LOGINDi dunia ini Marissa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayahnya sudah lama meninggal, dan ibunya meninggal saat Marissa sedang hamil. Sedangkan anggota keluarganya yang lain, ia benar-benar tidak tahu. Dari kecil Marissa sudah hidup bertiga dengan ayah dan ibunya tanpa saudara. Ia pun tidak tahu keluarga ayah dan ibunya ada di mana dan seperti apa. Yang Marissa tahu, dulu keluarga ayahnya—keluarga berada—tidak menyukai Merina yang hanya gadis biasa. Ayah Marissamembawa Merina pergi ke Kota B dan memulai hidup dari nol hingga cukup mapan sebelum akhirnya meninggal karena sebuah kecelakaan. Itulah yang membuat Marissa sedikit trauma dengan orang tua yang tidak merestui hubungan anaknya. Bukan hanya si menantu yang akan hidup menderita, tapi juga anak-anaknya. "Maaf, Tante! Aku sudah tidak punya keluarga! Ayah dan ibu sudah meninggal, kalau Paman dan Tante, atau Kakek dan Nenek, aku tidak punya! Sekarang ini aku hanya hidup berdua bersama Michael! Hehe!" Marissa tersenyum penuh deng
"Karena anak-anak dibawa pergi oleh Fanny dan Wilyam, aku mau pulang saja! Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di rumah! Be-besok pekerjaan itu harus sudah selesai!" ucap Marissa yang terpaksa harus berbohong. Ia harus segera pulang, mandi, mengganti pakaian, lalu pergi ke rumah orang tua Zain. Kalau sampai membuang-buang waktunya di tempat Danendra, Marissa bisa terlambat. "Pekerjaan? Pekerjaan apa itu sampai kau harus mengerjakannya di rumah? Bukankah tugas karyawan hanya bekerja di kantor dan di jam kerja saja? Kalau belum selesai, ya tinggal besok dilanjutkan, tidak perlu sampai mengerjakannya di rumah, kan?" Danendra benar-benar tidak mengerti, bagaimana bisa ada karyawan yang mengerjakan pekerjaannya di rumah dan di luar jam kerja? Kalau bekerja lembur pun, itu dikerjakan di kantor. Nantinya akan ada tambahan uang lembur di luar gaji mereka. "En-entahlah! Di perusahaan tempatku bekerja memang seperti itu! Kami harus bekerja di rumah juga!" "Heh??? Perusahaan macam apa, pu
Satu kali kecupan. Marissa membulatkan bola matanya menatap Danendra, mengisyaratkan pria itu untuk tidak melakukan apa pun karena mereka berdua bukan lagi pasangan. Namun sepertinya Danendra tidak mau mengerti dengan isyarat itu. Ia masih mengunci Marissa dengan kedua tangan yang ditekan ke meja hingga wanita itu terus condong ke belakang untuk menghindar. "Danen ... se-sebaiknya kita simpan piring dan mangkok ikut ke depan dulu," ucap Marissa dengan gugup. Ia pun segera memegang kedua bahu Danendra, lalu bersiap loncat ke bawah untuk turun. Belum sempat kakinya menyentuh lantai, Danendra malah menahannya lagi. Ia menekan Marissa ke belakang hingga tidak ada ruang untuk kakinya bergerak lagi. "Eh ...." Belum sempat Marissa merespon, wajah Danendra kembali mendekat. Pria itu mencium Marissa langsung dengan gerakan yang cukup intens. 'Maaf ....' "Amh ... Danen—" Mulutnya benar-benar terkunci. Tidak ada celah untuknya melepaskan diri ataupun berbicara. Lidah pria itu terus meny
Di tempat tinggal Danendra yang nampak sepi, Marissa duduk sendiri di sofa ruang tamu karena sang pemilik rumah masih di kamarnya—mengganti pakaian. Marissa pun terdiam sambil menunggu Fanny dan Michael datang. Dalam keheningan, Marissa mendengar dering ponsel dari dalam tasnya yang menandakan adanya panggilan masuk. Marissa pun segera mengambil ponsel itu, lalu melihat siapa yang menelepon. "Zain?" Marissa menjadi gugup saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia takut Zain tahu di mana dirinya sekarang. Tanpa membuang waktunya lagi, Marissa segera mengangkat telepon. Ia menyapa dengan pelan, "Halo!" "Halo ... Marissa! Ini Tante! Kau ada di mana? Apa sudah pulang?" terdengar ibunya Zain yang berbicara pada Marissa. Suara Sinta begitu lembut dan ramah, membuat siapa saja yang mendengarnya merasa nyaman. "Eh ... Tante! Aku ... aku belum pulang! Masih di luar! Memangnya ada apa, Tante?" tanya Marissa yang kembali gugup saat Sinta menanyakan keberadaannya. Marissa tid
