로그인"Kenapa ... kau ada di sini?" tanya Chloe. Kesadarannya tiba-tiba kembali seiring kemunculan Francesco.
Francesco tidak langsung menjawab. Ia melangkah tenang menuju pelayan wanita yang masih berdiri penuh amarah. "Maaf, sebenarnya apa kesalahan yang dilakukan oleh temanku?" "Dia menghabiskan banyak minuman tapi tidak bisa membayarnya. Bahkan jalang itu malah menghina pekerjaanku." "Jangan percaya, aku sudah berbicara baik-baik, tapi dia malah membMobil taksi itu perlahan menjauh dari halaman rumah. Ella tetap berdiri diam di sana. Angin bergerak menerbangkan sedikit rambutnya, sementara tangannya masih menggenggam gagang koper erat. Rumah itu masih sama. Namun dirinya datang kembali dengan keadaan yang benar-benar berbeda. Ella tidak membawa apa pun selain kabar yang akan menghancurkan banyak orang di dalam rumah ini. Dan lebih buruknya lagi, ia bahkan tidak menyiapkan pembelaan apa pun untuk dirinya sendiri. Kecuali satu kalimat, maaf. Sesak terasa memenuhi rongga dadanya. Sebelum akhirnya ia menarik koper besarnya, lalu berjalan memasuki rumah. Begitu di depan pintu yang tertutup rapat, Ella berhenti. Tangannya terangkat ke bel. Ting tong ...! Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari l
*** Suara pengumuman penerbangan terus bersahutan, bercampur dengan derit koper dan langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang memenuhi area kedatangan internasional. Matahari pagi sudah masuk menembus dinding kaca besar bandara. Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi, namun suasana telah sibuk sejak tadi. Seorang wanita berjalan keluar dengan lesu. Mantel panjang membungkus tubuhnya, sementara satu tangan menarik koper besar di sampingnya. Wajahnya tampak lelah setelah penerbangan lebih dari dua puluh jam. Langkahnya perlahan melambat saat matanya menangkap tulisan besar. WELCOME TO MELBOURNE Ia mengembuskan napas panjang. "Sudah lama rasanya ..." gumam Ella. Lalu dirinya memilih naik taksi untuk kembali ke rumah. Mobil itu pun perlahan melaju meninggalkan bandara. Ella menyandarkan kepalanya ke kursi, matanya diam menatap keluar jendela mobil. Namun, pikirannya kembali pada kejadian terakhir di Milan. Saat itu ... Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama s
Sebuah mobil terparkir di depan rumah Chloe, dalam keadaan mesin dan lampu yang telah dimatikan.Di dalam mobil, Francesco duduk diam di balik kemudi. Tangannya menggenggam ponsel yang menempel di telinga.Tuuuttt ...!Tuuuttt ...!"Keluar. Aku di depan," ucapnya singkat saat panggilan tersambung.Panggilan itu langsung diputus. Ponselnya dilempar begitu saja ke atas dashboard.Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Chloe keluar.Ia melangkah pelan, matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri. Sesaat, ia menoleh ke belakang hanya untuk mengamati jendela-jendela rumah yang gelap, memastikan tidak ada yang memperhatikan.Setelah itu, langkahnya dipercepat.Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang di samping Francesco. "Mau apa kau ke sini?!" ucapnya tajam, tanpa basa-basi."Kita masih memiliki urusan! Jangan berpura-pura lupa.""Apa? Urusan?"
