Share

Bab 2. Minta Dipaksa

Author: Sekarani
last update Last Updated: 2026-01-09 08:12:24

Freya pasti sudah gila. Jika tidak, mana mungkin dia menyambut uluran tangan Aryan dan membiarkan dirinya dibawa entah ke mana oleh mantan kekasihnya tersebut.

Perihal menghabiskan malam bersama yang disebutkan Aryan tadi, Freya tentu tidak senaif itu. Dia paham benar ke mana arahnya. Satu-satunya yang tidak dia pahami adalah keputusannya mengiyakan ajakan Aryan.

Apakah Freya mesti bertindak sejauh ini? Dia bahkan belum pernah melakukannya dengan Juan. Haruskah dia mengikuti kemauan Aryan demi membalas rasa sakit hatinya pada Juan?

“Kenapa harus selingkuh?”

Freya sedikit tersentak saat Aryan memecah keheningan di antara keduanya. Mobil mewah yang dikendarai Reno telah melaju lebih dari 30 menit. Artinya, sudah selama itu juga mereka tidak saling bicara. 

“Ada banyak cara untuk membuat pacarmu menyesal seumur hidup. Daripada selingkuh, kamu bisa …”

“Saya benar-benar iri,” potong Freya. “Pak Aryan tampaknya belum pernah dikhianati seseorang yang Pak Aryan cintai dengan sepenuh hati.”

Freya tersenyum simpul. “Memang ada banyak cara untuk membuat seorang pengkhianat menyesal seumur hidup. Saya pun sudah menyiapkan beberapa rencana lain untuk menghukum pria sialan itu.”

“Namun …” Freya memiringkan duduknya sehingga condong menghadap Aryan. “Bayangkan rasanya punya partner bisnis yang selalu Pak Aryan andalkan selama lima tahun, tapi ternyata orang itu diam-diam berkhianat karena merasa telah menemukan kolega yang lebih baik.”

“Sebagai pihak yang dikecewakan, apa yang akan Pak Aryan lakukan?”

Aryan terdiam. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, melainkan tertahan perasaan aneh yang tiba-tiba menggelitik hatinya.

“Selain pemutusan kontrak bisnis, Pak Aryan pasti juga ingin membalasnya dengan segera mendapatkan partner baru yang jauh lebih baik, kan?”

Freya mungkin belum menyadarinya. Akan tetapi, perpaduan senyum palsu dan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya entah bagaimana membuat dada Aryan terasa sesak.

“Kira-kira itulah yang sedang saya coba lakukan sekarang.”

Freya pasti akan mengakhiri hubungannya dengan Juan. Hanya saja, minta putus adalah urusan sepele. Menurutnya, ada hal penting yang harus dilakukan sebelum menghempas jalinan asmara yang telah dijalani bertahun-tahun ini.

Pengkhianat seperti Juan mesti diberi pelajaran. Freya mau Juan merasakan sakit hati yang minimal sama. Juan harus tahu, bukan hanya dia yang bisa main api seenaknya.

“Itulah kenapa saya ingin selingkuh dengan Pak Aryan,” tandas Freya.

Freya mengerjap pelan, buru-buru menengadah begitu sadar matanya sudah basah. Demi Tuhan! Dia tak mau menangis di depan Aryan.

Sayangnya, air mata yang terlanjur menumpuk di pelupuknya tetap bersikeras membasahi pipi. Namun, sebelum bulirnya benar-benar jatuh, tak disangka jemari Aryan terulur cepat mengusapnya.

Kedua mata Freya seketika membola, terlebih saat Aryan mendekatkan wajahnya. Cukup dekat hingga keduanya bisa merasakan hangat napas masing-masing.

“Selingkuh itu gampang. Kalau mau, kita bisa mulai detik ini juga,” tutur Aryan sembari mengalihkan pandangannya perlahan ke bibir ranum Freya.

Seakan mengerti apa yang mungkin selanjutnya terjadi, Freya memejamkan mata dengan perasaan cemas. Sebisanya menenangkan diri sendiri meski ujungnya tetap saja gemetaran sebab hati kecilnya menolak diajak kompromi.

‘Jangan gila, Freya! Ini nggak bener, sumpah! Murahan banget jadi perempuan! Kamu yakin mau biarin Aryan—’

Riuh pikiran Freya sontak terhenti tatkala Aryan justru menarik diri. Walau begitu, Aryan tak sepenuhnya langsung menjauh.

“Maaf,” lirih Aryan sambil mengusap lembut pipi Freya dengan punggung jemarinya.

Saat itulah Freya baru sadar jika air matanya telah tumpah entah sejak kapan. Membuka matanya perlahan, samar ia sempat melihat Aryan memandangnya iba.

