Mag-log in"Tapi Zain—" "Sudahlah! Jangan mengatakan hal itu lagi. Mau bagaimanapun, aku tidak akan pernah setuju!" Zain mengatakannya dengan sangat tegas. Zain sudah memberi kebebasan pada Marissa yang sebelumnya tidak dia berikan. Ia menahan semua rasa cemburunya agar Marissa tidak pergi. "Mulai sekarang, aku tidak akan melarangmu menemui putrimu, menemui Danen, bersama dengan mereka, mengajak Michael menemui ayahnya. Aku tidak akan melarang semua itu! Tapi, aku hanya minta satu hal, jangan mengatakan putus lagi dan jangan menyalah gunakan kepercayaanku ini," lanjut Zain dengan pelan agar Marissa bisa mengerti. "Mulai sekarang, kau bebas melakukan apapun! Termasuk berdiskusi membahas masalah anak-anak dengan ayahnya, membahas pekerjaan, kalau ada. Tapi kau harus tahu batasan! Kau milikku, jangan mengkhianatiku dan jangan membuat keluargaku kecewa!" Itulah yang Zain inginkan. Dia tidak ingin putus, tidak ingin pula Marissa menjauh, jadi dia memberikan semua kebebasan itu dengan hati yang b
Pria itu selalu ikut campur masalah izin di tempatnya bekerja. Ini bukan kali pertama. Sebelumnya pun, Marissa pernah bolos bekerja saat dirinya sedang bersama Danendra. Bosnya pun tidak menegur. Semua itu membuat teman-temannya di kantor merasa iri. "Sudahlah! Tidak perlu membahas hal itu! Yang jelas, bosmu itu adalah teman baikku! Jadi, kau tidak perlu khawatir!" ucap Danendra tanpa menjawab pertanyaan dari Marissa Namun wanita di sampingnya tetap saja memaksa. "Apa itu benar kau?" "Aku curiga, temanmu yang menjadi bosku itu, mau saja diperintah olehmu! Apalagi waktu kemarin, Pak Jimy meneleponku di tengah malam hanya untuk menyuruhku menjelaskan masalah tugas di rumah itu, padamu! Kalau dipikir-pikir, bosku itu sangat takut padamu!" jelas Marissa dengan kening yang mengkerut. Ia tidak akan berhenti berbicara sampai pria di sampingnya menjawab. "Sudahlah! Tidur lagi, sanah! Ini masih pagi! Penjaga kebersihan akan datang satu jam-an lagi! sebaiknya kau kembali ke tempat tidurmu!
Di sebuah MPV termahal dan termewah milik Danendra yang dikendarai oleh Asisten Anas, kedua anak kecil berusia lima tahun duduk di kursi belakang sambil menatap ayah mereka yang berbaring di baris kedua. Di sampingnya, ada Marissa yang juga duduk sambil terus memperhatikan pria dewasa yang terlihat sangat lemah itu. "Mama, Papa Danen tidak apa-apa, kan?" tanya Michael dari belakang. Anak kecil itu terlihat sedih melihat orang dewasa yang dari kemarin bermain dengannya, sekarang berbaring lemah tak berdaya. Terdengar Danendra berkata pada anak-anak dan wanita di sampingnya, "Papa tidak apa-apa! Kalian jangan khawatir!" "Bagaimana kami tidak khawatir, kau demam seperti ini, bahkan hampir mencapai 40°! Apa semalam kau mandi?" tanya Marissa yang mulai curiga dengan sakitnya Danendra yang tiba-tiba itu. Padahal tadi malam dia masih baik-baik saja. Tidak mungkin pria gagah dan kuat yang selalu menjaga kesehatan dan pola makan seperti Danendra bisa sakit tiba-tiba. Itu pasti karena sema
Di balkon yang tidak terlalu luas, Marissa berdiri, melihat pemandangan kota sambil memegang ponselnya ke telinga. Dari seberang telepon, terdengar Zain marah lagi karena Marissa sudah tidak ada di tendanya. "Jangan bilang kau pergi bersama Danen lagi!" sergah Zain lagi yang entah sudah ke berapa kali dia marah pada Marissa setelah sambungan telepon terhubung. "Semalam aku sudah bilang, pagi ini kita pulang bersama! Aku akan mengantarmu dan Michael pulang! Tapi kenapa kau malah menghilang? Sebenarnya, dari kapan kau pergi? Jangan bilang, dari semalam kau pergi dari tempat ini!" Zain terus saja berbicara. Ia tidak membiarkan Marissa memotong ucapannya. "Cepat katakan! Sekarang kau ada di mana?" Hening beberapa saat, akhirnya Marissa bersuara. "Maaf!" Namun, Zain tidak puas dengan respon dari Marissa. Dia pun segera bertanya, "Maaf! Maaf karena apa? Apa karena kau bersama Danen?" Sebenarnya, bukan itu yang Marissa maksud. Dirinya meminta maaf pada Zain karena hal lain. "Sepert
