Share

Bab 4. Noda Merah

Author: Cececans
last update Last Updated: 2025-12-02 19:31:16

"Apa? Kalian gagal membawanya ke hotel?" Della nyaris berteriak pada pria gempal yang sudah dia bayar untuk memerkosa Aina, di telepon.

Sebenarnya tadi Della berniat menjebak Aina, membuat istri Ilham itu seolah-olah sedang bersenang-senang dengan seorang pria di hotel yang sudah Della pesan sebelumnya.

Sehingga Ilham semakin membenci Aina.

Dengan begitu Ilham menceraikan Aina lebih cepat, dan Della bisa segera menguasai harta keluarga Ilham yang sangat banyak.

"Tadi dia menghilang begitu saja saat kami mengejarnya," balas pria gempal dari seberang telepon takut-takut, memicu emosi Della memuncak.

"Dasar kalian tidak berguna! Cuma mengatasi satu perempuan lemah saja kalian tidak becus! Aku tidak akan memakai jasa kalian lagi!" Della berteriak geram. Dia langsung mematikan sambungan telepon dengan dada bergemuruh.

Sialan! Rencananya gagal!

Della menendang meja tak bersalah di depannya. Dia akan berusaha mencari cara lain untuk menyingkirkan Aina. Secepatnya!

"Della sayang, kenapa wajahmu memerah? Kamu tidak enak badan?" tanya Ilham yang baru saja kembali dari toilet.

Sekarang mereka berada di resort mewah. Hanya berdua. Karena Tari memilih pergi ke butik langganannya untuk menambah stock dress mahalnya.

"Tidak apa-apa, Mas Ilham. Wajahku memang mudah merah kalau sedang panas begini," jawab Della sekenanya sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangan ke depan wajah seakan dia memang sedang kepanasan.

Padahal udara sedang dingin sekarang. Angin malam yang mengembus dari jendela resort saja membuat mereka menggigil.

Tapi, Ilham percaya saja pada Della.

Yang terpenting bagi Ilham sekarang adalah dia dan Della bisa puas bercinta tanpa gangguan Aina.

Setiap kali melihat wajah memelas Aina, membuat Ilham muak.

Ilham akui dia dulu sangat menyukai Aina. Wajah cantiknya yang tidak membosankan sangat indah dipandang. Ilham bahkan mengejar-ngejar Aina selama bertahun-tahun demi mendapatkan hatinya.

Tapi setelah menikah, Aina justru tidak pernah berdandan. Tampak lusuh, dan kumal sepanjang hari.

Ilham pun jadi malas bercinta dengan Aina.

Bahkan, hanya untuk melihat tubuhnya saja Ilham tidak sudi. Meski, Ilham belum benar-benar melihat seperti apa tubuh polos istrinya itu.

Ilham berpikir Aina tidak lebih menarik dari Della yang memiliki payudara sebesar buah pepaya, dan pantatnya yang enak diremas.

Karena Ilham tak pernah menyentuh Aina, dia belum mendapatkan keturunan dari istrinya itu. Tapi, Ilham melimpahkan semua kesalahan pada Aina dengan mengatakan jika Aina mandul.

"Ponselku mana, Sayang?" tanya Ilham saat dia sudah duduk di samping Della. Sebelum pergi ke toilet dia menitipkan ponselnya pada kekasihnya itu.

"Ini, Mas Ilham." Della mengembalikan ponsel Ilham. Dia sudah menghapus riwayat panggilan, dan pesan yang dia kirimkan tadi pada Aina.

Ilham meletakkan ponselnya ke meja tanpa berniat menyalakannya. Dia sekarang lebih ingin meremas pantat dan payudara Della yang kenyal.

"Sayang, buka bajumu!" titah Ilham menarik turun celananya sendiri. Menunjukkan kejantanannya yang hanya sebesar jari jempol ke depan Della.

Della mematuhi ucapan Ilham. Dia segera melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Lalu, dengan sudah telanjang Della duduk berjongkok di depan kemaluan Ilham.

Dengan lihai Della mulai mengulum batang Ilham memakai mulutnya yang basah dan hangat.

"Ahhh .... Della sayang. Terus ulum. Ahh ...." Ilham selalu puas dengan servis Della. Perempuan itu selalu pintar memuaskan fantasi liarnya.

