เข้าสู่ระบบDi lantai, ada abu bekas pembakaran. Bahkan, abu itu sedikit tercecer karena Marissa sudah menginjaknya. Plak! Tiba-tiba sebuah tamparan melayang tepat di rahang keras Ken. Tuan Lim menamparnya hingga dia hampir tersungkur ke samping. "Kau ini kenapa? Mencuri dan merusak barang bukti milik orang! Apa kau tidak suka, Marissa melakukan tes DNA denganku? Hah?" Tuan Lim berteriak. Danendra dan Darius jadi tidak enak menyaksikan seorang bos menampar bawahannya tanpa segan di depan mata mereka. "Maaf, Tuan! Saya melakukan ini demi melindungi Anda!" balas Ken yang segera memperbaiki postur tubuhnya. Ia mengangkat kepala, mendongak menatap Tuan Lim yang baru saja menamparnya. "Melindungi apa? Melindungi dari kebenaran?" tanya Tuan Lim, sedikit menurunkan nada suaranya. Ia benar-benar tidak suka dengan tindakan arogan Ken yang mencuri hasil tes orang lain, lalu membakarnya. Juga memakai gedung miliknya untuk melakukan kejahatan. "Saya melindungi Anda dari orang yang mengaku sebagai c
"Ti-tidak apa-apa, Ken! Aku baik-baik saja!" balas Tuan Lim sambil menyingkirkan tangan Ken dari tubuhnya. Dari depannya, Darius yang sedari tadi terdiam sambil menahan sesuatu, akhirnya berbicara terus terang mengenai kejadian kemarin. Ia membeberkan perlakuan buruk Ken terhadap Marissa. "Ini nih, asisten pribadi Anda! Dia mencuri hasil tes DNA dari rumah sakit dan membakarnya langsung di hadapan Marissa!" "Hey, jaga bicaramu! Siapa yang mencuri dan membakar hasil tes DNA? Kalau ada, mana buktinya? Kalau tidak ada bukti, jangan berbicara omong kosong!" sergah Ken pada Darius. Ken tidak tahu saja, sekarang Darius membawa bukti di dalam saku jasnya berupa potongan kertas putih bertuliskan sebuah tes DNA seseorang. Walau kebanyakan bagian dari kertas itu sudah terbakar, tetapi dari judulnya saja sudah bisa dipastikan kalau itu memang hasil tes DNA. "Ini!" tunjuk Darius pada potongan kertas itu. Ia mengangkatnya tinggi dan menunjukannya pada Ken dan Tuan Lim. "Kertas ini sengaja ka
"Hah! Uang?" Zain baru mengingatnya. Ia langsung berbicara pada Darius, "Kembalikan saja! Bilang padanya, aku tidak mau menerima uang itu!" Hanya masalah kecil saja, kenapa Marissa sangat perhitungan? Dia bahkan tidak mau menerima niat baik Zain. "Emh, baiklah! Nanti aku akan bilang!" Sebagai orang yang ada di tengah-tengah, Darius jadi serba salah. Ke sini sepupu dan ke sana ibu dari anaknya. Darius tidak bisa memihak salah satu dari mereka. "Sudah dulu, ya! Aku sedang makan. Nanti disambung lagi!" ucap Darius sebelum dia menutup teleponnya. "Baiklah! Kalau jadi pulang, jangan lupa untuk memberitahuku, ya!" "Emh!" Darius pun mengangguk. Setelah itu, sambungan telepon ditutup.*** Di malam hari, Danendra dan Darius benar-benar pergi ke tempat Tuan Lim. Mereka datang tanpa memberitahu siapa pun, termasuk Ken. Di depan gerbang rumah yang sangat besar, Darius turun dari dalam mobil, lalu berbicara dengan petugas keamanan. "Ya, kami sudah membuat janji sebelumnya. Kata Tuan Li
Mendengar hal itu, Zaki benar-benar sangat malu. Ia tidak menyangka kalau istrinya akan melakukan hal memalukan itu pada istri Danendra. "Untuk masalah itu ... saya minta maaf, Tuan Danen! Saya tidak tahu kalau istri saya melakukan hal itu pada Marissa!" "Tapi, Anda tenang saja, nanti saya akan bicara dengan istri saya di rumah!" jelas Zaki setelah mendengar kelakuan istrinya yang meminta kembali semua barang yang sudah diberikannya pada Marissa. Jujur saja, sebagai seorang ayah, Zaki ikut kecewa dengan kandasnya hubungan Zain dengan Marissa. Ia pun ikut marah saat mendengar istrinya mengomel membahas Marissa yang kembali ke mantan suaminya. Tapi sekarang, setelah melihat betapa baiknya Danendra yang menawarinya sebuah proyek yang sangat besar, Zaki menjadi luluh. Ia tidak membenci Marissa lagi, juga tidak membenci Danendra yang merebut Marissa dari putranya. Ia akan melakukan apa pun demi terlaksananya kerja sama yang sangat panjang ini. "Emh, oke!" Danendra pun mengangguk.
