LOGIN
"Ahh .... Mas Ilham. Terus ...."
Langkah Aina Maharani terhenti seketika. Tubuhnya meremang, darahnya berdesir hebat saat mendengar suara desahan wanita yang begitu asing dari arah kamar utamanya.
Dengan tungkai gemetar, Aina memaksa kakinya melangkah mendekat. Pintu kamar itu tidak terkunci, sedikit terbuka, seolah sengaja membiarkan suara-suara dosa di dalamnya terdengar keluar.
Aina mendorong pintu itu perlahan. Dan detik berikutnya, dunianya runtuh.
Di atas ranjang pernikahan mereka, suaminya—Ilham—sedang menyatukan tubuh dengan seorang wanita tanpa sehelai benang pun. Mereka begitu larut dalam gairah, mengabaikan keberadaan Aina yang kini berdiri mematung dengan napas tercekat. Kantong belanja di tangan Aina terjatuh, menimbulkan suara gaduh yang akhirnya membuat Ilham menoleh.
Pria berkacamata itu berhenti sejenak, menatap Aina dengan pandangan kosong tanpa rasa bersalah.
"Oh, kamu sudah pulang?" tanyanya datar, seolah Aina hanyalah tamu tak diundang.
Tangan Aina mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Satu tahun pernikahan, ia rela menyerahkan sisa harta peninggalan orang tuanya demi modal bisnis Ilham. Ia rela menjadi istri penurut. Namun, balasan yang ia terima adalah pemandangan paling menjijikkan ini.
"Mas Ilham! Tega sekali kamu ...." Suara Aina bergetar hebat, air mata mulai membanjiri pipinya yang pucat. Telunjuknya mengarah pada wanita di sebelah Ilham. "Dan siapa wanita murahan ini?"
Amarah membuat Aina melupakan sopan santunnya. Namun, Ilham justru merengkuh bahu wanita itu dengan santai.
"Jaga bicaramu, Aina. Dia Della, kekasihku," jawab Ilham dingin. "Dia bisa memberikanku apa yang tidak bisa kamu berikan."
"Kekasih?!" Aina menjerit tertahan. Rasanya ia ingin meledak, menghancurkan segalanya. Namun, sebelum ia sempat bergerak, ibu mertuanya—Tari—muncul di ambang pintu.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?"
"Ma, Mas Ilham—"
"Jangan dengarkan dia, Ma. Aina cemburu melihatku bersama Della," potong Ilham cepat.
Harapan Aina agar ibu mertuanya membela dirinya musnah seketika saat sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Plak!
Sudut bibir Aina perih, rasa asin darah mulai terasa.
"Dasar tidak tahu diri!" bentak Tari dengan mata nyalang. "Harusnya kamu sadar posisi! Della akan menjadi istri kedua Ilham karena dia bisa memberikan keturunan. Tidak sepertimu, wanita mandul!"
Aina memegang pipinya yang panas, menatap dua orang yang seharusnya menjadi keluarganya itu dengan pandangan kabur oleh air mata.
"Kenapa kalian jahat sekali? Apa salahku?" isak Aina pilu.
"Salahmu karena kamu tidak berguna di rumah ini," Tari mencengkeram lengan Aina, menyeretnya kasar keluar dari kamar. "Mulai sekarang, belajarlah menerima nasib. Kalau Della hamil nanti, Ilham akan segera menceraikanmu!"
Pintu kamar ditutup keras tepat di depan wajah Aina. Dari dalam, tawa manja Della dan suara Ilham kembali terdengar, mengoyak sisa-sisa hati Aina yang telah hancur.
Seakan belum puas menambah garam di luka Aina, Tari kembali berkata kejam. “Kalau kamu sadar diri lebih baik kamu diam. Bersikaplah seolah kamu buta, dan tuli. Dengan begitu aku akan membiarkanmu tetap tinggal di rumah ini.”
Malam itu, Aina meringkuk di depan pintu, memeluk lututnya sendiri.
"Pa ... Ma ... Aina kangen," lirihnya, memanggil orang tuanya yang telah tiada karena kecelakaan pesawat dua tahun lalu.
Di rumah mewah ini, ia sendirian.
Benar-benar sendirian.
