Share

Untung Cinta

Author: Roshliendh
last update publish date: 2026-10-09 12:56:01

Sudah satu bulan Vina dan Timnya berada di tanah Borneo mengabdikan diri melayani masyarakat, banyak hal baru yang Vina dan Timnya dapatkan selama di sana. Salah satunya keterbatasan peralatan medis yang tak selengkap, saat mereka bertugas di Rumah Sakit ABDI Jakarta.

Ganendra, Danton tampan yang sangat suka menggoda Vina, sudah tiga hari tak terlihat membuat Vina bernafas lega. Hidupnya terasa tenang tanpa kehadiran Danton menyebalkan itu. Saat ini, Vina sedang berjaga di Klinik bersama suster Mimi, sedangkan yang lainnya berkunjung dari rumah ke rumah penduduk untuk pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan. Ada juga yang membantu para prajurit TNI mengajar di sekolah.

Tim yang dipimpin Vina ada 9 orang, 10 beserta Vina yang terdiri dari 4 dokter dan 6 perawat.

“Sudah beberapa hari ini Danteng nggak kelihatan ya dok,” kata suster Mimi membuka obrolan. Vina menoleh ke samping kirinya, di mana suster Mimi duduk.

Danteng? Siapa dia, kenapa Vina nggak kenal, padahal hampir semua prajurit Vina sudah mengenalnya. Apa Danteng warga sipil?

“Danteng? Siapa itu sus?” tanya Vina.

“Masa nggak tahu sih, dok?” Suster Mimi justru tanya balik membuat Vina berdecak.

“Kalau saya tahu, ngapain saya tanya Sus.”

“Danteng itu Danton ganteng dok, masa nggak tahu sih, padahal Danteng kan fans berat dokter Vina,” jawab Suster Mimi membuat Vina cengo mendengarnya.

Sejak kapan Danton menyebalkan itu dipanggil Danteng? Bahkan, demi mimi peri yang katanya masih perawan, Vina baru tahu panggilan itu saat ini. Vina yang kudet apa memang kurang peka jika mengenai Danton itu?

“Apaan sih, ganteng dari mananya Sus? Kalian ini terlalu berlebihan tahu, kalau dia dengar bisa besar kepala di bilang ganteng,” kata Vina tak terima.

“Memang ganteng dok, ya ampun dia itu calsum idaman banget dok, pokoknya sempurna deh dia itu ya pelukable, sandarable dan calsumable banget dok. Satu lagi hot daddy, dok. Saya pernah lihat Danteng gendong anak kecil uunncchhh nggak nguatin banget, dok,” kata Suster Mimi dengan memperlihatkan ekspresi yang gemas pada Danton, membuat Vina mencebikkan bibirnya.

Vina menyentuh dahi Suster Mimi, “Padahal normal loh.”

“Saya normal dan sehat ya dok,” kata Suster Mimi cemberut, Vina terkekeh melihatnya.

“Gitu saja ngambek, nanti cantiknya berkurang loh. Lagian Suster berlebihan sekali. Saya nggak setuju dengan apa yang suster katakan mengenai Danton menyebalkan itu.”

“Jangan terlalu benci sama Danton dok, karena benci dan cinta itu bedanya sangat tipis. Jangan sampai nanti malah dokter yang sangat mencintai Danton,” kata Suster Mimi.

“Nggak akan mungkin terjadi Sus,” jawab Vina.

“Kita nggak tahu kedepannya dok. Siapa tahu Danteng setiap sepertiga malam menggelar sajadah meminta pada pemilik hati untuk membolak balikkan hati dokter agar menerima Danteng, kan nggak ada yanga tahu dok.”

