Share

Debaran Aneh

Author: Roshliendh
last update publish date: 2026-10-09 12:55:21

Perlahan Vina membuka matanya. Ia tampak kebingungan, karena saat ini sudah berada di dalam kamar. Seingatnya tadi, masih menaiki motor bersama Danton yang menyebalkan, namun sayangnya tampan itu.

Vina turun dari ranjang dan keluar kamar. Di ruang tengah masih ramai rekan-rekannya yang asik berbincang, karena baru jam 8 malam.

“Ibu Danton sudah bangun?” sapa dr. Alex pada Vina membuatnya mendengus kesal.

“Enak saja kalau ngomong.”

“Lah emang iya, naik motor saja sampai ketiduran, saking nyamannya dan dengan romantisnya Danton menggendong dr. Vina ke kamar loh,” kata dr. Alex lagi. Vina terkejut mendengar jika Danton menyebalkan itu yang menggendongnya ke kamar.

“Serius?” tanya Vina yang di angguki rekan-rekan lainnya juga.

“OMG! Kenapa saya nggak di bangunin sih, Dok.”

“Tadinya saya mau bangunin dokter, tapi Danton melarangnya dan akhirnya gendong dokter ke kamar, sweet banget tau dok,” jawab dr. Dwi membuat Vina mencebik kesal, sweet dari mana coba, yang ada tubuh Vina saat ini sudah disentuh oleh Danton itu dengan modus, menggendong karena Vina yang ketiduran.

“Selamat malam.”

“Malam.” Kami semua menatap ke arah pintu yang ternyata ada serda Agung.

“Maaf mengganggu, saya diminta kesini oleh Danton mengundang semua rekan untuk menikmati malam minggu di luar sambil bakar-bakaran. Kebetulan ada warga yang membagi jagung dan singkong,” kata Serda Agung.

“Wah boleh tuh dari pada jenuh mending gabung sama om loreng, cuci mata,” kata dr. Dwi yang langsung disambut sorakan yang lainnya.

“Ayo kawan kita meluncur,” kata dr. Alex.

“Saya nggak ikut, mau tidur saja,” jawab Vina tiba-tiba saja.

“Loh, dokter Vina wajib ikut ini perintah Danton, katanya kalau nggak ikut Danton sendiri yang akan kesini,” jawab Serda Agung.

Vina melotot, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh serda Agung. Bagaimana bisa Danton itu memaksanya untuk ikut, benar-benar cari ribut.

“Bilangin sama Danton menyebalkan itu, kalau saya nggak bisa dipaksa, lagian dia ini siapa main paksa orang saja,” ketus Vina.

“Nanti dokter bilang langsung saja sama Danton, sekarang dokter Vina ikut ya, saya mohon, soalnya kalau saya nggak berhasil bawa dokter, bakal di suruh sikap tobat sampai pagi.” Serda Agung memelas membuat Vina makin kesal.

Danton menyebalkan itu, malah memanfaatkan jabatannya untuk menindas anggotanya. Vina nggak bisa diam saja. Danton menyebalkan itu, harus diberi ceramah agar tak seenaknya sendiri.

“Oke saya ikut, ayo semua lets go.” Vina yang langsung berjalan keluar, menuju pos yang sudah ada api unggunnya.

Vina berjalan paling depan, sengaja mencari keberadaan Danton menyebalkan itu, tapi yang dicari malah nggak terlihat batang hidungnya sama sekali. Hingga acara bakar jagung dan singkong yang diselingi nyanyian dari para prajurit berlangsung, Danton belum juga terlihat membuat Vina kesal. Dia sudah memaksa Vina untuk datang dengan mengancam anggotanya, sedangkan dia sendiri nggak datang.

“Cari saya, ya?” bisik seseorang tepat di telinga kanan Vina dan dia pun langsung menoleh ke kanan, ternyata Danton menyebalkan yang sedang tersenyum sangat manis, memamerkan lesung pipinya.

Mata mereka saling mengunci. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Sangat dekat, siapa pun yang melihatnya pasti mengira mereka akan, ciuman.

Deg

Vina merasakan detak jantungnya kian kencang, baru kali ini Vina merasakan gugup, di depan pria apalagi pria itu Ganendra Danton yang suka sekali menggodanya. Vina diam mematung, hingga colekan di hidungnya menyadarkannya.

“Menikmati ketampanan saya, Bu dokter?” tanya Ganendra dengan senyumannya, tak lupa kedipan mata kanannya sengaja menggoda Vina.

Vina langsung gelagapan mendengar ucapan Ganendra, “Terlalu percaya diri sekali anda ini Danton.” Ia melengos.

Sejujurnya Vina gugup tak karuan. Dia merasakan debaran aneh yang seumur hidupnya, baru dia rasakan saat ini, debaran aneh yang entah apa artinya.

