共有

Bab 88. Monster Nafsu

作者: Shenna
last update 公開日: 2025-09-09 12:42:58

"Ini tempat yang buruk! Kau tidak boleh berada di sini," ujar Alexander menekan.

"Tidak," balas Ella. "Ini tempat yang tepat untukku karena pekerjaannya mudah. Aku hanya perlu menjual wajah dan tubuhku agar mendapatkan tip besar."

Alexander menyeringai. "Jadi kau suka pekerjaan semacam itu?"

"Iya. Bahkan sebenarnya, kalau saja kau tidak membuat keributan, mungkin pelanggan itu sudah memberiku banyak uang. Sayang sekali, tidak jadi."

Ucapannya menusuk. Ombak cemburu dan amarah mendadak menghanta
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 151. Kehendak Bertahan

    Daisy langsung meraih lengannya. Wajahnya mendekat. Bibirnya bergerak tanpa suara, membentuk kalimat 'Kau hamil.'Ella hanya menatapnya, tidak ada keraguan atau bantahan.Ia mengalihkan pandangan kepada si kembar. "Aku pernah mencobanya sekali di Milan. Dan ternyata menyenangkan," ungkapnya datar. "Tidak ada salahnya mencoba untuk kedua kalinya. Mungkin besok ketiga, keempat, dan seterusnya. Bukankah hdup akan terasa lebih berarti saat berhenti memikirkan peraturan?""Biarkan saja, Daisy," ujar Ashlyn santai. "Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ibunya? Dia juga bukan anak di bawah umur."Ashley ikut menyahut, "Ya. Kami juga bisa pikirkan lagi untuk memberimu sedikit."Tapi Daisy tidak menjawab.Ketika Ella menatapnya lagi, Daisy masih memandangnya dengan alis berkerut. Tatapannya seolah bertanya, 'Kenapa?'Ella akhirnya mendekatkan bibirnya ke telinga Daisy. "Mungkin ini caranya. Bantu aku, seperti sebelumnya."Dan malam itu berlalu tanpa terasa.Hingga sinar matahari kembali menyi

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 150. Pilihan yang Salah

    Kemudian Ella melangkah menuju pintu, ingin mengakhiri percakapan itu. "Bagaimana bisa kau menyimpulkan aku akan kecewa jika kau bahkan belum menceritakan separuhnya saja?" seru Daisy dari belakang. Namun Ella tetap tidak berhenti. Saat tangannya baru saja meraih gagang pintu seketika dua orang perempuan tiba-tiba berlari masuk. "AAAA!" Ella refleks mundur agar tak tertabrak. Kedua perempuan itu langsung menyelinap masuk sambil tertawa bersemangat. "Hahahaha! Cepat kunci pintu! Cepat!" Alis Ella terangkat. Mereka adalah Ashley dan Ashlyn, dua saudari kembar dari jurusan Teater. Meski berbeda jurusan dengannya, mereka cukup sering bertemu di kampus. Keduanya juga dikenal sebagai sosok yang santai dan sulit ditebak. Ashley yang memegang sebuah botol di tangannya menoleh ke arah Ella. Matanya langsung berbinar. "Kau Ella, bukan?" Ia melangkah mendekat. "Kudengar kau pindah ke kampus Milan. Apa sudah selesai?" Ashlyn yang baru selesai mengunci pintu ikut menghampiri mereka. "M

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 149. Siapa Alexander?

    Ella menatap Daisy beberapa detik, memastikan sahabatnya itu tidak sedang bercanda. "A-apa?" "Menuntut!" Daisy menjawab tanpa ragu. "Dia tidak boleh menjalani hidupnya dengan tenang setelah menghancurkan hidupmu! Kita harus melakukan sesuatu!" Napas Ella tertahan sesaat. Wajar Daisy bereaksi menggebu-gebu, tapi cerita sebenarnya tidak sesederhana itu. "Seperti ... apa? Ke polisi?" "Ya, itu bisa menjadi salah satu opsi! Atau kita memposting saja kronologi dan buktinya di media sosial. Cara itu sedang naik daun." Ella langsung menggeleng. "Tidak, Daisy, tidak. Lupakan saja rencana itu." "Oh! Atau kita langsung ke Milan saja? Supaya lebih mudah menghajarnya." "Tidak!" Dahi Daisy langsung berkerut melihat Ella yang seperti melindungi. "Kenapa?" Tubuhnya yang semula bersandar di ambang jendela kini tegak. Matanya menyipit ke Ella. "Jangan bilang kau ..." Suasana mendadak terasa sunyi. "KAU MASIH MENCINTAINYA!?" "T-ti ..." Bibirnya bergerak kecil, tetapi kaku mengeluarkan kalimat