Di dalam mobil, Marissa duduk di depan—di samping Danendra—yang sedang mengendarai mobilnya. Danendra keluar dari kantor tempat itu, lalu berjalan ke jalan raya menuju pusat kota. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa sudah baikan?" tanya Danendra sambil menoleh sebentar ke arah Marissa. Di sampingnya, Marissa memakai pakaian dengan kerah tinggi hingga menutupi bagian leher. Selain baju lengan panjang, Marissa juga memakai blazer dan celana panjang dengan warna yang senada. Walau penampilannya serba tertutup, tapi itu tidak menghilangkan kecantikan di diri Marissa. Tubuh tinggi dan kurusnya masih terlihat seperti gadis yang belum mempunyai anak. "Ya! Aku baik!" jawabnya dengan singkat. Marissa tidak membahas kondisinya lagi. Ia malah ingin membicarakan hal yang tadi Danendra bilang di pesan singkatnya. "O iya! Tadi kau bilang, kaulah yang membayar semua tagihan makanan kami! Apa itu benar?" Marissa sedikit ragu. Pasalnya, terakhir kali mereka bertemu, katanya Danendra akan
"Aishhh! Kenapa kita malah bertemu dengan Pak Jimy di sini?" balas Ara yang juga melihat CEO mereka sedang makan bersama rekannya. Orang itu memunggungi meja mereka hingga Ara dan yang lainnya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. "Ehem!" Tiba-tiba Jesi berdehem. Ia salah tingkah ketika melihat bosnya melirik ke meja mereka sambil tersenyum. Inginnya Jesi membalas senyumannya dengan melambaikan jari-jemarinya yang lentik. Tapi ia cukup punya malu untuk melakukan hal gila itu di depan rekan kerjanya. "Sa! Aku mau yang ini, ini, dan ini juga, ya!" tunjuk Jesi dengan lemah gemulai. Suaranya pun begitu lembut dan bahasa tubuhnya berubah menjadi genit. "Ayo kalian pilih juga!" ucapnya pada teman-teman yang lain. "Siapa lagi? Biar sekalian aku catat!" tanya Romi yang bertugas mencatat pesanan mereka. Marissa yang akan membayar pun hanya bisa menelan ludah sambil melihat deretan menu yang sudah ditulis oleh Romi. Kalau hanya satu atau dua orang saja yang ditraktir, masih oke lah.
Di dalam rumah yang tata letaknya sama dengan rumah Marissa, wanita itu berjalan masuk ke dapur lalu mencari makanannya sendiri. Ada begitu banyak makanan cepat saji di dapur milik Zain, beberapa mie dan sayuran, juga ada kompor dan panci juga. Terlihat bahwa pria itu sering memasak makanannya di
Langit sudah mulai gelap. Di ruangan yang cukup luas dan nyaman dengan dekorasi modern berwarna coklat dan putih, Sely duduk di sofa yang empuk bersama dengan seorang pria. Ia sengaja menyewa satu kamar hotel itu hanya untuk membahas hal yang sangat penting. Sely duduk di sofa sambil melipat kedu
"Mama!" Mario berteriak saat melihat Marissa. Ia memeluk kaki ibunya dan terus memanggil. "Mama!" Marissa terdiam. Putra yang selama ini dia rindukan, sekarang benar-benar ada di depan matanya, dan bahkan memeluk kedua kakinya dengan erat. Marissa tidak bisa berkata apapun. Ia terpaku, rasan
Setelah Marissa naik ke atas motor tinggi dan besar itu, bukannya membelokan motornya dan pergi dari sana, Zain malah berjalan lurus menuju rumah tua itu. Ia menghiraukan teriakan Marissa dari belakang. Dia terus saja berjalan. "Zain! Apa yang kau lakukan? Kenapa membawaku ke rumah tua itu lagi?







