Share

Bab 100

Author: Bintang yp
last update publish date: 2026-09-23 21:03:02

“Aku tak percaya hal ini akan terjadi dalam hidupku. Aku rasa ini gila!” Gumam Rehan dalam hati.

Rehan sampai didepan Rumah. Beban pikiran serta ketegangan yang selama ini menghantuinya telah lenyap.

“Kini aku pemegang kendalinya”

​Bu Rahmi, keluar menyambut kedatangan Rehan dengan senyuman hangat.

Langkah wanita separuh baya itu terlihat makin segar dan stabil setelah menjalani pengobatan rutin.

​"Sudah pulang, Rehan?" sapa Bu Rahmi lembut dari ambang pintu.

​Rehan mendekat lalu mencium tangan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 102

    ​Suasana ruang tengah itu mendadak hening dan mencekam. Di atas meja kaca, beberapa lembar kertas putih berstempel resmi rumah sakit tergeletak terbuka.Lembaran diagnosis medis yang menyatakan secara jelas bahwa Liona mengidap kanker darah atau Leukemia.​Liona duduk bersimpuh di lantai dingin dengan karpet tebal. Tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya mencengkeram lutut seraya terisak perih.Air matanya menetes membasahi pipinya yang kian memucat.​"Kenapa... kenapa semuanya bohong sama aku? Kenapa kalian sembunyikan ini semua dari aku..." Bisik Liona parau, suaranya bergetar. Pintu utama terdorong terbuka. Tante Meri dan Rehan melangkah masuk dengan senyum yang mendadak sirna seketika melihat pemandangan yang menyayat hati di ruang tengah.​"Liona!" jerit Tante Meri kaget. Dia menjatuhkan tas tangannya begitu saja dan berhamburan lari berlutut merengkuh putrinya.​Rehan membelalakkan mata, jantungnya seolah berhenti berdetak saat matanya menangkap lembaran surat dokter yang bers

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 101

    ​Sorak-sorai dan tepuk tangan riuh meramaikan lorong lantai dua gedung fakultas.Rehan melangkah keluar dari ruang sidang dengan raut wajah yang bahagia.Lembaran revisi skripsi yang baru saja ditandatangani oleh dosen penguji kini berada rapat di dalam dekapan tangannya.​"Han! Gimana hasilnya?" Seru Rendi teman sekelas Rehan. Dia bergegas berlari menghampiri Rehan dari sudut tangga.​Rehan mendongak, menyunggingkan senyuman lebar."Lulus, Ren! Gua resmi lulus hari ini!" Ucap Rehan dengan bangga.​"Serius, Han?" Kejut Rendi membelalak ikut bahagia.Rendi langsung merangkul dan menepuk-nepuk punggung Rehan dengan heboh."Selamat, Bro! Akhirnya perjuanganmu kuliah sambil kerja malam terbayar tuntas! Tinggal tunggu jadwal wisuda saja nih!"​"Iya, Ren. Seneng banget... Semua rasanya kayak mimpi," sahut Rehan sembari mengusap wajahnya yang menyiratkan rasa syukur luar biasa.​"Harus syukuran kita malam ini!" Goda Rendi tertawa renyah.​"Bisa aja kamu," balas Rehan terkekeh pelan.​Di teng

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 100

    “Aku tak percaya hal ini akan terjadi dalam hidupku. Aku rasa ini gila!” Gumam Rehan dalam hati.Rehan sampai didepan Rumah. Beban pikiran serta ketegangan yang selama ini menghantuinya telah lenyap.“Kini aku pemegang kendalinya”​Bu Rahmi, keluar menyambut kedatangan Rehan dengan senyuman hangat.Langkah wanita separuh baya itu terlihat makin segar dan stabil setelah menjalani pengobatan rutin.​"Sudah pulang, Rehan?" sapa Bu Rahmi lembut dari ambang pintu.​Rehan mendekat lalu mencium tangan ibunya."Sudah, Bu. Ibu kok keluar, ibu jangan capek capek ya!"​"Ibu tunggu kamu. Bagaimana keadaan Liona? Apa sudah baikan?" ujar Bu Rahmi seraya mengelus bahu putranya. ​"Sudah, Bu. Tadi Rehan sama Winda sudah antar Liona pulang ke rumahnya. Kondisinya makin stabil kok," jawab Rehan.​Bu Rahmi mengangguk lega. "Syukurlah kalau begitu. Ibu ikut senang, Nak."​Bu Rahmi menatap wajah Rehan sebentar, lalu melanjutkan ragu-ragu."Rehan... kalau Ibu ikut jenguk Liona ke rumahnya besok atau lusa,

