benar, Eliana. Pria yang kamu bawa semalam ke acara pertunganku adalah pacar sewaan, ’kan?”

“Keluar kamu, Emely! Kedatanganmu samasekali tidak penting.” hardik Eliana sambil mendorong Emely agar segera enyah dari kontrakannya.

Begitu Eliana berhasil membuat Emely keluar, dia berkata lagi sebelum menutup pintu.

“Asal kamu tau, ya... pria yang semalam aku bawa itu benar-benar pacar saya! Aku bisa membuktikannya lain waktu. Aku akan mengajaknya pergi jalan-jalan nanti, dan aku harap kamu menyaksikannya sendiri.”

Emely mengangat satu alis. “Oh, ya? Kalau begitu aku terima tantanganmu, Eliana.” jawaban Emely, membuat Eliana berubah pias.

Bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi? Sepertinya pria itu enggan untuk berkencan denganku lagi karena bayaran yang murah.

“Deal?” Emely menyodorkan satu tangan kepada Eliana.

Eliana menatap Emely sejenak, sebelum tangannya terulur tuk meraih tangan Emely. Dengan perasaan ragu, Eliana menggapai tangan itu dan menyepakati persetujuan.

“Deal!”

Emely tersenyum sinis sambil berlalu meninggalkan kediaman Eliana. Namun sebelum dia benar-benar menghilang dari pandangan, Emely mendesis tajam.

“Seharusnya kamu sudah pergi jauh dari sini, Eliana. Jauh ... jauh sekali dari sini.” setelah itu, Emely kembali melanjutkan langkah tanpa menoleh lagi ke belakang, membiarkan Eliana sibuk dengan pemikirannya.

Apa maksudnya pergi jauh?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 12 | Dia milikku!

    Hyaa! Max memulai serangan pertama kepada Aron dengan cara melayangkan satu pukulan. Namun Aron berhasil menghindari serangan, sebisa mungkin Aron akan menghindarinya. Mereka menyerang dari berbagai arah, pistol dan pisau berkilau di tangan mereka. Aron berputar, mengantisipasi serangan. Meningkatkan rasa awas dan kehati-hatian. Salah satu dari mereka berlari maju menyerang Aron menggunakan pisau. Aron yang sudah siaga kembali menghindari dan menarik tangan yang mengayunkan pisau itu lalu menelintirnya hingga terdengar retakan tulang. “Aaaa!” pria yang menyerang menggunakan pisau itu memekik kesakitan saat Aron dengan bengis mematahkan lengannya. Bugh! Aron menjatuhkannya begitu saja. Lalu matanya kembali menatap liar pada yang lain. Serangan kedua, kini dilakukan tiga orang sekaligus. Ketiga orang itu memposisikan diri seperti lingkaran yang mengungkung keberadaan Aron di tengah gelapnya malam. Namun itu tidak membuat Aron gentar sedikitpun. Dia semakin tertantang. Du

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 11 | Serangan Tak Terduga

    Eliana sudah bersiap hendak berpamit pergi. Ia hanya menginap semalam bersama Aron, karena malam ini Eliana harus kembali bekerja di shif malam. Waktu sudah menunjuk angka tiga sore. Jadi Eliana harus segera berangkat sekarang jika tidak ingin pulang terlalu malam. “Kau yakin mau langsung pulang hari ini?” tanya Medina dengan mata menggembun. “Iya, Bu. Eliana harus kembali bekerja.” sahut Eliana dengan suara sedih. “Ibu merasa... ini pertemuan terakhir kita, Eliana. Ibu merasa... kita akan terpisah dalam waktu lama.” Eliana menghela nafas berat. “Huh... itu hanya perasaan ibu saja. Eliana berangkat, ya, Bu. Sebelum hari gelap.” Eliana meraih tangan berkeriput halus itu lalu mengecup takzim. “Hati-hati Eliana. Bapak akan selalu merindukanmu.” Ernad mengecup kening Eliana penuh kasih. Begitu pun dengan Aron. Pria itu melakukan hal sama seperti yang Eliana lakukan. Berpamitan dengan baik dan sopan kepada orangtua Eliana. Tibalah di Nayla. Gadis itu tampak merengut sedih

