Beranda / Romansa / Terjerat Hasrat Ayah Mertua / Bab 2. Menantu atau Pembantu?

Share

Bab 2. Menantu atau Pembantu?

Penulis: Cececans
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-01 22:12:59

"Ma, tunggu! Kenapa barang-barangku dikeluarkan?"

Keesokan harinya, Aina berlari panik melihat Tari melemparkan pakaian-pakaian lusuhnya ke lantai rumah mewah mereka. Tidak ada gaun indah atau tas mahal, hanya pakaian lama yang Aina bawa sejak sebelum menikah. Ilham tidak pernah membelikannya apa pun meski dirinya berasal dari keluarga berada, bahkan setelah Aina juga memberikan seluruh hartanya untuk membantu Ilham.

"Tentu saja kamu harus pindah," jawab Tari ketus sambil menendang tumpukan baju itu. "Kamar utama itu untuk Ilham dan Della. Kamu? Tempatmu di kamar belakang."

"Kamar belakang? Maksud Mama ... kamar bekas gudang itu?"

"Di mana lagi? Masih untung aku tidak mengusirmu ke jalanan!"

Aina menggigit bibir bawahnya, menahan perih. Ia tidak punya pilihan. Tanpa keluarga dan uang, ia tidak punya tempat tujuan lain. Dengan kepala tertunduk, Aina memunguti barang-barangnya dan berjalan menuju bagian belakang rumah.

Ruangan itu sempit, pengap, dan lembap. Dindingnya berjamur, dengan jendela kecil berjeruji besi yang membuatnya lebih mirip sel tahanan daripada kamar manusia. Kasurnya tipis dan berbau apek. Namun, Aina hanya bisa menghela napas pasrah. 

Setidaknya, ia masih memiliki atap untuk berteduh.

Baru saja ia merebahkan tubuhnya yang lelah, teriakan Tari kembali terdengar.

"Aina! Cepat ke sini!"

Aina bergegas menghadap. Di ruang tengah, Ailna melihat Ilham, Tari, dan Della sudah berpakaian rapi, siap untuk pergi. Penampilan mereka begitu kontras dengan Aina yang kusam.

"Kami mau makan siang di luar. Kamu jaga rumah, bersihkan semuanya!" perintah Tari sambil mematut diri.

Mata Aina beralih pada Ilham yang menggenggam erat tangan Della. Ada rasa sakit yang kembali menusuk. Harusnya Aina yang berada di samping Ilham dan digenggam penuh cinta seperti itu.

Tetapi, tidak.

Aina telah sadar. Setelah apa yang mereka lakukan pada Aina, ia tidak akan sudi ingin kembali berada di samping suaminya.

“Ngaca, Aina,” sahut Ilham tiba-tiba. Merasa terganggu dengan tatapan Aina padanya, tetapi wanita itu tidak mengatakan apa pun sejak tadi. “Jangan berharap aku akan mengajakmu pergi. Membawamu hanya akan membuatku malu. Lihat dirimu, kumal dan menyedihkan. Bandingkan dengan Della.”

Della terkekeh sinis, sengaja membusungkan dadanya. “Dengar itu? Wanita mandul sepertimu lebih baik di rumah saja. Jangan mempermalukan Mas Ilham.”

Aina hanya tersenyum tipis. Tidak ingin menanggapi mereka, Aina berlalu meninggalkan tiga orang itu begitu saja.

Ketiganya tercengang dengan perubahan sikap Aina.

“Heh, Aina! Jangan lupa bersihkan rumah dan kuras kolam renang karena besok akan ada acara penting di rumah ini!”

Aina tetap terus berjalan ke belakang rumah, teriakan Ilham samar-samar terdengar di belakang. “Aina kamu dengar tidak?!”

Aina diam di kamar mandi. Tidak peduli apakah mereka sudah pergi atau belum, tetapi Aina sudah tidak mendengar suara ketiga orang itu lagi.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut kusut, wajah lelah, mata sembab.

Apakah aku seburuk itu? batinnya. 

