Mag-log inAina terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh. Langit sudah gelap gulita. Ia baru menyadari dirinya pingsan di pinggir kolam renang yang dingin selama berjam-jam, sendirian, tanpa ada yang mencarinya.
Dengan tertatih, Aina menyeret langkahnya masuk ke dalam rumah. Kosong. Tidak ada Ilham, tidak ada Tari. Keheningan rumah mewah itu terasa menyesakkan tapi juga yang paling aman untuknya.
Aina melangkah perlahan ke ruang tengah. "Pa ... Ma ... kenapa kalian meninggalkanku sendirian di neraka ini?" isaknya lirih, memeluk lutut di atas sofa. Perutnya perih menahan lapar, namun rasa nyeri di hatinya jauh lebih menyiksa.
Entah berapa lama Aina duduk diam di sana, hingga tiba-tiba, layar ponselnya menyala. Nama Ilham tertera di sana. Aina memandangi ponselnya untuk beberapa saat, antara enggan untuk menerima atau membiarkan ponsel itu mati begitu saja.
Namun, memikirkan Ilham bisa mengamuk kapan saja jika panggilannya tidak diterima, maka Aina mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
Belum sempat Aina menjawab, suara di ujung sana lebih dulu menyela. "Mas Ilham sedang mabuk berat. Cepat jemput dia sekarang!"
Bukan suara suaminya, melainkan suara cempreng Della yang kembali berkata, "Kenapa kamu diam saja? Cepat kemari. Aku kirim alamat klabnya. Jangan lelet!"
Klik. Sambungan terputus sepihak.
Aina menatap layar ponsel dengan nanar.
Ilham mabuk? Bersama Della? Demi Tuhan, Aina tahu bahayanya jika Ilham mabuk di tempat umum, dan pria itu tetap suaminya. Dengan sisa uang di dompetnya, Aina memesan taksi, menyeret tubuh lelahnya menembus malam Jakarta.
Setibanya di klab malam elit itu, dentuman musik dan aroma alkohol langsung menyergap indra penciumannya. Aina belum pernah ke tempat seperti ini, tempat ini asing dan menyeramkan sekaligus. Tetapi, ia berusaha mencari sosok suaminya di antara kerumunan manusia yang bergoyang liar.
"Sialan!" umpat seorang pria saat Aina tak sengaja menyenggolnya. Tatapan pria itu dan teman-temannya membuat Aina merinding.
"Wah, ada mangsa nyasar ...."
Sadar dirinya dalam bahaya, Aina berbalik dan berlari. Namun, ia justru tersesat di lorong-lorong VIP yang sepi dan remang.
Ketika Aina melihat ke belakang, para pria menyeramkan itu terus mengejar Aina. Langkah kaki para pengejarnya terdengar semakin dekat.
Aina terpojok di jalan buntu. Keringat dingin mengucur deras. Tepat saat keberadaan para pra jahat itu semakin mendekat, sebuah pintu di sampingnya terbuka. Seseorang menarik lengan Aina dengan kuat, menyeretnya masuk ke dalam kegelapan sebuah ruangan mewah.
"Argh—"
"Ssstt! Diam!"
Suara bariton yang berat membungkam jeritannya. Aina mendongak, menatap sepasang mata hazel yang tajam namun terlihat sayu karena pengaruh alkohol—atau sesuatu yang lebih kuat. Pria itu bertubuh tinggi besar, auranya begitu dominan dan mengintimidasi.
"Tolong ... ada orang jahat ...." Aina memohon dengan suara gemetar.
Namun, pria itu tidak mendengarkan. Napasnya memburu, wajahnya memerah menahan gejolak. Tanpa peringatan, ia mengangkat tubuh mungil Aina, menghempaskannya ke sofa beludru yang lembut.
"Kamu ... hadiah yang mereka kirim?" bisik pria itu parau. "Kamu ... manis sekali."
"Tunggu! Tuan, lepaskan!" Aina meronta, mencakar punggung bidang itu.
Namun, tenaga Aina tidak sebanding.
Pria itu seperti singa yang kelaparan. Sentuhannya kasar namun menuntut, membakar kulit Aina dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Saat bibir pria itu membungkam protes Aina, dunia Aina berputar. Ada rasa takut, namun anehnya ... ada desiran panas yang asing menjalar saat pria asing itu menyentuhnya di tempat-tempat yang tak pernah dijamah suaminya.