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 99

    ​Suasana di dalam kamar Liona terasa tenang dan hangat. Di atas ranjang besarnya, Liona terbaring bersandar pada tumpukan bantal dengan wajah yang masih tampak agak pucat.Winda duduk di sisi ranjang seraya mengupas buah apel, sementara Rehan duduk di kursi samping tempat tidur, terus mengumbar senyum untuk menghibur kekasihnya.​"Kamu harus makan buahnya yang banyak, Li. Biar cepat pulih dan tidak perlu balik menginap di rumah sakit lagi." Bujuk Winda seraya menyodorkan sepotong apel. ​Liona menerima potongan apel itu lalu tertawa kecil."Iya, Win. Aku juga sudah bosan banget cium bau obat terus dimana-mana."​"Makanya, jangan malas makan. Liat tuh, Winda sampai bela-belain jadi pelayan pribadi kamu." Timpal Rehan lembut.​"Enak saja pelayan! Aku ini sahabat yang perhatian, tahu!" celetuk Winda sambil memukul pelan lengan Rehan.​Liona tertawa makin lepas melihat tingkah kedua temannya."Makasih ya, kalian berdua sudah mau antar aku pulang dan menemani aku di sini."​Klek.​Pintu ka

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 98

    ​Tante Meri tersudut di samping meja rias, tangannya menahan dada tegap Rehan."Jangan di sini, Rehan... Liona ada di sebelah," bisik Tante Meri dengan panik.​Tanpa mempedulikan penolakan itu, Rehan menarik pinggang Tante Meri mendekat dan merengkuh tubuhnya erat.Bibir Rehan mendarat panas di bibir Tante Meri, membungkam ucapan wanita itu dalam lumatan yang penuh gairah.Awalnya Tante Meri berontak kecil, mendorong bahu Rehan dengan jemarinya yang gemetar.Tapi sentuhan dan desakan tubuh pemuda itu menghancurkan sisa pertahanannya. Dia tahu betul, kehangatan ini yang sebenarnya dia harapkan sejak tadi.​"Mmh..." erang Tante Meri pasrah, bisikan halusnya akhirnya lolos dari tenggorokan. Tangannya yang semula menolak perlahan naik, mengalung erat di leher Rehan.​"Pelan-pelan... Jangan bersuara, nanti Liona dengar..." Bisik Tante Meri parau di sela ciuman mereka yang memburu.​"Aku tahu, Tante. Tenang saja..." Balas Rehan berbisik di lekuk leher wanita itu.​Dengan gerakan yang sangat

  • Terjerat Dekapan Mama Pacarku   Bab 97

    ​Rombongan kecil itu berjalan perlahan menyusuri area parkir rumah sakit.Rehan mendorong kursi roda Liona dengan hati-hati, sementara Winda berjalan sejajar di sampingnya membawa tas pakaian.Tante Meri melangkah paling depan dengan gaya anggunnya yang penuh wibawa.​Begitu tiba di samping mobil hitam yang terparkir rapi, Tante Meri merogoh tasnya, mengeluarkan kunci, lalu melangkah menuju pintu pengemudi.​Melihat hal itu, Rehan dengan cepat memotong langkah Tante Meri dan secara cekatan meraih kunci dari genggaman wanita itu.​"Biar saya saja yang menyetir, Tante," ujar Rehan.​Tante Meri tersentak kecil. Tangannya menggantung di udara seraya menatap Rehan tajam."Saya masih sanggup menyetir, Rehan."​"Tante kelihatan lelah. Bahaya kalau memaksa. Biar saya." Potong Rehan tanpa mengalihkan pandangannya.​"Ih, Rehan gaya banget mau jadi supir kita," goda Winda seraya terkekeh pelan.​Liona tersenyum manis dari kursi roda. "Tidak apa-apa, Win. Biar Mama tidak capek juga."​Rehan memba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status