Home / Romansa / Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi / Bab 8. Di Bawah Tatapan yang Menghakimi

Share

Bab 8. Di Bawah Tatapan yang Menghakimi

last update Last Updated: 2025-12-26 22:15:39
Pintu kamar terbuka tanpa diketuk.

Shinta masuk dengan langkah mantap, seolah rumah sakit itu adalah ruang tamunya sendiri.

Dia berdiri dengan sikap tenang, penampilannya terlalu rapi untuk situasi yang seharusnya genting.

Seakan yang dia jaga bukan kesehatan menantunya, melainkan kesan bahwa semua masih berada dalam kendalinya.

Tidak ada raut cemas ataupun tanda kepanikan yang terlihat di wajahnya.

Tatapannya langsung tertuju pada Elara yang sedang berbaring.

“Kenapa sampai begini?” tanya Shinta saat melihat infus yang terpasang di tangan Elara.

Elara menelan ludah. Tubuhnya masih lemah, kepalanya terasa berat, tapi dia memaksakan diri untuk sedikit duduk tegak.

“Dokter bilang cuma reaksi lambung, Ma,” jawabnya pelan.

“Aku harus observasi sebentar.”

Shinta melangkah lebih dekati ranjang Elara. “Kamu minum berapa banyak?” tanyanya dengan bersikap untuk mencari kesempatan untuk menyalahkan Elara.

“Sesuai yang Mama bilang,” jawab Elara jujur.

Shinta menghela n
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 25. Atas Nama Keadilan.

    Tidak semua pembelaan datang karena peduli. Sebagian muncul karena seseorang akhirnya melihat celah untuk mengambil alih. Elara masih duduk di ruang tamu rumah Tjoa ketika kata-kata Liliana belum benar-benar selesai bergema di kepalanya. Nada itu—dingin, yakin, dan memposisikannya sebagai masalah—terlalu akrab untuk diabaikan. Langkah yang tidak ragu. Tidak hati-hati. Seperti seseorang yang sudah memutuskan akan bicara—dan tidak berniat mundur. “Nayla?” Nama itu terucap bahkan sebelum Elara benar-benar menoleh. Dalam hitungan detik, arah percakapan di rumah itu berubah. Gadis itu turun dengan langkah cepat. Rambutnya masih terikat seadanya, wajahnya tegang—bukan karena cemas, tapi marah. “Mama, kita perlu bicara,” kata Nayla tanpa basa-basi. Liliana yang sejak tadi berdiri de

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 24. Harga dari Sebuah Keributan.

    Tidak ada yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Yang dipermasalahkan hanya satu: siapa yang mempermalukan siapa. Malam itu, Elara pulang bukan sebagai istri yang terluka, melainkan sebagai masalah yang harus segera dibereskan. Keesokan paginya, dia akan belajar satu hal pahit— diam pun tetap memiliki harga. Suasana rumah Adrian dan Elara terasa berubah saat mereka tiba malam itu. Mereka masuk tanpa sepatah kata. Bahkan suara langkah terdengar seperti gema yang tidak ingin didengar oleh siapa pun. Adrian menutup pintu rumah dengan pelan, lalu melepaskan dasinya tanpa menoleh. “Aku ke ruang kerja,” katanya datar. “Sebaiknya kamu istirahat dulu.” “Iya,” sahut Elara sambil mengangguk pelan. Tidak ada alasan untuk bertanya apapun. Tenaga sudah habis dan perasaannya masih

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 23. Tidak Lagi Sejalan.