Laura memasuki ruangan Adelio kembali dengan rona wajah yang berseri-seri.Jika tadi wajahnya pucat pasi seperti mayat, kini rona merah muda mulai kembali ke pipinya yang masih agak sembap.Dia duduk di meja kesayangannya lagi dan meletakkan barang-barangnya rapi, mulai dari binder berwarna pastel, pulpen karakter Rapunzel, hingga kaktus kecil yang diam-diam dia beri nama "Adelio Junior".Setelah selesai, Laura memandangi permukaan meja dan mulai mengelusnya dengan rasa sayang seperti seorang ibu yang sudah lama tak berjumpa dengan anaknya.Dia kemudian menarik napas dalam-dalam dan menikmati udara yang menyejukkan baginya.Jika bagi orang lain udara di ruang Adelio terasa beku, mencekam, dan kekurangan oksigen karena aura dingin sang pemilik, kini Laura justru merasakan bahwa ruangan itu adalah surganya.Bau parfum maskulin Adelio yang mahal tercium samar, jauh lebih harum daripada aroma kopi di pantry atau bau debu di gudang arsip tempat Nico membuangnya tempo hari.Akhirnya aku kem
“Apa?!”Laura tersentak hebat, seolah ada batu besar yang menghantam dadanya hingga sesak.Dia merasa bumi yang dipijaknya runtuh seketika, meninggalkan lubang hitam yang siap menelannya bulat-bulat tanpa sisa.Perlahan, kakinya mundur selangkah dengan tak berdaya. Matanya menyaksikan tatapan-tatapan tajam, merendahkan, dan penuh selidik dari karyawan lain yang berkumpul di sana.Mereka bukan lagi rekan kerja, melainkan juri-juri haus darah yang telah menjatuhkan vonis tanpa pengadilan.Laura menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan pikiran gelisahnya, namun kabut seolah mendadak menutupi pandangannya. Matanya kian memanas.Kenapa bisa? Kenapa video itu bisa tersebar di seluruh kantor? Batin Laura cemas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.Orang-orang di sekitarnya juga tampak menciut dan kabur.Apakah ini juga ulah Eko? Apakah pria menjijikkan itu tidak puas menghancurkanku? Batin Laura lagi.Air mata yang sejak tadi ditahannya di pelupuk mata kini seola
Eko berhasil mencampakkan blouse milik Laura yang kini sudah tak berbentuk, dan melemparnya ke sembarang arah.Kain itu terkoyak secara tidak beraturan, melayang di udara sesaat sebelum mendarat serampangan di atas tumpukan daun kering.Matanya yang merah karena hawa nafsu mendadak mendelik, nyaris keluar dari kelopaknya saat menyaksikan sepasang gundukan indah yang terbalut bra merah muda berenda.Kulit Laura yang seputih porselen tampak kontras di bawah langit sore yang kian meredup, menciptakan pemandangan yang selama ini hanya berani Eko bayangkan dalam mimpi-mimpi kotornya."Cantik sekali .... Kamu memang luar biasa, Laura," igau Eko dengan suara parau yang menjijikkan.Tanpa membuang waktu, Eko lekas meraih ponselnya dari saku celana.Dengan tangan gemetar, dia menyalakan fitur kamera dan mengarahkannya tepat ke arah Laura yang tengah berusaha melindungi tubuhnya dari jangkauan tangan Eko.Pria itu menyerang Laura kembali. Meskipun Laura terus memohon belas kasihan dengan isak t
Sinta, Nadin, dan Siska saling lempar pandang.Di dalam bola mata mereka, kilatan kebencian yang selama ini dipendam terhadap Laura kini bertemu dengan kelicikan yang memancar dari netra Nico.Suasana di pojok pantry itu mendadak terasa dingin, seolah oksigen di sana baru saja tersedot habis oleh rencana busuk yang tengah digodok.Nico kemudian mengeluarkan kartu as-nya agar semakin meyakinkan."Tentu saja, aku tidak meminta kalian bekerja secara cuma-cuma. Aku tahu gaji karyawan tingkat staf seperti kalian seringkali habis sebelum tanggal dua puluh lima, bukan?"Nico berkata sembari merogoh saku jasnya, memperlihatkan tumpukan uang tunai yang diikat rapi."Ada bonus uang yang sangat besar jika kalian berhasil. Anggap saja ini nanti uang untuk loyalitas kalian."Melihat tumpukan uang merah itu, pertahanan ketiga wanita itu runtuh seketika.Bagi mereka yang memiliki latar belakang ekonomi pas-pasan dan seringkali harus mengeluh di media sosial soal harga skincare yang mahal, tawaran Ni
Laura Baskoro meletakkan gelas kristal berisi cairan berwarna merah muda itu secara perlahan di atas meja marmer yang dingin.Detik berikutnya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali.Ada sesuatu yang aneh.Rasa manis buah yang tadi sempat memanjakan lidahnya mendadak berubah menjadi sensasi pahit yang tipis, diikuti dengan gelombang hangat yang perlahan merambat dari kerongkongan menuju ulu hati."Ada apa, Laura?" tanya Nico yang duduk di sampingnya.Pria itu menyandarkan punggungnya dengan gaya pongah, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti serigala yang sedang menghitung detik-detik kejatuhan korbannya."Tidak apa-apa," sahut Laura pendek.Dia mencoba menstabilkan napasnya yang tiba-tiba terasa sedikit lebih berat.Kenapa AC hotel ini tiba-tiba terasa mati, sih? Keluh Laura dalam hati.Dia merasa pipinya mulai memanas, dan ada denyutan aneh yang mulai berirama di titik-titik nadinya. Darahnya seperti mendidih secara bersamaan.Nico kemudian mengeluarkan ponsel da
Adelio mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.Ancaman Nico bukan sekadar gertakan kosong.Pria di hadapannya ini tidak memiliki nurani jika sudah menyangkut ambisi dan dendam.Menyebut nama Nenek Diana adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Adelio."Jangan berani-berani kamu menginjakkan kaki di kediaman Nenek," desis Adelio, suaranya rendah dan sarat akan ancaman mematikan."Kesehatan Nenek sedang tidak stabil. Kedatanganmu hanya akan membuatnya naik darah, dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi penyebab serangan jantungnya yang berikutnya."Nico tertawa terbahak-bahak, suara yang terdengar begitu sumbang dan tidak sopan di ruangan kerja yang biasanya tenang itu."Maka, ayo saling mempermudah urusan satu sama lain. Aku hanya minta satu asisten magang. Berikan dia padaku, dan aku berjanji tidak akan muncul di depan muka Nenek Diana sampai bulan depan. Adil, bukan?"Adelio terdiam. Pikirannya sedang berperang..Di satu sisi, dia tahu mengirimkan Laura ke divisi Nic







