LOGINDunia yang tadi berputar dalam irama waltz yang elegan meledak dalam satu detik yang mematikan. Belum sempat Elias membawa Kelly keluar dari aula hotel, kaca patri raksasa di langit-langit hancur berantakan. Serpihan kristal jatuh seperti hujan pisau yang berkilauan di bawah lampu chandelier.
"Tiarap!" teriak Elias.Suaranya menggelegar, lebih keras dari ledakan pertama. Ia tidak menunggu Kelly bereaksi; ia merenggut bahu Kelly dan menjatuhkannya ke lantai tepat saat rentetan peluru kaliber tinggi merobek dinding sutra di tempat mereka berdiri sedetik yang lalu.Kegilaan pecah. Para diplomat yang tadi tampak terhormat kini menjerit-jerit, berlarian mencari perlindungan di tengah kabut mesiu yang mulai memenuhi ruangan. Elias menyeret Kelly di atas lantai marmer, menuju sebuah meja perjamuan kayu ek yang kokoh di sudut aula."Masuk ke bawah sana! Jangan keluar sampai aku memanggilmu!" Elias mendorong Kelly ke bawah kolong meja yang tertutup taplak putih panjang hiDunia yang tadi berputar dalam irama waltz yang elegan meledak dalam satu detik yang mematikan. Belum sempat Elias membawa Kelly keluar dari aula hotel, kaca patri raksasa di langit-langit hancur berantakan. Serpihan kristal jatuh seperti hujan pisau yang berkilauan di bawah lampu chandelier."Tiarap!" teriak Elias.Suaranya menggelegar, lebih keras dari ledakan pertama. Ia tidak menunggu Kelly bereaksi; ia merenggut bahu Kelly dan menjatuhkannya ke lantai tepat saat rentetan peluru kaliber tinggi merobek dinding sutra di tempat mereka berdiri sedetik yang lalu.Kegilaan pecah. Para diplomat yang tadi tampak terhormat kini menjerit-jerit, berlarian mencari perlindungan di tengah kabut mesiu yang mulai memenuhi ruangan. Elias menyeret Kelly di atas lantai marmer, menuju sebuah meja perjamuan kayu ek yang kokoh di sudut aula."Masuk ke bawah sana! Jangan keluar sampai aku memanggilmu!" Elias mendorong Kelly ke bawah kolong meja yang tertutup taplak putih panjang hi
Lampu kristal raksasa di langit-langit aula The Nordic Union membiaskan cahaya yang menyilaukan, namun bagi Kelly, cahaya itu terasa seperti kilatan api yang siap melahapnya kembali. Musik waltz mengalun tenang, kontras dengan gemuruh jantungnya yang berpacu liar.Tangannya terasa dingin dalam genggaman Julian. Pria itu berdansa dengan keanggunan seorang bangsawan, namun setiap sentuhannya membuat Kelly merasa seolah ada ular yang merayap di kulitnya. Di pinggir lantai dansa, Elias berdiri seperti patung marmer yang haus darah. Matanya yang kelabu tidak sedetik pun lepas dari Kelly; ia tampak seperti predator yang siap menerkam jika tangan Julian turun satu inci saja lebih rendah dari yang seharusnya."Kau gemetar, Kelly," bisik Julian, suaranya sangat dekat di telinganya. "Apakah karena kau takut padaku, atau karena kau baru sadar bahwa kau sedang dipeluk oleh monster yang lebih besar?"Kelly mencoba mempertahankan dagunya tetap tegak, meski kakinya terasa lemas. "El
Dunia Kelly tidak lagi runtuh; dunia itu telah menjadi abu, dan di atas abu itu, Elias Costra sedang membangun sebuah panggung sandiwara yang mematikan.Hanya tiga jam setelah pengakuan yang tak sengaja terdengar itu, Elias tidak memberikan ruang bagi Kelly untuk menangis atau memproses pengkhianatannya. Ia menarik Kelly keluar dari chalet yang terkepung dan membawanya ke sebuah hotel mewah di pusat Helsinki. Di sana, sebuah gaun sutra berwarna merah darah—merah yang sama dengan warna dosa—telah disiapkan."Pakai ini," perintah Elias. Suaranya kembali menjadi es, tidak ada lagi sisa kelembutan dari malam sebelumnya. "Julian akan ada di sana. Di perjamuan diplomatik The Nordic Union. Dia tidak akan menyerang di depan umum, tapi dia akan mendekat. Dan saat dia mendekat, aku akan menghabisinya."Kelly menatap pantulannya di cermin. Rompi antipeluru yang tipis namun kuat tersembunyi di balik sutra merah itu. "Kau menjadikanku umpan," bisik Kelly, suaranya hancur. "Setelah apa yang kau