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 10 | Aku Mau Hidupmu

    Suasana kediaman Eliana semakin meriah ketika Aron dipersilakan masuk ke dalam. Sepertinya orangtua beserta kedua adiknya, menerima dengan baik kehadiran Aron. Terbukti dari cara mereka menyambut dengan penuh keramahan serta humble untuk lebih mengakrabkan diri. Sedangkan Eliana menatap tajam pada Aron, seperti kilatan pedang yang siap menghunus lawan. Aron duduk di sofa dengan wajah tenang. Di sebelahnya, ada adik Eliana bernama, Nayla. Nayla adalah anak kedua Ernad, yang saat ini masih menduduki sekolah menengah pertama. Sedangkan si bungsu bernama, Erdan, yang masih menduduki sekolah dasar. “Jadi, nama kamu ... Aron, ya?” tanya ayah dari Eliana sambil memandangi Aron dari sofa seberang. “Betul, Om. Saya Aron, teman kencan Eliana.” sahutnya, jujur. Membenarkan pertanyaan ayah Eliana bernama, Ernad. “Teman kencan, dalam artian kekasih, ’kan?” tohok Ernad, membuat Eliana tersedak salivanya sendiri. Uhuk! Uhuk! Eliana terbatuk-batuk saking terkejut mendengar praduga sang ay

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 9 | Pengenalan Diri—Aron

    Eliana telah sampai di terminal. Ia mencari bus yang beroperasi sesuai dengan tujuan akhir. Para kernet dari masing-masing bus meneriakan area pemberhentian mereka untuk menarik perhatian penumpang. Kemudian Eliana mulai mendengar seorang kernet meneriaki kampung halamannya. “Mau naik bus ini?” tanya kernet yang berjaga di pintu depan. Eliana mengangguk sambil menunjukkan tiket yang telah ia beli di loket sebelumnya. Kernet itu menerima lalu mengamati. “Benar. Ini bus yang sesuai dengan tujuan Anda.” Kernet itu mengembalikan lagi tiket itu lalu mempersilakan Eliana masuk untuk menaiki bus itu. Sesampainya di dalam, pandangan Eliana kembali mengedar. Dia bermaksud mencari nomor urut bangku yang sesuai dengan yang tertera di nomor tiketnya, dan Eliana mendapat kursi bagian double seat yang tepat berada di sisi jendela. Eliana duduk. Suasana bus masih sepi, belum terlalu banyak penumpang. Jadi Eliana akan sarapan roti kemasan sebelum memulai perjalanan. Tiba-tiba seorang pr

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 8 | Tulisan Darah

    Hari yang dinanti-nanti tiba. Hari ini waktunya semua karyawan café menerima upah dari hasil jeri payah mereka. Eliana yang berdiri di depan pintu ruang Ibu Diana sambil menunggu giliran merasa excited. Ia tidak sabar ingin pulang ke kampung lalu memeluk tubuh Ibu dan Ayah beserta kedua adiknya. “Eliana Emelinda...” panggil Bu Diana yang menggemakan nama Eliana. Eliana masuk lalu menunggu gaji tuk diserahkan. “Duduk!” titah Bu Diana. Eliana duduk dengan senyum canggung di bibirnya. Menunggu sesuatu yang dinanti-nanti sejak lama. Ibu Diana mengela nafas sambil mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya. Kemudian mendorong pelan di permukaan meja kerja untuk diserahkan kepada Eliana. “Ini gaji kamu untuk bulan ini. Tapi sebelumnya saya meminta maaf, sebab gajimu aku potong untuk biaya ganti rugi properti yang rusak pasca keributan yang terjadi karenamu bersama Customer kemarin, Eliana.” Eliana menatap Ibu Diana tanpa berkedip, lalu beralih ke amplop coklat yang teronggok d

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 7 | Bukan Arif

    Eliana sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Kali ini dia bekerja di shif malam, bergantian dengan rekannya yang lain. Yang pasti, Livia juga shif malam sama seperti Eliana. “Semua keperluanku sudah siap. Tinggal berangkat.” Eliana berjalan mendekati pintu depan lalu membukanya perlahan. Namun, saat pintu itu terbuka lebar, sosok yang amat Eliana kenal sudah berdiri memandangi rumah kontrakannya. “Arif? Kamu di sini?” heran Eliana, sekaligus senang hatinya. Namun pria yang diduga Eliana sebagai Arif itu melengos ke arah lain, meninggalkan Eliana yang masih termangu sambil memandangi kepergiannya. “Dia itu kenapa, sih? Setiap aku tanya diam, ngilang... aneh banget!” gerutu Eliana yang merasa sebal dengan tingkah laku pria itu. * * * Eliana sudah sampai di café. Bahkan dia sudah memulai pekerjaannya bersama dengan Livia. Kini mereka sedang mengelap piring basah setelah dicuci tadi. “Bagaimana rencanamu di acara pertunangan Revan? Sukses?” tanya Livia. “Sukses, dong!

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status