Aryan berdeham canggung. “Boleh jujur?” tanya Aryan kemudian sambil membenarkan posisi duduknya.

“Penawaranmu kurang menarik. Klausulnya tidak jelas dan hanya menguntungkan satu pihak.”

Lewat ekor matanya, Aryan sejenak melirik Freya. Napasnya terhela pelan mendapati Freya kini sibuk menyeka air mata dengan tisu yang buru-buru diambil gadis itu dari dalam tasnya sendiri.

“Semakin tidak cukup layak dipertimbangkan karena kamu sendiri terkesan ragu dengan apa yang coba kamu tawarkan itu.”

Freya mengangguk kecil, tak menampik sedikit pun karena omongan Aryan memang tidak salah.

“Pak Aryan bisa menolak jika memang tidak berkenan. Saya tidak akan memaksa,” kata Freya usai mengambil napas dalam-dalam.

Bagi Aryan yang ternyata bodoh amat dengan perselingkuhan tunangannya, rencana balas dendam Freya pasti cuma terdengar selayak lelucon receh. Wajar pebisnis sekelas Aryan enggan mengurusi perkara remeh begini.

Namun, Aryan sekali lagi malah membuat Freya bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya dipikirkan pria tersebut.

Bersedekap sambil geleng-geleng kepala, Aryan dengan santainya mengatakan, “Justru itu yang harus kamu lakukan mulai sekarang. Paksa saya, Freya. Saya bersedia dipaksa.”

Seutas senyum kembali tersemat di bibir Aryan. Lantas, tanpa peringatan, kali ini Aryan benar-benar mencuri satu kecupan yang seketika mengacaukan detak jantung Freya.

“Coba bujuk saya dengan cara apa pun. Buat saya punya alasan kuat untuk menjadi partner selingkuh kamu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 8. Lancang Minta Pangku

    Aryan menambahkan madu pada segelas air hangat di meja dapur apartemennya. Senyumnya mengembang perlahan, terbayang tatapan memohon itu lagi—mata berkaca-kaca Freya yang nyaris membuatnya terhipnotis.'Mau jadi selingkuhanku?'Namun, begitu teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan Freya tadi, mata yang berbinar seketika meredup. Begitu pula dengan senyuman yang lantas memudar dari bibir Aryan. "Perempuan menyedihkan," gumamnya seraya berdecak sinis.Mengabaikan sesak yang tidak diharapkan tiba-tiba menjalar di hatinya, Aryan pun membawa air madu bikinannya ke ruang tamu. Minuman pereda mabuk tersebut lantas ia berikan pada Freya yang duduk canggung di sofa."Terima kasih, Pak."Aryan menghela napas sebelum mendudukkan dirinya di samping Freya. Perempuan yang kini bahkan tak berani menatapnya itu sudah kembali bicara formal."Oh, udah sadar? Mabuknya nggak separah itu ternyata."Freya diam saja mendengar cibiran Aryan. Alih-alih membalas, dia anteng minum air madu yang dibuat Aryan

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 7. Mau Jadi Selingkuhanku?

    [Kenapa cuma sebulan?]Freya barusan selesai rapat saat notifikasi pesan masuk muncul di layar ponselnya. Satu alisnya terangkat begitu membaca pesan yang dikirim Aryan.“Cuma? Sebulan dia bilang ‘cuma’?” Freya heran.Lebih dari sejam lalu, tak lama sebelum dirinya dipanggil editor lain untuk segera masuk ruang rapat, Freya mengirim draf kesepakatan bersama perihal rencana perselingkuhan mereka.Selayak surat perjanjian kerja sama profesional, ada beberapa hal yang dijabarkan Freya. Perempuan itu menjelaskan semuanya dengan detail, mulai dari tujuan yang ingin dicapai, aturan main, hingga durasi hubungan terlarang mereka.Di antara berbagai hal yang Freya uraikan, siapa sangka Aryan cuma mempertanyakan lamanya perselingkuhan mereka nantinya. Padahal ada poin tawaran benefit yang menurut Freya lebih mungkin diprotes, tetapi Aryan malah menyorot perkara waktu.Sambil berjalan menuju mejanya kembali, Freya memikirkan jawaban terbaik untuk disampaikan. Namun, sebelum ia sempat mengetik ap