Setelah Ilham menyemburkan cairannya. Dia menyuruh Della duduk di pangkuannya. Dan dalam posisi seperti itu mereka menyatukan tubuh, dan saling memuaskan hasrat.

***

"Aku ada di mana ini?" Aina meringis merasakan kepalanya seperti baru saja dipukuli. Pusing sekali.

Dia lalu mengerjapkan mata untuk beradaptasi dengan ruangan yang sangat terang. Sinar matahari yang masuk lewat jendela menyilaukan matanya.

Setelah berkedip satu kali. Dua kali. Tiga kali. Barulah Aina tersadar kalau dia sekarang sedang berada di kamar hotel yang tampak asing.

Ranjang berukuran king size yang Aina tempati terlihat acak-acakan, dan terdapat noda darah yang cukup mencolok.

Melihat noda itu, tanpa sadar Aina meneteskan air mata.

Teringat kembali pria yang menggagahinya semalam.

Sungguh Aina tidak mau mengingat kejadian yang membuat hidupnya hancur. Tapi, bayangan-bayangan itu terus berkelebatan di kepalanya, menyiksanya.

Apa yang harus dia katakan pada Ilham ketika pria itu mendapati dirinya sudah tidak perawan lagi? Apa suaminya itu akan langsung menceraikan dan mengusirnya? Akan pergi ke mana Aina jika dia sampai diusir dari rumah Ilham?

Pertanyaan-pertanyaan itu saling tumpang tindih. Membuat Aina meremas selimut yang menutupi tubuhnya.

Namun, saat mencoba mengecek tubuhnya, Aina mengerutkan keningnya.

Tubuhnya sudah memakai pakaian lengkap. Dan aroma sabun yang wangi tercium darinya.

Sepertinya pria semalam yang memandikan Aina setelah merenggut keperawanannya.

Aina bergidik membayangkan semua tubuhnya sudah disentuh si pria. Dia merasa tidak memiliki harga diri lagi.

Dengan pipi yang masih basah, Aina turun dari tempat tidur, mengambil ponselnya di meja nakas, dan memilih untuk pulang sekarang.

Semakin lama berada di tempat ini, semakin membuat masalah yang menunggunya di rumah bertambah runyam.

Aina harus memikirkan alasan yang tepat saat Ilham menanyainya nanti.

Namun, di saat sudah pulang pun Aina tak kunjung mendapatkan alasan yang tepat.

Kepala Aina mendadak kosong ketika Ilham berdiri dengan wajah merah padam menghadapinya.

Plakk!!!

Tanpa berucap, Ilham menampar pipi Aina di depan teman-temannya yang sedang berkumpul di ruang tamu.

Ini adalah pertama kali Ilham menamparnya.

Aina menatap Ilham dengan hati berdenyut perih.

"Dari mana saja kamu? Kenapa baru pulang sekarang?" sentak Ilham menghunjam telinga Aina.

Aina membuka mulutnya untuk berucap, tapi Della sudah lebih dulu menyela.

"Mas Ilham, jangan bersikap kasar sama Aina. Biar bagaimana pun dia masih istrimu, Mas." Della bersikap seolah dirinya malaikat di sini. Nyatanya, dia adalah iblis!

"Tapi, dia sudah kelewatan, Della. Bagaimana bisa dia keluyuran, dan baru pulang jam sembilan pagi? Istri macam apa yang seperti itu?" balas Ilham dengan kemarahan yang masih meletup-letup.

"Sudahlah, Mas. Tidak enak dilihat teman-temanmu. Mungkin, semalam Aina lagi bosan, jadi dia mencari kesenangan di luar." Della memeluk lengan Ilham, dan mengulas senyum culas.

Aina membelalakkan matanya. Tak percaya Della mengatakan hal itu. Padahal, Della-lah yang menyuruhnya datang ke club. Sampai Aina berakhir di kamar hotel bersama pria asing.

"Tidak! Aku tidak seperti itu. Aku keluar rumah untuk ...."

"Sudah cukup! Lebih baik kamu ke dapur membantu Mama menyiapkan makanan untuk teman-temanku. Aku sudah muak mendengar alasanmu!" Ilham membentak Aina dengan kasar. Dia lalu pergi kepada teman-temannya bersama Della di sisinya.

Aina menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya. Dia tidak boleh menangis sekarang. Tidak di depan teman-teman suaminya.

Daripada melihat kemesraan Ilham dan Della yang membuatnya pedih, Aina memilih ke dapur untuk membantu Tari.

