Masuk"Jangan pergi!" Maurin segera memeluk Renan dari belakang. Langkah Renan terhenti. Napasnya tertahan sejenak. Apalagi saat ia merasakan tidak hanya pinggangnya yang ditahan Maurin, melainkan punggung pun dijadikan gadis itu sebagai tempat bersandar. Apartemen Damian yang sering mereka jadikan tempat singgah itu mendadak panas. Layaknya Renan yang merasakan jantungnya berdebar lebih cepat, suara gerak jarum jam pun terasa cepat. Kedua tangan Renan terkepal di sisi tubuh. Ia hanya bisa melihat sosok Maurin dari bayang-bayang yang tercetak di lantai sebab lampu utama yang tidak dihidupkan. Kamar yang dikhususkan untuk Maurin itu memang lebih sering diterangi dengan lampu dinding yang memberikan efek warm di ruangan. "Aku mohon jangan pergi. Temani aku." Renan menggerutu dalam hati. Suara lirih Maurin membuat Renan lemah. Apalagi tangan gadis itu semakin mendekap Renan kencang. Renan sadar, Maurin pasti masih trauma dengan kejadian beberapa jam di bar tadi. Pria tidak bertanggung
"Sialan!" Renan memijat pelipisnya yang mulai terasa berat. Perkataan Damian terus berputar di pikiran. Semakin berusaha ia lupakan, kata-kata itu semakin membuat Renan pusing sendiri. Sebab itulah ia pun memilih berakhir di sebuah bar. Tempat yang sebenarnya sudah lama tidak Renan kunjungi. Apalagi setelah Damian menikah. Seolah semesta tidak berpihak padanya, tepat di pintu masuk bar, gadis yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangan Renan muncul. Di belakangnya, seorang pria yang Renan kenal melangkah dengan ringan. Senyum hangatnya menghiasi wajah. Yang paling tampak adalah tatapan tulusnya. Demi apapun, hanya karena melihat keakraban Maurin dan Kael, Renan tanpa sadar menghirup americano peach dingin miliknya dalam sekali tandas. Dadanya mendadak panas. Rasa tidak suka menyusup begitu saja ke relung hatinya. Dan Renan sangat membenci perasaan ini. Apalagi saat matanya tidak terlepas dari memandang wajah cantik perempuan yang kini duduk di sofa sudut ruangan. "Renan?" Pria
"Belum tidur? Udah malam loh ini." Damian baru saja masuk kamar dan mendapati sang istri sedang melamun seperti memikirkan sesuatu. Renan dan yang lainnya sudah pulang beberapa menit yang lalu. Jasmine langsung ke kamar setelah para tamu tetap rumahnya itu pulang. Sedangkan Damian lekas menuju ruang kerja. Seperti biasa, Damian akan mengecek pekerjaannya sebelum benar-benar menikmati waktu berdua dengan Jasmine di kamar. Jasmine menegakkan punggungnya. Kemudian menatap Damian dengan bingung. "Mas lihat nggak gimana anehnya muka Mas Renan tadi? Saat Kak Maurin bawa temannya ke dalam?" Damian mengambil posisi di depan Jasmine. Duduk menghadap perempuan yang sekarang terlihat penasaran akan sesuatu mengenai sang kakak itu. Di bawah cahaya lampu kamar, wajah Jasmine terlihat lebih cerah. Pantulan hangat itu membuat bola matanya yang bulat dan pekat bercahaya. "Menurut kamu dia kenapa?" tanya Damian, pura-pura bersikap tenang. Jasmine bergumam sejenak. Kedua alisnya bertaut lucu. B
"Lirikannya tajam banget, Bro! Kenapa?" goda Damian lalu duduk di samping Renan. Pria itu sudah terlihat lebih segar. Kaos hitam yang melekat di tubuhnya membuat kesan santai pada pria yang terbiasa dengan penampilan kaku dan resmi itu. Kalau saja Anya hanya mengenal Damian di galeri, mungkin Anya juga akan mengira Damian adalah pribadi yang kaku. Namun, setelah lama bersama Jasmine barulah ia mengenal sisi lain Damian yang suka bercanda itu. Kembali ke Renan yang terlihat kesal itu. Wajahnya kusut. Sorot matanya yang biasa hangat kini datar tanpa minat. Padahal seingat Damian, saat ia sampai tadi tawa Renan begitu renyah terdengar. "Eh Maurin mana? Kok nggak keliatan?" tanya Damian saat baru menyadari bahwa sepupunya itu tidak berada di ruang tengah. Renan mendengus. Jasmine dan Anya saling menatap dengan ekspresi menahan tawa. Sementara Alan yang baru saja menutup majalah bisnis milik Damian itu lekas berdiri. Langkahnya pelan menuju Jasmine yang sedang menidurkan Aurora. "Bia