    Ponsel Elara masih di tangannya ketika layar kembali meredup.Dua kata itu singkat.Tidak manis dan tidak menjanjikan apa pun.Ada sedikit kelegaan di dadanya—bukan karena bahagia, tapi karena tekanan yang baru saja dilepas.“Kenapa rasanya berbeda hanya karena pesan singkat itu?” batinnya.Elara menutup layar dan menyelipkan ponsel ke dalam tas. Dia berdiri sendirian di ruang makan yang hampir kosong. Meja sudah setengah dibereskan. Bau makanan bercampur dengan sisa ketegangan yang belum benar-benar pergi.Elara menghela napas.“Ada yang aneh,” gumamnya.Bukan Daniel atau Agatha atau Adrian, tapi… dirinya..Dia menatap kedua tangannya. Tenang. Tidak kaku. Tidak bergetar seperti tadi.“Kenapa sekarang bisa begini?” tanyanya pelan.Pikirannya langsung kembali ke satu momen.Saat Revan memeluknya di sesi latihan.Tubuhnya tidak menolak.“Waktu it

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 22. Kejujuran yang Tertahan.

    “Kejujuran paling menyakitkan bukanlah yang diucapkan,melainkan yang sengaja ditahan karena takut kehilangan.”Udara malam di taman belakang rumah tua itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.Bukan karena angin, tapi karena jarak yang tiba-tiba tercipta di antara mereka.Lampu taman menyala redup, menerangi jalan setapak yang basah oleh embun. Adrian berhenti di bawah cahaya itu. Punggungnya tampak kaku, seolah sedang menahan sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.“Kalau aku mendengarkannya sekarang,” pikir Adrian, “Apa aku siap menerima jawabannya?’Elara berdiri beberapa langkah di belakang. Tangannya memeluk tubuh sendiri. Bukan karena dingin, melainkan karena sisa ketegangan yang belum hilang sejak ruang makan. Pinggangnya masih terasa tidak nyaman—bukan sakit, tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa sesuatu telah dilanggar.“Jangan goyah,” katanya pada d

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 21. Saat Semua Mata Berpaling

    “Awas!”Gelas es krim Nara jatuh ke meja. Semua terjadi dalam satu detik.Bunyi kaca bertemu porselen terdengar lebih keras dari seharusnya.Suara benturan itu membuat semua orang terdiam.Daniel tersentak.Senyum yang sejak tadi tak pernah lepas dari wajahnya—hilang.Semua kepala menoleh.Nara berdiri kaku di kursinya. Es krim meleleh di tepi meja, sendoknya terguling ke lantai. Tangannya gemetar, tapi matanya tidak.Tatapannya lurus ke satu arah.Ke ayahnya.Daniel.Tidak ada takut di sana.Tidak ada ragu.Hanya pengenalan yang terlalu jujur untuk usia sekecil itu.Lalu, tanpa menunggu siapa pun bereaksi, Nara melangkah turun dari kursi dan merapat ke Elara, memeluk pinggangnya erat—seolah tubuh Elara adalah satu-satunya tempat aman di ruangan itu.Daniel mundur setengah langkah.Gerak refleks.Terlambat.“Ada apa itu?” suara

  • Terjerat Cinta Terlarang di Ruang Konsultasi    Bab 20. Batas yang Dilanggar.

    Tidak ada yang membela.Tidak ada yang menegur satu pun.Tepat saat Elara mulai memahami posisi dirinya,perhatian ruangan berpindah.Irama sepatu yang berbeda dari sebelumnya—lebih ringan, lebih tergesa, seperti seseorang yang selalu datang membawa agendanya sendiri.Renata Huang, kakak kedua Adrian, muncul dengan blazer pastel dan rambut cokelat terikat rapi.Senyumnya terlatih, ramah di permukaan, tapi matanya tidak pernah benar-benar hangat.Di belakangnya, Evan Li, suami Renata datang bersama dua putra mereka yang langsung berlari ke arah Shinta.“Ma!”“Nenek!”Wajah Shinta berubah seketika. Senyumnya lebih hangat, lebih hidup—sesuatu yang tidak Elara dapatkan sejak tadi.Renata baru menoleh setelah semua sapaan selesai.“Elara,” katanya ringan.“Lama tidak bertemu.”Nada suaranya ramah—terlalu terlatih untuk terasa jujur.“Kamu terlihat lebih sehat,” lan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status