“Saya PD cuman sama bu dokter doang, kalau nggak PD, gimana saya bisa dapatin cintanya bu dokter,” jawab Ganendra santai, dia duduk di samping Vina.

“Cinta saya cuman untuk keluarga saya. Orang lain nggak boleh,” jawab Vina ketus.

Ganendra tersenyum dan memajukkan wajahnya berbisik pada Vina, “Kalau begitu, jadikan saya keluarga bu dokter. Menikahlah dengan saya.” Vina langsung melotot, tangannya refleks memukul bahu Ganendra.

“Aduh, sakit bu dokter.” seru Ganendra membuat mereka menjadi pusat perhatian.

“Pasangan Lovebird berantem terus sih kapan akurnya,” kata dr. Felix yang memang dari tadi memperhatikan mereka berdua.

“Tau nih dok, belum nikah saya sudah dianiaya terus,” jawab Ganendra membuat Vina kesal.

“Siapa juga yang mau nikah sama Danton. Buruan bangun jangan mimpi terus,” Kata Vina ketus.

Ganendra bukannya marah malah tersenyum, “Saya sudah bangun, saya nggak mimpi dan akan saya pastikan, bu dokter menjadi ibu Persit, sekaligus ibu yang melahirkan anak-anak saya.” Jawab Ganendra percaya diri, kemudian melangkah pergi melewati api unggun, mendekati anggotanya yang berseberangan dengan Vina untuk meminjam gitar.

Vina kesal sekali, apalagi rekan-rekannya justru menggoda Vina. Vina berdiri dan akan pergi, namun langkanya terhenti, saat mendengar petikan gitar dan panggilan namanya, membuat dia menghentikan langkahnya, menoleh ke sumber suara.

“dokter Alvina Putri, saya persembahkan lagu ini untuk anda.”

Bukalah hatimu untuk diriku

Sebelum cinta hilang

Seperti bintang kupuja dirimu

Seperti malam datang

Yakinkan cintamu kepadaku

Agar aku bisa memiliki

Setulus hatiku mencintai dirimu Ho-o-o ...

Lupakanlah semua mimpi-mimpi

Walaupun bayangnya menghantui

Yang kadang ingin selalu memilih cinta

Vina berjalan mendekati Ganendra, tepat di depan Ganendra, dia mencondongkan tubuhnya dan tersenyum, membuat Ganendra salting, dia terlihat sangat gugup.

Kali ini Vina ingin membalas, apa yang dilakukan Ganendra pada dirinya, “Boleh saya pinjam gitarnya, Pak Danton?” tanya Vina yang hanya di angguki Ganendra. Dia memberikan gitarnya, “Oke, akan saya jawab nyanyian anda tadi.” kata Vina.

Vina duduk tepat di depan Ganendra yang masih terpesona menatap wajah cantik Vina yang tiba-tiba saja tersenyum manis padanya. Vina mulai memetikkan senar gitar dan mulai bernyanyi.

Aku tak butuh kata I love you

Aku tak butuh kata I need you

Yang ku mau datangi ayahku

Katakan ku ‘kan lamar putrimu

Sudah cukup darimu I love you

Sudah cukup darimu I need you

Yang ku mau datangi ayahku

Katakan ku ‘kan lamar putrimu Apalagi apalagi alasannya apalagi

Lamar aku lamarlah diriku

Tak Cuma I love you

Suara tepuk tangan dan siulan saling bersahutan saat Vina selesai bernyanyi.

“Ajib lah pasangan Lovebird, kasih kita semua kejutan dengan kode-kode cintanya.” kata dr. Felix yang sukses memancing, tepuk tangan dan siulan yang makin ramai.

Ganendra masih terkejut mendengar lagu yang dinyanyikan Vina. Lagu berisi kode untuk segera dilamar kah? Ganendra tersenyum, apa singa betinanya sudah mulai mencintainya sehingga memberi kode seperti itu?

“Tunggu kedatangan saya dan seluruh keluarga saya bu dokter.” kata Ganendra tersenyum.

Sementara Vina merutuki kebodohannya, kenapa dia justru membawakan lagu itu. Lagu yang seakan meminta untuk dilamar.

“Itu cuman lagu, nggak usah baper.” kata Vina berusaha mematahkan persepsi, kalau dia ingin di lamar.

“Bagi saya bukan cuman lagu, tapi saya anggap bu dokter memang bersedia, jika saya melamar.” jawab Ganendra tersenyum penuh keyakinan.

“Terserah yang penting saya nggak minta di lamar.” Vina berdiri melangkah pergi, namun langkahnya kembali terhenti.

“Bu dokter, ingat perkataan saya, seorang Mahya akan selalu menepati ucapannya, jadi siap-siap saja,” kata Ganendra tegas membuat bulu kuduk Vina meremang.