"Cantik!" Jasmine hampir terperanjat saat seseorang menyelipkan tangan perlahan di pinggangnya. Namun, wangi yang menyeruak dari tubuh pria itu membuat Jasmine langsung mengulas senyum. "Kira-kira sahabat Ayah suka nggak, ya?" Nada cemas Jasmine hanya direspon senyum tenang Damian. "Tapi lukisannya beneran cantik, kan? Soalnya foto aslinya juga cantik banget."Damian memiringkan wajahnya. Menatap lukisan wajah seseorang di depannya. Kemudian kembali menatap dari samping wajah sang istri. "Tadinya saya memuji kamu. Sore ini kamu cantik banget." "Hah?" Jasmine berbalik memutar tubuhnya. Kini ia berdiri berhadapan dengan sang suami. "Aku?" Damian menunduk hingga wajahnya benar-benar berhadapan dengan wajah cantik Jasmine. Seulas senyum tulusnya pun tercetak jelas. "Iya, Sayang. Kan kamu memang cantik. Mengapa harus sekaget ini?" Mata Jasmine mengerjap lucu. "Aneh aja. Tiba-tiba banget Mas bicara gitu. Apalagi dengan kondisi badanku yang masih gendutan begini." Dahi Damian mengern
"Mas ini besar sekali!" seru Jasmine antusias. Matanya menatap takjub. Binar kekaguman sama sekali tidak pudar dari matanya. Apalagi saat kakinya benar-benar menapaki marmer yang putih mengkilat itu. Bibirnya sedikit ternganga. Jasmine rasanya tidak percaya akan menginjakkan kakinya di sini. Ruangan besar yang didominasi warna putih dengan sedikit sentuhan abu-abu biru ini menyihir pandangannya. Damian benar, ruangan ini akan menjadi tempat favoritnya. Lampu mewah yang menghadirkan kilau keemasan tergantung angkuh di langit-langit. Damian melangkah ringan di belakang Jasmine. Reaksi Jasmine membuat senyum tipisnya terukir. "Suka?" tanya Damian lembut. Jasmine masih membelakangi Damian. Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya. "Banget, Mas. Aku sangat suka ini." Sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Namun, itu adalah air mata kebahagiaan. Tiba-tiba saja Jasmine merasakan sepasang tangan merambat pelan di pinggangnya. Tak lama, ia juga merasakan hembusan hangat napas seseor
"Hubungan kamu dan Damian gimana, Jasmine?" Pertanyaan itu menyambut Jasmine saat pulang ke rumah. Setelah mengulang olahraga panas yang pagi tadi mereka lakukan, Jasmine mampir dulu ke toko perlengkapan lukis untuk membeli beberapa cat minyak. Barulah ia pulang saat siang sudah menyapa. Rumah ya
"Tuan Alan sendiri yang mengumumkan kalau pernikahan Jasmine dan Damian akan segera dilakukan!""Abis dari Erick malah ke Damian Smith?!" "Wau! Nggak nyangka ternyata Jasmine malah memilih untuk lepas dari Erick!" "Sayang sih ya, padahal dia dan Erick itu cocok satu sama lain. Eh malah sama Damia
"Mas jangan diendus begitu, aku nggak bisa konsen!” protes Jasmine.Damian sengaja menulikan telinganya. Meski Jasmine protes, ia tetap saja mengendus leher jenjang Jasmine yang terlihat menggoda itu. Rambut panjang Jasmine yang dicepol tinggi semakin memudahkan Damia
"Gimana bisa?” tanya Damian, bersandar pada kursi.Melipat kedua tangannya santai. Perhatiannya tertuju pada Jasmine. Siap mendengarkan Jasmine bercerita.Jasmine menarik napas dalam-dalam. Mengingat itu kepalanya jadi mendadak pusing. Jasmine mulai menc