"Aina! Cepat kamu bawa semua ini ke depan! Jangan lelet!"

Baru saja Aina di dapur, ibu mertuanya sudah berteriak menyuruhnya.

Tari yang sudah berdandan cantik merasa kesal karena make upnya luntur selagi dia sibuk di dapur. Dia jadi melampiaskan semua emosinya pada Aina.

"Iya, Ma," balas Aina, dengan cekatan mengambil nampan berisi jus lemon mahal dan gelas kristal.

Aina berjalan tergopoh-gopoh membawa nampan berat itu ke meja depan teman-teman Ilham yang berjumlah delapan orang.

Sepertinya mereka teman sekolah Ilham dulu. Mereka tampak sangat akrab.

Ketika Aina hendak meletakkan nampannya ke meja, dengan sengaja Della menjulurkan sebelah kakinya. Alhasil Aina tersandung, dan membuat jus lemon yang dia bawa jatuh ke lantai.

Brakk!!!

"Aww ...."

-Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   Bab 97. Raja Posesif

    "Kamu dari mana saja, Aina?" tanya Raja yang sedang duduk santai di sofa, mengejutkan Aina yang baru saja pulang diantarkan Kevin.Aina sampai terjingkat kaget melihat Raja sudah ada di apartemen. Karena dia tidak pernah menduga mantan ayah mertuanya itu ada di sini."Papa, kok bisa ada di apartemen? Bukannya seharusnya masih kerja?" tanya Aina heran. Bukannya menjawab pertanyaan Raja, Aina justru bertanya balik sambil menunjuk ke arah Raja dengan jari telunjuknya.Pria di depannya itu benar-benar Raja kan? Bukan hanya halusinasi Aina?Aina masih butuh mengerjap-ngerjap kedua matanya untuk menatap Raja lebih jelas lagi.Karena lama berada di jalanan yang dipenuhi sinar matahari yang terik, penglihatan Aina jadi sedikit terganggu ketika masuk ke dalam apartemen yang sedikit minim cahaya.Setelah mengedipkan mata empat kali, barulah Aina yakin dia tidak sedang berhalusinasi. Karena Raja tidak menghilang dari pandangannya.Pria itu tetap duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya.Nam

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   Bab 96. Terlanjur Berharap

    "Menjauh dari saya, Anne!" sentak Raja geram. Dia refleks melepaskan pelukan Anne dengan kasar. Lalu mundur dua langkah menjauhi Anne.Raja muak melihat Anne. Setiap kali melihat wajah perempuan itu. Raja hanya teringat kenangan buruk yang begitu menyakitkan, di mana Raja melihat secara langsung tubuh telanjang Anne digenjot pria asing tepat di hari mereka resmi bertunangan.Padahal, Raja tadi sudah mengusir Anne dari perusahaannya. Tapi, mantannya itu justru mendadak memeluknya dengan sangat erat.Tentu saja, Raja terkejut dan murka."Raja, sebegitu bencinya kamu padaku? Tidak bisakah kamu memaafkanku, Raja?" ucap Anne menatap Raja dengan getir.Anne sudah menyesali kesalahannya. Dia benar-benar ingin kembali pada Raja. Kembali merajut hubungan asmara dengan pria itu.Tapi, sepertinya terlalu sulit Anne mendapatkan maaf dari Raja.Dulu dia hanyalah wanita muda yang naif. Yang lebih menyukai dunia bebas tanpa belenggu dari sebuah hubungan.Tapi, kini dia sadar belum ada pria manapun y

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   Bab 95. Arti Sebuah Pelukan

    "Kalau kamu tidak serius, kamu jangan mendekati Aina. Aku tidak mau kamu hanya mempermainkan hati Aina, dan membuat Aina terluka lagi," ucap Cassandra tegas setelah dia mengatakan kalau wanita yang dibawa atasannya Kevin di perusahaan itu adalah pelakor yang membuat rumah tangga Aina hancur.Cassandra hanya menceritakan pada Kevin sebatas Aina yang diselingkuhi Ilham. Dia tidak mengatakan hal lainnya. Termasuk Aina yang kini hamil. Karena Cassandra tidak memiliki hak untuk menceritakan hal privasi tentang Aina kepada orang lain. Meski, orang lain itu Kevin.Kevin yang mendengar cerita singkat, dan ucapan tajam Cassandra meringis samar.Dia tahu Cassandra mengatakannya karena temannya itu ingin melindungi Aina.Tapi, Kevin tidak bermaksud main-main dengan Aina. Dia sangat serius dengan Aina. Perasaan Kevin pada Aina bukanlah suatu candaan.Kevin juga tidak ingin memperparah luka di hati Aina. Dia justru ingin membalut luka itu, dan menyembuhkannya."Aku benar-benar mencintai Aina, Cas

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   Bab 94. Apa Hubungan Mereka?