Laura memasuki ruangan Adelio kembali dengan rona wajah yang berseri-seri.Jika tadi wajahnya pucat pasi seperti mayat, kini rona merah muda mulai kembali ke pipinya yang masih agak sembap.Dia duduk di meja kesayangannya lagi dan meletakkan barang-barangnya rapi, mulai dari binder berwarna pastel, pulpen karakter Rapunzel, hingga kaktus kecil yang diam-diam dia beri nama "Adelio Junior".Setelah selesai, Laura memandangi permukaan meja dan mulai mengelusnya dengan rasa sayang seperti seorang ibu yang sudah lama tak berjumpa dengan anaknya.Dia kemudian menarik napas dalam-dalam dan menikmati udara yang menyejukkan baginya.Jika bagi orang lain udara di ruang Adelio terasa beku, mencekam, dan kekurangan oksigen karena aura dingin sang pemilik, kini Laura justru merasakan bahwa ruangan itu adalah surganya.Bau parfum maskulin Adelio yang mahal tercium samar, jauh lebih harum daripada aroma kopi di pantry atau bau debu di gudang arsip tempat Nico membuangnya tempo hari.Akhirnya aku kem
“Apa?!”Laura tersentak hebat, seolah ada batu besar yang menghantam dadanya hingga sesak.Dia merasa bumi yang dipijaknya runtuh seketika, meninggalkan lubang hitam yang siap menelannya bulat-bulat tanpa sisa.Perlahan, kakinya mundur selangkah dengan tak berdaya. Matanya menyaksikan tatapan-tatapan tajam, merendahkan, dan penuh selidik dari karyawan lain yang berkumpul di sana.Mereka bukan lagi rekan kerja, melainkan juri-juri haus darah yang telah menjatuhkan vonis tanpa pengadilan.Laura menggeleng pelan, berusaha mengenyahkan pikiran gelisahnya, namun kabut seolah mendadak menutupi pandangannya. Matanya kian memanas.Kenapa bisa? Kenapa video itu bisa tersebar di seluruh kantor? Batin Laura cemas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging.Orang-orang di sekitarnya juga tampak menciut dan kabur.Apakah ini juga ulah Eko? Apakah pria menjijikkan itu tidak puas menghancurkanku? Batin Laura lagi.Air mata yang sejak tadi ditahannya di pelupuk mata kini seola
Eko berhasil mencampakkan blouse milik Laura yang kini sudah tak berbentuk, dan melemparnya ke sembarang arah.Kain itu terkoyak secara tidak beraturan, melayang di udara sesaat sebelum mendarat serampangan di atas tumpukan daun kering.Matanya yang merah karena hawa nafsu mendadak mendelik, nyaris keluar dari kelopaknya saat menyaksikan sepasang gundukan indah yang terbalut bra merah muda berenda.Kulit Laura yang seputih porselen tampak kontras di bawah langit sore yang kian meredup, menciptakan pemandangan yang selama ini hanya berani Eko bayangkan dalam mimpi-mimpi kotornya."Cantik sekali .... Kamu memang luar biasa, Laura," igau Eko dengan suara parau yang menjijikkan.Tanpa membuang waktu, Eko lekas meraih ponselnya dari saku celana.Dengan tangan gemetar, dia menyalakan fitur kamera dan mengarahkannya tepat ke arah Laura yang tengah berusaha melindungi tubuhnya dari jangkauan tangan Eko.Pria itu menyerang Laura kembali. Meskipun Laura terus memohon belas kasihan dengan isak t
Sinta, Nadin, dan Siska saling lempar pandang.Di dalam bola mata mereka, kilatan kebencian yang selama ini dipendam terhadap Laura kini bertemu dengan kelicikan yang memancar dari netra Nico.Suasana di pojok pantry itu mendadak terasa dingin, seolah oksigen di sana baru saja tersedot habis oleh rencana busuk yang tengah digodok.Nico kemudian mengeluarkan kartu as-nya agar semakin meyakinkan."Tentu saja, aku tidak meminta kalian bekerja secara cuma-cuma. Aku tahu gaji karyawan tingkat staf seperti kalian seringkali habis sebelum tanggal dua puluh lima, bukan?"Nico berkata sembari merogoh saku jasnya, memperlihatkan tumpukan uang tunai yang diikat rapi."Ada bonus uang yang sangat besar jika kalian berhasil. Anggap saja ini nanti uang untuk loyalitas kalian."Melihat tumpukan uang merah itu, pertahanan ketiga wanita itu runtuh seketika.Bagi mereka yang memiliki latar belakang ekonomi pas-pasan dan seringkali harus mengeluh di media sosial soal harga skincare yang mahal, tawaran Ni
Laura Baskoro meletakkan gelas kristal berisi cairan berwarna merah muda itu secara perlahan di atas meja marmer yang dingin.Detik berikutnya, dia mengerjapkan matanya berkali-kali.Ada sesuatu yang aneh.Rasa manis buah yang tadi sempat memanjakan lidahnya mendadak berubah menjadi sensasi pahit yang tipis, diikuti dengan gelombang hangat yang perlahan merambat dari kerongkongan menuju ulu hati."Ada apa, Laura?" tanya Nico yang duduk di sampingnya.Pria itu menyandarkan punggungnya dengan gaya pongah, menatap Laura dengan tatapan yang sulit diartikan, seperti serigala yang sedang menghitung detik-detik kejatuhan korbannya."Tidak apa-apa," sahut Laura pendek.Dia mencoba menstabilkan napasnya yang tiba-tiba terasa sedikit lebih berat.Kenapa AC hotel ini tiba-tiba terasa mati, sih? Keluh Laura dalam hati.Dia merasa pipinya mulai memanas, dan ada denyutan aneh yang mulai berirama di titik-titik nadinya. Darahnya seperti mendidih secara bersamaan.Nico kemudian mengeluarkan ponsel da
Adelio mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.Ancaman Nico bukan sekadar gertakan kosong.Pria di hadapannya ini tidak memiliki nurani jika sudah menyangkut ambisi dan dendam.Menyebut nama Nenek Diana adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Adelio."Jangan berani-berani kamu menginjakkan kaki di kediaman Nenek," desis Adelio, suaranya rendah dan sarat akan ancaman mematikan."Kesehatan Nenek sedang tidak stabil. Kedatanganmu hanya akan membuatnya naik darah, dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi penyebab serangan jantungnya yang berikutnya."Nico tertawa terbahak-bahak, suara yang terdengar begitu sumbang dan tidak sopan di ruangan kerja yang biasanya tenang itu."Maka, ayo saling mempermudah urusan satu sama lain. Aku hanya minta satu asisten magang. Berikan dia padaku, dan aku berjanji tidak akan muncul di depan muka Nenek Diana sampai bulan depan. Adil, bukan?"Adelio terdiam. Pikirannya sedang berperang..Di satu sisi, dia tahu mengirimkan Laura ke divisi Nic







