LOGINFreya pasti sudah gila. Jika tidak, mana mungkin dia menyambut uluran tangan Aryan dan membiarkan dirinya dibawa entah ke mana oleh mantan kekasihnya tersebut.
Perihal menghabiskan malam bersama yang disebutkan Aryan tadi, Freya tentu tidak senaif itu. Dia paham benar ke mana arahnya. Satu-satunya yang tidak dia pahami adalah keputusannya mengiyakan ajakan Aryan.
Apakah Freya mesti bertindak sejauh ini? Dia bahkan belum pernah melakukannya dengan Juan. Haruskah dia mengikuti kemauan Aryan demi membalas rasa sakit hatinya pada Juan?
“Kenapa harus selingkuh?”
Freya sedikit tersentak saat Aryan memecah keheningan di antara keduanya. Mobil mewah yang dikendarai Reno telah melaju lebih dari 30 menit. Artinya, sudah selama itu juga mereka tidak saling bicara.
“Ada banyak cara untuk membuat pacarmu menyesal seumur hidup. Daripada selingkuh, kamu bisa …”
“Saya benar-benar iri,” potong Freya. “Pak Aryan tampaknya belum pernah dikhianati seseorang yang Pak Aryan cintai dengan sepenuh hati.”
Freya tersenyum simpul. “Memang ada banyak cara untuk membuat seorang pengkhianat menyesal seumur hidup. Saya pun sudah menyiapkan beberapa rencana lain untuk menghukum pria sialan itu.”
“Namun …” Freya memiringkan duduknya sehingga condong menghadap Aryan. “Bayangkan rasanya punya partner bisnis yang selalu Pak Aryan andalkan selama lima tahun, tapi ternyata orang itu diam-diam berkhianat karena merasa telah menemukan kolega yang lebih baik.”
“Sebagai pihak yang dikecewakan, apa yang akan Pak Aryan lakukan?”
Aryan terdiam. Bukan karena tidak tahu harus menjawab apa, melainkan tertahan perasaan aneh yang tiba-tiba menggelitik hatinya.
“Selain pemutusan kontrak bisnis, Pak Aryan pasti juga ingin membalasnya dengan segera mendapatkan partner baru yang jauh lebih baik, kan?”
Freya mungkin belum menyadarinya. Akan tetapi, perpaduan senyum palsu dan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya entah bagaimana membuat dada Aryan terasa sesak.
“Kira-kira itulah yang sedang saya coba lakukan sekarang.”
Freya pasti akan mengakhiri hubungannya dengan Juan. Hanya saja, minta putus adalah urusan sepele. Menurutnya, ada hal penting yang harus dilakukan sebelum menghempas jalinan asmara yang telah dijalani bertahun-tahun ini.
Pengkhianat seperti Juan mesti diberi pelajaran. Freya mau Juan merasakan sakit hati yang minimal sama. Juan harus tahu, bukan hanya dia yang bisa main api seenaknya.
“Itulah kenapa saya ingin selingkuh dengan Pak Aryan,” tandas Freya.
Freya mengerjap pelan, buru-buru menengadah begitu sadar matanya sudah basah. Demi Tuhan! Dia tak mau menangis di depan Aryan.
Sayangnya, air mata yang terlanjur menumpuk di pelupuknya tetap bersikeras membasahi pipi. Namun, sebelum bulirnya benar-benar jatuh, tak disangka jemari Aryan terulur cepat mengusapnya.
Kedua mata Freya seketika membola, terlebih saat Aryan mendekatkan wajahnya. Cukup dekat hingga keduanya bisa merasakan hangat napas masing-masing.
“Selingkuh itu gampang. Kalau mau, kita bisa mulai detik ini juga,” tutur Aryan sembari mengalihkan pandangannya perlahan ke bibir ranum Freya.
Seakan mengerti apa yang mungkin selanjutnya terjadi, Freya memejamkan mata dengan perasaan cemas. Sebisanya menenangkan diri sendiri meski ujungnya tetap saja gemetaran sebab hati kecilnya menolak diajak kompromi.
‘Jangan gila, Freya! Ini nggak bener, sumpah! Murahan banget jadi perempuan! Kamu yakin mau biarin Aryan—’
Riuh pikiran Freya sontak terhenti tatkala Aryan justru menarik diri. Walau begitu, Aryan tak sepenuhnya langsung menjauh.
“Maaf,” lirih Aryan sambil mengusap lembut pipi Freya dengan punggung jemarinya.
Saat itulah Freya baru sadar jika air matanya telah tumpah entah sejak kapan. Membuka matanya perlahan, samar ia sempat melihat Aryan memandangnya iba.
Aryan berdeham canggung. “Boleh jujur?” tanya Aryan kemudian sambil membenarkan posisi duduknya.
“Penawaranmu kurang menarik. Klausulnya tidak jelas dan hanya menguntungkan satu pihak.”
Lewat ekor matanya, Aryan sejenak melirik Freya. Napasnya terhela pelan mendapati Freya kini sibuk menyeka air mata dengan tisu yang buru-buru diambil gadis itu dari dalam tasnya sendiri.
