Share

Bab 7 | Bukan Arif

Author: Heni HN
last update Huling Na-update: 2025-12-30 15:51:50

Eliana sudah bersiap hendak berangkat bekerja. Kali ini dia bekerja di shif malam, bergantian dengan rekannya yang lain. Yang pasti, Livia juga shif malam sama seperti Eliana.

“Semua keperluanku sudah siap. Tinggal berangkat.” Eliana berjalan mendekati pintu depan lalu membukanya perlahan.

Namun, saat pintu itu terbuka lebar, sosok yang amat Eliana kenal sudah berdiri memandangi rumah kontrakannya.

“Arif? Kamu di sini?” heran Eliana, sekaligus senang hatinya.

Namun pria yang diduga Eliana sebagai Arif itu melengos ke arah lain, meninggalkan Eliana yang masih termangu sambil memandangi kepergiannya.

“Dia itu kenapa, sih? Setiap aku tanya diam, ngilang... aneh banget!” gerutu Eliana yang merasa sebal dengan tingkah laku pria itu.

* * *

Eliana sudah sampai di café. Bahkan dia sudah memulai pekerjaannya bersama dengan Livia. Kini mereka sedang mengelap piring basah setelah dicuci tadi.

“Bagaimana rencanamu di acara pertunangan Revan? Sukses?” tanya Livia.

“Sukses, dong! Aku berhasil membuat Emely tertekan dengan rasa penasarannya. Bahkan tadi dia mendatangiku ke kontrakan hanya untuk menanyakan dari mana aku mendapatkan pacar setampan pacar sewaanku itu.” terang Eliana sambil berkelakar.

“Hahaha! Lagian, Emely tidak ada kerjaan banget mengganggu hidup kamu terus, Eliana. Revan juga. Bisa-bisanya kepincut sama Emely yang toxic itu.” cerocos Livia, berapi-api.

“Iya sih. Tapi... pacar yang aku sewa semalam itu berbeda. Seperti... misterius dan susah ditebak gitu apa maunya.” Eliana mengeluhkan sikap pria tampan yang semalam mengantarnya ke acara pertunangan Emely dan Revan.

“Maksud kamu?” selidik Livia.

“Maksudnya... dia itu orangnya dingin banget, kaku gitu. Terus kalau aku tanya selalu diem, kalau gak, pergi begitu saja. Dia juga pakai hoodie yang kupluknya besar warna hitam dan masker saat ke pesta. Kan aneh.”

Livia masih terdiam sambil menunggu kelanjutan cerita Eliana.

“Tapi yang aku heran, saat Emely mulai mempermalukanku, dia membelaku, Liv. Dia turunkan kupluk hoodienya dan membuka masker. Dan saat itu semua orang tercengang. Bahkan Emely sampai takjub melihat wajah itu.”

“Apa? Takjub? Emely, kan, sok jual mahal! Sama Revan saja dia jual murah.” tawa Livia pecah saat mengatakan itu.

“Aku serius! Pria yang aku sewa sebagai pacar semalam memang sangat tampan. Aku saja... sampai terpesona.” Aku Eliana yang membenarkan kalau pria semalam memang sangat memukau.

“Ya, ya... dan kau hanya membayarnya tiga ratus ribu dari uang yang kau pinjam dariku?” selidik Livia, telak.

“Mau bagaimana lagi. Hari gajihan masih lama, Livia...” sahut Eliana, lemas.

Keduanya terdiam. Namun pikiran Livia berkelana, membayangkan rupa dari pacar yang Eliana sewa kemarin malam.

“Hmm... kira-kira bagaimana wajahnya, ya? Aku ingin lihat. Mendengar Emely sampai terpukau, membuatku semakin penasaran.” celetuk Livia.

Eliana tampak berpikir, matanya mengedar. “Seperti... Ah! seperti pria yang duduk di meja ujung sana!” tunjuk Eliana ke salah satu meja.

“Maksudmu, pria yang memakai hoodie dan masker itu?” tanya Livia, memastikan.

Tunggu ... sepertinya pria itu...

“Itu orangnya, Livia!” kata Eliana yang tanpa sadar menaikkan intonasi bicaranya.

“Apa? Jadi dia?” sahut Livia tak percaya, yang diberi anggukan pasti oleh Eliana.

Saat keduanya kembali memperhatikan pria itu, tiba-tiba ia menoleh, seolah tahu kalau ia tengah diperbincangkan.

Tatapannya tajam, rahangnya kokoh penuh karismatik namun misterius.

Kali ini, pria yang mengantar kencan Eliana semalam tidak memakai masker, jadi keduanya bisa melihat wajah dari pria yang diduga memiliki nama Arif itu.