Vina terdiam, mendengar perkataan Suster Mimi. Sejujurnya dia juga sudah merasakan debaran aneh, setiap berada di dekat Danton. Bahkan, jantungnya suka dengan tak tahu dirinya, berdetak kencang hanya karena Vina mendengar nama Ganendra Badhrika Mahya, Danton menyebalkan yang suka menggodanya itu di sebut. Tapi Vina tetaplah Vina, dia tak mau memikirkan hal begituan terlalu berlebihan, biarkan saja waktu yang akan menjawabnya.

“Nggak usah nakutin saya Sus. Sudah ah jangan bahas dia lagi, oya Sus gimana perkembangan kamu sama Serda Adit?” tanya Vina sambil menaik turunkan kedua alisnya menggoda Suster Mimi, dia sengaja mengalihkan pembicaraan, karena jantungnya sudah maraton sejak Suster Mimi membahas Ganendra.

Suster Mimi tersenyum malu-malu membuat Vina gemas, “Ya gitu dok.”

“Gitu gimana? Yang jelas dong Sus jangan buat saya penasaran.”

“Lumayan dekat, tapi ya gitu Serda Adit terlalu pendiam dok. Saya terus yang tanya.” kata Suster Mimi.

Vina tersenyum, “Sabar, semua butuh proses yang penting sekarang PDKT saja dulu Sus, buat saling mengenal satu sama lainya. Suster Mimi cocok sama Serda Adit, kamu cantik dan dia tampan.”

Vina dan Suster Mimi asik mengobrol hingga tiba-tiba saja dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang membuat hidup Vina yang tentram dalam tiga hari kini bisa dipastikan akan kembali kacau.

“Dokter Vina ikut saya sekarang!” titah Nendra to the point saat sudah di depan Vina, ya benar orang itu Nendra alias Ganendra, Danton yang sudah tiga hari tak terlihat, tapi hari ini datang tiba – tiba dan mengajak pergi Vina.

Vina mengernyitkan keningnya, “Ke mana?” tanya Vina, karena dia trauma sama Danton tampan itu yang sering modus.

“Ikut saja, bawa peralatan juga.”

“Maksudnya? Yang jelas apa kalau bicara!” jawab Vina kesal.

“Iisshh dokter Vina, istri Serda Heri akan melahirkan, dia sendirian, karena Serda Heri sedang patroli patok, keluarganya juga semua di Jawa dan para ibu persit sedang ke Kota ada kegiatan jadi...”

“Kelamaan, buruan Sus kita kesana.” Jawab Vina cepat, memotong perkataan Nendra, membuatnya gemas sama dokter cantik yang saat ini sedang sibuk, memasukkan peralatan medisnya ke dalam tas. Tadi minta dijelasin, giliran dijelasin dibilang kelamaan, wanita oh wanita.

Saat mereka bertiga akan keluar Klinik, ada pasien yang datang tampak terlihat pucat dan lemas sekali.

“Biar saya yang tangani pasien dok. Dokter yang pergi sama pak Danton.” kata Suster Mimi.

“Serius Sus, saya tinggal nggak apa?”

Suster Mimi mengangguk, “Iya dok, selamatkan bu Heri dan bayinya. Dokter paling dibutuhkan.” Vina mengangguk dan segera melangkah keluar Klinik mengikuti Nendra.

“Pakai motor saja dok, biar lebih cepat.” Kata Nendra yang langsung menaiki motor.

“Memangnya jauh?”

“Kalau jalan kaki jauh, keburu bayinya keluar. Buruan naik dok, jangan debat dulu ini urgent.” Kata Nendra membuat Vina mencebikkan bibirnya. Vina segera menaiki motor dan Nendra langsung menjalankannya, menuju kediaman Serda Heri. Kurang lebih lima menit perjalanan, Nendra menghentikan motornya dan meminta Vina untuk turun.

“Ko berhenti, rumahnya mana?” tanya Vina.

“Motornya hanya bisa sampai sini, kita ke atas naik tangga itu, karena rumahnya ada di atas.” jawab Nendra sambil menunjuk tangga, Vina mengangguk mengerti.