Setelah seharian yang penuh dengan drama, akhirnya Marissa bisa pulang. Sedangkan mobilnya dibawa oleh Darius. Di apartemen, mereka berempat berkumpul. Marissa duduk sambil menceritakan semua yang terjadi, termasuk kakinya yang sekarang terlihat merah dan sakit. Di dapur, ada dua pelayan yang tadi diantar oleh Asisten Anas atas perintah dari Danendra. Suami Marissa itu tidak akan membiarkan istrinya pergi berbelanja lagi, juga tidak akan membiarkan Marissa memasak sendiri lagi. Kalau ingin makan apapun, Marissa tinggal bilang pada pelayan, nanti mereka akan membuatnya. "Lalu, bagaimana sekarang? Apa kita hajar saja si Ken itu? Berani-beraninya dia membius Marissa, lalu membawanya ke tempat yang jauh. Selain itu, dia mencuri hasil tes DNA dari rumah sakit! Kita bisa melaporkannya ke polisi!" ucap Darius yang sangat emosi melihat malaikat putranya diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Kalau diperbolehkan, Darius akan menghajar orang itu langsung dengan tangannya sendiri. "
"Eh ...." Marissa segera menoleh. Ia melihat seseorang yang bertanya padanya. Di samping orang itu, ada satu orang lagi yang merupakan ibunya. "Za-Zain?" 'Aishhh, kenapa malah bertemu dengan mereka di sini?' Marissa sungguh malu. Dirinya sangat berantakan dengan kaki yang tidak memakai alas, juga tidak bisa membayar ongkos taksi karena dirinya tidak ada uang. Bahkan, sang sopir taksi masih menunggunya di belakang. "Apa kau butuh bantuan?" tanya Zain lagi sambil menghampiri Marissa. Zain pun melihat Marissa dari atas hingga ke bawah, juga melihat tangan Marissa yang terus menarik pintu mobil. "Apa ini kendaraanmu?" Sebelum bertindak, Zain bertanya dulu pada Marissa. Setelah wanita itu menjawab, "Ya", barulah Zain menyimpan barang bawaannya ke dalam mobilnya, lalu meminta ibunya untuk menunggu di dalam mobil. "Ah, tidak ... tidak! Mama tidak mau menunggu di dalam mobil! Kebetulan di sini ada Marissa, Mama ingin membuat perhitungan dengannya!" ucap Sinta yang sudah memasukkan ta
"Kalau tidak membawa dompet, bagaimana dia bisa pulang? Arrgghh! Sangat sial!" geram Danendra lagi, semakin kesal membayangkan hal itu. Danendra tidak habis pikir, bagaimana bisa wanita itu pergi tanpa membawa apapun? Bahkan, tidak membawa ponselnya juga. Mengerti akan adanya kekacauan di rumah
"Sepatu ini pemberian dari seseorang, bukan hasil curian!" balas Marissa dengan jujur. Mau mengaku membelinya pun Marissa tidak berani berbohong. Walaupun begitu, pria gendut itu tetap ragu. "Ya, sudah, begini saja, sepatu ini digadai dulu! Besok aku ambil lagi! Bagaimana?" sepatu ini menyaranka
"Siapa yang mencarimu? Aku kemari karena di sini kamarku!" balas Danendra sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia masih memasang wajah serius dengan nada suara yang cukup ketus. Tadinya, Danendra ingin mencari wanita itu dan menenangkannya atas masalahnya dengan Amb
"Ayo kita berkencan!" Ajakan itu terus terngiang di telinga Marissa. Danendra memberinya waktu tiga hari untuk menjawab hal itu. Keuntungan jika berkencan dengan pria itu, Marissa sangat menginginkannya. Bisa bersama dengan Mario dan bisa menjadi ibu tiri untuknya, tentu saja







