MasukEntah apa yang terjadi pada Zain sampai-sampai dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi yang akhirnya menabrak pembatas jalan. Bukan hanya tubuhnya saja yang terluka, tapi juga kaki. Kaki kanannya mengalami cedera yang cukup serius. Mobilnya pun hancur dan tidak bisa diperbaiki lagi. "Sabar Tante! Kita doakan saja, Zain segera sadar dan kondisinya membaik!" ucap Marissa sambil mengelus punggung ibunya Zain. Malam ini, Marissa dan Sinta bermalam di rumah sakit untuk menjaga Zain. Mereka hanya berdua karena ayah dan adiknya pulang ke rumah. Di malam hari, Sinta tidur di tempat tidur yang khusus untuk penunggu pasien, sedangkan Marissa tidur di sofa dengan selimut yang dibawa ayahnya Zain dari rumah. Di sofa yang empuk dan nyaman, Marissa berbaring sambil memegang polsenya karena ada pesan singkat dari seseorang. Ia pun memberitahu orang itu bahwa saat ini dirinya tidur di rumah sakit untuk menunggu Zain. ["Apa mau aku jemput?"] tanya Danendra di pesan singkatnya. Ia k
Di dalam mobil, Marissa duduk di depan sambil bertanya, "Kenapa tidak bilang kalau mau menjemput?" "Kalau mau ke sini, mungkin aku akan langsung menghampirimu, tidak perlu kau menungguku sampai empat puluh menit di dalam mobil," ucap Marissa lagi yang tidak tega melihat Zain menunggunya di tempat parkir lebih dari setengah jam. Namun, Zain tidak masalah dengan hal itu. "Tidak apa-apa! Aku bisa duduk dan istirahat dulu sambil menunggumu!" "Lain kali, kau tidak perlu menjemputku! Aku bisa pulang sendiri naik taksi!" ucap Marissa dengan spontan. Pikirnya, seharian ini Zain juga lelah bekerja, tapi pulangnya masih harus menjemput Marissa. Lebih baik Zain pulang dan istirahat di rumah. Namun, rasa tidak enaknya Marissa pada Zain malah membuat pria itu salah paham. Zain menanggapinya dengan sinis, "Kenapa? Apa kau tidak suka dijemput olehku?" Ekspresi wajahnya sudah berubah, tidak lagi sebaik sebelumnya. "Ah... bu-bukan itu maksudku! Bukannya aku tidak suka dijemput olehmu! Tapi, a
"Eh, kenapa? Apa benar, bos memberi kalian tugas yang berat?" Marissa masih bertanya, namun dengan suara yang sedikit dipelankan. Ia masih penasaran, mengapa hari ini mereka semua nampak berbeda dari biasanya. "Nanti saja setelah jam istirahat aku ceritakan! Sekarang, cepat kembali ke tempat dudukmu," balasnya dengan setengah berbisik. Namun, walaupun begitu, semua orang masih bisa mendengarnya. Hari ini, suasana di tempat kerja benar-benar sangat berbeda. Tidak ada lagi canda tawa dan teriakan, mereka terdiam sambil mengerjakan semua tugas-tugasnya dengan serius. Di jam istirahat, Ara membawa Marissa ke kantin kantor yang ada di lantai paling bawah. Mereka berdua makan di sana tanpa mengajak teman-temannya yang lain. "Kenapa? Kenapa Jesi dan yang lainnya tidak diajak?" tanya Marissa sambil duduk berdua di salah satu meja. Marissa dan Ara sudah memesan makanan dan minuman. Sekarang tinggal menyantapnya saja. "Marissa, apa kau tahu, semua karyawan di kantor ini sangat iri
Tidak lama, terdengar suara ribut dari luar, juga teriakan dan candaan dari dua orang anak. Setelah itu, bel berbunyi. "Itu pasti anak-anak!" ucap Danendra sambil bangkit dari duduknya. Ia dan Marissa duduk di ruang keluarga sambil nonton acara di TV setelah makan. Benar saja, saat pintu dibuka, dua bocah yang masih ribut tiba-tiba masuk ke dalam apartemen. "Ih, ini punyaku! Kau jangan coba-coba untuk memintanya!" teriak Michael pada Drizela. "Tapi itu dari nenekku! Harusnya aku bagi sedikit," balas Drizela yang tidak mau kalah. Michael diberi uang, kenapa dia tidak? Dari belakangnya, Wilyam berjalan mengikuti. "Sudah-sudah! Jangan ribut terus! Kalau Izela mau uang, nanti Paman kasih," ucap Wilyam yang mulai pusing dengan kedua anak kembar itu. "Tidak mau! Aku maunya uang dari Nenek! Bukan dari Paman! Huhhh ...." jawab Drizela sambil melipat kedua tangannya di depan, mulut kecilnya dikerucutkan, menandakan bahwa dia sedang marah. Mereka pun masuk ke ruang keluarga. Melihat