“Dia aneh, ’kan? Jadi kamu hati-hati!” Eliana kembali mengatakan asumsinya kepada Livia mengenai pria yang menemaninya kencan semalam.

“Dia tampan sekali...” puji Livia tanpa sadar, mengabaikan Eliana yang menatapinya dengan wajah ragu.

“Aku akan mendekatinya!” Livia sudah bersiap hendak menemui pria asing itu.

“Liv, mau kemana?!” teriak Eliana sambil menyusul langkah Livia yang terus saja berjalan menuju pria yang duduk di meja pojok.

“Hai! Mau pesan apa, Tampan?” goda Livia tanpa ragu.

Namun teman kencan Eliana semalam itu hanya terdiam tanpa berniat menjawab pertanyaan Livia, bahkan cenderung mengabaikannya.

Matanya beralih menatapi Eliana yang baru tiba menyusul Livia.

“Eliana...” lirih pria itu yang masih mampu terdengar jelas, membuat Eliana dan Livia saling pandang. “Kita bertemu lagi...”

Eliana mengangguk kecil sambil tersenyum kaku. Ia merasa tidak enak terhadap Livia yang diabaikan oleh teman kencannya semalam.

“Oh... jadi benar, ya, kalau kamu pacar Eliana yang telah ia sewa. Kapan-kapan, jalan bareng aku, yuk! Nanti aku akan sewa kamu di situs dewasa itu nanti.” ajak Livia antusias, menghiraukan sikapnya yang sedingin salju.

“Pergilah.. aku ingin bicara dengan Eliana.” pinta pria itu kepada Livia yang mengusir secara halus.

Livia bungkam. Ia melirik ke arah Eliana yang mengeryit sambil menangkupkan telapak tangan sebagai tanda permintaan maafnya yang mewakili teman kencannya semalam.

“Oh, begitu... Baik, aku akan pergi. Tapi satu pesanku padamu, ya. Jaga Eliana. Dia anak yang baik sekaligus teman baikku.” Livia kemudian pergi meninggalkan Eliana dan teman kencannya sambil mengacungkan ibu jari.

Tinggalah Eliana di sana yang berdiri mematung. Matanya mengedar, keadaan cafè amat lenggang.

Tidak ada pengunjung satu pun, hanya ada Arif. Entah sejak kapan suasana mendadak senyap.

Yang terakhir Eliana tahu tadi, masih ada beberapa Customer, sekarang benar-benar sepi setelah munculnya Arif.

Dan hatinya kini diliputi rasa cemas, takut. Takut jika pria di hadapan kini hendak menagih lagi tarif semalam karena dirasa terlalu murah.

“Duduk!” titahnya kepada Eliana sambil menunjuk salah satu kursi di depannya.

Eliana meneguk saliva kasar. Namun masih tetap mengikuti kemauan teman kencannya semalam.

Dia benar-benar tidak berdaya jika benar kalau Arif hendak menagih pembayaran semalam karena dirasa kurang.

“Ceritakan tentang dirimu.” pintanya pada Eliana dengan wajah datar.

Eliana menatap tak percaya setelah mendengar permintaan teman kencannya semalam. Senyum kecil terpatri di bibirnya yang mungil.

Dia tidak menyangka, kalau pria dingin itu mau tau tentang kisah hidupnya. Bukan untuk menagih hutang.

Eliana bernafas lega.

Jadi dia tidak akan menagih kekurangan tarif semalam? Ini adalah awal yang bagus untuk mengenal lebih dekat.

“Yah. Baik, akan kuceritakan. Aku adalah mantan kekasih dari lelaki yang semalam bertunangan dengan temanku. Mereka berdua menghianati—”

“Aku tidak memintamu untuk menceritakan itu.” pungkasnya yang memangkas kalimat Eliana. “Itu samasekali tidak menarik.”

Eliana tertegun. “Lalu kau ingin aku menceritakan apa?”

Pria yang memiliki mata hazel itu menatap dingin namun lekat. “Tentang hidupmu, kecuali yang tadi. Seperti... keluarga, saudara, atau dengan siapa kau tinggal.”

“Aku tinggal sendiri. Sementara keluargaku tinggal di kampung. Aku adalah anak perantau yang nekat untuk mencukupi kehidupan sehari-hari dan biaya sekolah adikku.” kata Eliana.

Pria itu terdiam. Namun matanya menatap tenang wajah Eliana ketika bercerita.