Mereka berdua berjalan, menaiki tangga demi tangga, hingga sampai di rumah Serda Heri. Di sana sudah ada Serda Adit yang menungguinya.

“Langsung masuk saja dok. Saya jaga di sini, karena Serda Adit harus kembali ke Yon.” kata Nendra, Vina langsung masuk ke dalam menemui istri Serda Heri.

“Sore, Bu. Saya dokter Vina, mulasnya sejak kapan, Bu?” tanya Vina sambil memasang Sfigmomanometer atau tensi darah dan setelah itu memasang Doppler untuk memeriksan DJJ ( denyut jantung janin).

“Sore dok, dari semalam dok, tadi juga sudah keluar lendir darahnya.”

Vina mengangguk, “Tensinya 110/70mmHg masih normal ya bu dan Alhamdulilah jantung dedenya juga bagus, saya periksa dulu sudah masuk pembukaan berapa.” beritahu Vina sambil memposisikan bu Heri senyaman mungkin dan memakai handscoon untuk memeriksa pembukaan servik.

“Sudah pembukaan 8 bu, tinggal sedikit lagi.” Vina tersenyum.

“Kalau ibu masih sanggup jalan boleh jalan, kalau sudah nggak sanggup, bawa tiduran miring kiri saja ya bu. Miring kiri bagus untuk dede bayinya, karena dapat meningkatkan sirkulasi darah ke plasenta atau ari-arinya.” jelas Vina yang langsung dilaksanakan oleh bu Heri.

“Saya izin keluar sebentar ya bu, ada yang mau saya bicarakan sama Danton.”

“Silahkan dok.”

Vina keluar kamar dan menemui Nendra yang sedang duduk di ruang tamu. Melihat Vina keluar Nendra langsung berdiri.

“Gimana? Sudah lahir?”

“Belum, baru pembukaan 8, kalau bu Heri di bawa ke Kinik saja gimana?”

“Memangnya di sini kenapa?”

“Lampu kamarnya kurang terang, hari sudah mulai sore juga, takutnya nanti ada robekan dan harus hacting, ‘kan butuh penerangan yang cukup.”

Ganendra mengangguk, “Ya su–”

“Dokteeeerr.” Perkataan Ganendra terpotong saat mendengar teriakan dari dalam kamar. Vina dan Nendra saling menatap, detik berikutnya mereka berdua berlari memasuki kamar. Ternyata kepala bayi sudah crowning atau sudah terlihat. Vina segera memakai celemek, meletakkan handuk bersih diatas perut bu heri, mendekatkan partus set dan memakai handscoon dan Nendra segera balik badan dia terkejut.

“Ibu kalau dedenya nggak ngajak ngejan, ibu jangan ngejan ya? Sekarang ibu tarik nafas dalam dari hidung dan keluarkan perlahan dari mulut, kalau saya bilang mengejan, maka ibu mengejan ya.” kata Vina, salah satu tangannya dia letakkan di atas perut bu Heri agar tahu, jika kontraksi datang dan siap untuk mengejan.

Nendra masih berdiri di samping ranjang bu Heri. Dia sendiri bingung mau apa.

“Aduh sakit, dok!” teriak bu Heri.

“Tarik nafas bu, ini bentar lagi dedenya lahir, ibu ngejan, jangan teriak, jangan menangis dan jangan memejamkan mata ibu. Ayo bu sekarang waktunya, ngejan yang kuat ya bu.” kata Vina yang tidak ada hentinya menyemangati bu Heri. Tak lama bayi itu keluar dengan tangisnya yang memenuhi seisi kamar.

“Alhamdulillah, gadis bu Heri, selamat ya.” Vina meletakkan bayi di atas perut ibunya, sementara Nendra masih membalikkan badannya tak mau melihat. Vina hampir saja tertawa melihat tingkah Danton menyebalkan itu. Setelah memastikan hanya satu bayi, Vina memotong tali pusat dan menyelimuti bayi yang saat ini berada di dada ibu untuk IMD ( Inisiasi Menyusui Dini ). Vina segera menyuntikan Oksitosin yang sebelumnya sudah memberitahu bu Heri akan disuntik. Plasenta lahir, Vina segera memeriksa robekan yang ternyata cukup lumayan karena bayi juga besar.