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 148. Menuntut

    Ella mempercepat langkah meninggalkan dapur tanpa sekali pun menoleh ke belakang.Dadanya masih bergemuruh. Yang ada di kepalanya hanya satu, keluar dari rumah ini secepat mungkin.Namun, semakin mendekati ruang tamu, semakin padat pula kerumunan yang harus ditembusnya.Entah sejak kapan jumlah tamu terasa bertambah berkali-kali lipat. Orang-orang memenuhi hampir setiap sudut rumah, saling berhimpitan sambil tertawa dan membawa gelas di tangan."Permisi. Tolong berikan jalan sedikit."Tak ada yang mendengar.Ella kembali menyelip di antara tubuh-tubuh yang menghalangi jalannya. "Permisi!"Akhirnya, pintu depan mulai terlihat di kejauhan.Baru beberapa langkah lagi-"SELAMAT MALAM, GUYS! HUUUUU!"Suara menggelegar dari mikrofon memenuhi seluruh rumah. Seketika sorak-sorai membalas dari segala penjuru.Ella tak mengenal siapa suara ini. Siapa yang peduli juga?"C'mon guys, berkumpul dan kerahkan semangat kalian malam ini!"Dalam hitungan detik, keadaan berubah kacau. Semua tamu berbondo

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 147. Ledakan Emosi

    “Hei, kita baru bertemu lagi." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis yang dulu mungkin mampu membuat wanita itu salah tingkah.Sayangnya, bagi Ella, senyum itu kini justru terasa menjengkelkan."Bagaimana kabarmu?" tanya Joseph lagi. "Sudah lama sekali sejak terakhir kita bertemu."Ella menyesap sedikit minuman di tangannya sebelum menjawab dingin, "Masih hidup."Joseph terkekeh. "Kau benar-benar berubah setelah pulang dari Milan. Apa yang telah terjadi?""Aku tidak ingat pernah memintamu menilai perubahan hidupku."Joseph hanya mengangkat bahu, sama sekali tidak memedulikan ketusnya sikap Ella. "Baiklah. Kalau begitu aku ganti pertanyaan." Senyuman pria itu kembali merekah. "Bagaimana di Milan? Menyenangkan? Ah, tapi di sana tidak ada diriku, pasti jawabannya tidak."Ella tetap diam sambil mencoba tiramisu cup.Joseph melanjutkan tanpa merasa canggung sedikit pun. "Ngomong-ngomong, apa kau dekat dengan seseorang di sana? Tidak, 'kan? Memang tidak ada pria yang lebih baik d

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 146. Malam Perayaan

    ***Pukul 10.45 PM.Ella melangkah melewati halaman rumah Grace sambil menenteng sebuah paper bag kecil.Begitu melewati pintu depan, suasana yang menyambutnya benar-benar kacau.Musik menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. Puluhan anak muda memadati rumah sambil tertawa, mengobrol, menari, mengabadikan foto dan video, dan saling bersulang dengan gelas di tangan. Ella menyapu ruangan dengan pandangan perlahan.Ada banyak wajah yang dikenalnya. Namun, jauh lebih banyak lagi orang-orang asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.Rumah Grace malam itu sudah kehilangan kesan sebagai sebuah rumah. Tempat itu lebih menyerupai pesta liar yang dipenuhi tawa, kebisingan, dan energi anak-anak muda yang seolah tidak akan habis hingga matahari terbit.Hingga matanya menangkap sosok Grace yang sedang mengobrol bersama beberapa tamu.Tanpa ragu, ia menghampiri. "Hai, Grace."Grace segera menoleh. Wajahnya langsung berbinar. "Oh, hai, Ella! Kau datang."Barulah Ella memperhatikan penampilan t

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 8. Kolam Piranha

    Alexander menatap jendela kamarnya yang menampilkan pohon-pohon besar nan sepi. Pandangannya beralih ke dua jemari yang masih basah. Setelah kembali dari kamar Ella, Alexander memang belum mencuci tangan atau sekedar mengelap. Dengan penuh kesadaran, Alexander memasukkan jarinya ke mulutnya sendir

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 7. Hutan, Tubuh, dan Dosa

    Ella tentu tidak akan membuang-buang waktu lagi. Ia segera berlari ke luar gerbang yang menjulang tinggi itu. Dugaannya benar, rumah ini berada di dalam hutan. Hutan dengan tumbuhan besar serta liar dan sangat gelap, padahal hari belum malam. Ella juga bisa mendengar suara air. Apa itu air terjun,

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 6. Tahanan Milan

    Sebuah mobil Rolls-Royce Phantom melaju di jalan kota Milan, Italia. Di kursi belakang ada Alexander yang sibuk dengan berkas di tangannya dan di depan ada supir serta Lionello-Asisten pribadi Alexander. Alexander melonggarkan dasinya, ingin menghela napas berat tapi ia tidak ingin menunjukkan ra

  • Terjerat Hasrat Dunia Gelap    Bab 5. Hilang Tanpa Jawaban

    Denting jam dinding menyambut hari baru. Nyawanya sudah kembali, tapi kelopak matanya masih berat untuk terbuka. Perlahan, Ella menggeser kepala, menoleh ke sisi kiri ranjang. Membuka matanya perlahan untuk melihat pemandangan yang berbeda. Kosong. Hanya ada selimut putih berantakan dan paper bag b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status