“Dan sebentar lagi aku akan pulang kampung untuk mengirim sebagian dari gajiku. Saat itulah aku merasa bahagia, bisa berkumpul kembali dengan keluarga, walau sesaat.” Eliana berangan untuk segera pulang ke kampung halaman. Kentara sekali kalau dia sedang rindu keluarga.

“Tapi... untuk apa kamu menanyakan tentang keluargaku, Arif? Apa kau ingin tau banyak hal tentangku?”

“Banyak. Bahkan aku sudah tau sebagian dalam hidupmu, Eliana...”

Seketika Eliana merinding saat mendengar jawaban dari teman kencannya itu.

“Kamu tidak perlu mencari tahu banyak tentangku, Arif. Jika memang bayaranku semalam kurang, maka aku akan menggantinya saat tiba waktu gajian nanti.” sesal Eliana yang menyadari kesalahannya.

“Aku tidak mau uang.”

Eliana mengeryit, heran. “Maksudmu... aku terbebas dari masalah itu?”

“Tidak. Justru kau akan membayarnya dengan yang lebih mahal lagi.” sahut pria yang merupakan teman kencan Eliana.

“Apa maksudnya lebih mahal, Arif?” Eliana bertanya bingung.

Namun yang dikira Arif oleh Eliana itu tak menjawab. Pria itu beranjak hendak meninggalkan Eliana yang masih termangu seorang diri.

Membayar dengan yang lebih mahal? Apa maksudnya?

Pria itu menghentikan langkah sejenak. Eliana melihatnya dengan jantung berdebar-debar.

Tanpa membalikkan badan, pria itu kembali bersuara.

“Jangan panggil aku dengan sebutan Arif. Itu bukan namaku...” setelahnya pria itu kembali melangkah sampai benar-benar pergi meninggalkan café dan Eliana. Membuat tanda tanya pada benak Eliana semakin besar.

Kalau bukan Arif, lalu siapa?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 43 | Nikahi Aku!

    Aron mendekat. Suara dari sepatu pantofelnya menggema, berirama, namun terdengar mengancam. Lebih-lebih Eliana. Dia yang paling merasa teraniaya, meski kekerasan belum terjadi, tapi kesan tak baiknya sudah ia dapat. Eliana merasa tali yang membatasinya semakin menjerat dan mencekik, membuatnya tidak bisa bergerak walau sekedar menarik nafas. Aron menatap tajam pada Eliana dan Revan, dan tatapannya jatuh pada Eliana dengan senyum yang menakutkan. “Eliana, kita harus pulang sekarang. Kau sudah terlalu lama di sini.” terdengar datar, tapi tersirat amarah terpendam. Eliana mengangguk perlahan, matanya tidak berani menatap Revan. “Baik.” Revan merengseg maju, menghalangi jalan Aron. “Eliana tidak akan pergi denganmu,” suaranya tegas, seperti telah mengumpulkan keberanian dari lama. Aron tersenyum, senyum tidak mencapai mata. “Kamu tidak bisa melarang Eliana, Revan.” dia berkata, dengan suara yang rendah dan penuh peringatan. Revan tidak mundur. “Aku tidak akan membiarkan Elia

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 42 | Sudah Terlalu Lama

    Eliana berdiri di depan cermin westafel, menatap wajahnya yang dulu segar dan cantik. Tapi sekarang, wajah itu terlihat lelah. Lingkar matanya cekung, kulitnya pucat, dan ada tanda merah bercak di lehernya. Tanda keganasan Aron ketika menginginkannya. Dia meratapi nasibnya yang terjerat cinta pembunuh bayaran. Aron Montgomery, pria yang dulu dia puja, ternyata adalah iblis yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi... namanya adalah Aron Montgomery?Batin Eliana meracau. Sebab yang ia tahu di markas... nama pria itu adalah Aron Fox, bukan Montgomery Eliana yang terpesona tatapannya dulu, kini terperangkap dalam bahaya, pada karismatiknya yang mematikan, bahkan saat ini ia harus mendekam dalam sangkarnya. Sekarang, betapa ia menyesali keputusan untuk menyewa pacar sewaan hanya untuk terlihat unggul di pertunangan Revan. Eliana mengingat kembali hari-hari awalnya ketika dia masih bekerja sebagai pramusaji. Dia masih merasa bahagia walau hidup di tengah keterbatasan ekonomi. D

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 41 | Emely, Menginginkan Kematian Eliana