*** Sunyi memenuhi apartemen. Ella tertidur di pinggir ranjang, wajahnya masih basah, mata sembap, pipinya memerah. Ia baru terlelap beberapa menit setelah lama bergulat dengan pikirannya sendiri. Bahkan dalam tidur, napasnya masih tersendat. Beep ...! Beep ...! Seseorang tengah memasukkan sandi. Ella langsung membuka mata. Ya sebut saja tidurnya bukanlah tidur. Otaknya masih siap siaga jadi suara sekecil apa pun bisa membangunkan. Wanita itu segera bangun. Keluar kamar dengan langkah cepat. Begitu pintu kamar terbuka, Alexander berdiri di sana sedang menutup pintu depan. Mata Ella langsung berkaca-kaca. Bibirnya bergetar, tapi tetap memaksakan senyum. Tanpa pikir panjang, ia berlari. Tubuhnya langsung menabrak pria itu, memeluknya erat. Tangannya mencengkeram pakaian Alexander seolah takut kehilangan. "Aku tahu kau akan kembali ..." suaranya bergetar di antara isakan. "Kau tidak akan meninggalkanku. Kau selalu kembali menemuiku. Aku percaya." Alexander sedikit mengangka
Mesin mobil meraung saat dirinya menginjak pedal gas lebih dalam.Lampu-lampu kota berubah menjadi garis-garis kabur di kaca depan. Tangannya mencengkeram setir begitu erat, rahangnya mengeras, dan napasnya tak beraturan. Namun, perjalanan itu tidak memilki tujuan jelas. Kepalanya seperti mau pecah. Bayangan Ella berdiri di hadapannya dengan mata berair dan suara yang memintanya tetap tinggal, semua itu berputar tanpa henti. Dan jangan lupakan dua garis merah itu. Benda terkutuk!"Sialan!" bentaknya tiba-tiba.Tangannya membanting setir."Arrgghh!"Teriakan kasar itu meledak bersamaan dengan decitan ban. Mobil berbelok tajam sebelum akhirnya berhenti miring di tepi jalan.Dada Alexander naik turun tak beraturan. Tangannya masih mencengkeram setir kuat, bahkan lebih kuat. Mungkin sebentar lagi akan rusak olehnya. BRAK ...!Telapak tangannya menghantam setir, membuat klakson berbunyi
Pintu kamar mandi terbuka perlahan.Ella melangkah keluar dengan wajah pucat, rambutnya sedikit basah oleh keringat. Tangannya mencengkeram test pack di belakang tubuhnya, disembunyikan dari pandangan."Kenapa lama sekali?" tanya Alexander bingung sekaligus khawatir."Tidak. Hanya pencernaanku sedang buruk."Alexander melangkah mendekat, refleks mengangkat tangannya. Ujung jarinya hampir menyentuh pipi Ella, namun, wanita itu lebih cepat mundur selangkah.Gerakan kecil itu cukup membuat Alexander terdiam. "Ella ada apa?" Alisnya mengerut. "Kenapa sikapmu aneh hari ini?""Aneh?" ulangnya singkat, nadanya dingin. "Aku hanya lama di kamar mandi dan menurutmu aneh? Bagian mana yang aneh? Apa kelelahan adalah hal tidak biasa bagimu?"Alexander melongo beberapa detik. Jelas tidak menyangka nada setajam itu keluar dari pertanyaan ringan. Ia menggeleng sambil menarik napas singkat. "Makanannya sudah siap. Mungkin perutmu butuh diisi, agar kepalamu bisa tenang."Pria itu membalikkan badan dan
Hari itu, lebih tepatnya hari kelima sejak mereka tinggal bersama di tempat kecil tersebut. Dan pagi terasa lebih lembut dari hari-hari sebelumnya. Di kursi kayu yang diletakkan di depan rumah, di tengah hamparan rumput hijau yang masih basah oleh embun, Ella duduk di pangkuan Alex
Alexander langsung menarik wajah Ella dan menghajar bibirnya dengan ciuman yang begitu menekan, bak orang kelaparan. Sampai punggung Ella kembali menghantam dinding.Tangan besar itu naik ke rahang, memaksanya menengadah lebih tinggi. Ia mencium Ella sampai jemari wanita itu mencengkeram bahunya ha
Tangan Alexander memutar keran shower. Detik berikutnya, air hangat langsung jatuh deras dari atas kepala. Tidak ada yang sempat melepas pakaian. Mereka berdua berdiri tepat di bawah pancuran, membiarkan air menyiram tubuh mereka begitu saja.Ella mendongak sedikit, rambutnya yang basah menempel di
"Tidak," ucap Alexander akhirnya. "Untuk saat ini, aku ingin membatasi komunikasi dengannya."Lionello menatapnya, bingung tapi tidak berani bertanya. "Aku akan tetap di sini. Bersama wanita yang ada di dalam. Jika Chloe mencariku, katakan bahwa aku berangkat ke luar negeri. Bisnis mendadak. Tunju