“Semakin tidak cukup layak dipertimbangkan karena kamu sendiri terkesan ragu dengan apa yang coba kamu tawarkan itu.”
Freya mengangguk kecil, tak menampik sedikit pun karena omongan Aryan memang tidak salah.
“Pak Aryan bisa menolak jika memang tidak berkenan. Saya tidak akan memaksa,” kata Freya usai mengambil napas dalam-dalam.
Bagi Aryan yang ternyata bodoh amat dengan perselingkuhan tunangannya, rencana balas dendam Freya pasti cuma terdengar selayak lelucon receh. Wajar pebisnis sekelas Aryan enggan mengurusi perkara remeh begini.
Namun, Aryan sekali lagi malah membuat Freya bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya dipikirkan pria tersebut.
Bersedekap sambil geleng-geleng kepala, Aryan dengan santainya mengatakan, “Justru itu yang harus kamu lakukan mulai sekarang. Paksa saya, Freya. Saya bersedia dipaksa.”
Seutas senyum kembali tersemat di bibir Aryan. Lantas, tanpa peringatan, kali ini Aryan benar-benar mencuri satu kecupan yang seketika mengacaukan detak jantung Freya.
“Coba bujuk saya dengan cara apa pun. Buat saya punya alasan kuat untuk menjadi partner selingkuh kamu.”
Ciuman Juan mulanya terasa ringan, cuma kecupan singkat yang membuat Freya terkesiap.Keduanya hanya diam saling memandang ketika Juan menaruh cangkir di meja. Pria itu lalu mencengkeram pinggang Freya dengan kedua tangan. Rasanya lebih posesif ketimbang pelukannya tadi, bahkan mungkin terlalu erat hingga membuat Freya meringis tak nyaman.Dalam satu gerakan cepat, Juan kemudian mengangkat tubuh Freya dan mendudukkannya di atas meja dapur.Juan ingin mencium Freya lagi. Namun, saat bibir mereka nyaris menyatu, Freya tiba-tiba memalingkan wajah. Gerakannya halus, tetapi jelas menolak.Terdiam sejenak, Juan lantas tersenyum tipis, mengira Freya hanya ingin menggodanya sedikit. Ia pun mencoba lagi, mendekat lebih cepat dan pasti.Akan tetapi, Freya lagi-lagi menghindar. Tak cuma melengos, perempuan itu juga menarik tubuhnya menjauh.Dua kali ditolak, pikiran Juan seketika dikuasai prasangka buruk. Rahangnya mengeras, emosinya tersulut. Marah rasanya membayangkan Freya tidak mau berciuman
Sebelumnya, Lucy nyaris sempurna di mata Aryan. Itulah mengapa dirinya sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan mereka.Semenjak mau tak mau mesti mendedikasikan hidupnya untuk Harsa Group, prinsip Aryan sederhana saja. Selama itu menguntungkan untuk perusahaan, pada dasarnya apa pun bisa dia lakukan.Lucy Amara merupakan Direktur Komersial KalanaBusana. Sebagai cucu dari pemilik perusahaan retail yang bergerak di industri mode, Lucy tumbuh dengan insting bisnis yang tajam. Saat pertama berkenalan dua tahun lalu, Aryan sangat terkesan dengan keahlian Lucy membaca tren pasar. Obrolan seputar bisnis membuat keduanya cepat akrab. Setiap kali berjumpa dalam berbagai kesempatan, Aryan bahkan tidak jarang yang menyapa terlebih dahulu. Mereka pun berteman sebelum akhirnya menjadi partner ranjang setahun kemudian.Perihal mengejar kepuasan duniawi, Lucy rupanya juga tidak mengecewakan. Aryan menyukai Lucy yang penuh kejutan dan tak ragu mengeksplorasi lebih jauh. Lucy pun tidak rewel pe
Hening beberapa detik.Dunia seolah berhenti sejenak saat Freya mendengar Juan berucap sarkas padanya. Tidak ada mata yang berkilat marah, usapan lembut pun kembali Freya rasakan pada puncak kepalanya.Juan bahkan tersenyum padanya. Meski begitu, entah mengapa Freya refleks menahan nafas. Sikap baik pria itu justru membuatnya merasa terancam dan waswas.“Sayang …,” suara Freya sedikit bergetar. “Nggak usah ngomong aneh-aneh, deh. Maksudmu apa?”Jemari Juan turun perlahan menyentuh wajah Freya. Ibu jarinya lalu mengelus pelan pipi mulus Freya. “Maksudku—”“Hotel ini nggak berhantu, kan?” potong Freya seraya mengedarkan tatapan cemas ke sekitarnya. “Takut banget kalau ternyata beneran ada yang diem-diem nemenin aku di sini.”Chika yang sempat agak panik gara-gara mendengar ucapan Juan sebelumnya, segera menyadari bahwa Freya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. “Nggak ada hantu di sini!” sergah Chika.“Hei, Juan! Bercandanya jangan sembarangan, dong. Ribet nanti urusannya kalau hote