    Revan dan Emely saling menatap, dengan ekspresi penuh tanya. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi mereka tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. “Selah, mari kita mulai acara wisuda,” Aron tersenyum smirk saat netranya terarah pada Revan dan Emely yang masih tercengang. INT. AUDITORIUM KAMPUS ELIT - HARI INI Suasana auditorium dipenuhi dengan sorak-sorai dan tepuk tangan, para hormat dan takjub. Eliana memasang wajah bingung. Kenapa penjahat seperti Aron mendapat kehormatan di mata dunia, disegani, dan diakui keberadannya. “Selah, Rektor Montgomery,” kata Rektor Kampus, dengan suara yang hormat. Aron tersenyum, dengan mata yang berkilau. “Selah, saya Rektor Montgomery. Dan saya sangat senang bisa hadir di acara wisuda ini.” Eliana, yang berdiri di samping Aron, merasa seperti berada di dalam mimpi. Dia tidak tahu bahwa Aron adalah Rektor Kampus, dan dia merasa seperti tidak mengenal orang yang ada di sampingnya. Lalu kemudian ia melihat Revan dan Emely, bersita

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 40 | Aron Montgomery—Identitas Asli

    Eliana dan Aron menuruni gedung melalui lift, dengan suasana sunyi dan tegang. Dia tidak bisa berkutik saat Aron dengan posesif mengamit jemarinya tanpa dia bisa melawan. Genggaman tangan Itu kuat, dingin, dan menguasainya. Ketika lift berhenti, Aron membukakan pintu dan membiarkan Eliana keluar terlebih dahulu. Eliana melangkah keluar, dan menyadari bahwa mereka berada di sebuah rumah mewah yang sangat besar. Dia melihat sekeliling, dan merasa dirinya seperti berada di dalam istana. Langkahnya terjeda. Matanya masih mengedar suasana yang masih asing namun mengesankan. Rumah bercat gold tampak berkilauan di mata Eliana. Mewah dan elegan. “Rumahku.” ujar Aron yang seakan mengerti tanda tanya dalam benak Eliana. Eliana menatap Aron, irisnya melebar dan tak percaya. “Rumahmu?” dia bertanya, suaranya hampir tidak terdengar. Aron tersenyum, dengan senyum yang tidak mencapai mata. “Ya, rumahku. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kamu tahu bahwa aku pun sekarang milikmu, Eliana

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 39 | Mencintai dengan Cara yang Salah

    Eliana mengerjap. Cahaya menyilaukan yang pertama kali menyambut. Dia terbangun dari tidurnya, merasa lelah dan sakit kepala. Eliana membuka mata, dan melihat sekeliling. Dia berada di kamar yang terang, dengan jendela yang lebar bertirai tebal. Dia tidak tahu di mana dia berada, dan seolah lupa apa yang terjadi. Tapi yang pasti, ini bukan kastil tempat di mana ia dikurung kemarin. Eliana bangkit. Ia merasa sakit saat tubuhnya dipaksa bangun. Terasa hancur, seperti telah diinjak-injak. Dia kemudian mencoba mengingat apa yang terjadi, pikirannya mulai menerawang jauh. Tiba-tiba, kenangan itu kembali. Kenangan tentang Aron, tentang apa yang dia lakukan pada dirinya. Eliana merasa dirinya seperti diserang, menyadari tubuhnya telah dijamahi dan dirusak. Mata Eliana mengembun, merasa lemah, tidak ada kekuatan sama sekali yang dia punya untuk melawan. Eliana melihat sekeliling, dan menyadari bahwa dia berada di kamar yang sama seperti mimpi buruk semalam, kamar yang dia tiduri den

  • Terjerat Cinta Pembunuh Bayaran   Bab 38 | Monster

    Aron melangkah masuk, matanya tidak pernah meninggalkan wajah Eliana. Dia berhenti di depan jasad Mike, lalu menatap Eliana dengan tajam. “Kamu... kamu yang membiarkannya masuk?” Suaranya rendah, tapi penuh ancaman. Eliana menegang, mencoba menghindari tatapan Aron. Dia hanya mampu menjawab dengan gelengan kecil. Antara mengakui dan tidak. Aron tertawa, tapi tawa itu tidak ada kegembiraan. “Tidak? Lalu siapa yang membiarkan orang ini masuk? Kastil ini tidak bisa dimasuki dengan mudah.” Eliana menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang harus dikatakan. Dia tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa masuk, tapi tidak bisa menjelaskan itu kepada Aron. Sebab yang Eliana tahu hanyalah... kebebasan. Dia ingin kebebasan. Aron melangkah lebih dekat, membuat Eliana merasa tertekan. “Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Eliana. Apa itu?” Eliana menatap Aron, matanya penuh ketakutan. “Aku... tidak tahu...” Aron menatapnya dengan tajam, lalu tiba-tiba dia membungkuk dan mengambil kampak yang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status