MasukKarena banyak tamu yang datang, gerbang besar dan tinggi yang biasanya tertutup rapat, kini terbuka lebar. Marissa bisa dengan mudah keluar melewati gerbang tersebut tanpa harus meminta izin pada petugas keamanan. Marissa pun keluar. Ia berjalan melewati komplek mewah itu yang nampak sepi dengan perasaan yang sedikit rumit. Ia hanya ingin menenangkan diri, menjernihkan pikirannya yang kusut. Entah sudah berapa lama Marissa berjalan, sekarang ia sudah memasuki jalan raya yang ramai. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Orang-orang mungkin sudah tidur di kamar yang nyaman dan di tempat tidur yang empuk dan hangat. Sedangkan Marissa masih melangkahkan kakinya di trotoar jalan tanpa arah dan tujuan. Malam ini, Marissa berjalan sendiri tanpa tujuan. Ia memeluk kedua tangannya di depan dengan rambut pendek sebahunya yang sudah diurai. Marissa sudah membuang rambut kuncir kudanya ke jalan karena tidak nyaman. Walau gaun yang dipakainya berlengan panjang, tapi ia masih merasa
Dalam kepanikannya, ketukan di pintu itu semakin keras terdengar diiringi suara seseorang yang memanggil namanya. "Bety! Bety! Buka pintunya! Kau belum tidur, kan?" Tok! Tok! Tok! "Bety! Buka pintunya!" panggil Nima untuk yang kedua kalinya. Marissa pun mengenali suara itu. Suara itu adalah suara kepala pelayan di sana. Marissa segera bangun dan menutup kepala dengan tudung di baju tidurnya sampai menutupi setengah dari wajahnya. Ia bergegas membuka pintu. Saat pintu dibuka, Nima memberikan paper bag berisi pakaian pada Marissa. "Ini! Pakailah! Bergabunglah dengan yang lain di acara malam ini!" "Eh, apa ini?" tanya Marissa dengan bingung. Walaupun begitu, Marissa tetap mengambilnya. "Bukankah gaunmu sudah rusak?" Lebih tepatnya dirusak oleh keponakannya sendiri. Tadi di pesta, Widi memberitahu Nima kalau Pelayan Bety tidak bisa ikut bergabung dengan mereka di pesta ulang tahun karena gaunnya sudah rusak. Widi tidak mengatakan alasan rusaknya karena apa. Tapi yang j
Mendengar Widi memanggilnya dengan panggilan Bibi, Nima pun segera menegur. "Jaga bicaramu! Kau harus membedakan, di mana rumah dan di mana tempat kerja!" Nima memperingatkan, "Di luar kau boleh memanggilku dengan panggilan Bibi, karena aku memang bibimu! Tapi, kalau sedang beradada di tempat kerja, kau harus memanggilku dengan panggilan yang sama dengan yang lain!" "Apa kau mengerti?" bentak Nima lagi di depan semua orang. Tentu saja itu membuat Widi sangat malu dan juga marah. "Iya, maaf, Bu Kepala! Aku salah!" Widi pun menunduk. Merasa malu sudah ditegur oleh tantenya di depan pelayan yang lain. "Baiklah! Kalian semua bubar! Bekerja yang benar kalau tidak ingin dipecat!" ancam Nima dengan tegas. Para pelayan pun segera bubar, termasuk Widi dan para pelayan yang tadi bergosip. Sebagai kepala pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah itu, Nima diberi kewenangan untuk mengatur semua hal yang bersangkutan dengan pekerjaan para pelayan. Ia bebas memilih siapa saj
Pukul dua dini hari, Fanny membawa kopernya keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu dengan sedih. Pasalnya, Fqnny dan yang lainnya sangat mencemaskan Marissa karena wanita itu masih tidak bisa dihubungi, juga karena wanita itu tidak ada di manapun. Mereka sudah mencari Marissa ke beberapa tempat, tapi tidak ada. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa pulang kalau tidak dengan Marissa! Mana dia lagi sakit! Bagaimana kalau dia tidur di jalan, terus diculik orang? Aku tidak akan tenang kalau Marissa belum ditemukan!" Fanny sangat sedih. Ia benar-benar merasa bersalah pada sabahatnya itu. Kalau bukan karena dirinya yang pelupa sampai tidak memberikan kunci kamarnya pada Marissa, mungkin sahabatnya tidak akan menghilang seperti ini. Mendengar kata "Diculik" yang diucapkan oleh Fanny, Darius jadi teringat sesuatu.
"Ayo kita berkencan!" Ajakan itu terus terngiang di telinga Marissa. Danendra memberinya waktu tiga hari untuk menjawab hal itu. Keuntungan jika berkencan dengan pria itu, Marissa sangat menginginkannya. Bisa bersama dengan Mario dan bisa menjadi ibu tiri untuknya, tentu saja Marissa sangat ingin. Tapi, Marissa pun ragu dengan hal itu. Bagaimana bisa pria tampan dan kaya seperti Danendra mengajak wanita sederhana seperti Marissa untuk berkencan? Ada banyak wanita yang lebih cantik dan seksi dari Marissa dan rela menjadi kekasihnya. Tidak perlu Marissa untuk menjadi selingkuhannya. Jika Marissa menerima hubungan itu, apa dirinya akan dicap sebagai PELAKOR? Marissa tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Kepalanya terasa sakit dan pusing. Malam ini, Marissa berbaring di atas tempat tidur Danendra sambil memakai selimut yang cukup tebal. Ia masih menggigil kedinginan dengan s
"Siapa yang mencarimu? Aku kemari karena di sini kamarku!" balas Danendra sambil berjalan menghampiri Marissa. Ia masih memasang wajah serius dengan nada suara yang cukup ketus. Tadinya, Danendra ingin mencari wanita itu dan menenangkannya atas masalahnya dengan Ambar. Tapi sekarang, setelah melihat Marissa bersama dengan pria itu, perasaan Danendra menjadi sangat tidak enak. Danendra tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri setelah melihat pria itu. Bukan karena Marissa bersama dengannya, tapi karena hal lain di masa lalu. "Kamar Anda?" Marissa menjadi bingung. Sejak kapan dirinya satu lantai dengan Danendra. Bukankah semua kamar di hotel itu sudah penuh? Danendra pun mengangguk. Ia berjalan menuju pintu kamarnya yang tepat berada di samping pintu kamar Marissa. Lalu Danendra mengeluarkan kunci dan membukanya.







