LOGINPukul sembilan pagi, Marissa sudah mandi dan mengganti pakaian. Ia pun sudah membuat sarapan, untuknya, Fanny, dan juga untuk Zain. Dari kamar, tiba-tiba Fanny menghampiri Marissa yang masih ada di dapur sambil memegang ponselnya. Ia pun berkata dengan sedikit cemas, "Sa! Barusan Wilyam memberitahuku, katanya dia tidak bisa membawa Michael kemari." "Eh, kenapa? Apa dia tidak diberi izin sama Tante Ambar?" tanya Marissa yang tadi sudah meminta Fanny untuk menghubungi Wilyam dan meminta adik Danendra itu untuk mengajak Michael pulang. Karena kalau menunggu Danendra pulang, itu masih satu jam lagi. Danendra baru naik pesawat saat Marissa menyuruh Fanny menghubungi Wilyam. Namun setelah dihubungi, Wilyam bilang anak-anak sudah pergi ke luar kota bersama kakek dan neneknya. "Bukan! Katanya orang tua Wilyam, Izela, dan Michael sudah berangkat ke luar kota! Mereka akan pergi ke Wami Island!" balas Fanny sesuai dengan apa yang Wilyam katakan tadi di telepon. "Oh!" Marissa pun te
"Apa ini, Tante?" tanya Marissa sambil mengambil kertas putih dari tangan Ambar. Ia pun mulai membacanya. "Ini hasil tes DNA Michael! Ya, hasilnya 99,99% anak itu adalah anak Danen! Oleh karena itu, aku datang untuk membawa Michael tinggal bersama Izela di rumah kami! Sebagai anak kembar, mereka tidak boleh berpisah," jelas Ambar sambil melihat Marissa yang sedang membaca hasil tes DNA putranya. Marissa pun sangat terkejut ketika mendengar ucapan Ambar yang terakhir. "Me-membawa? Membawa Michael?" tanya Marissa dengan terbata. Ia tidak menyangka, kedatangan Ambar ke tempatnya ternyata untuk membawa Michael ke rumah mereka. Padahal sebelumnya sudah pernah menginap satu malam di sana. "Ya! Sebagai anak laki-laki yang nantinya akan menjadi pewaris di keluarga kami, tentunya Michael harus tinggal bersama kami! Dia harus mendapatkan hidup yang baik dan layak, dengan pendidikan yang baik pula," jelas Ambar tanpa rasa bersalah sedikitpun. Padahal wanita di depannya masih terdiam karena
Malam ini, Marissa kembali pulang tanpa Michael. Anak itu sudah dibawa oleh Ambar ke rumahnya dan akan menginap di sana. Entah harus senang atau sedih, anak keduanya bisa diterima di rumah keluarga Adipraja—yang sebelumnya Ambar tidak mau menerima—Marissa pun tidak tahu. Yang ia rasakan saat ini hanyalah bingung. "Tidak apa-apa! Kau jangan khawatir, Mama pasti akan memperlakukan Michael dengan baik, sama halnya dengan Izela. Karena Michael pun sama-sama cucunya!" ucap Danendra sambil meraih tangan Marissa, lalu menggenggamnya. "Setelah mengantarmu, aku akan pulang ke rumah dan memastikan Michael baik-baik saja! Jadi jangan khawatir, ya!" tambahnya lagi. Lalu melepaskan tangannya dan kembali memegang roda kemudi. "Enh!" Marissa mengangguk. Ia tidak mengatakan apapun lagi setelah itu. Sampai di tempat tinggal Marissa, Danendra segera menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen. "Masuklah! Cepat tidur dan jangan banyak pikiran! Semuanya akan baik-baik saja!" ucapan Dane
Michael cemberut. Ia tidak suka pada nenek yang kemarin sempat memarahinya gara-gara guci pecah. Walau dirinya memang bersalah, tapi tidak seharusnya nenek itu memarahinya sampai Michael trauma. Bahkan, luka karena pecahan guci itu masih ada di lutut kecilnya. "Tidak apa-apa! Nenek tidak jahat, kok! Kemarin itu, dia hanya emosi karena benda kesayangannya rusak!" ucap Marissa dengan pelan. Padahal dirinya juga malas untuk bertemu dengan Ambar lagi. Kalau bukan karena Danendra, Marissa tidak akan mau pergi ke luar untuk makan malam bersama mereka. "Hum!" Michael masih marah di belakang. Ia melipat kedua tangannya di depan dengan mulut yang dikerucutkan. Setelah itu, Marissa tidak mengatakan apapun lagi. Sampai di sebuah restoran ternama di Kota A, Danendra menghentikan mobilnya di tempat parkir, lalu membuka pintu untuk Marissa dan juga Michael. "Terima kasih!" Marissa pun keluar dari mobil, lalu memegang tangan putranya yang tampan dengan pakaian rapi dan bagus. "Ayo, k