Napas keduanya masih tidak beraturan, posisi duduk mereka pun masih sama seperti sebelumnya, Danendra duduk di sofa, dan Marissa duduk di atas pangkuannya. "A-aku juga merindukanmu, Danen!" balas Marissa dengan pelan. Walau waktu sudah berlalu sangat lama, tapi perasaan nyaman ini, Marissa masih merasakannya sama seperti dulu. Ternyata dirinya masih sangat merindukan Danendra. "Apa kau tahu, juniorku mulai berkarat karena terlalu lama terkurung!" Danendra menunjuk sesuatu yang mengeras di bawah perutnya. Marissa yang duduk di atasnya bisa merasakan hal itu. "Tidak bisakah kau menyentuhnya sekali saja?" tanya Danendra dengan suara pelan nan serak. Ia menggenggam tangan Marissa, menuntunnya untuk menyentuh adik kecilnya yang sudah haus akan belaian. Awalnya mereka begitu serius, tapi mendengar ucapan Danendra, keseriusan itu berubah menjadi sedikit humor. "Berkarat? Memangnya ini besi, bisa berkarat?" tanya Marissa sambil benar-benar memegang benda panjang dan keras itu dengan
"Tapi Zain—" "Sudahlah! Jangan mengatakan hal itu lagi. Mau bagaimanapun, aku tidak akan pernah setuju!" Zain mengatakannya dengan sangat tegas. Zain sudah memberi kebebasan pada Marissa yang sebelumnya tidak dia berikan. Ia menahan semua rasa cemburunya agar Marissa tidak pergi. "Mulai sekarang, aku tidak akan melarangmu menemui putrimu, menemui Danen, bersama dengan mereka, mengajak Michael menemui ayahnya. Aku tidak akan melarang semua itu! Tapi, aku hanya minta satu hal, jangan mengatakan putus lagi dan jangan menyalah gunakan kepercayaanku ini," lanjut Zain dengan pelan agar Marissa bisa mengerti. "Mulai sekarang, kau bebas melakukan apapun! Termasuk berdiskusi membahas masalah anak-anak dengan ayahnya, membahas pekerjaan, kalau ada. Tapi kau harus tahu batasan! Kau milikku, jangan mengkhianatiku dan jangan membuat keluargaku kecewa!" Itulah yang Zain inginkan. Dia tidak ingin putus, tidak ingin pula Marissa menjauh, jadi dia memberikan semua kebebasan itu dengan hati yang b
Percumbuan mereka terjadi lumayan lama. Danendra tidak melepaskan pautan bibirnya sampai mereka berpindah ke sofa.Entah sudah berapa lama waktu berlalu, akhirnya Marissa mengakhiri percintaan mereka. Ia mendorong dada kekar Danendra agar sedikit menjauh.Dengan napas yang terengah, Danendra benar-
Pukul 11 malam, Danendra baru keluar dari kamar mandi setelah satu jam berendam air hangat. Ia ingin menenangkan diri dan menghilangkan rasa gelisahnya dengan cara berendam. Tapi sepertinya, itu tidak benar-benar menghilangkan semua pikirannya.Dengan mengenakan jubah mandi berwarna putih dan rambu
Beberapa menit kemudian Darius pun datang. Ia mengenakan pakaian serba hitam dengan topi yang menutupi setengah wajahnya. Ia sengaja menunduk agar orang yang bertemu dengannya tidak bisa melihat wajah aslinya dengan jelas.Awalnya, Darius memang tidak tahu dengan perubahan yang terjadi pada video i
Setelah beberapa saat, panggilan telepon pun berakhir. Danendra segera menutup ponselnya, lalu menoleh ke samping. Ia menatap wanita yang sedang duduk di sofa itu dengan tajam."Kapan kau datang?" tanyanya dengan heran.Ia segera bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menghampiri Sely.Danendra b