“Terserah, Ayah saya pasti akan menolaknya, lagi pula anda nggak tau rumah saya, jadi jangan sombong deh.”

“Ayah bu dokter pasti menerima saya, dan untuk alamat itu mudah, saya pasti akan segera mendapatkannya.”

“Terserah,” jawab Vina kembali melangkah.

“Bu dokter Vina!” seru Ganendra.

“Apalagi sih, saya sudah malas meladeni anda Danton,” ucap Vina ketus dan melangkah dengan cepat tapi...

Bruuukk

Vina jatuh, ke dalam lubang yang siang tadi sengaja dibuat oleh anggota Ganendra.

“Dokter Vinaaa!” teriak rekan-rekannya dan juga beberapa prajurit.

“Aaaa Dantoooon! Sengaja ya buat lubang, biar saya jatuh!” teriak Vina, Ganendra berlari mendekatinya, diikuti yang lainnya.

“Tadi saya mau bilang ada lubang, tapi dokter langsung ngegas saja.” kata Ganendra yang mati-matian, menahan tawanya melihat Vina, gadis yang dia cintai basah dan kotor oleh tanah.

“Ayo saya bantu naik.” kata Ganendra mengulurkan tangannya pada Vina. Sementara, Vina menerima uluran tangan Ganendra.

“Ketawa saja, kenapa mesti ditahan?” Vina jutek saat sudah naik ke atas, melihat Ganendra dan yang lainnya seperti menahan tawa.

“Kalian ini ya, sama menyebalkannya seperti Danton,” ujar Vina yang segera melangkah pergi.

“Hahahahaha.” Setelah Vina pergi dengan kurang ajarnya, mereka semua tertawa terbahak.

“Sudah, jangan ketawa lagi, kalau ada yang ketawa saya suruh sikap tobat sampai pagi, bukan cuman untuk anggota saja tapi rekan medis juga,” kata Ganendra melangkah pergi, padahal dia sendiri ingin tertawa, tapi sekuat mungkin dia tahan.

“Alvina Putri, kau benar-benar memberi warna dalam hidupku,” gumam Ganendra yang berjalan memasuki kamarnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Tom & Jerry

    Pagi ini, kami ditugaskan mengawal para tenaga kesehatan ke posyandu, karena ada jadwal imunisasi. Kami berkumpul di halaman depan Yon untuk menerima pengarahan, serta pembagian tugas dari Danyon. Ada beberapa desa dengan medan cukup sulit, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki. Bagi kami para prajurit, hal itu sudah biasa, bagi tenaga kesehatan mungkin ini akan menjadi perjalanan yang luar biasa. Kalian tahu, kawan? Sudah seminggu ini aku dibuat kesal oleh dokter cantikku, mau tahu kenapa? Karena sejak kedatangan Danki baru, dokter cantikku yang kalau marah, lebih galak daripada singa betina, selalu saja dibuntuti oleh Danki baru. Sepertinya Danki punya perasaan pada dokter cantik, dan itu tak akan aku biarkan, karena dokter cantik itu milikku seorang, Ganendra Bhadrika Mahya. Dan kalian tahu, kawan? Jika dokter cantikku makin hari makin manis juga terhadap Danki, membuatku uring-uringan setiap hari, hampir saja satu peleton kena amukku. Aku menatap dokter cantik yang berdir

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Terpesona

    Ganendra Pov "Motornya mana?" Aku menoleh ke belakang, dimana dokter cantik yang sudah aku rindukan, selama tiga hari ini berdiri. Aku menatap wajahnya yang terlihat sangat lelah. "Di bawa Serda Adit tadi siang." Jawabku. "Terus kita jalan kaki?" Aku mengangguk, aku tersenyum, entah kenapa aku sangat suka saat dia menyebut 'kita' rasanya seperti sudah ada sesuatu di antara aku dan dia. "Kalau dokter mau gendong saya juga boleh, ayo naik." Kataku. "Ogah." Jawabnya sambil jalan mendahuluiku, aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku berjalan mengikutinya dari belakang, memandang tubuhnya yang berjalan di bawah sinar rembulan, dia gadis yang cantik, jika sedang diam dia sangat manis sekali, tapi jika sudah galak, singa betina saja kalah galaknya. Langkahku terhenti, saat melihat dia juga berhenti dan berbalik menghampiriku. "Kenapa?" Tanyaku penasaran, karena dia seperti ketakutan. Tanpa aku duga, dokter cantikku langsung menggenggam tanganku, membuat aku makin penasaran. "Ada suara