Di kamar tidur yang tidak jauh berbeda dengan kamarnya sendiri karena ini unit apartemen tipe yang sama, Marissa membuka pintu, lalu masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, Zain sedang duduk di tempat tidur sambil memegang celananya. Terlihat dia baru selesai mandi dan sudah memakai baju. “Eh!” Marissa pun sedikit terkejut. Ia terdiam beberapa detik, lalu berbalik badan ketika Zain masih mengenakan celana dalam—boxer—berwarna hitam. Gerakan Marissa saat ini sama persis dengan gerakan Jimy ketika pria itu masuk dan melihat Marissa dan Danendra sedang melakukan sesuatu hal di sofa ruang kerja. “Ma-maaf!” ucap Marissa dengan pelan. Ia bingung harus bagaimana. Kalau keluar lagi, rasanya agak aneh karena pintunya sudah ditutup. Terpaksa Marissa diam sampai Zain memakai celananya. “Bisa kau membantuku? Aku kesulitan memasukan kaki kanan! Rasanya masih sangat sakit untuk digerakan!” ucap Zain ketika melihat Marissa sudah ada di kamarnya. Marissa semakin gugup dengan hal itu. Za
Baik Marissa maupun para dokter, semuanya tidak pernah menduga kalau bayi itu akan kembali bernyawa setelah dipeluk ibunya. Ini merupakan mukjizat dari Tuhan yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akal manusia. “Kau sendiri ... apa kau tidak percaya kalau Michael itu adalah anakmu?” tanya Marissa pada Danendra. Mungkin saja keinginan tes DNA itu dari pria itu, bukan dari ibunya. “Tentu saja percaya!” jawab Danendra dengan serius. Ia pun semakin memeluk Marissa. “Kalau tidak percaya, untuk apa aku memberinya hadiah saat Michael ulang tahun, mengajaknya bermain, memberi kalian kartu bank? Itu semua aku lakukan karena percaya! Aku percaya kalau Michael itu darah dagingku!” jelasnya lagi. “Sekarang, tinggal melakukan tes DNA pada Michael agar Mama percaya. Setelah itu, kita adakan pesta pernikahan yang meriah! Bila perlu, tujuh hari tujuh malam tanpa henti!” ucap Danendra di samping telinga Marissa. Ia pun mencium telinganya, lalu menciumnya lagi sampai beberapa kali. “Haha!
Di depan gedung hotel, sebuah taksi berhenti perlahan. Suara pintu belakang terbuka memecah keheningan malam. Setelah membayar ongkos, Danendra tanpa ragu menggendong wanita yang hampir kehilangan kesadarannya itu menuju lobby hotel. Tubuh Marissa terasa ringan, namun napasnya yang hangat menyentu
Keesokan harinya, Marissa, Mario dan Merina sudah siap pergi keluar untuk mencari kontrakan ruko. Ketika Marissa dan putranya berjalan keluar rumah, banyak para tetangga yang penasaran dengan kehidupan Marissa di kota bersama dengan anak haramnya. Mereka basa-basi menyapa Marissa dan ibunya, tapi d
"Bekerjalah yang baik selagi kau masih sendiri! Nanti setelah menikah dan punya anak, barulah diam di rumah! Biarkan suamimu yang bekerja dan memenuhi semua kebutuhan kalian," ucap Merina dengan tegas. Ia menatap Mario, lalu memalingkan muka. "Pergilah keluar, nikmati masa liburmu hari ini! Janga
"Aku juga belum menyebarkannya pada siapapun!" Jonson mendekat lagi. Dirinya terlihat percaya diri sambil terus menatap Marissa. "Kalau kau mau aku menghapusnya, luangkan waktumu selama dua jam untuk menemaniku makan malam, bagaimana?" ucap Jonson, bernegosiasi pada Marissa. Marissa kembali mun