“Bu ini perlu saya jahit ya, karena robekannya cukup lumayan, kalau nggak dijahit kasihan Serda Herinya nggak ngerasain digigit lagi,” kata Vina membuat Nendra menoleh ke belakang dan menatapnya. Apa-apaan Vina ini bicara sefrontal itu di depannya? “Danton tolong bantu saya.” titah Vina membuat Ganendra terkejut.

“Bantu apa?” tanya Ganendra yang sudah was-was.

“Itu di atas meja ada senter, tolong pegangin senter itu di samping saya.”

“Nggak mau!”

“Kenapa?”

“Yang benar saja dong dok! Saya masih perjaka dan harus melihat punya wanita dijahit?” kata Nendra kesal.

“Loh emang kenapa, cuman pegang senter doang, nggak suruh lihat, tutup mata deh kalau gitu.” kata Vina tak mau kalah. Sejujurnya dia ingin tertawa, melihat wajah Danton yang biasanya jahil sekarang pucat.

“Nggak dokter Vina.”

“Kenapa lagi?”

“Beliau istri Serda Heri, nggak sopan kalau saya sampai tak sengaja melihatnya, kalau punya dokter saya mau.” kata Nendra yang langsung mendapat pelototan Vina.

“Heh, enak saja kalau ngomong, sayanya yang nggak mau, dilihat sama Danton.” Jawab Vina kesal, bisa-bisanya Danton menyebalkan ini bicara seperti itu.

“Saat dokter hamil anak saya, terus melahirkan dan saya menemani, pasti saya bakal lihat prosesnya di setiap detiknya dong.”

“Heh, ngomong apa sih! Kenapa makin ngawur begitu, lagian siapa juga yang mau hamil anak situ.” Vina tak mau kalah.

“Ekhem.” Suara deheman bu Heri menyadarkan mereka berdua, kalau di situ ada orang lain selain mereka berdua, Vina dan Nendra jadi salah tingkah.

“Mmm, oke Danton saya kasih pilihan mau bantu saya pegang senter atau saya nggak akan bicara sama Danton untuk selamanya.” Vina menyeringai, dia tahu itu pilihan sulit.

“Pilihan macam apa itu, keduanya nggak enak.”

“Terserah mau pilih yang mana, saya nggak punya banyak waktu, saya hitung sampai tiga, satu.” Nendra bingung. Dia berpikir cepat harus pilih yang mana, jika mau memegang senter, dia pasti akan melihat proses jahitnya, kalau nggak pilih pegang senter dia akan didiamkan Vina, untuk selamanya tentu saja itu paling tak mau, dapatkan cintanya saja belum, masa iya sudah didiamkan, selamanya lagi.

“Dua.”

Nendra panik harus pilih yang mana, jantungnya berdegup kencang.

“Ti..”

“Oke saya pegang senternya, janji jangan diamin saya.” kata Nendra menatap Vina.

Vina bersorak dalam hati penuh kemenangan, Vina mengangguk. Nendra segera mengambil senter dan Vina menyuntikan lidokain / bius lokas pada bu Heri.

Nendra menutup matanya menggunakan kain, Vina sampai tak lagi bisa menahan tawanya.

“Kenapa ketawa?”

“Lucu saja, suruh pegangin senter malah tutup mata.”

“Mata saya masih suci, hanya akan melihat punya bu dokter saja.” jawab Nendra tersenyum.

“Berisik dari tadi itu mulu yang di omongin, pegang senternya yang benar,” omel Vina.

“Iya, galak banget sih, untung cinta jadi nggak apa lah.”