    "Kamu siapa?" tanya Aina menatap wanita di depannya dengan alis tertaut."Seharusnya aku yang nanya, kamu siapa? Siapa yang mengizinkanmu tinggal di apartemennya Raja?" balas Anne kesal karena Aina terus menatapinya dengan heran bercampur aneh, seolah Anne adalah makhluk halus yang mendadak muncul di depannya.Sementara, Aina tetap berdiri menahan pintu di belakangnya supaya Anne tidak bisa menerobos masuk.Aina memang baru pertama kali ini melihat Anne, bahkan belum tahu namanya. Tapi, entah kenapa Aina bisa merasakan aura permusuhan yang Anne pancarkan padanya. Sehingga Aina harus waspada terhadap wanita itu."Aku kekasihnya Papa Raja. Papa sendiri yang menyuruhku tinggal di apartemennya. Kalau kamu siapanya Papa Raja?" Aina mengangkat pandangannya dengan berani menantang Anne.Aina tidak boleh terlihat lemah supaya dia tidak diinjak-injak oleh wanita bule di hadapannya.Meski, Anne jauh lebih tinggi dari Aina. Tapi, Aina tidak akan kalah dari wanita itu.Mendengar jawaban Aina, Ann

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   Bab 93. Tamu Tak Diundang

    Anne sudah tidak sabar merasakan lagi kejantanan Raja yang besar itu menusuk-nusuk kewanitaannya.Anne sudah pernah mencoba kejantanan banyak pria. Tapi, hanya benda pusaka Raja yang menurutnya berhasil memuaskannya."Raja, kamu mau aku mengulumnya?" tanya Anne yang memberikan belaian pelan ke atas kejantanan Raja yang masih dibungkus celana.Sebelum Raja sempat merespon Anne, Dodik tiba-tiba memanggil namanya saat sekretarisnya itu sudah tiba di depan pintu ruangan."Pak Raja, ini celana Anda," tukas Dodik menggagalkan rencana Anne.Anne mendengus dan segera memakai pakaiannya kembali. Dia melemparkan tatapan tajamnya pada Dodik saat Raja mengambil celana barunya, dan berderap tak acuh ke kamar mandi meninggalkan Anne.Anne pun pulang dari perusahaan Raja tanpa hasil. Dia kesal karena Raja tadi sama sekali tak menghiraukan keberadaannya. Bahkan Raja memilih mengadakan rapat dadakan bersama para jajaran eksekutif perusahaannya daripada melihat Anne.Anne mengepalkan kedua tangan di s

  • Terjerat Hasrat Ayah Mertua   Bab 92. Kewanitaan Anne Basah

    "Pak Raja, sudah ditungguin tuh," ucap Dodik pada Raja sambil menunjuk ke arah Anne yang berdiri di depan pintu ruangan Raja dengan memakai dagunya. Raja tak merespon Dodik dengan ucapan. Dia hanya mendengus geram. Dodik lalu melirik Raja lagi. "Aku heran, Pak. Kok bisa Anda tidak pusing ngurusin tiga wanita sekaligus. Aku yang punya satu pria saja sudah pusing tujuh keliling. Apalagi Pak Raja." "Diam kamu! Jangan bikin saya tambah kesal!" geram Raja seraya terus berderap tegas menuju ruangannya. Dia berusaha mengabaikan keberadaan Anne di depan pintu. Namun, dengan cepat wanita itu menahan tangan Raja saat Raja hendak berlalu melewatinya. "Raja, aku sudah menunggu kamu sedari tadi. Kenapa kamu sedikit terlambat?" tanya Anne pada Raja. Raja hanya berdeham singkat sebagai jawaban untuk Anne. Sedang, Dodik menahan senyumnya karena tahu penyebab Raja terlambat adalah atasannya itu baru saja ena-ena dengan Aina. "Kenapa kamu terlambat, Raja? Tidak biasanya kamu terlambat kayak g

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status