Kehangatan dari sisa gairah semalam masih terasa di kulit Kelly, namun udara di dalam chalet subuh itu mendadak berubah menjadi sedingin es yang merayap di jendela. Elias tidak lagi di sampingnya. Sisi tempat tidur yang besar itu sudah kosong dan dingin, menyisakan lekukan tubuhnya yang kokoh di atas sprei yang berantakan.Kelly bangkit perlahan, membungkus tubuhnya dengan jubah bulu tebal. Langkah kakinya yang telanjang tidak bersuara di atas lantai kayu ek saat ia mencari keberadaan Elias. Ia bermaksud mencari kehangatan kopi atau mungkin sekadar pelukan pagi, namun langkahnya terhenti di dekat pintu ruang kerja kecil yang terletak di sudut bangunan.Pintu itu tidak tertutup rapat. Melalui celah sempit, Kelly melihat siluet Elias yang berdiri membelakangi jendela, sedang berbicara melalui telepon satelit dengan suara yang sangat rendah—suara yang belum pernah Kelly dengar sebelumnya. Suara itu bukan milik pria yang menciumnya dengan penuh kasih sayang semalam; itu adalah suara seo
Dunia di luar sana telah menghilang, terkubur di bawah amukan putih yang membutakan. Badai salju Finlandia menghantam dinding kayu chalet tua yang tersembunyi di lereng bukit itu dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan tulang. Di dalam, satu-satunya sumber cahaya adalah lidah api yang menjilat-jilat kayu ek di dalam perapian batu, menciptakan bayangan panjang yang menari di dinding.Elias duduk di kursi kayu besar, napasnya berat dan tidak teratur. Kemeja taktisnya tersampir di lantai, memperlihatkan bahunya yang lebar. Di lengan kanannya, sebuah luka gores akibat serpihan logam saat penyergapan tadi masih mengalirkan darah segar, kontras dengan kulitnya yang pucat karena dingin.Kelly berlutut di antara kedua kaki Elias. Tangannya yang gemetar memegang kain kasa dan botol antiseptik. Di sekeliling mereka, kesunyian hutan yang membeku terasa menekan, membuat setiap desah napas dan derak kayu terdengar seperti dentum meriam."Diamlah, Elias. Kau terus bergerak," bisik Kelly, suaran
Langit di atas Helsinki tidak menyambut mereka dengan cahaya, melainkan dengan kegelapan pekat yang mencekam dan badai salju yang mulai turun seperti ribuan jarum es. Jet pribadi Elias mendarat dengan guncangan hebat di sebuah landasan pacu militer swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Begitu roda pesawat menyentuh aspal yang membeku, Kelly bisa merasakan bahwa atmosfer di sini berbeda dengan Veridia. Ini bukan lagi soal bisnis mafia; ini adalah zona perang.Di luar jendela jet, lampu-lampu sorot raksasa membelah kabut. Kelly melihat barisan pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis musim dingin berwarna abu-abu, memegang senapan serbu laras panjang. Mereka adalah unit elit The Coil yang sudah menunggu kedatangan Sang Viper."Jangan melihat keluar jendela," perintah Elias tajam.Pria itu sedang berdiri di tengah kabin, mengancingkan jaket taktisnya yang tebal. Wajahnya yang kaku memancarkan aura otoritas yang jauh lebih pekat daripada sebelumnya. Di wilayah ini, setiap ba