“Sekali lagi bicara nggak penting kaya gitu, mulut Danton saya Jahit sekalian.”

“Sadis amat bu dokter.”

“Diam ih.”

“Iya iya ini saya diam.”

Dengan gerakan cepat Vina menjahit robekan jalan lahir, membersihkan bayi dan juga ibunya, terakhir membereskan peralatan.

Sedangkan Ganendra dengan setia, menunggu di luar. Benar-benar suamiable banget ya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Tom & Jerry

    Pagi ini, kami ditugaskan mengawal para tenaga kesehatan ke posyandu, karena ada jadwal imunisasi. Kami berkumpul di halaman depan Yon untuk menerima pengarahan, serta pembagian tugas dari Danyon. Ada beberapa desa dengan medan cukup sulit, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki. Bagi kami para prajurit, hal itu sudah biasa, bagi tenaga kesehatan mungkin ini akan menjadi perjalanan yang luar biasa. Kalian tahu, kawan? Sudah seminggu ini aku dibuat kesal oleh dokter cantikku, mau tahu kenapa? Karena sejak kedatangan Danki baru, dokter cantikku yang kalau marah, lebih galak daripada singa betina, selalu saja dibuntuti oleh Danki baru. Sepertinya Danki punya perasaan pada dokter cantik, dan itu tak akan aku biarkan, karena dokter cantik itu milikku seorang, Ganendra Bhadrika Mahya. Dan kalian tahu, kawan? Jika dokter cantikku makin hari makin manis juga terhadap Danki, membuatku uring-uringan setiap hari, hampir saja satu peleton kena amukku. Aku menatap dokter cantik yang berdir

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Terpesona

    Ganendra Pov "Motornya mana?" Aku menoleh ke belakang, dimana dokter cantik yang sudah aku rindukan, selama tiga hari ini berdiri. Aku menatap wajahnya yang terlihat sangat lelah. "Di bawa Serda Adit tadi siang." Jawabku. "Terus kita jalan kaki?" Aku mengangguk, aku tersenyum, entah kenapa aku sangat suka saat dia menyebut 'kita' rasanya seperti sudah ada sesuatu di antara aku dan dia. "Kalau dokter mau gendong saya juga boleh, ayo naik." Kataku. "Ogah." Jawabnya sambil jalan mendahuluiku, aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku berjalan mengikutinya dari belakang, memandang tubuhnya yang berjalan di bawah sinar rembulan, dia gadis yang cantik, jika sedang diam dia sangat manis sekali, tapi jika sudah galak, singa betina saja kalah galaknya. Langkahku terhenti, saat melihat dia juga berhenti dan berbalik menghampiriku. "Kenapa?" Tanyaku penasaran, karena dia seperti ketakutan. Tanpa aku duga, dokter cantikku langsung menggenggam tanganku, membuat aku makin penasaran. "Ada suara

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Untung Cinta

    Sudah satu bulan Vina dan Timnya berada di tanah Borneo mengabdikan diri melayani masyarakat, banyak hal baru yang Vina dan Timnya dapatkan selama di sana. Salah satunya keterbatasan peralatan medis yang tak selengkap, saat mereka bertugas di Rumah Sakit ABDI Jakarta. Ganendra, Danton tampan yang sangat suka menggoda Vina, sudah tiga hari tak terlihat membuat Vina bernafas lega. Hidupnya terasa tenang tanpa kehadiran Danton menyebalkan itu. Saat ini, Vina sedang berjaga di Klinik bersama suster Mimi, sedangkan yang lainnya berkunjung dari rumah ke rumah penduduk untuk pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan. Ada juga yang membantu para prajurit TNI mengajar di sekolah. Tim yang dipimpin Vina ada 9 orang, 10 beserta Vina yang terdiri dari 4 dokter dan 6 perawat. “Sudah beberapa hari ini Danteng nggak kelihatan ya dok,” kata suster Mimi membuka obrolan. Vina menoleh ke samping kirinya, di mana suster Mimi duduk. Danteng? Siapa dia, kenapa Vina nggak kenal, padahal hampir semua prajurit