Aryan tak bisa menghilangkan senyum kecil di bibirnya saat terbayang kelakuan Freya sebelum mengusirnya dari kamar beberapa saat lalu.“Sengaja banget menguji kesabaran pacarnya,” gumam Aryan sembari berjalan santai memasuki area bar atap hotel.Sekitar 10 menit lalu, tak lama setelah Aryan ditelepon Chika, Freya mendadak sibuk sendiri. Tahu Juan datang, Freya merasa harus segera menyiapkan beberapa bukti perselingkuhan.Begitulah. Alih-alih memastikan tidak ada hal mencurigakan, Freya malah sengaja meninggalkan jejak yang sekiranya gampang disadari Juan.Hal pertama yang dilakukan Freya adalah memulas bibirnya dengan lipstik. Tipis saja, sekadar cukup untuk membikin noda khas pada gelas minumannya.‘Dia tahu aku sama Kak Chika belakangan ini suka banget pakai lipstik yang nggak transferproof. Jadi, mestinya dia langsung curiga waktu lihat cuma satu gelas yang ada bekas lipstiknya begini.’Duduk di depan meja bartender, senyum tipis Aryan melebar saat melihat jas yang ia taruh sembara
Aryan mulanya tak tertarik dengan benefit yang ditawarkan Freya. Perihal citra perusahaan dan promosi produk bisnis, Harsa Group sudah tidak terlalu butuh dukungan eksternal. Meski begitu, tentu tak ada ruginya juga menerima penawaran Freya. Hanya saja, setelah menilai kualitas pekerjaan Freya dan timnya, Aryan jadi tertarik bekerja sama sungguhan. Tidak apa-apa mengeluarkan sedikit uang, terlebih jika itu membuatnya lebih mudah bertemu Freya.“Untuk kerja sama dengan jangka waktu enam bulan, plus nantinya mencakup beberapa brand sekaligus, angka segitu sebenarnya malah terbilang hemat.”Freya tahu, skala bisnis Harsa Group memang sangat besar. Meski begitu, bukankah tetap lebih baik tidak mengeluarkan uang sepeser pun?“Kerja sama ini mungkin juga akan berguna untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak menguntungkan bagi perusahaan di kemudian hari.”Wajah Aryan tampak menjadi lebih serius, membuat Freya tanpa sadar ikut menunjukkan ekspresi serupa.“Apa yang kita lakukan sekarang, saya
“Saking gelisahnya, dia mungkin bakal datang ke sini.”Freya sejenak menatap langit-langit kamar tipe suite room tempatnya berduaan dengan Aryan. Matanya lalu terpejam, seiring helaan napas panjang yang terdengar berat di tengah keheningan.Duduk menyamping dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa juga, Aryan anteng memperhatikan Freya. Ia nyaris tak berkedip, memandangi Freya yang tampak mengatur napas sambil tetap memejamkan mata.Freya tentu sedang menenangkan dirinya sendiri. Namun, tanpa dia sadari, pria yang duduk di sisinya juga jadi merasa lebih tenang karenanya.“Teleponnya boleh aku angkat, nggak? Biar dia lebih cepet datang ke sini.”Mendengar apa yang dikatakan Aryan, Freya tersenyum tipis. Membuka matanya perlahan, ia lalu berucap, “Buru-buru banget, sih? Udah bosen, ya, jadi selingkuhan?”Aryan sontak mendengus tawa. Kekehannya pelan dan singkat, tetapi cukup menunjukkan betapa pria itu tergelitik dengan tutur kata Freya.“Benefit yang disepakati serbatanggung, ma
Freya memeluk gelas anggur yang belum sepenuhnya kosong. Dia tak ingat sudah minum berapa banyak, tetapi tubuhnya kini terasa ringan. Gadis itu juga menyukai sensasi hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya. Rasanya seperti peluk menenangkan yang diam-diam ia butuhkan.Kepalanya memang agak pusing
Aryan menambahkan madu pada segelas air hangat di meja dapur apartemennya. Senyumnya mengembang perlahan, terbayang tatapan memohon itu lagi—mata berkaca-kaca Freya yang nyaris membuatnya terhipnotis.'Mau jadi selingkuhanku?'Namun, begitu teringat dengan pertanyaan yang dilontarkan Freya tadi, mat
Chika memang banyak berteman dengan sesama kalangan atas, tetapi Aryan merupakan bagian dari lingkaran yang lebih eksklusif.Bagi orang-orang seperti Aryan, privasi adalah harga mati. Meski begitu, bukan berarti Chika tidak pernah sekali pun mendengar rumor tak sedap tentang kehidupan pribadi Aryan.
Freya merasa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Aryan. Jika Freya kini dianggap perempuan murahan, itu adalah akibat dari ulahnya sendiri.Setelah menawarkan tubuhnya kemarin, Freya tahu sangat mungkin bagi Aryan untuk meminta keintiman serupa di kemudian hari. Meski begitu, Freya tetap tidak bisa m