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 6. Serigala Berbulu Domba

    “Setelah tiga tahun nggak dekat sama siapa pun, datanglah serigala berbulu domba ini.”Freya sekali lagi meninggikan nada bicaranya. Juan pun merespons dengan memberi usapan pelan di lengan Freya, berusaha menenangkan tanpa mengetahui bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas gejolak emosi kekasihnya saat ini. “Si cewek awalnya skeptis, nggak tertarik cinta-cintaan lagi. Cuma katanya cowok sialan ini gigih banget bikin dia percaya kalau nggak semua laki-laki sejahat bapak dan mantan-mantannya.”“Bukan salah dia kalau akhirnya luluh juga. Selama pacaran sampai mantep tunangan, cowok ini juga katanya baik banget, bahkan disebut-sebut hampir nggak pernah mengecewakan dalam hal apa pun.”Freya menghela napas kasar. Dadanya sesak lagi, air mata juga sudah menggenang di pelupuknya kembali.“Semua sempurna banget rasanya, tapi siapa sangka H-7 nikah malah …”Kata-kata Freya terhenti lantaran Juan tiba-tiba memeluknya. “Nggak usah dilanjutin, Sayang,” tuturnya sambil mengelus lembut p

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 5. Lelah Dikhianati

    Biarpun pelan, Freya masih bisa mendengar apa yang dikatakan Lucy pada Juan. Dia juga dapat melihat dengan jelas sorot mata Juan yang kemudian berbinar kian cerah karenanya.Begitu pula saat Juan tidak menanggapinya dengan kata-kata, melainkan sebuah ciuman yang tentu saja bersambut. Freya menyaksikan pemandangan menyakitkan itu nyaris tanpa berkedip. Kamera ponselnya pun terus merekam setiap detik kemesraan Juan bersama perempuan yang lagi-lagi bukan dirinya.Freya baru menurunkan tangannya setelah Juan mengajak Lucy kembali masuk ke apartemen. Bersandar pada tiang beton rubanah, perlahan ia mengatur napas, berusaha mengusir sesak yang mendera hatinya.“Lain kali, jangan seperti ini lagi.”Suara rendah Aryan menyadarkan Freya bahwa dirinya hampir lupa perihal pria lain yang saat ini bersamanya. “Bukti yang kamu punya sudah cukup banyak, kan? Buat apa terus-menerus menyakiti diri sendiri dengan berulang kali memastikan perselingkuhan mereka begini?”Freya menarik napas dalam-dalam,

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 4. Melabrak Tukang Selingkuh

    Semenjak tahu dirinya diselingkuhi, Freya jarang bisa tidur nyenyak. Setiap kali mendapat bukti baru perselingkuhan Juan dengan Lucy, perempuan itu selalu menutup harinya dengan sesenggukan di kamar. Dia juga sering mendadak terbangun karena mimpi buruk.Malam ini, mungkin Freya akan kembali berlinang air mata. Walau begitu, hal itu tak mengurungkan niatnya untuk mendatangi apartemen Aryan yang terbilang jauh dari tempat tinggalnya.Setelah sekian lama menahan diri, sekarang mungkin adalah waktu yang tepat untuk menangkap basah Juan dan selingkuhannya. Bukan sekedar memotret atau merekam kelakuan mereka dari kejauhan, kali ini Freya ingin langsung melabrak keduanya saja.Pikir Freya, biar saja dirinya semakin hancur setelah memergoki Juan dan Lucy. Rasanya itu jauh lebih baik ketimbang menangis sepanjang malam tanpa melakukan apa pun untuk membuktikan kecurigaannya.Freya menarik napas dalam-dalam di depan pintu lift yang barusan terbuka. Langkahnya mendadak terasa berat, seolah kakin

  • Terjerat Panasnya Cinta Mantan Pacar   Bab 3. Pemain Amatiran

    Aryan sungguh membuat Freya sadar betapa amatiran dirinya. Pria itu jelas hanya menggodanya dengan kecupan ringan di pipi, tetapi refleks Freya benar-benar merusak suasana.Jika nantinya sungguh menjadi pasangan selingkuh, mereka mungkin perlu melakukan yang lebih dari itu, kan? Freya bahkan sudah membikin skenario agar Juan melihatnya bermesraan dengan Aryan. Namun, rupanya masih terlalu sulit bagi Freya untuk abai terhadap sesuatu yang bertentangan dengan prinsipnya. Siapa pun yang melakukan hal serupa padanya, sebenarnya reaksi Freya hampir bisa dipastikan bakal sama.Lumrah saja kalau Freya refleks menampar Aryan hingga tunangan selingkuhan pacarnya tersebut meringis kesakitan. Bahkan jika memang diperlukan, Freya sangat bisa bertindak lebih dari itu.Untungnya, situasi yang lebih buruk tidak terjadi. Aryan memang sempat diam seribu bahasa saat Freya berulang kali mengucap kata maaf. Namun, Aryan lalu menanggapinya dengan mengatakan kalimat yang membuat Freya lumayan terkesan.“S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status