Malam sudah semakin larut, rasa kantuk dan lelah pun sudah tidak dipedulikannya lagi. Danendra terus mengendarai mobil yang dia pinjam dari seseorang yang ada di restoran Homesari dengan kecepatan tinggi menuju hotel yang paling dekat. Di sampingnya ada Marissa yang sedang duduk sambil melihat ke samping, sedangkan di kursi belakang ada si kembar yang masih tertidur pulas dengan memakai bantal dan selimut yang lengkap. "Di depan ada hotel, sebaiknya kita ke sana saja!" ucap Marissa sambil menunjuk gedung di depannya. Saat ini, yang Marissa inginkan hanya pergi dari kawasan perkemahan itu dan menjauh dari mata-mata seperti Zera dan Zain sendiri. Marissa hanya ingin tidur tenang bersama kedua anaknya. "Itu hotel biasa, bukan hotel bintang lima! Kamarnya tidak akan sebaik hotel berbintang! Sebaiknya kita cari yang lain lagi!" balas Danendra tanpa berhenti. Kalau harus kembali ke pusat Kota A, ke tempat tinggal Marissa ataupun Danendra, itu sangat jauh. Bisa memakan waktu lebih da
Pukul 8 malam, Danendra mondar-mandir tidak karuan di depan tenda milik Drizela dan Michael. Ia sangat gelisah memikirkan Marissa yang tidak ada di manapun dari sore, atau mungkin dari siang. Danendra tidak tahu dengan pasti kapan wanita itu menghilang. Mau menghubunginya pun, tidak bisa. Ponsel Danendra tidak ada, ia kesulitan untuk menghubungi Asisten Anas dan bawahannya yang lain untuk meminta bantuan. "Aishhh! Sial! Ke mana perginya Marissa? Apa dia tersesat?" Danendra menatap sekeliling tempat itu yang nampak gelap dan banyak pohon-pohon besar. Ia sangat khawatir memikirkan Marissa yang mungkin tersesat di dalam hutan yang gelap itu. Untungnya, saat ini Michael dan Drizela sudah dititipkan pada Bu Mila untuk melihat api unggun. Jadi Danendra bisa sedikit tenang mencari Marissa. Tidak terasa, waktu sudah semakin malam, acara berkemah pun sudah dimulai. Baik Michael maupun Drizela, mereka berdua sudah tertidur di tenda nomor 19 yang dekat dengan tenda milik Zee-Zee. Dan s
Pertemuan kedua keluarga kali ini penuh dengan ketegangan. Danendra selalu emosi dan berapi-api setiap kali dia berbicara. Mendiang Lisa sudah meninggalkan memori buruk di ingatan semua orang, terutama di ingatan Danendra—selaku suaminya. Kenyataan itu membuat Josep dan Ambar sangat syok, juga me
Jika orang lain yang mengalami kejadian ini, mungkin pria itu sudah dibunuhnya hingga tidak ada lagi di dunia ini. "Kenapa? Kau kasihan padaku, ya?" canda Danendra, yang juga membalas tatapan Marissa padanya. Danendra mengerti dengan tatapan penuh arti dari wanita di depannya itu. Ia pun tahu,
Mario terkejut ketika melihat ayahnya sudah ada di belakang. Ia segera menoleh untuk melihat. "Pa-Papa Danen???" Walau tahu Danendra sudah pulang dan masuk ke rumah, tapi anak itu tidak menyangka, ekspresi ayahnya akan seperti itu saat melihatnya di dapur. Mario pun menjadi takut dengan reaksi ay
Malam ini, Marissa tidak bisa tidur dengan nyenyak setelah kepulangan pria itu dari rumahnya. Marissa berbaring di samping putranya sambil terus memikirkan tentang ajakan Danendra untuk menikah. Pria itu berjanji akan membatalkan pernikahannya dengan Sely dan akan memenangkan hak asuh anak atas g