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Debaran Aneh

    Perlahan Vina membuka matanya. Ia tampak kebingungan, karena saat ini sudah berada di dalam kamar. Seingatnya tadi, masih menaiki motor bersama Danton yang menyebalkan, namun sayangnya tampan itu. Vina turun dari ranjang dan keluar kamar. Di ruang tengah masih ramai rekan-rekannya yang asik berbincang, karena baru jam 8 malam. “Ibu Danton sudah bangun?” sapa dr. Alex pada Vina membuatnya mendengus kesal. “Enak saja kalau ngomong.” “Lah emang iya, naik motor saja sampai ketiduran, saking nyamannya dan dengan romantisnya Danton menggendong dr. Vina ke kamar loh,” kata dr. Alex lagi. Vina terkejut mendengar jika Danton menyebalkan itu yang menggendongnya ke kamar. “Serius?” tanya Vina yang di angguki rekan-rekan lainnya juga. “OMG! Kenapa saya nggak di bangunin sih, Dok.” “Tadinya saya mau bangunin dokter, tapi Danton melarangnya dan akhirnya gendong dokter ke kamar, sweet banget tau dok,” jawab dr. Dwi membuat Vina mencebik kesal, sweet dari mana coba, yang ada tubuh Vina saat ini

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Berdua Dengannya

    “Kita naik motor ini?” Aku menoleh ke belakang, saat dokter cantik bertanya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan, jelas sekali jika dia tak menyukai motor yang saat ini aku naiki. Aku mengangguk, “Betul sekali bu dokter, kenapa?” “Nggak ada motor lain?” Aku menggeleng, “Ini motor trail sesuai dengan medan di sini bu dokter, kalau pakai matic nggak bisa.” “Saya nggak mau naik motor ini.” “Kenapa?” “Joknya kecil, danton duduk saja sudah pas begitu, kalau saya bonceng enak di danton, rugi di saya dong.” Aku cengo mendengar jawaban dari dokter cantik ini, maksudnya apa kenapa enak di aku dan rugi di dia. “Maksudnya?” tanyaku. Dia berdecak, “Kalau saya bonceng otomatis kita dekatan atau saling tempel, saya nggak mau ya tubuh suci saya tempel danton,” jawabnya dengan ketus. Oalah, ternyata karena itu toh aku kira apaan, aku tersenyum semanis mungkin padanya, meskipun dia memasang wajah garang seperti singa betina yang siap menerkam mangsanya. Aku harus bisa semanis mungki

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Manis Seperti Cuka

    POV Alvina Putri Abhimanyu “Dunia ini benar-benar sempit, atau memang takdir lagi sengaja menjahili aku?" Gerutuan itu tertahan di tenggorokanku. Belum dua puluh empat jam menginjakkan kaki di tanah Borneo aku sudah dibuat kesal sama pria yang empat tahun lalu bertemu denganku di Resepsi pernikahan bang Alvand. Aku masih ingat betapa menyebalkannya dia saat meminta berkenalan denganku. Sudah aku tolak, tapi tetap saja dia mengekoriku. Untung saja saat itu Om Firza memanggilnya dan itu kesempatanku untuk kabur darinya. Aku terkejut saat dia memperkenalkan diri. Nama belakangnya Mahya, itu sama seperti nama belakang istri Om Firza. Siapa yang tak kenal klan Mahya, terutama di dunia Militer."Ingat cerita Ayah soal Om Firza dan Tante dulu?" suara Ayah terngiang kembali di kepalaku."Ingat, Yah. Soal Om Firza yang hampir mundur jadi mantu keluarga Mahya karena minder pangkatnya di bawah Tante, kan?""Betul. Waktu itu Om Firza masih Lettu, sedangkan Tante sudah Kapten. Ditambah keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status