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Untung Cinta

    Sudah satu bulan Vina dan Timnya berada di tanah Borneo mengabdikan diri melayani masyarakat, banyak hal baru yang Vina dan Timnya dapatkan selama di sana. Salah satunya keterbatasan peralatan medis yang tak selengkap, saat mereka bertugas di Rumah Sakit ABDI Jakarta. Ganendra, Danton tampan yang sangat suka menggoda Vina, sudah tiga hari tak terlihat membuat Vina bernafas lega. Hidupnya terasa tenang tanpa kehadiran Danton menyebalkan itu. Saat ini, Vina sedang berjaga di Klinik bersama suster Mimi, sedangkan yang lainnya berkunjung dari rumah ke rumah penduduk untuk pemeriksaan dan penyuluhan kesehatan. Ada juga yang membantu para prajurit TNI mengajar di sekolah. Tim yang dipimpin Vina ada 9 orang, 10 beserta Vina yang terdiri dari 4 dokter dan 6 perawat. “Sudah beberapa hari ini Danteng nggak kelihatan ya dok,” kata suster Mimi membuka obrolan. Vina menoleh ke samping kirinya, di mana suster Mimi duduk. Danteng? Siapa dia, kenapa Vina nggak kenal, padahal hampir semua prajurit

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Debaran Aneh

    Perlahan Vina membuka matanya. Ia tampak kebingungan, karena saat ini sudah berada di dalam kamar. Seingatnya tadi, masih menaiki motor bersama Danton yang menyebalkan, namun sayangnya tampan itu. Vina turun dari ranjang dan keluar kamar. Di ruang tengah masih ramai rekan-rekannya yang asik berbincang, karena baru jam 8 malam. “Ibu Danton sudah bangun?” sapa dr. Alex pada Vina membuatnya mendengus kesal. “Enak saja kalau ngomong.” “Lah emang iya, naik motor saja sampai ketiduran, saking nyamannya dan dengan romantisnya Danton menggendong dr. Vina ke kamar loh,” kata dr. Alex lagi. Vina terkejut mendengar jika Danton menyebalkan itu yang menggendongnya ke kamar. “Serius?” tanya Vina yang di angguki rekan-rekan lainnya juga. “OMG! Kenapa saya nggak di bangunin sih, Dok.” “Tadinya saya mau bangunin dokter, tapi Danton melarangnya dan akhirnya gendong dokter ke kamar, sweet banget tau dok,” jawab dr. Dwi membuat Vina mencebik kesal, sweet dari mana coba, yang ada tubuh Vina saat ini

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Berdua Dengannya

    “Kita naik motor ini?” Aku menoleh ke belakang, saat dokter cantik bertanya dengan ekspresi yang sangat menggemaskan, jelas sekali jika dia tak menyukai motor yang saat ini aku naiki. Aku mengangguk, “Betul sekali bu dokter, kenapa?” “Nggak ada motor lain?” Aku menggeleng, “Ini motor trail sesuai dengan medan di sini bu dokter, kalau pakai matic nggak bisa.” “Saya nggak mau naik motor ini.” “Kenapa?” “Joknya kecil, danton duduk saja sudah pas begitu, kalau saya bonceng enak di danton, rugi di saya dong.” Aku cengo mendengar jawaban dari dokter cantik ini, maksudnya apa kenapa enak di aku dan rugi di dia. “Maksudnya?” tanyaku. Dia berdecak, “Kalau saya bonceng otomatis kita dekatan atau saling tempel, saya nggak mau ya tubuh suci saya tempel danton,” jawabnya dengan ketus. Oalah, ternyata karena itu toh aku kira apaan, aku tersenyum semanis mungkin padanya, meskipun dia memasang wajah garang seperti singa betina yang siap menerkam mangsanya. Aku harus bisa semanis mungki

  • Terjerat Dekapan Candu Sang Danton Penggoda   Manis Seperti Cuka

    POV Alvina Putri Abhimanyu “Dunia ini benar-benar sempit, atau memang takdir lagi sengaja menjahili aku?" Gerutuan itu tertahan di tenggorokanku. Belum dua puluh empat jam menginjakkan kaki di tanah Borneo aku sudah dibuat kesal sama pria yang empat tahun lalu bertemu denganku di Resepsi pernikahan bang Alvand. Aku masih ingat betapa menyebalkannya dia saat meminta berkenalan denganku. Sudah aku tolak, tapi tetap saja dia mengekoriku. Untung saja saat itu Om Firza memanggilnya dan itu kesempatanku untuk kabur darinya. Aku terkejut saat dia memperkenalkan diri. Nama belakangnya Mahya, itu sama seperti nama belakang istri Om Firza. Siapa yang tak kenal klan Mahya, terutama di dunia Militer."Ingat cerita Ayah soal Om Firza dan Tante dulu?" suara Ayah terngiang kembali di kepalaku."Ingat, Yah. Soal Om Firza yang hampir mundur jadi mantu keluarga Mahya karena minder pangkatnya di bawah Tante, kan?""Betul. Waktu itu Om Firza masih Lettu, sedangkan Tante sudah Kapten. Ditambah keluarga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status