Perlahan, Aina membasuh wajahnya. Di balik kekusaman itu, sebenarnya tersimpan kecantikan alami yang tak pernah dirawat. Kulitnya putih halus, matanya bulat indah, dan bibirnya memiliki bentuk yang menawan.

Sayangnya, suaminya terlalu buta untuk melihat berlian yang ia sia-siakan.

Namun, Aina hanya perlu bertahan. Setidaknya ia masih punya tempat untuk ditinggali.

Aina hanya perlu bertahan untuk itu.

Siang itu, di bawah terik matahari, Aina tetap membersihkan kolam renang seorang diri. Tubuhnya yang lelah memaksanya bekerja lebih keras. Hingga di satu titik, kakinya tersandung selang air.

Tubuh mungil Aina kehilangan keseimbangan, melayang sesaat sebelum menghantam dasar kolam yang kosong.

Duk!

Kepalanya membentur lantai keras. Rasa sakit yang luar biasa meledak di kepalanya sebelum pandangannya berubah menjadi gelap gulita.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 33. Kembalinya Si Pembuat Onar

    Laura memasuki ruangan Adelio kembali dengan rona wajah yang berseri-seri.Jika tadi wajahnya pucat pasi seperti mayat, kini rona merah muda mulai kembali ke pipinya yang masih agak sembap.Dia duduk di meja kesayangannya lagi dan meletakkan barang-barangnya rapi, mulai dari binder berwarna pastel, pulpen karakter Rapunzel, hingga kaktus kecil yang diam-diam dia beri nama "Adelio Junior".Setelah selesai, Laura memandangi permukaan meja dan mulai mengelusnya dengan rasa sayang seperti seorang ibu yang sudah lama tak berjumpa dengan anaknya.Dia kemudian menarik napas dalam-dalam dan menikmati udara yang menyejukkan baginya.Jika bagi orang lain udara di ruang Adelio terasa beku, mencekam, dan kekurangan oksigen karena aura dingin sang pemilik, kini Laura justru merasakan bahwa ruangan itu adalah surganya.Bau parfum maskulin Adelio yang mahal tercium samar, jauh lebih harum daripada aroma kopi di pantry atau bau debu di gudang arsip tempat Nico membuangnya tempo hari.Akhirnya aku kem

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 32. Kemasi Barangmu Sekarang!

    “Apa?!”Laura tersentak hebat, seolah ada batu besar yang menghantam dadanya hingga sesak.Dia merasa bumi yang dipijaknya runtuh seketika, meninggalkan lubang hitam yang siap menelannya bulat-bulat tanpa sisa.Perlahan, kakinya mundur selangkah dengan tak berdaya. Matanya menyaksikan tatapan-tatapan tajam, merendahkan, dan penuh selidik dari karyawan lain yang berkumpul di sana.Mereka bukan lagi rekan kerja, melainkan juri-juri haus darah yang telah menjatuhkan vonis tanpa pengadilan.Laura menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan pikiran gelisahnya, namun kabut seolah mendadak menutupi pandangannya. Matanya kian memanas.Kenapa bisa? Kenapa video itu bisa tersebar di seluruh kantor? Batin Laura cemas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.Orang-orang di sekitarnya juga tampak menciut dan kabur.Apakah ini juga ulah Eko? Apakah pria menjijikkan itu tidak puas menghancurkanku? Batin Laura lagi.Air mata yang sejak tadi ditahannya di pelupuk mata kini seola

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 31. Bahan Masturbasi Nico

    Eko berhasil mencampakkan blouse milik Laura yang kini sudah tak berbentuk, dan melemparnya ke sembarang arah.Kain itu terkoyak secara tidak beraturan, melayang di udara sesaat sebelum mendarat serampangan di atas tumpukan daun kering.Matanya yang merah karena hawa nafsu mendadak mendelik, nyaris keluar dari kelopaknya saat menyaksikan sepasang gundukan indah yang terbalut bra merah muda berenda.Kulit Laura yang seputih porselen tampak kontras di bawah langit sore yang kian meredup, menciptakan pemandangan yang selama ini hanya berani Eko bayangkan dalam mimpi-mimpi kotornya."Cantik sekali .... Kamu memang luar biasa, Laura," igau Eko dengan suara parau yang menjijikkan.Tanpa membuang waktu, Eko lekas meraih ponselnya dari saku celana.Dengan tangan gemetar, dia menyalakan fitur kamera dan mengarahkannya tepat ke arah Laura yang tengah berusaha melindungi tubuhnya dari jangkauan tangan Eko.Pria itu menyerang Laura kembali. Meskipun Laura terus memohon belas kasihan dengan isak t

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 30. Tolong Aku!

    Sinta, Nadin, dan Siska saling lempar pandang.Di dalam bola mata mereka, kilatan kebencian yang selama ini dipendam terhadap Laura kini bertemu dengan kelicikan yang memancar dari netra Nico.Suasana di pojok pantry itu mendadak terasa dingin, seolah oksigen di sana baru saja tersedot habis oleh rencana busuk yang tengah digodok.Nico kemudian mengeluarkan kartu as-nya agar semakin meyakinkan."Tentu saja, aku tidak meminta kalian bekerja secara cuma-cuma. Aku tahu gaji karyawan tingkat staf seperti kalian seringkali habis sebelum tanggal dua puluh lima, bukan?"Nico berkata sembari merogoh saku jasnya, memperlihatkan tumpukan uang tunai yang diikat rapi."Ada bonus uang yang sangat besar jika kalian berhasil. Anggap saja ini nanti uang untuk loyalitas kalian."Melihat tumpukan uang merah itu, pertahanan ketiga wanita itu runtuh seketika.Bagi mereka yang memiliki latar belakang ekonomi pas-pasan dan seringkali harus mengeluh di media sosial soal harga skincare yang mahal, tawaran Ni

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 29. Gairah di Atas Kasur

    Laura Baskoro meletakkan gelas kristal berisi cairan berwarna merah muda itu secara perlahan di atas meja marmer yang dingin.Detik berikutnya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali.Ada sesuatu yang aneh.Rasa manis buah yang tadi sempat memanjakan lidahnya mendadak berubah menjadi sensasi pahit yang tipis, diikuti dengan gelombang hangat yang perlahan merambat dari kerongkongan menuju ulu hati."Ada apa, Laura?" tanya Nico yang duduk di sampingnya.Pria itu menyandarkan punggungnya dengan gaya pongah, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti serigala yang sedang menghitung detik-detik kejatuhan korbannya."Tidak apa-apa," sahut Laura pendek.Dia mencoba menstabilkan napasnya yang tiba-tiba terasa sedikit lebih berat.Kenapa AC hotel ini tiba-tiba terasa mati, sih? Keluh Laura dalam hati.Dia merasa pipinya mulai memanas, dan ada denyutan aneh yang mulai berirama di titik-titik nadinya. Darahnya seperti mendidih secara bersamaan.Nico kemudian mengeluarkan ponsel da

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   S2: Bab 28. Kena Kamu, Laura

    Adelio mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.Ancaman Nico bukan sekadar gertakan kosong.Pria di hadapannya ini tidak memiliki nurani jika sudah menyangkut ambisi dan dendam.Menyebut nama Nenek Diana adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Adelio."Jangan berani-berani kamu menginjakkan kaki di kediaman Nenek," desis Adelio, suaranya rendah dan sarat akan ancaman mematikan."Kesehatan Nenek sedang tidak stabil. Kedatanganmu hanya akan membuatnya naik darah, dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi penyebab serangan jantungnya yang berikutnya."Nico tertawa terbahak-bahak, suara yang terdengar begitu sumbang dan tidak sopan di ruangan kerja yang biasanya tenang itu."Maka, ayo saling mempermudah urusan satu sama lain. Aku hanya minta satu asisten magang. Berikan dia padaku, dan aku berjanji tidak akan muncul di depan muka Nenek Diana sampai bulan depan. Adil, bukan?"Adelio terdiam. Pikirannya sedang berperang..Di satu sisi, dia tahu mengirimkan Laura ke divisi Nic

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status